Positif

Positif
Bab 42


__ADS_3

Bab 42


Setelah sholat isya, aku ingin segera bicara berdua dengan Chaca. Namun ternyata tidak bisa, prosesi makan malam bersama sudah siap. Mau tak mau aku harus melewati nya dahulu, dan menekan rasa yang sejak tadi membuatku tak tenang.


"Kamu sudah siapin semua perlengkapan kita pergi?" Tanya ku bisik-bisik kepada Chaca yang duduk di samping ku


"Sudah, mas. Tadi aku di bantu Ning Khalila"


Aku pun diam, lalu beranjak pergi untuk berpindah duduk di dekat Ridwan. Atau tepat nya di dekat para laki-laki.


Sungguh sangat lama acara makan ini di mulai, padahal semua orang sudah ada di sini, makanan juga sudah tersaiji di sana. Entah apa yang sedang semua orang tunggu.


"Ayo kita mulai saja makan malam ini, seperti nya sepasang pengantin baru ini sejak tadi gelisah. Pengen istirahat," Ucap kyai Hasyim


Sontak semua orang senyam senyum sendiri, membuatku malu. Ku lirik istriku yang ada di ujung saja, seperti nya dia juga sedang malu. Lucu juga, ahh.. Kenapa aku terbanyang-bayang wajah nya saat malu-malu kemarin, astagfirullah...


"Ridwan, ayo pimpin doa nya"


"Ayolah, ini hanya doa sebelum makan. Bukan doa setelah ijab qobul"


"Hahaha"


Seharusnya aku ikut tertawa juga, namun nyatanya aku tak bisa. Sungguh aku gelisah sekali, apa yang sebenarnya Chaca ingin katakan. Akankah Chaca takut dengan obat herbal itu?


Setelah makan malam selesai, aku juga masih belum bisa menemui Chaca. Aku masih berada di sini ikut berbincang dengan semua orang, beberapa tetangga juga banyak yang datang. Memang ini tradisi sih, banyak yang datang ke rumah sebelum dan sesudah pergi umrah atau Haji.


"Mas, aku mau minta tolong"


Okey, cha dengan senang hati. Akhirnya aku bisa masuk dan punya alasan untuk bicara berdua dengan nya. Aku mengikuti langkah kaki Chaca, lalu aku masuk ke kamar yang seperti nya ini kamar tamu.


"Ada apa?"


"Gak ada apa-apa, mas"


Aku menatap nya sambil menaikan alis ku satu.


"Kamu ada apa sih, Cha. Sejak tadi lo kamu seperti ini, katakan biar mas gak khawatir. Mas dari tadi khawatir terus lohhh"


"Mas tumben banyak bicara, biasanya irit bicara"


"Mas khawatir, kamu takut kah minum obat herbal itu?"

__ADS_1


"Ihhh, tidak mas. Aku sama sekali tidak takut minum obat apapun"


"Lalu?" Aku menatap nya dalam, sungguh aku masih khawatir walaupun istriku ini sudah menyakinkan ku.


"Ini, sejak tadi aku ingin menunjukkan ini," Dia memberiku amplop berwarna Coklat yang sedikit tebal "Mas Buka sendiri, lihat isi nya"


Aku pun tak bicara, lalu ku buka amplop yang tidak yang sudah ada di tangan ku ini. Dan setelah ku tuang hingga isi nya keluar ke telapak tangan kanan ku, aku kaget di buat nya.


"Itu dari Kak Ridwan, kalau aku sih senang-senang saja mendapatkan nya. Tapi sekarang aku sudah punya suami jadi aku harus tanya suami ku dulu"


Aku ingin sekali meneluk nya, karena sudah bijak menghadapi beberapa persoalan.


"Kembalikan saja, mas punya cukup uang untuk di sana"


"Baiklah, akan aku kembalikan. Untuk ini gimana?" Chaca menuding sebuah kertas yang ada di tumpukan paling bawah uang-uang real yang aku pegang ini.


"Apa itu?"


"Itu tanda bukti chek in di hotel bruj khalifah, hotel yang tinggi di Dubai."


Aku mengela Nafasku kasar, dilema sekali. Jika aku mengembalikan semua nya, maka semua akan menjadi kubazir, kasian Ridwan juga.


