
20.
Kini aku duduk bersama keluarga mertua ku dan juga keluarga Kyai Hasyim, kali ini aku senang sekali bisa berbincang sedikit lama dengan Gus Hasan dan Husen.
Kegalauan hatiku langsung hilang, teralihkan dengan kehadiran beliau. Kami berbincang membahas masalah yang bermutu dan berbobot, bukan sekedar guyonan saja.
Namun tak terasa waktu cepat berlalu, hingga langit mulai berwarna jingga, tanda bahwa sudah memasuki waktu Maghrib.
Tidak ada yang berubah, kegiatan di pesantren tetap berjalan seperti biasanya. Tetapi malam ini jamaah masjid kami di hadiri orang-orang shaleh, in syaa Allah.
Setelah sholat isya, kami pun kembali ke rumah. Memang sejak pagi tadi dapur rumah sudah sibuk, dan kini hidangan makan malam yang cukup berat ini sudah siap di nikmati.
"Lo, mana Chaca?" Tanya Kyai Hasyim
Aku pun langsung menatap sekeliling, benar. Dia tidak ada, apa dia sekarang lagi sakit? Kalau iya bisa-bisa aku akan di goda habis-habisan.
"Chaca di sini, abah"
Aku langsung bernafas lega, dia keluar dengan penuh senyum, tanda bahwa dia baik-baik saja.
"Kalian perlu bulan madu, Jalan-jalan berdua gitu biar cepat akrab"
"Enggeh, Kyai. In syaa Allah," Jawab ku
"Ambil cuti satu minggu saja, cukup kok"
"Bilang mau kemana? Nanti aku pesan kan semua nya, itung-itung hadiah dari ku," Timpal Ridwan.
"Waah, beneran kak? Kalau gitu aku mau ke labuhan bajo atau Bali juga boleh"
"Jangan Bali lah," Potong Kyai Hasyim
"Iya, Bali banyak orang telanjang"
"Bener banget, mas Ridwan. Yang ada mas Yusuf sibuk jaga mata nya, gak bisa menikmati bulan madu," Heboh Khalila, dan jangan tanya lagi, suasana semakin ramai. Semua orang mengatakan semua mendapat untuk kami pergi bulan madu, padahal aku belum kepikiran untuk itu. Aku tidak siap, aku masih banyak pertimbangan.
"Terus kemana dong?"
"Terus kita makan saja dulu," Ucapku, berharap ini bisa mengakhiri semua kehebohan ini.
"Mas Yusuf kebiasaan, gak pernah ngomong. Sekali ngomong langsung rusak suasananya kalau gak gitu nyelekit di hati!" Seru Khalila yang mungkin saja tau maksud ku.
__ADS_1
"Bukan gitu," Aku pura-pura mengelak "yang mau jalan-jalan kan aku, biar aku saja yang pilih mau kemana"
"Oke, oke. Biar adik ipar yang pilih, nanti tinggal kabarin saja aku"
Kata-kata Ridwan itu berhasil menutup pembahasan ini, kami pun akhirnya bersiap untuk makan malam.
Setelah menikmati hidangan yang teramat sangat enak ini, kami para laki-laki duduk santai di teras hingga jam menunjuk ke angka sembilan, keluarga Kyai Hasyim dan keluarga mertua ku kembali pulang.
"Mas, anterin aku ke kamar mandi"
Aku menatap nya heran, kenapa juga harus di antar, pikirku.
"Mas, aku takut. Tadi ning Khalila cerita horor, jadi takut"
Aku menghela nafasku, ada-ada saja Khalila ini. Sekarang pun aku terpaksa mengantarkan nya.
"Mau ngapain ke kamar mandi?"
"Mau gosok gigi sama cuci muka," Jawab nya lembut, seolah sedang merayu ku agar aku mau menuruti nya.
"Ayo," Ucap ku lalu berjalan terlebih dahulu menuju ke kamar mandi.
