Positif

Positif
Bab 39


__ADS_3

Bab 39


POV Chaca


Aku baru saja Junub, kini aku duduk di atas closed. Sesekali ku tutupi wajah ku, aku malu sendiri saat mengingat kejadian kemarin.


Kemarin setelah aku pulang dari pengadilan untuk mediasi. Bunda tiba-tiba sakit, badan nya panas tinggi. Membuat ku takut sekali.


"Cha, kamu benar-benar ingin bercerai dengan Yusuf?" Tanya Bunda kepadaku


Aku hanya bisa menangis, tidak menjawab apapun.


"Berilah dia satu kesempatan sayang, Bunda Yakin dia akan berubah"


Belum juga aku menjawab, dokter wanita langganan keluarga ku datang. Aku pun keluar dengan Kak Ridwan.


"Cha, Bunda sejak pagi memikirkan mu"


Aku tak bicara apapun, tapi kak Ridwan terus bercerita bahwa sejak pagi Bunda gelisah menunggu ku. Dia terus memikirkan nasib ku yang akan menjadi janda muda.


Hingga akhirnya Bunda mengatakan sendiri bahwa dia ingin aku rujuk dengan Gus Yusuf, aku pun langsung menyetujui nya. Apalagi sebelum itu dokter yang sudah ku kenal sejak kecil itu mengatakan bahwa Bunda stres, dia merasa tertekan hingga imun tubuh nya menurun. Bahkan keadaan Bunda saat ini tergolong masih sangat baik, biasanya dengan kondisi yang sama, orang akan stroke.


"Iya, Bunda. Demi Bunda Chaca mau rujuk sama Gus Yusuf"


Singkat nya aku sudah memakai Jubah putih, aku merias wajah ku agar seimbang dengan pakaian yang baru saja Bunda berikan. Di bawa persiapan sudah matang, bahkan terdengar suara keluarga Gus Yusuf sudah datang. Tapi aku tidak mau keluar, jujur saja hatiku sangat sakit sekali.


Walaupun begitu, aku tidak bisa menangis. Jika aku menangis, maka Bunda akan ikut bersedih.


Cukup lama aku duduk diam di kamar, hingga akhirnya ada yang mengetuk pintu ku.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, masuk saja gak di kunci" Aku tau itu Gus Yusuf.


"Umi mau pulang, ayo turun" Ucap nya yang masih berdiri tak jauh dari pintu.


"Iya," Jawab ku singkat padat dan aku langsung berdiri, berjalan keluar kamar. Dan Gus Yusuf pun mengikuti ku di belakang.


Setelah sampai di bawa, aku menyambut keluarga Gus Yusuf dengan senyuman merekah. Kami berfoto bersama, dan aku memperoleh banyak doa dari semua orang. Lebih tepat nya bukan untuk ku, tapi untuk pernikahan ku.


Setelah semua keluarga Gus Yusuf pergi, aku pun kembali ke kamar. Aku sungguh Badmood, aku lebih baik ada di kamar. Apalagi Abah Hasyim tadi sempat berpesan, agar aku di kamar saja. Tidak usah berada di luar terus, itu akan menambah kekesalan ku kepada Gus Yusuf.


Tak lama, Gus Yusuf ini masuk ke dalam kamar ku. Jantung ku langsung deg deg an, tatapan nya tidak seperti biasanya. Ah mungkin hanya perasaan ku saja.


Tiba-tiba saja Gus Yusuf duduk di tepi kasur ku, tepat di samping ku. Lalu dia meletakkan tangan nya di atas ubun-ubun ku, kemudian aku mendengar nya membaca do'a, entah doa apa.


Aku pun menunduk, tapi setelah itu dia mengangkat daguku dan mencium kening ku. Lalu kami saling menatap, ajaib nya tatapan nya itu mengunci tubuh ku. Hingga aku diam saja dengan perlakuan nya.

__ADS_1


Hingga sampai dia melepas semua pakaian ku, aku benar-benar telan**** di hadapan nya. Dan tanpa ku sadari kami sudah berada di bawah selimut dengan keadaan tanpa kain.


Aku semakin terbuai dengan sentuhan nya, tidak bohong aku juga menikmati nya. Inilah yang aku inginkan dulu. Walaupun dulu, sekarang pun aku masih menginginkan nya.


"Issshh," Aku meringis karena sesuatu mulai masuk ke dalam tubuh ku. Ku lihat kebawah di antara celah tubuh ku dan Gus Yusuf, aku terbelalak kaget melihat nya. Lalu tatapan ku beralih ke wajah tampan nya, wajah nya nampak berbeda dari biasanya.


"Guss, sakit!" Keluh ku saat Gus Yusuf mendorong tubuh nya, tidak kasar Bahkan dia melakukan nya dengan sangat pelan tapi sangat sakit sekali.


Dia tetap tidak banyak bicara, dia malah mencium ku lalu melanjutkan aktifitas nya, hingga akhirnya milikku benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.


"Gus, sakit," Rengek ku


"Panggil, Mas!" Setelah mengatakan itu, Mas Yusuf mengentak tubuh ku dengan sangat kasar.


Tubuh ku langsung diam, tak bergerak. Ini sangat sakit sekali, hingga tak ku sadari air mata ku terjatuh.


"Maaf, sakit sekali?"


Aku membuka mata ku, ku lihat wajah nya yang seperti juga merasa bersalah. Mas Yusuf mengusap air mata ku, lalu mengecup bibirku. Aku pun langsung memeluk nya, malu sekali menatap nya.


