Positif

Positif
Bab 49


__ADS_3

Bab 49


"Cha, kita ke klinik. Bukan mau pindah," Aku mengomel, saat melihat dua koper besar hendak di masukkan ke dalam bagasi mobil.


"Mas, kan baju-baju ku di rumah mas gak ada. Katanya nanti setelah dari klinik pulang ke pesantren"


"Yasudah, ayo"


Aku pun mengemudikan mobil milik Chaca, dengan kecepatan sedang aku membelah jalanan kota.


Kresek


Kresekk


Ku menoleh ke samping kiri ku, tepat nya melihat istriku.


"Chaa," Panggil ku


"Mas mau juga?"


"Mas puasa, cha"


"Kan tadi gak sahur, mas. Udah gak usah puasa, nanti di bayar"


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, rupa nya setan telah merasuki istriku, menggoda ku agar aku tidak puasa.


"Nanti mas sakit lo, kemarin udah perjalanan jauh juga"


"Mas kemarin udah gak puasa, cha. Sekarang harus puasa. Sebenarnya mas nyesel banget karena kemarin gak puasa"


"Gak usah di sesali, mas. Yang penting kan nanti di ganti"


Sudahlah, aku tak meladeni nya lagi. Sampai besok pagi pun kalau di bahas dia tetap bilang seperti itu. Mungkin saat ini dan kedepan nya aku harus hati-hati dalam mengajari nya. Satu ilmu tentang bayar hutang sholat saja membuat Chaca mengentengkan nya, jadi aku benar-benar harus hati-hati.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit, mobil yang ku kendarai sudah memasuki area sebuah klinik. Karena sudah membuat janji, apalagi dokter nya itu tente temen nya Chaca. Saat kami datang, tak perlu mengantri lama kami langsung masuk.


"Ayo langsung tidur sayang, tante dari kemarin malam kepikiran kamu"


Chaca hanya cengengesan, lalu ia berbaring di tempat tidur tidur. Aku pun mendekat, sungguh aku deg deg an saat sebuah alat sudah di


Tempelkan di atas perut Chaca yang sebelumnya di kasih sebuah Gel.

__ADS_1


"Ini haid, biasanya haid akan datang setelah satu bulan konsumsi. Tapi ini haid sudah keluar, mungkin karena kecapekan"


"Iya, dok. Sudah ku bilang untuk stop obat herbal nya, karena mau jalan-jalan. Tapi diam-diam Chaca meminum nya"


"Apa sebelum nya sudah melakukan hubungan suami istri?"


"Tidak, dok"


"Mungkin karena kecapekan saja. Gak ada yang bahaya, cuma mungkin nanti sesekali nyeri nya, gitu saja sih"


"Miom nya gimana, dok?" Tanya ku


"Ini sudah aku ukur, nanti setelah haid USG lagi ya. Jadi setiap selesai menstruasi kita USG. Jika dalam tiga kali menstruasi Miom tidak berubah ukuran, maka dengan terpaksa harus operasi"


Aku merinding mendengar kata operasi, dengan operasi aku membayangkan semua dampak buruk nya.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Kita berdo'a saja," Ucap dokter tersebut.


Kami pun kembali duduk di depan meja sang dokter, setelah itu dokter memberikan sebuah obat. Obat pereda nyeri yang hanya di minum saat nyeri itu tiba. Obat ini hanya boleh di konsumsi satu kali sehari, karena dosis nya sangat tinggi dan sangat bahaya sekali jika di konsumsi lebih dari satu kali sehari.


"Setelah ini, harus istirahat ya. Jangan aktifitas apapun dulu, kalau kecapek an pasti akan nyeri perut nya"


"Dengerin, Cha!"


Setelah membayar ke kasir, kami langsung pulang. Aku ingin sekali istirahat, entah mengapa badan ku sangat lemah. Tapi Chaca masih ingin pergi ke swalayan, sangat lama sekali membuatku ngantuk.


"Banyak banget, Cha" Ucapku saat Chaca memasukkan banyak sekali barang, bahkan di bantu oleh karyawan swalayan tersebut.


"Ini rezeki kita, mas. Untung aku mampir ke sini"


"Kenapa?"


"Ada promo, karena aku juga punya saham di sini jadi harga nya sangat miring sekali. Sayang kalau gak di beli"


"Kamu punya saham?"


Dia menatap ku


"Tapi kalau berlebihan gini kan sayang kalau gak di makan, cha. Emang kamu mau makan semua ny?"


"Enggak, mas. Nanti aku bagikan ke Zahra, itu ada beberapa bumbu instan biar aku masak nya simple. Lalu minyak, sosis, nugget, dan saos gitulah"

__ADS_1


Yasudahlah, terserah saja. Jika aku mendebat nya juga rasanya percuma, barang-barang itu sudah di beli.


Setelah sampai rumah, ternyata Umi sudah menunggu kami. Di rumah juga ada Khalila dan Mbak Rifa, tentu nya juga ada Zahra.


"Maaf, Umi. Kami belum sempat beli oleh-oleh"


"Gak apa-apa, Cha. Oleh-oleh itu gak penting, yang penting kesehatan kamu"


"Gimana kata dokter nya, cha?"


"Gak apa-apa, ning Rifa. Cuma efek kelelahan saja"


"Aku tinggal ke kamar dulu untuk istirahat," Aku langsung pamit, ngapain juga berdiri di sana ikutan berbincang dengan para wanita. Lagipula aku sangat capek sekali, badan ku rasanya lemas.


***


Tak terasa aku sudah tidur sangat lama, ini sudah jam empat sore. Kebiasaan si Chaca gak pernah bangunin suami nya, jadi aku gak akan mengandalkan dia untuk hal ini.


"Ehh, udah bangun. Baru saja hendak ku bangunin," Aku baru saja keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi, dia muncul dengan wajah berseri-seri.


"Dari mana?"


"Aku dari dapur umum, sama Umi"


"Siapin baju, Cha. Mas kau ke masjid"


"Okey," Chaca menjinjit dan langsung menciun pipi ku. Setelah itu dia berlari masuk ke kamar


Aku sungguh pusing sekali melihat kelakuan nyanya, ada-ada saja.


Setelah mandi dan sholat Ashar di kamar, aku memutuskan langsung pergi ke masjid. Tentu hendak mencari Faisal, ada banyak sekali yang hendak aku tanya kan kepada nya.


Namun, Faisal tidak ada. Menurut beberapa santri, dia sejak pagi pergi bersama Mas Adam.


"Ada ustadzah atau Ustadz yang berhenti bulan lalu?"


"Tidak ada, Gus. Malah ada dua Ustadz baru, Alumni santri sini sih"


"Ya sudah, kalau ada yang berhenti kamu langsung kabari aku ya"


"Engge, Gus"

__ADS_1


Ini artinya Nabila tidak berhenti mengajar di sini, dia hanya cuti saja. Aku menyesal sekali telah mendekati dia, tapi mau gimana lagi, semua ini sudah terjadi dan aku harus menyelesaikan semua nya. Dan satu hal lagi, Chaca gak boleh sampai tersakiti dengan masalah ini, jangan sampai!


__ADS_2