Positif

Positif
Bab 18


__ADS_3

18.


Jam sembilan malam, dia baru saja terbangun. Aku melirik pergerakan tubuh nya, sedangkan aku sendiri masih sibuk di depan layar laptop ku.


"Mas, aku sangat lapar sekali"


Aku menoleh, lalu beranjak mendekati nya. Tidak terlalu dekat sih, jarak aman kira-kira setengah meter.


"Buka saja buku menu nya, nanti tak telepon kan resepsionis"


"Aku pengen Nasi padang, mas"


"Dimana ada nasi padang malam-malam, ini jam sembilan. Semua sudah tutup," Jawab ku langsung yang merasa keberatan dengan permintaan nya.


"Ada di rumah makan minang sayo, mas juga pasti tau tempat nya"


Dia aneh-aneh saja, lagipula kenapa juga dia ingat saja. Aku tau rumah makan itu buka dua puluh empat jam, lalu aku harus bagaimana ini. Membelikan nya? Memanjakan nya?


"Pesen ojek online saja ya," Rayu ku


"Mana boleh ojek online masuk hotel, mas"


"Nanti janjian di depan hotel saja, kamu sholat isya dulu. Besok sholat maghrib nya jangan lupa di ganti"


"Memang sholat bisa di ganti ya?"


"Bisa, dan harus di ganti."


"Gimana cara nya?"


"Besok saja, sekarang sholat isya!"


Dia langsung beranjak, mungkin dia takut dengan suara kesal ku. Benar-benar ya anak ini, bandel sekali.


Aku lalu kembali duduk di tempat sebelum nya, tak lupa sebelum aku melanjutkan pekerjaan ku, aku memesan makanan untuk nya.


Tapi entah mengapa mata ku terasa sangat berat sekali, entah mengapa ingin sekali segera tidur. Tidak biasanya aku tak tahan terjaga, mungkin saja karena aku kecapean, karena hampir setengah hari berdiri di atas panggung pelaminan, menyalami semua orang-orang yang datang.


Aku pun memutuskan untuk mencuci muka ku, berharap rasa kantuk ku ini segera hilang. Setelah mencuci muka, aku sempatkan untuk mengukur kumis yang sudah mulai sedikit tumbuh. Memang kumis ku ini cepat sekali tumbuh, padahal tiga hari yang lalu sudah ku bersihkan.


"Mau kemana?" Aku bertanya kepadanya, saat ku lihat dia sudah rapi seperti hendak keluar.


"Baru saja ojek nya telepon, dia sudah ada di depan hotel."


"Aku saja yang ambil"


"Gak apa-apa, aku saja mas. Mas kan lagi sibuk"

__ADS_1


"Udah kamu diam di sini, gak baik perempuan keluar malam"


"Hanya di depan hotel sini, mas. Mas lanjutkan saja kerjaan nya"


Ngeyel sekali, kenapa gak nurut saja sih!


"Aku mau sekalian beli kopi, kamu diam saja di sini. Jangan bantah terus, aku gak suka!"


Akhirnya dia diam juga, seperti nya dia kesal karena aku memarahi nya. Jelas terlihat dari sikap nya yang langsung melepas jilbab. Aku tak peduli, langsung saja ku tinggal keluar kamar.


Aku terus berjalan, menghampiri abang ojek yang sudah menunggu di depan hotel.


"Terima kasih, mas"


"Engge, gus. Boleh Minto foto?" Ujar nya kepada ku


Aku pun mengangguk sambil tersenyum, lalu dia mendekat ke arah ku dan kami berdua selfie bersama.


"Matur nuwun, gus"


"Iya, mas. Sami-sami, assalamu'alaikum"


Aku pun lalu kembali masuk ke hotel, sebelum aku naik ke lantai paling atas. Ku sempatkan diriku untuk membeli kopi, agar mata ini tetap terjaga.


Setelah sampai kamar, ku lihat dia duduk di kursi balkon.


"Waalaikumsalam," Dia langsung beranjak, menghampiri ku lalu meraih kresek putih yang aku pegang. "Makasih ya, mas"


Dia tersenyum kepada ku, sungguh sangat cantik.


