
Kini aku sudah duduk di kursi sebuah pesawat, pesawat yang
akan membawaku dan Chaca ke bandara internasional King Abdul Aziz. Kami berangkat
dengan jamaah umrah lain nya, namun kami tidak ikut rombongan mereka. Alias kami
Umrah pribadi, sedangkan yang lain nya umrah biasa selama satu minggu, dan kami
akan pulang bersama jamaah Umrah kloter ke dua.
Luar biasa memang, Travel milik Ridwan berkembang, dan aku
baru tau bahwa penanggung jawab dan pemandu umrah untuk jamaah semua alumni
santri di pondok milik Abah. Alhamdulillah, syukur ku ucapkan melilhat
santri-sanntri Abah bisa langsung bekerja dan mengamalkan ilmu yang mereka
peroleh di pondok.
“Mas, aku au tidur. Jangan ganggu aku ya”
“Hmmm,” jawabku. Tentu aku tak mau banyak bicara, malu jika
di dengar banyak orang.
Beberapa jam kemudian, pramugari membagikan makanan untuk
kami, aku pun menolak makanan itu. Aku tidak akan membangunkan Chaca, makanan
ini bisa aku minta nanti, Ketika Chaca sudah bangun.
Aku sejak kemarin malam susah sekali tidur, bukan karena
akan berangkat berbulan madu, tidak. Namun ini tentang Nabila, jujur saja aku
sudah menyudahi semua nya.
Flashback On
Beberapa hari kemarin, setelah malam indah bersama Chaca. sore
itu aku duduk bersama Bapak mertua ku, kebetulan Nabila waktu itu mengirim pesan
kepadaku. Akupun langsung berpamitan kepada bapak mertuaku itu, setelah itu aku
duduk di taman depan, dekat pos satpam, dan aku langsung menelpon Nabila.
“Assalamualaikum, Gus”
“Waalaikumsalam”
“Aku lihat di story Ning Khalila, panjenengan rujuk dengan Chaca”
Aku diam, bingung hendak berkata apa
“kemarin panjenengan bilang mau ke pengadilan agama, tolong
jelaskan yang sebenarnya, Gus”
Aku menghela nafasku kasar, setelah itu aku menarik lagi nafasku
dan ku hembuasakn perlahan, lalu dengan tenang aku berkata “Maaf, Nabila. Sepertinya
Kita tak Jodoh, Maafkan aku”
“Lalu?” terdengar suara Nabila gemetar, mungkin disana Nabila
sedang menangis
“KAmu bisa melanjutkan Hidupmu, kamu masih muda, pandai juga.
In syaa Allah mudah mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku”
“PAnjenengan jahat, Gus. PAnjenengan sudah sangat menyakiti
hatiku, lalu aku harus bilang apa ke ayah ku”
“Aku tau aku salah, In syaa Allah setelah aku pergi Umrah,
aku akan berkunjung ke rumah mu untuk meminta maaf langsuing kepada Ayah mu”
“Aku rasa itu tak perlu, Gus. Assalamualaikum”
Tut
Tut
Tut
Nabila mematikan sambungan telepon nya, namun tak berapa lama
dia mengirmkan pesan yang begitu Panjang lebar. Inti dari pesan nya itu dia tak
mau putus. Dia memaksaku untuk menikahinya, ia rela menjadi istri ku yang ke dua,
bahkan tak mempermasalahkan jika menjadi istri simpanan, tidak peduli walaupun
tidak ada yang tau dengan pernikahan ini, yang terpenting kami menikah.
Maaf, aku sangat mencintai Chaca. aku juga tak mampu jika
harus poligami, mempunyai dua istri.
Setelah mengatakan itu, Nabila tetap bersikeras untuk di nikahi.
Akhirnya ku blokir nomor nya, aku takut Chaca mengetahui nya, bisa-bisa salah
paham. Tetapi aku akan tetap jelaskan kepada Chaca tentang ini semua, tidak sekarang.
