
Bab 50
Setelah sholat tarawih, aku masih bergabung bersama beberapa santri untuk tadarus. Seperti biasanya, semua santri akan di bagi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga puluh anak, dan setiap anak akan membaca satu Juz.
Begitu juga dengan ku, aku bergabung bersama beberapa Ustadz dan tentu nya juga dengan Abah.
"Kok gak pulang?" Tanya Abah saat aku duduk di sebelah nya
"Kenapa harus pulang?"
"Abah khawatir sama Chaca yang sendirian di rumah, kamu bisa mengaji di rumah saja. Zahra tadi ikut Rifa ke masjid juga, pulang saja"
Aku tak langsung mengambil keputusan, namun seperti nya aku benar-benar harus pulang. Tentu nya Umi juga sibuk di masjid santriwati, lebih baik memang menuruti saran abah.
Setelah berpamitan dengan semua orang, aku berjalan keluar masjid.
"Gus, mau kemana toh?"
Baru saja aku memakai sandal, laki-laki yang sejak tadi aku tunggu ini baru saja menampakan diri.
"Pulang, kau dari mana saja?"
"Aku dari pesantren Kyai Hasyim sama Gus Adam, ini baru pulang"
"Ohhhh," Jawab ku singkat
"Kenapa pulang?"
"Chaca sakit, jadi lebih baik aku jagain dia di rumah"
"Sakit apa?"
"Do'ain saja"
"Pasti, Gus"
"Aku pulang dulu, besok setelah sholat subuh aku mau cerita ya"
"Oke siap, Gus"
__ADS_1
Aku pun berlalu pergi meninggalkan Faisal, karena jarak masjid dan rumah tidak begitu jauh. Aku pun sudah sampai di rumah, keadaan rumah begitu sepi, dan Chaca ternyata sudah tidur di kamar.
Aku pun mengambil Al-Quran, lalu ku bawa menuju ke kursi goyang kesayangan ku yang ada di depan kamar. Disinilah tempat ternyaman ku membaca Al-Quran, membaca buku dan berpikir, hehehe...
Namun baru saja beberapa lembar ku baca, Tiba-tiba saja Chaca sudah berdiri di samping ku.
"Shodaqallahuladim," Ku tutup Al-Quran yang aku pegang, lalu ku letakkan di meja yang ada di samping ku.
"Kok Bangun?"
"Denger suara mas, aku langsung bangun. Dari tadi aku nungguin Mas"
"Yasudah, kamu tidur lagi sana"
Dia menggeleng manja "Aku pengen yang manis-manis"
"Kan tadi beli coklat, kenapa gak di makan?"
"Tapi aku pengen martabak manis," Ucap nya sambil duduk di pangkuan ku, lalu menyandarkan kepalanya di pundakku, sangat manja sekali.
"Mau beli?"
Dia menjawab nya dengan anggukan kepala nya, bisa ku rasakan di pundakku.
"Ikut, aku pengen pilih sendiri"
"Ya sudah, ayo cepat ganti baju"
Dia tersenyum kepadaku, lalu mencium pipi ku. Setelah itu baru ia beranjak dari atas pangkuan ku. Aku hanya bisa menggeleng-geleng kan kepalaku, dia sangat agresif sekali dan sudah berani kepada ku.
"Jangan keluar mobil! Mas akan minta daftar menu nya"
"Tapi aku pengen keluar"
"Ada banyak laki-laki, Cha. Lihat itu!"
Ini yang aku tidak suka, walaupun di larang masih saja terus menawar nya. Dasar si Chaca, coba kalau nurut, kan aku gak marahin dia.
"Ya sudah," Dia cemberut, tapi biarkan saja. Aku langsung turun dari mobil yang ku parkir tak jauh dari gerobak martabak.
__ADS_1
Setelah mendapatkan menu nya, aku memberikan kertas tersebut kepada Chaca melalui Jendela.
Dengan cemberut Chaca memandangi kertas tersebut, jari telunjuk nya juga ikut maraba tulisan yang tercetak di sana. Cukup lama, tapi aku harus sabar.
"Aku mau martabak manis spesial keju, sama martabak asin daging sapi premium"
"Ada lagi?"
Dia menggeleng, tapi bibir nya tidak cemberut lagi.
"Ya sudah, tutup jendela nya. Di lihatin orang nanti!"
Seketika bibir iku kembali cemberut dengan mata menatap ku sebal. Walaupun seperti itu, dia tetap menuruti perintah ku, hehehe...
Karena banyak banget yang mengantri, aku pun beinisiatif membelikan Chaca minuman. Ku belikan dia Es Macha, ya itung-itung agar bibir nya gak maju lagi.
Tok
Tok
Tok
Ku intip melalui kaca jendela, memang tak jelas. Tapi aku bisa lihat nyala layar HP di dalam.
"Ini mas belikan kamu es," Aku menyodongkan cup es ke Chaca.
"Ini rasa melon?"
"Bukan, Macha sayang. Seger itu," Aku tersenyum menatap nya.
"Ihh, mas mau bikin aku gatal-gatal?"
"Hah?"
"Aku alergi Macha!"
Chaca semakin cemberut, sudahlah. Mungkin aku tak jago dalam hal ini. Baiklah-baiklah, biar saja dia cemberut. Ini tidak marah-marah dan mengomel saj udah untung.
"Yuk keluar, kamu pilih sendiri rasa es nya"
__ADS_1
"Engga! Males aku, gak mood"
Terus ini bagaimana? Aku harus apa ini? Dan drama ini berlanjut sampai rumah. Dua martabak yang sudah ku beli tidak di makan, dia langsung tidur, yang pasti tidur di ujung kasur. Semoga saja tidak jatuh.