"Baiklah," Aku tersenyum menatap Chaca, lalu ku usap kepala nya "ternyata bijak juga istriku ini," Bukan nya mendapat senyuman, chaca malah melotot kepadaku.


"Mas kira aku gak bisa berpikir bijak, gitu?"


"Bukan gitu, sayang"


"Tau ah," Dia pergi meninggalkan ku, kenapa juga jadi begini ceritanya. Padahal aku ingin mencium nya walaupun satu kecupan saja.


"Mas Yusuf, masih banyak orang juga"


"Tadi Chaca memanggilku," Jawab ku kepada Khalila, setelah itu aku langsung meninggalkan dia. Biar tidak panjang urusan nya.


"Mas Yusuf, mas... "


Aku erus saja berjalan keluar, tidak menghiraukan Khalila. Aku tau, saat ini semua orang akan terus menggoda ku, apapun gerakan tubuhku akan di jadikan bahan untuk menggoda ku.


****


POV Author

__ADS_1


Jam sembilan malam, kediaman pak jamil ini baru sepi, semua orang sudah pulang hingga tersisa keluarga pak Jamil saja.


Terlihat Yusuf membantu pak Jamil menggulung karpet, sedangkan Chaca ada di dapur bersama sang Bunda.


"Chaaa," Panggil Ridwan keras, sehingga menyita perhatian semua orang


"Ridwan, udah malam jangan teriak!" Bu Mila langsung menegur


Ridwan langsung menghampiri Chaca yang sedang berdiri dekat meja makan.


"Ambil ini! Jangan di kembalikan lagi!" Ridwan meletakkan sebuah amplop coklat yang tadi siang ia berikan kepada Chaca sebagai Hadiah.


"Kak, mas Yusuf gak mau terlalu banyak merepotkan banyak orang"


"Iya, Ridwan. Akomodasi umrah dan kamar hotel sudah cukup" Yusuf menimpali


"Itu uang dari Ayah, sudah bawa saja," Pak Jamil yang ada di samping Yusuf pun menjawab nya sambil tersenyum.


Chaca dan Yusuf saling menatap, kedua nya saling mencari jawaban satu sama lain.


"Kalau kalian gak mau, uang ini akan Ayah buang. Bagaimana pun juga Ayah gak mau ambil uang yang sudah Ayah berikan"


Yusuf Dan Chaca terus menolak, tapi Pak Jamil terus saja memaksa nya. Hingga akhirnya dengan berat hati Yusuf menerima nya.


Setelah selesai di lantai dasar, Chaca dan Yusuf masuk ke kamar hendak istirahat. Besok jam enam pagi mereka sudah harus berangkat, karena jadwal penerbangan nya jam sepuluh, sedangkan jam delapan mereka harus chek in.


"Mas aku tidur dulu ya, capek banget"


"Iya tidur saja dulu, mas masih ngecek ini"


Chaca membiarkan suami nya itu melihat koper nya, terserah mau di apakan. Ia percaya kepada suami nya bahwa nanti akan di rapikan kembali setelah mengecek semua barang-barang nya.


Klinggg...


Kebetulan handphone nya berbunyi, Yusuf yang sejak kemarin tidak begitu menghiraukan Handphone nya pun ini mengecek nya. Beberapa pesan dari Khalila, Adam, Faisal belum ia buka. Namun orang-orang tersebut sudah menelpon Yusuf sehingga tak perlu menunggu balasan Yusuf. Tetapi sebuah nomor baru menyita perhatian Yusuf.


"Kenapa kau membohongi ku, gus"


Dari pesan nya saja Yusuf bisa menebak, jika pesan itu dari Nabila. Nabila rupa nya sengaja mengirim pesan kepadanya dengan nomor baru, karena nomor lama Nabila sudah ia blokir hingga tidak ada akses buat Nabila menghubungi nya.


Yusuf pun kembali memblokir nomor tersebut, ia tak mau pusing dengan Nabila. Apalagi besok dia akan pergi Umrah, jadi dia tak mau Nabila menganggu nya, apalagi sampai Chaca tau, ia tak mau itu terjadi. Hubungan nya dengan Chaca sudah membaik, ia tak mau merusaknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2