__ADS_1
Mungkin nanti setelah kami selesai bulan madu.
Flashback Off
“Mas,” aku kaget saat suara Chaca terdengar di telingaku,
memang tak keras, namun dia memanggilku dengan bibir nya menempel di telingaku.
“astaghfirullah, Cha”
“Mas kok gak bangunin aku, inikan waktunya makan”
“tadi kamu bilang gak boleh di ganggu, jadi mas minta sama
pramugarinya untuk menyimpan makanan nya dulu sampai kamu bangun”
“Aku lapar”
“ya sudah, sebentar lagi tak minta kan makanan”
Tidak lama kemudian, makanan kami datang. Ku lihat di
sekeliling semua orang sedang bersiap untuk sholat. Ini memang sudah waktu nya
sholat asar, kusegerakan makan ku agar bisa menunaikan sholat.
Tidak terasa hampir dua puluh satu jam kami berada di dalam
pesawat, kini kami sedang menunggu koper kami.
“Kamu yang dorong, aku yang duduk ya mas”
“Cha, banyak orang jangan pecicilan kayak anak kecil”
“Ihhh… gak mau, pokok nya mau duduk”
“Yasudah, ayo”
Benar saja, dia memang tak malus ama sekali, bebebrapa
jamaah lain nya tersnyum melihat kami. Aku sungguh malu, ya beginilah resiko
menikah dengan Bocah!
“Gus, kata pak Ridwan panjenengan Umrah sendiri ya”
“Iya, aku lama di sini soal nya”
“saya dan teman-teman saja senang saat melihat nama
panjenengan, bisa umroh bersma. Ternyata tidak hehehe”
“Kalau waktu kita sama, nanti aku pasti menghampiri kalian. Tenang
saja”
Ku lirik istri ku, ternya dia tidak ada, aku baru saja berbincang
Mataku terus mencari keberadaan nya, aku mengela nafas lega,
ternyata dia sedang berfoto bersama ibu-ibu. Dan sekarang Bapak-bapak juga
meminta foto dengan ku, padahal aku bukan siapa-siapa, aku memang sedikit lain
dari mas Adam dan Khalila. Mereka berdua bisa nyaman dan biasa-biasa saja, tapi
sungguh aku tak biasa dengan ini semua. Memang sejak dulu aku sangat low profil
dari pada kedua saudaraku, baru-baru ini saja aku menjadi artis dadakan seperti
ini.
“tak doain agar cepat punya anak”
“Aamiin, makasih ibu-ibu”
“Duh, cantik banget sih”
Reflek aku menarik tangan ibu-ibu yang seperti nya gemas
mencubit pipi Chaca.
“Gus, gak akan Cuwil pipi istrinya”
Astaghfirullah, kenapa aku berlebihan seperti ini. Akhirnya ibu-ibu
ini menertawai ku.
“Sayang banget ya,Gus sama istrinya”
“Cie cie, percaya yang pengantin baru”
Aku tidak marah, benar-benar tidak. Tapi kenapa ibu-ibu ini
berani menggodaku, apa mereka semua tidak Sungkan kepadaku, memang aku tak butuh di hormati
layak nya Abah, tidak. Aku tak ambisi itu, apakah karena sikap ku, atau begini
rasanya berbaur dengan masyarakat. Memang benar, aku jarang dan hamper tak
pernah sedekat ini dengan masyarakat. Menyenangkan memang, tapi jujur saja aku
sedikit malu, enta malu apa. Yang pasti bukan malu karena mempunyai Istri
Chaca, mana mungkin aku malu mempunyai istri yang sangat cantik seperti Chaca.
***
Kini aku sudah berada di kamar hotel bersama Chaca, dia
__ADS_1
langsung tidur padahal sudah ku suruh mandi. Sedikit bandel memang, namun aku biarkan
saja, yang penting sudah Sholat.
