Positif

Positif
Bab 29


__ADS_3

29.


Setelah cukup lama menunggu Chaca sampai terlelap tidur, kini aku sudah berbaring. Mata ini enggan terpejam, sebuah kenyataan pahit menparku dengan keras.


Zadid bercerita kepada ku tentang kisah cinta nya yang berakhir tak jodoh, sama dengan ku. Tetapi Zadid mengatakan kepada ku, bahwa ia sudah membuang semua rasa cinta nya. Tadi pagi dia sempat menangis, namun setelah menangis dan meminta ampunan. Hati nya langsung tenang bahkan dia sudah tidak lagi memikirkan doi nya.


"Mungkin saja dia terlalu baik atau terlalu sempurna buat aku, Gus. Atau bisa jadi juga ada wanita yang lebih baik dari dia yang sudah Allah persiapkan untuk ku"


"Hemm, benar juga"


"Positif thinking saja, Allah itu sudah mengatur nya dengan sangat baik. Ya walaupun sakit hati, tetap saja Allah lebih tau tentang kita"


Lalu apa kabar dengan diriku? Sampai detik ini aku sering memikirkan Nabila. Sedangkan di depan ku jelas ada wanita yang kini sudah menjadi istri ku yang halal.


"Astaghfirullah," Kepalaku langsung cenat-cenut, otak ku terasa sangat full sekali memikirkan problematika kehidupan ini.


"Mas," Aku langsung terjingkrak kaget saat dia tiba-tiba saja memelukku.


"Mas, aku takut sekali"


Aku tak berani melepaskan pelukan nya, jelas akulah penyebab semua ini. Ya walaupun aku melakukan kesalahan karena ketidaktahuan ku.


"Istighfar, atau bersholawat, cha. Biar diberikan ketenangan hati" Entah sejak kapan aku mulai memanggil nama nya.


Seperti nya dia menurut, dia terus beristighfar tapi tetap saja dia memelukku. Cukup lama, akhirnya dia melepaskan pelukan nya, dan berbalik memunggungiku.


Akupun langsung memastikan nya, ternyata dia benar-benar tidur, alhamdulillah.


Kali ini aku juga ingin tidur, ku paksa mata ini agar terpejam. Cukup sulit, namun akhirnya aku benar-benar tertidur.


***


Kini aku sudah duduk di dalam mobil bersama Zadid, tetapi tak seperti biasanya. Kini ada rasa khawatir saat meninggalkan Chaca di rumah, apalagi dia memaksa ingin pulang ke rumah Umi. Padahal aku sendiri ingin dia berada bersama keluarga nya dulu, tetapi dia tetap saja keras kepala, gak nurut.


"Gus, kenapa? Kok sepertinya galau. Aku saja yang di tinggal nikah gak galau"


"Hemm, bukan gitu. Khawatir saja karena tadi aku belum cerita keadaan Chaca ke Umi"


"Sekarang kan bisa cerita ke Bu nyai, Gus"


"Hemm, pinter kamu"


"Padahal panjenengan yang selalu menjadi nomor satu lo, Gus. Memang cinta itu bikin orang linglung ya, heheh"

__ADS_1


Hemm, ini bukan cinta. Aku cuma merasa bersalah saja. Tetapi seperti biasa nya, aku tak menghiraukan apapun tanggapan orang.


Setelah telepon tersambung, akupun menceritakan kejadian kemarin. Umi pun terdengar syok.


"Chaca pergi ke kampus, Suf. Kenapa kamu izinin dia kuliah?"


"Yusuf gak tau, umi. Tadi Yusuf nyuruh Chaca istirahat"


"Ya sudah, umi akan suruh anak-anak jemput. Mana dia bawa mobil sendiri"


Dia memang bandel sekali, bisa-bisa nya dia tak menurut kepadaku. Dan yang bikin aku semakin kesal, gara-gara dia umi menjadipanik dan khawatir kepadanya. Bahkan umi langsung menutup telepon nya sepihak tanpa salam, sangking panik nya.


"Dia bandel sekali, bisa-bisa nya pergi kuliah," Omel ku.


