
Pov Chaca.
"Chaca gak mau rujuk sama Gus Yusuf, Bunda. Hiks hiks hiks"
Aku menangis di pangkuan Bundaku, di sini juga ada Al dan Dokter Lesa.
"Jangan gitu, Cha. Kalau aku jadi Gus Yusuf juga akan marah, gak sepenuhnya salah dia kok," Ucap Al
"Iya, sayang," Sambung Bunda yang masih terus mengelus kepalaku "Kasih satu kesempatan sama Gus Yusuf, jika Gus Yusuf menyakitimu lagi. Maka Bunda akan mendukung mu untuk berpisah dengan nya, Bunda ya gak rela kalau anak Bunda di sakiti terus"
"Bunda, Gus Yusuf mencintai orang lain... "
"Assalamu'alaikum"
Aku langsung duduk, seketika dadaku sesak melihat laki-laki yang tak berprasaan itu berdiri di ambang pintu kamar ku.
"Maaf, Bunda. Yusuf mau bicara sama Chaca"
Al dan Dokter Lesa langsung keluar dari kamar, tapi Bunda tak ku izinkan, ku tarik tangan nya hingga Bunda kembali duduk di tepian kasur ku.
"Tidak baik yang bukan muhrim berduaan, langsung bicara saja di depan Bunda"
"Aku tidak pernah menalak kamu, Cha. Jadi kita masih suami istri"
"Tapi kamu sudah mengembalikan ku kepada orang tua ku"
"Masalah kemarin itu hanya pertengkaran, sebuah kesalahpahaman. Kalaupun memang saya menalak kamu, itu tidak sah karena di lakukan karena emosi"
"Yusuf benar, sayang. Bunda turun dulu, ya."
"Bunda, Chaca gak mau"
"Udah, gak apa-apa"
Aku masih memegang tangan Bunda, hingga akhirnya tangan itu terlepas karena Bunda pergi menjauh dari ku.
Klek
Klek
Klek
"Kenapa di kunci!"
Aku ketakutan saat dia mengunci pintu kamar ku. Dengan cepat aku meraih tongkat besbol yang aku beli dua tahun yang lalu.
"Beri aku kesempatan satu kali lagi, Cha. Aku akan memperbaiki semua nya"
"Maaf, aku gak bisa"
__ADS_1
Sekeras apapun dia merayu ku, aku tetap tidak mau kembali menjadi istri nya. Bahkan semua orang merayu ku, tapi aku tetap berpegang dengan pendirian ku.
Tidak, itulah yang selalu aku katakan. Kata singkat yang mungkin membuat banyak orang kecewa. Bahkan Umi juga datang untuk merayu ku, menangis untuk memberikan kesempatan kepada anak nya.
"Maaf, Umi. Umi tetaplah Chaca anggap sebagai orang tua, tapi menjadi istri Gus Yusuf lagi itu tidak mungkin"
"Kenapa, nak?"
"Chaca sebenarnya ingin berjuang mendapatkan cinta Gus Yusuf, Chaca satu bulan bertahan untuk tidak marah saat mengetahui bahwa Gus Yusuf mencintai wanita lain... "
"Percaya sama Umi," Potong umi begitu saja "Yusuf akan memperbaiki semua nya"
"Tidak, Umi. Maafkan Chaca, Chaca tidak bisa"
Itulah yang selalu aku katakan untuk menyudahi rayuan semua orang. Dan kini, aku di temani oleh ketiga sahabat ku, untuk mengurus semua surat cerai di pengadilan Agama.
Miris memang, Gadis sembilan belas tahun yang masih perawan ini sebentar lagi tercatat sebagai Janda. Nasib, nasib.
"Gimana kuliah mu, Cha?"
"Pindah lah," Jawab ku enteng
"Udah semester tiga, cha. Masa kamu pindah-pindah mulu!" Cecar Mega
"Mending gak usah pindah deh, Cha. Sayang banget"
"Kita udah lulus, tinggal kamu aja yang belum"
"Kalian ini yah, salah satu mata kuliah ku itu yang ngajar dia. Kalian jangan ngada-ngada deh, kasih aku solusi gak pindah kuliah"
Tidak mungkin aku tak pindah kuliah, bisa-bisa aku galau terus melihat nya.
Ya, benar saja. Aku yang memutuskan nya, meninggal kan nya tapi jujur saja aku juga patah hati untuk pertama kali nya, rasanya sakit banget.
aku tidak tau apa yang terjadi padaku, aku memang tak mau menjadi istrinya lagi. Tapi bukan berarti aku tak cinta lagi kepada nya, ehhh, bukan gitu. Gimana ya ngomong nya, mungkin saat ini aku akan berusaha melupakan dia. Sudah ku katakan dari awal, bahwa dia adalah laki-laki yang membuat ku jatuh cinta dan alasan ku tidak pacaran atau bisa dikatakan membuat ku mati rasa.