Tak lupa aku langsung menabari Ayah mertua,dan Abah melalui
pesan Whatsapp. Setelah itu aku pergi ke kamar mandi, harus mandi sebelum
tidur, biar nyenyak tidak gatal seluruh badan.
Tak mau berlama-lama di kamar mandi, aku segera
menyelesaikan mandiku lalu aku bersantai, duduk di atas Kasur sambal membalas
pesan dari Abah.
Namun ada lagi nomor baru yang masuk, aku yakin ini adalah Nabila.
Lama-lama aku sangat kesal kepada Nabila, kenapa dia seperti ini, aku sudah
punya istri. Aku maklumi untuk yang kemarin, karena aku juga memberi harapan,
tapi sekarang. Aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak bisa meninggalkan Chaca,
kenpa masih ngeyel juga, menyebalkan sekali.
AUTHOR ngomel ^makanya, jangan memberi harpan kepada wanita.
Kan kalau begini kamu sendiri yang susah, Gus. Udah tau orang tua sudah tidak
setuju dengan Nabila masih saja ngeyel, katanya berbakti, tapi kemarin terpaksa
menikah dengan Chaca. Sekarang udah tau rasanya dan dapat batuny di gangguin Nabila^
“Apa aku cerita ke Khalila ya, biar dia bantu aku
menyelesaikan semua ini,” gunam ku sambal terus memikirkan akibat ke depan nya “Ah,
tidak! Pasti Khalila ember ke Umi dan Mas Adam. Bisa-bisa semakin runyam,
mbulet, ruwet”
Sudahlah, sebaiknya whatsap ini aku kunci dulu demi
kemaslahatan dan kedamaian bersama, hehehe..
Dan sekarang sebaiknya aku tidur, memeluk Chaca sepertinya
lebih menyenangkan daripada memikirkan Nabila.
Karena capek, aku baru saja membuka mataku saat adzan subuh
di handphone ku berbunyi, hingga aku melewatkan sholat malam ku.
“Sayang, bangun,” aku menggoyangkan tubuh nya sambal ku
ciumi pipi nya
“Mas, lima menit lagi”
Pasti, jika dia kecapek an akan susah sekali di bangunkan.
“Ayo kita sholat subuh, Cha. Mandi besar dulu, lalu kita
juga harus miqat. Nanti kita pergi ke mekka bareng jamaah, ayoooo”
Karena tak mau membuka mata nya, aku menggendong Chaca
membawanya masuk ke kamar mandi. Untung saja kini aku sangat mencintainya, jika
tidk sudah kugambyor dengan air dingin.
“Nanti tak pijitin, sekarang mandi besar. Mas tunggu di
luar, jangan lama-lama”
“Iya, iya,” dia cemberut, tapi nurut saja.
Cukup lama memang menunggu Chaca, tapi kini aku diam terpaku
menatap istri ku ini. Kini dia memakai Baju berwarna putih, dengan jilbab
besar. Yang bikin pangling wjah nya yaitu model hijab nya. Jilbab dengan tali
karet sehingga membentuk wajah nya bulat.
“Cantik banget”
“Ayo, nanti ketinggalan”
Sepertinya dia sedikit marah, tapi tak mengapa, aku suka
dengan gyanya merajuk.
Memang sedikit lama, tapi untung saja tidak ketinggalan jamaah.
Setelah melelakukan miqat, kami langsung melakukan ihram bersama. Ibadah kali
ini sangat menyenangkan daripada sebelum nya, ehhh ..sama-sama menyenangkan sih
tapi kali ini seperti berbeda saja. Umrah bersama Chaca rasanya sangat istimewa
sekali, alhamdulillah.
Aku tak menyesal dengan kejadian yang terjadi kemarin-kemarin.
Jika aku tidak menuduh nya hamil, aku rasa sampai saat ini hubungan ku dan
Chaca akan tetap sama, tidak harmonis. Dengan begitu aku tidak bisa meraskan
__ADS_1
semua ini, sungguh Bahagia.