"Heheh, ya maklumin saja, Gus. Yang penting bukan kelayapan toh. Ning Chaca kuliah, cari ilmu"


"Hemm, iya. Tapi kasian umi, jadi khawatir"


"Ning Chaca kan gadis bebas, Gus. Jangan langsung di kekang gitu, kasian juga kan jadi nya. Pelan-pelan kalau mau batesin ning Chaca"


"Hemm, iya"


Benar yang di katakan Zadid, jika saja dasarku sangat mencintai nya. Maka aku akan selalu menuruti nya, tidak akan ku biarkan dia sendirian, tidak akan aku biarkan dia sedih dan aku akan selalu melakukan apa yang dia mau.


"Makasih ya, gus atas tumpangan nya. Do'a kan disegerakan juga punya mobil, heheh"


"Lagian kemana saja gajimu, aku tak percaya jika kamu tak mampu beli mobil"


"Hehehe, iya gus. Aku baru saja beli rumah dan langsung renovasi, di sisi lain aku juga nabung buat nikah rencana nya. Jadi masih pakai motor"


"Tak do'a kan semoga semuanya lancar, cepat mendapatkan jodoh nya"


"Aamiin, yaa Allah. Barokah Gus Yusuf"


Rasanya sangat malu sekali dihadapan Allah, seseorang mengharapkan barokah. Tapi aku sendiri seperti ini. Yaa Allah, ampuni aku.


Chaca : Mas kapan pulang? Ada yang ingin aku bahas. Ini sangatlah penting sekali.


Baru saja aku masuk ke kelas untuk mengajar, tetapi dia sudah menyuruhku pulang. Sungguh aku tak suka dengan semua ini.


Chaca: kalau gak sibuk telepon aku ya, mas. Aku ingin membahas sesuatu.


Aku tak mau pusing dengan nya, saat ini fokus ku mengajar. Entah apa yang terjadi di rumah, dua jam kemudian Umi juga menelpon ku untuk segera pulang.

__ADS_1


"Apa semua baik-baik saja, umi?"


"Semua baik-baik saja, Yusuf. Tapi umi pengen kamu cepat pulang kalau udah selesai mengajar nya"


Benar, semua baik-baik saja. Jelas terdengar suara Umi sangat bahagia, jadi kemungkinan tidak ada hal yang buruk. Mungkin saja ada keluarga pak Jamil, mungkin saja.


"Ayo, gus"


Laki-laki yang sejak tadi seperti nya menungguku dengan wajah bahagia berjalan di samping ku. Sebenarnya Zadid mengajakku berkunjung ke rumah nya.


"Maaf, did. Umi menyuruhku agar segera pulang"


"Ada apa, gus? Apa ada yang terjadi?"


"Tidak, tidak. Aku juga tidak tau, mungkin saja di rumah ada keluarga Chaca"


"Ohhh, yasudah gak apa-apa"


"Ehh, tapi kamu tetap tak antarin pulang. Daripada naik angkot"


"Hemm," Dia nampak berpikir "baiklah, lagian juga satu arah"


Kami pun segera pergi, hatiku terasa gak enak sejak tadi Umi menelpon ku. Tidak ada obrolan di antara kami, hanya suara Zadid yang sedang menunjukkan arah menuju ke rumah nya.


Tak lama, kami berhenti di depan sebuah rumah yang masih dalam tahap renovasi bagian depan.


"Gini, gus. Kalau yang dalam sudah jadi dan bisa di tempati, ya cuma bagian depan belum finishing. Ini mau buat pagar nya dulu"


"Gak apa-apa, pelan-pelan. Alhamdulillah sudah punya rumah,"


"Iya, gus Alhamdulillah."


"Maaf ya, lain kali saja mampir nya"


"Siap, gus. Gak apa-apa, btw Terima kasih sudah di antar"


"Iya, Sama-sama."


"Assalamu'alaikum, gus"


"Waalaikumsalam,"


Seteleh itu, Sadis keluar dari mobil ku. Dan akupun pergi dari sana seteleh membunyikan klakson.

__ADS_1


__ADS_2