Positif

Positif
Bab 32


__ADS_3

Bab 32 (Pov Yusuf)


Kini aku duduk di kursi goyang kesayangan ku dengan tenang, entah mengapa ada rasa lega setelah kejadian kemarin. Aku akan bebas dengan ikatan pernikahan paksa ini, ya walaupun masalah ini membuat repot Abah, Bahkan Umi terus menangis. Aku yakin setelah ini semua akan baik-baik saja, In Syaa Allah.


"Om Ucup," Tiba-tiba saja anak kecil ini naik ke pangkuan ku, merusak semua bayang-bayang Nabila yang baru saja masuk kedalam pikiran ku. Tapi tak mengapa, mungkin sore ini aku tidak boleh menghayal dulu. Aku akan bermain dengan gadis ini, agar waktu cepat berlalu dan kisah baru akan segera di mulai, hehehe...


"Jalan-jalan yuk," Aku menatap Zahra sambil tersenyum


"Capek, ah. Bagaimana kalau kita tidur-tiduran saja di kamar Om Ucup?"


"Jangan tiduran terus, nanti Zahra tambah Ndut, gimana?"


"Tapi Zahra sangat capek, dari pagi ikuti Umma keliling. Ke dapur, ke masjid, ke asrama, kesekolah," Omel Zahra seperti orang besar saja.


"Ini sudah Ashar, gak boleh tiduran"


"Baiklah, bagaimana kalau main game di handphone om Ucup?"


"Hemm, boleh. Kita pindah ke depan saja, kasian kursi Om Ucup kalau di duduki Zahra makin berat"


"Astaghfirullah, Zahra kan masih kecil. Kursi nya gak akan patah," Gadis ini memayunkan bibir nya, hahaha lucu sekali.


Saat berjalan ke depan, ku lihat umi bersama mbak Rifa. Tetapi aku berlalu begitu saja, seolah tak tahu mereka ada di sana. Pura-pura repot sama si Zahra.


Jangan tanyakan Abah, Abah dan Mas Adam berangkat ke rumah Kyai Hasyim. Tentu saja untuk membahas pernikahan ku, kali ini aku tak mau menurut lagi. Aku tidak pernah sudi memberikan nama ku kepada anak yang di kandung Chaca.


"Om Ucup, kata Umma. Tante Chaca nangis karena di cubit om Ucup"


"Nangis? Zahra tau dari siapa tante Chaca menangis?"


"Tadi pagi Zahra lihat sama Umma, tapi Umma langsung sembunyi"


Anak kecil memang tidak bisa berbohong, bahaya sekali anak ini. Untung saja Mbak Rifa bisa mengatasi nya langsung.


"Zahra gak akan nakal, nanti sama Abi di cubit seperti Tante Chaca"


"Sudah, diam. Ini main Game nya," Aku memberikan ponsel ku yang baru saja ku donwload kan sebuah permainan boneka.


"Assalamu'alaikum, Gus."


"Waalaikumsalam," Jawabku sambil melihat dia santri yang baru saja datang ke hadapan ku.


"Maaf, gus. Nanti ada rutinan istighotsah, Gus Adam sedang pergi dan kebetulan Ustadz Hakam lagi isi istighotsah di masjid lain. Kami belum dapat ganti nya, karena wali santri sudah banyak yang datang"


"Baiklah nanti aku yang pimpin, siapkan saja semua nya"


"Enggeh, Gus"


Aku lupa jika nanti ba'da magrib ada istighotsah, ini sudah jam lima. Aku harus segera bersiap, jangan sampai terlambat.


"Om Ucup, ini Ustadzah Nabila kah?"

__ADS_1


Aku langsung menyahut Handphone ku, lalu segera aku mematikan telepon dari Nabila. Jantung ku langsung deg degan, seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.


"Kok ada foto Ustadzah Nabila ya, Om"


"Itu foto Tante Chaca, Zahra. Bukan Ustadzah Nabila"


"Tante Chaca cantik, itu tadi foto nya jelek"


"Astaghfirullah, Zahra tidak boleh bilang seperti itu ya. Itu gak baik, sayang"


Anak ini sungguh bahaya, aku pun segera mengambil foto Chaca, untung saja ada foto profi nya di whatsapp nya.


"Tuh, lihat. Tante Chaca kan?" Ucap ku memperlihatkan layar ponsel ku.