Kamar mandi di rumah ini ada tiga, yang dua untuk mandi dan yang satu khusus WC.
"Mas!" Panggil nya.
"Apa!"
"Mas dimana? Di samping kamar mandi kok seperti nya ada orang!"
"Aku ada di kamar mandi sebelah, sudah jangan takut! Gak ada apa-apa!"
Setelah itu dia tak lagi memanggil ku, sampai akhir nya kami berdua selesai. Tentu aku dahulu yang selesai, dia sangat lama sekali. Entah apa saja yang dia lakukan.
"Mas gimana?" Dia berputar di hadapan ku "ini pertama kali nya aku pakai gini, hehehe."
"Ingat ya, di sini ada Abi. Kamu harus menjaga pakaian, walau di dalam rumah kamu harus pakai jilbab, kamu hanya boleh buka jilbab ketika di kamar saja!"
"Iya, mas. Ini lihat, aku udah di belikan jilbab-jilbab model gini sama Bunda"
Tentu saja bu Mila mengerti, andai tidak di siapkan oleh bu Mila, mungkin dia tetap akan memakai daster pendek nya.
__ADS_1
"Mas, besok masuk kuliah ya"
"Iya, kamu harus masuk. Gak ada toleransi lagi, kemarin kamu gak ikut ... "
"Ya kan aku lagi Nikah, mana bisa ikut"
"Seharusnya balik ke semester satu lagi," Protes ku yang masih tidak bisa menerima.
"Lagian kan sama mas, semester satu sama dua itu mata kuliah nya umum. Aku udah kemarin di.. "
"Ssstttt...," Aku langsung menatap nya "kecilkan suaranya, kamu harus belajar bicara dengan nada kecil. Gak pantes wanita bicara dengan nada keras"
Dia langsung diam, menatap ku dengan sebal, jelas terlihat di mata nya.
***
Sekarang dia sedang duduk di jok bagian belakang. Setelah perdebatan cukup panjang, akhirnya dia mau juga berangkat ke kampus menggunakan motor.
Jari-jari lentik nya itu kini sedang meremas Jas hitam ku, dia juga riweh dengan rok nya. Ku maklumi saja, dia tidak biasa naik motor.
Pagi ini kami berhasil mencuri perhatian banyak orang, mungkin semua orang melihat kami begitu sangat epic, romantis bak sebuah drama Korea.
"Akhir nya," Dia segera turun dari motor setelah aku memarkirkan nya. "Mas, aku harus kemana? Kok aku merasa aneh ya"
Aku yang masih sibuk menyiapkan tas dan beberapa map tak begitu menggubris nya.
"Kamu bisa kan cari kelas mu? Fakultas pendidikan ada di lantai dua"
"Aku ikut mas dulu ya, nanti kalau udah jam nya aku akan ke kelas"
Aku menatap nya, tidak setuju.
"Kamu harus beradaptasi, di lantai dua itu fakultas pendidikan. Kamu tinggal cari kelas mu."
"Tapi aku kok sepertinya... "
"Kalau gak mau terlihat aneh di sini, sesuaikan pakaian mu dengan mereka. Kamu sedikit salah kostum"
Aku meninggalkan nya, jelas dia salah kostum. Di sini tidak ada yang memakai setelan rok seperti nya. Semua pakai gamis dengan jilbab paling pendek menutupi dada. Sedangkan dia memakai jilbab segi empat dengan gaya modern. Walaupun tetap menutupi dada, namun aku lebih suka yang tidak terlalu banyak gaya, takut jatuh tabarruj.
Setelah beberapa langkah, aku berbalik. Ternyata dia sudah berjalan menuju tangga. Aku percaya kepada nya bahwa dia bisa mandiri, lagipula semua orang tau bahwa dia istriku. Aku tak perlu khawatir, tidak ada yang akan macam-macam. Lagipula aku percaya dengan mahasiswa disini, tidak ada yang kurang ajar.
__ADS_1