Rasa sakit itu perlahan hilang, sebuah rasa yang tidak pernah aku rasakan ini membuatku terbang melayang.


"Ssssstttttt, Sayang" Suara geraman mas Yusuf membuat ku merinding, suara yang di bisikan Mas Yusuf di telinga ku membuat darah ku mengalir dari bawah ke atas. Hingga aku merasakan sesuatu yang membuatku menahan nafas, tubuh ku ku angkat dan gerakan cepat mas Yusuf membuat ku semakin terasa terbang hingga akhirnya sesuatu keluar dari tubuh ku dan aku merakan milikku terisi banyak sekali cairan. Mungkin karena milik mas Yusuf juga keluar karena dia sudah lemas menindih ku.


"Masss," Panggil ku


Setelah itu, mas Yusuf langsung memelukku. Menciuni puncak kepala ku berkali-kali.


"Auhhh," Keluh ku saat tak sengaja mas Yusuf mendorong kaki kanan ku


"Sakit banget kah?"


Aku mengangguk manja, setelah itu mas Yusuf melepaskan pelukan nya. Ia meraih tisu yang ada di meja rias, lalu aku mengalihkan pandangan ku saat mas Yusuf memergoki ku sedang memperhatikan nya.


Aku yang kepoan pun sempat ku curi-curi pandang, ternyata dia sedang membersihkan milik nya. Ah yaa ampun, kenapa aku jadi malu sendir melihat milik nya.


Tak lama dia mendekat lagi kepada ku, lalu tanpa bicara apapun dia menyingkap selimut yang sedang ku gunakan untuk menutupi tubuh ku.


"Mas, ngapain? Auhhh" Pergerakan yang tidak Hati-hati membuat perut bagian bawah ku nyeri.


"Makanya diam, cha"


"Mas mau ngapain?"


"Mas bersihkan dulu, lihat darah nya itu ke mana-mana"


"Tak bersihkan sendiri, mas"

__ADS_1


Dia memang tidak mengatakan apapun lagi, tapi mata nya melototi ku.


"Mas, pelan-pelan. Sakit"


"Mas, sudah"


Aku terus berceloteh, tapi ku lihat mas Yusuf tidak menggubris ku, dia malah fokus menatap milikku dan membersihkan nya sampai bersih.


Setelah selesai, aku langsung memeluk nya. Aku malu sekali saat mas Yusuf menatap ku.


"Jangan peluk-peluk, nanti nangis lagi"


"Mas Yusuf sih," Aku bergelanyut manja kepada nya.


"Kenapa mas?" Tanya nya sambil tersenyum kepadaku. Ini adalah pertama kali nya mas Yusuf lembut kepada ku.


"Jahat," Ucapku dengan nada jutek tapi manja


"Tapi enak gak?"


Dia tiba-tiba berubah menjadi mesum sekali, aku menjadi malu saat mas Yusuf mengatakan hal-hal seperti itu.


"Wudhu yuk," Ajak mas Yusuf sambil menciumi pipi ku


"Kenapa Wudhu?"


"Kalau tidak langsung junub, kita sebaik nya Wudhu dulu. Kalau mau ke ronde selanjutnya, di anjurkan Wudhu dulu, jangan langsung masuk ke ronde kedua"


"Mas Yusuf, ihh."


Mas Yusuf langsung menggendong ku keluar ke kamar mandi. Tapi sebelum itu, mas Yusuf memakai celana pendek dan tubuh ku ia balut dengan sarung nya.


Entah kenapa dia berubah seperti ini, dia menjadi lembut, memanjakan ku, bahkan menggoda ku. Tapi aku senang dengan perubahan nya. Walaupun masalah kemarin membuat ku sangat membenci nya, namun rasa cinta ku masih sama besar seperti dulu.


Tidak berhenti di situ, bahkan mas Yusuf kini bergurau dengan ku. Beberapa menit yang lalu pun dia dengan iseng nya menggelitikki perut ku dan berusaha mencium ketiak ku, dan aku tidak bisa di sentuh di bagian itu. Kami tertawa lepas, cukup lama sekali kami bercanda. Mas Yusuf juga sering mengatakan hal-hal mesum, membuat ku sangat malu sekali. Untuk pertama kali nya di dalam hidup ku, aku melihat mas Yusuf tertawa seperti itu, dia terlihat berbeda, aku melihat sisi lain dari suami ku ini. Alhamdulillah...


"Cha," Panggil Mas Yusuf membuyarkan semua pikiran ku.


"Dalem, Mas"


"Bisa gak Junub?" Tanya nya di balik pintu


"Bisa, selalu meremeh kan"


"Gak meremehkan, Cha. Aku hanya ingin memastikan, ayo buka. Mas pengen lihat"


"Modus kan? Aku mandi sendiri. Udah tau cara nya, tenang saja"

__ADS_1


Aku tau Mas Yusuf hanya modus, sejak tadi dia ingin mandi bersamaku. Tapi aku tidak mau, tadi subuh kami sudah mandi bersama. Bukan mandi junub, dia malah membawaku masuk kee bathup. Dan jangan bilang siapa-siapa, kaki tidak sholat subuh karena kelamaan di kamar mandi. Kami tidak hanya berendam, tapi mas Yusuf melakukan hal lain nya, ah sudahlah. Inti nya aku tak percaya dengan nya untuk masalah yang satu ini.


__ADS_2