"Makan, lalu minum obat nya"


Dengan cepat dia mengangguk, lalu dia memperhatikan sekeliling kamar. Aku tau, mungkin dia bingung hendak makan di mana. Satu-satunya meja sudah penuh dengan buku dan laptop ku, sisa meja dan kursi yang ada di balkon saja. Tapi seperti nya dia tak mempermasalahkan nya, ia langsung pergi ke balkon untuk segera makan.


Aku pun membiarkan nya, terserah dia mau bagaimana. Aku pun memilih untuk melanjutkan pekerjaan ku sambil menyeduh kopi americano.


"Mas gak makan malam?" Tanya nya kepada ku.


"Sudah," Jawab ku singkat.


"Mas sibuk ya?" Tanya nya lagi sambil mulai menyiapkan obat nya.


"Kenapa?"


"Aku pengen jalan-jalan, mas"


"Ini sudah malam, jalan-jalan kemana?"

__ADS_1


"Ya muter-muter saja, mas."


Aku diam,


"Gak jadi deh, aku capek benget"


Setelah itu dia langsung pergi ke balkon lagi, aku pun membiarkan nya. Lagi pula aku juga tak mau menuruti nya, ngapain juga keluar malam-malam. Itu bukan kebiasaan ku juga, mungkin ini kebiasaan nya.


Cukup lama, akhirnya aku menyelesaikan semua pekerjaan ku. Ku lihat jam di handphone ku, ternyata sudah jam dua puluh tiga lewat lima belas menit atau jam sebelas lebih lima belas menit.


Ku langsung melihat nya yang masih ada di balkon, aku menyadari tidak ada suara. Padahal tadi dia seperti nya telepon dengan teman-teman nya.


Aku pun menghampiri nya, ternyata dia tertidur di kursi. Lalu aku harus bagaimana? Menggendong nya? T I D A K!!


"Cha," Aku sedikit mengguncang tubuh nya, namun ia tak mau membuka mata nya walaupun tubuh nya bereaksi.


"Cha, bangun!"


Nyatanya suara tegas ku tetap tak membuat nya bangun.


"Cha, bangun. Ayo tidur di dalam!"


Dia terbangun, menatapku dengan sayu. Bibir nya sedikit cemberut, lalu ia berjalan lunglai masuk.


Aku pun segera menutup pintu dan gorden, setelah itu aku pergi ke kamar mandi untuk wudhu dan sikat gigi terlebih dahulu. Setelah keluar dari kemar mandi, dia sudah tertidur. Mungkinkah efek obat nya itu? Tadi dia juga seperti itu.


***


Kini aku sudah berada di resto hotel ini, kami menunggu sarapan di hidangkan. Tidak ada obrolan di antara kami, aku menyibukkan diri dengan ponsel ku walaupun tidak ada apapun yang hendak ku buka. Sedangkan dia benar-benar sibuk dengan handphone nya, sejak tadi berbunyi terus.


"Setelah sarapan kita langsung pulang," Ucap ku yang mulai jenuh bermain ponsel tak jelas.


Mendengar aku berbicara, dia meletakkan handphone nya lalu menatap ku.


"Chek out nya siang, mas. Gimana?"


"Gak apa-apa, kita langsung chek out saja. Nanti siang aku ada rapat penting"


"Baiklah, gimana baik nya saja"


Setelah itu kami saling diam lagi, dia terus saja menatapku. Aku pun langsung meraih handphone ku untuk mengalihkan pandangan ku. Berdua dengan nya seperti ini tidak lah nyaman, aku ingin sekali pulang dan beraktivitas seperti biasanya. Tapi di sisi lain, seiring dengan berjalanan nya waktu, aku harus memenuhi semua kewajiban ku. Memberikan nafkah untuk nya, jika itu nafkah lahir aku siap memberikan semua gaji ku kepadanya, tapi jika nafkah batin? Aku benar-benar belum bisa melakukan nya.


Aku bingung sekali hendak bagaimana! Ada yang bisa kasih solusi untuk hal ini?


Maaf karena jarang update, lagi sibuk di Dunia nyata. Sabar ya, jangan lupa like, dan komentar ya.


Terima kasih yang sudah mau setia menunggu..

__ADS_1


__ADS_2