Ah, sudah.. Jangan menceritakan nya. Kita beralih ke keluarga ku saja. Kak Ridwan, setelah kejadian siang itu dan kak Ridwan meminta maaf kepada ku, bahkan dia akan menuruti semua kemauan ku selama satu tahun ini. Itu adalah bentuk penebusan tamparan yang di layangkan kepadaku.
Lalu Ayah ku, kini beliau tak lagi mengatur ku ini dan itu. Ada sedikit kebebasan yang Ayah berikan kepadaku, ya inti nya beliau tak lagi memaksaku dan menuruti semua ucapan ku. Tapi tenang saja, aku tak memanfaatkan dengan berlaku seenak nya. Saat ini aku tak mau bertingkah apapun, yang penting bisa jalan-jalan dan shoping, hehehe...
***
POV Yusuf.
Kini ku pegang sebuah surat panggilan dari pengadilan Agama, Ternyata Chaca sudah mengurus nya. Mengetahui hal ini, Abah dan Umi marah besar kepada ku. Ini memang terjadi sejak kejadian siang itu, Abah memarahiku habis-habisan. Bahkan Mas Adam juga seperti nya kecewa kepadaku.
"Umi benar-benar gak nyangka kalian akan berpisah seperti ini, Umi gak nyangka"
Umi memijat kening nya, dan aku hanya bisa menunduk. Kini aku sedang duduk bersama Aba dan Umi di ruang keluarga.
__ADS_1
"Abah malu sekali sama kyai Hasyim, Suf"
Memang ini yang aku ingin kan, senang sekali akhirnya benar-benar akan berpisah dengan nya. Namun perkara halal ini juga perkara yang sangat di benci oleh Allah, parah nya lagi Umi dan Abi sedih, malu dan tentu nya kecewa kepadaku.
"Baiklah, sepertinya ini adalah hal yang akan terjadi. Tapi ingat, Suf" Umi menatap ku dengan tajam, dengan deraian air mata nya yang begitu sangat deras, hingga membuat ku menjadi deg-degan "Umi tidak akan memberikan restu kepadamu untuk menikah lagi, dan jika kamu berani menikah dengan Nabila, maka aku bukan lagi Ibu mu!"
Cetiaaaaarrrrrrr....
"Abah juga akan mengusir mu dari sini, silahkan saja kau pilih kami, atau Nabila!"
"Abah, Umi. Kenapa dengan Nabila? Dia juga dari keluarga baik-baik? Ayah nya seorang ustadz di kampung nya"
"Jika memang patokan keluarga, tetaplah Chaca lebih baik"
"Kau bandingkan keponakan Kyai Hasyim dengan Nabila?"
Hah? Keponakan Kyai Hasyim?
"Udah nikah saja sama Nabila, maka Umi tidak akan pernah Ridho. Kamu tau apa akibatnya jika orang tua tidak ridho atas anak nya!"
Umi dan Abah meninggalkan ku, tapi aku masih kaget dengan pernyataan bahwa Chaca adalah keponakan Kyai Hasyim. Tidak, aku tak percaya dengan hal itu.
Karena tak mungkin aku menanyakan hal ini kepada mas Adam, yang jelas-jelas masih marah kepadaku. Aku pun menelepon adik perempuan ku, walaupun awalnya aku harus mendengarkan omelan nya. Tapi aku berhasil mendapatkan jawaban nya.
"Pak Jamil adalah anak dari istri kedua Kyai Jalaludin (Ayah Kyai Hasyim)"
"Tapi kok Pak Jamil tidak di... " Belum ku selesaikan kalimat ku, Khalila sudah memotong nya "Karena Ibu Pak Jamil tidak mau semua orang tau akan hal itu, apalagi dengan status istri kedua. Walaupun istri Kyai Jalaludin tak mempermasalahkan madu nya, bahkan rela hidup seatap"
"Lalu?"
"Ya gak lalu! Mas Yusuf itu keliru, jika meninggalkan Chaca demi Nabila! Nabila itu teman ku, aku tau seperti apa Nabila"
"Emang Nabila seperti apa?"
"Percuma mengatakan keburukannya, mas Yusuf sudah buta karena cinta yang jelas cinta itu haram dan mendapatkan dosa Jariah! Semua keburukan itu tidak akan mas Yusuf percaya"
"Khalila, bukan seperti itu... "
"Chaca itu baik, memang dia bebas. Tapi dia juga tidak seburuk yang ada di pikiran mas Yusuf"
"Mas gak suka wanita bebas, Khalila"
"Yasudah, Khalila males ngomong. Assalamu'alaikum"
Tut
Tut
Tut
__ADS_1
Khalila mematikan sambungan telepon nya secara sepihak, sekarang semua marah kepadaku. Kini aku menjadi terpojok, rasanya percuma saja berpisah dengan nya. Tidak merubah apapun, dan ku rasa semua semakin buruk.