Positif

Positif
Bab 54


__ADS_3

Bab 54


Chaca Pov


Aku bahagia sekali melihat keluarga ku berada di rumah sakit. Mereka semua sangat baik, merawat ku dan selalu memanjakan ku. Terutama Suamiku tercinta, Laki-laki yang dulu sering menyakitiku itu kini sudah terlihat akan cinta dan sayang nya kepada ku.


Selama aku sakit, Mas Yusuf selalu ada di samping ku. Yang bikin aku semakin kelepek-klepek adalah perlakuan nya, dia benar-benar merawat ku. Tak jarang dia membersihkan pakaian ku yang terkena darah, sebenarnya itu terlalu berlebihan, tapi Mas Yusuf tidak bisa di hentikan.


"Bunda," Aku memanggil wanita yang sejak tadi memegang tangan ku dengan sangat erat.


"Iya, sayang. Kenapa? Sakit? Atau... "


"Bukan, Bunda."


Melihat senyuman ku, semua orang yang awalnya tenang kini bernafas dengan lega.


"Bunda istirahat saja, Chaca gak bisa kalau lihat Bunda seperti ini"


"Tidak, Bunda mau di sini. Nanti malam Bunda baru mau pulang"


"Mas Yusuf, nanti beli makanan buat buka puasa"


"Tidak, nanti Ridwan akan datang bawa makanan"


Tok


Tok


Tok


Seketika semua orang beralih memandang pintu, setelah itu barulah terlihat siapa pemilik tangan yang mengetuk pintu kayu berwarna putih tersebut.

__ADS_1


"Selamat siang, semua" Sapa dokter yang sejak awal merawat ku itu.


"Selamat siang, dok"


"Gimana kabar nya, Cha?" Tanya nya setelah tersenyum ke semua orang.


"Udah agak enak kan, dok. Badan juga sudah gak sakit semua"


"Darah gimana?"


"Gak keluar lagi, Dok"


"Besok pagi bisa pulang, tapi nanti minum vitamin ya"


Aku sangat bahagia mendengar nya, walaupun aku masih belum bisa menjalan kan puasa.


"Chaca pulang ke rumah bunda saja ya, Suf?"


Mas Yusuf langsung memandangku, aku tau bahwa mas Yusuf keberatan dengan hal tersebut.


Aku diam, tidak tau harus bagaimana.


"Iya, Bunda. Kami akan pulang ke rumah Bunda, tapi nanti H-3 lebaran kami pulang ke pesantren"


Jawaban yang cukup bijak, sebenarnya aku juga ingin sekali pulang. Entah mengapa aku ingin pulang ke rumah juga, mungkin karena aku bosan di rumah sakit mulu, hehehe...


Karena Bunda tidak tarawih, Mas Yusuf pun ikut Ayah dan Kak Ridwan pergi ke masjid. Sebelum-sebelum nya Mas Yusuf gak Tarawih, karena tak mau meninggalkan ku sendirian di rumah sakit.


Tidak ada yang ikut menemani ku, karena memang kami tidak mau siapapun menemani ku di rumah sakit. Kami ingin sekali mandiri, tidak merepotkan siapapun. Alhamdulillah, punya keluarga yang pengertian. Mereka semua tidak memaksakan kehendak. Walaupun tidak menemani kami, Umi dan yang lain nya selalu telepon untuk menanyakan kabar ku.


"Cha, gimana Yusuf? Dia ngerawat kamu kan?"

__ADS_1


Aku memandang Bunda sejenak, merasa aneh saja Bunda menanyakan hal tersebut.


"Bunda gak maksud apa-apa, Cha," Sepertinya Bunda tau arti tatapan ku "Bunda cuma takut saja, takut yang dulu itu loh"


Aku tersenyum, memaklumi apa yang bunda pikirkan. Mungkin sedikit beliau khawatir dengan ku, apalagi kejadian kemarin itu terbilang sangat fatal sekali. Ya, walaupun sedikit terkejut, karena gak biasanya Bunda seperti ini.


"Mas Yusuf sangat baik kok, Bun. Beberapa kali Mas Yusuf bersihkan Darah Chaca, baju-baju yang terkena darah pun Mas Yusuf yang cuci in. Yaa agak gimana gitu, tapi gak ada pilihan lain, Mas Yusuf juga memaksa terus melakukan nya, walaupun aku udah gak izinin dia bersihkan darah ku"


Terus ku jelaskan semua perlakuan Mas Yusuf, agar Bunda tenang dan tidak khawatir lagi. Bunda pun tersenyum, lalu menghpiriku dan mencium kening ku. Bahagia sekali.


Singkat cerita, jam sembilan malam Bunda dan yang lain langsung pulang. Kak Ridwan juga kembali ke hotel, karena sejak aku sakit kak Ridwan tidur di hotel dekat rumah sakit buat jaga-jaga.


Setelah semua pulang, seperti biasanya aku sudah mengantuk saja. Kalau pakai infus ini bawaan nya tidur terus, mungkin memang di buat seperti itu. Karena keadaan ku saat ini harus benar-benar istirahat total.


Tak butuh waktu lama, aku tertidur lelap di kungkungan Mas Yusuf. Namun mata ku tiba-tiba terbuka, badan ku berkeringat.


"Mas Yusuf," Aku memanggil suami ku yang ternyata sudah pindah tidur di ranjang kecil yang ada tak jauh dari ku.


"Mas Yusuf, hiks hiks hiks"


Mendengar tangisan ku, mas Yusuf langsung bangun.


"Cha, kenapa?" Tanya nya khawatir


"Takut,"


"Takut apa?"


"Aku mimpi, mas...... "


"Gak baca do'a kan?"

__ADS_1


"Anu.. "


"Nakal sih, ayo baca do'a. Mas kelonin lagi," Mas Yusuf langsung naik ke atas ranjang ku, tangan nya sudah mengungkung ku. Aku pun mendongak ingin menatap mata nya, tapi mata itu terpejam..


__ADS_2