"Tadi pakai jilbab putih, kalau ini foto tante Chaca pakai jilbab hitam"


"Ini tadi foto nya, Zahra. Zahra salah lihat mungkin"


"Tapi tadi foto nya jelek, gak cantik"


"Ayo ke Umma, Om Ucup mau ke Masjid"


"Tapi tadi foto nya jelak kan om, gak cantik"


"Iya, iya. Foto nya jelek, sudah jangan bicara lagi. Dan jangan cerita ke siapa-siapa kalau foto nya jelek ya," Penjelasan ini cukup penting, agar anak ini tidak bercerita kemana-mana.


Akhirnya gadis ini diam juga, mudah-mudahan dia tidak mengadukan nya kepada siapapun. Bahaya, sekali.


"Mbak Rifa," Panggil ku


"Umma, Zahra mau main Game seperti yang di handphone nya Om Ucup"


"Umma gak bawa handphone, nak. Nanti saja ya"


"Kasihkan dulu handphone mu, suf. Biar Zahra gak nangis," Ucap umi


"Yusuf ada keperluan, umi. Sebentar lagi juga mau ke masjid ada istighotsah"


"Yasudah, pergi saja. Kamu juga bersiap-siaplah Rif, Umi meriang. Seperti nya malam ini umi gak keluar"


Aku langsung meninggal kan umi dan mbak Rifa di sana, lebih baik menghindar dulu saja. Aku tak mau mendengar apapun saat ini, aku tau umi terluka. Tapi aku juga terluka di sini, tapi biarlah. Aku akan diam, setelah masalah ini selesai, baru aku akan memohon ampunan kepada umi.


****


Setelah memimpin istighotsah bersama dan sholat Isya, aku tak bisa langsung pulang. Karena beberapa wali santri harus aku temui, Abah dan Mas Adam sedang tidak ada di sini.


Cukup lama sekali, hingga tak terasa sudah jam sepuluh malam.


"Gus, ini barang-barang nya di taruh dimana?"


"Barang-barang siapa itu?"

__ADS_1


"Ini dari wali santri, hadiah untuk ning Chaca dan panjenengan, Gus"


Kulihat ada madu, ada beberapa buah zuriat, kurma muda, intinya yang mengarah ke program kehamilan.


"Madu saja kamu bawa ke rumah, yang lain nya bagikan ke dapur. Siapapun boleh mengambil nya"


"Engge, gus"


Setelah itu aku langsung pulang ke rumah, di rumah sudah sangat sepi. Aku pun melangkah menuju ke kamar Umi, ku buka pintu nya sedikit ternyata Umi sudah tidur dengan mukena melekat di badan nya.


"Maafkan Yusuf, Umi"


Walaupun ini bukan salahku, bukan aku yang menciptakan masalah. Tapi aku tetap merasa bersalah sudah membuat Umi sedih.


Setelah ku tutup pintu dengan sangat pelan, aku pun segera duduk di kursi goyang ku sambil membuka handphone ku.


15 Nabila panggilan tak terjawab


Aku tersenyum melihat nya.


Nabila : Assalamu'alaikum, Gus. Aku sudah sampai di rumah, Gus


Nabila : Gus kenapa gak di angkat? Sibuk kah?


Yusuf : waalaikumsalam.. Maaf, aku baru selesai istighotsah. Alhamdulillah kalau sudah sampai rumah dengan selamat.


Tidak ada jawaban dari Nabila, mungkinkah dia marah kepada ku? Tapi tak masalah, setelah masalah ini selesai aku akan segera melamar nya.


Tidak ada lagi yang bisa menghalangi nya, aku tak sabar mendengar kabar dari Abah.


dtrrttt...


ehh, baru saja ku pikirkan. Mas Adam sudah kirim pesan.


Mas Adam : Besok pagi jam delapan langsung ke rumah Chaca


aku mengkerut kan dahi ku, ada apa ini.


Yusuf : Samean gak pulang kah?"


Mas Adam : Besok langsung ketemu di rumah Chaca, sama Abah dan Kyai Hasyim.


Yusuf : Umi di ajak kah, mas?


Mas Adam : Tidak Usah, ini hanya laki-laki saja. Nanti Umi nangis terus di sana.


Membaca balasan terakhir mas Adam aku menjadi tau, bahwa besok semua nya akan segera berakhir. Sebenarnya aku ingin mengucapkan Alhamdulillah, tapi tidak baik berucap seperti itu di saat ada musibah, karena bagaimana pun juga ini adalah musibah. Musibah sebelum kebahagiaan datang...


***


Wkwkwkw... ini tulisan udah dari kemarin, aku kira udah tak update kemarin, ehhhh...Barusan tak cek, malah belum di update..

__ADS_1


Selamat menikmati gregetan sama si Ucup 😁


next episode gak akan lama 😅


__ADS_2