
Bab 30
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam," Setelah menjawab salam ku, Umi langsung menyeret ku masuk.
"Istrimu Positif Hamil, Suf. Umi seneng banget"
Deg..
"Lihat ini," Umi memberikan ku sebuah benda kecil kepadaku.
Tangan ku bergetar menatap dua garis merah yang tergambar di sana, begitu juga jantungku terasa ingin jatuh, tubuh ku langsung lemah untung saja umi memelukku hingga aku tak sampai jatuh.
"Umi," Panggil ku lemas.
"Kamu samperin chaca, tadi dia muntah-muntah, Jadi umi suruh dia istirahat. Nanti kamu belikan buah buat Chaca, tanyain dia mau apa"
Tanpa menjawab, aku pun langsung meninggal kan Umi. Kini kaki ku tak lemah, bahkan aku melangkah dengan mantap. Emosi ku langsung naik ke ubun-ubun, dan aku mengerti semua nya.
"Mas," Dia langsung menarik ku masuk, dan kali ini aku langsung menghempaskan tangan nya.
"Mas, aku akan jelasin dari awal. Kamu duduk dulu ya"
"Diam! " Teriakan ku tertahan "sekarang jawab pertanyaan ku, kamu udah gak menstruasi berapa bulan?"
"Tiga bulan, mas. Sejak... "
"Kini aku tau alasan kamu pergi ke dokter kandungan minggu lalu bersama laki-laki yang kau sebut Sahabat itu. Kau sedang mengandung anak nya kan?"
"Mas, aku... "
"Diam, wanita murahan!"
Plaaaakkkk!
Dia menamparku dengan kuat dan sangat sakit terasa di ujung bibir ku. Emosi ku semakin memuncak, mataku memerah karena nya. Ku pelototi dia namun matanya juga tak kalah melebar menatapku.
"Kemasi barang-barang mu, aku akan kembalikan kamu ke rumah orang tua mu."
Aku tak mau banyak bicara, sungguh aku sudah tidak bisa bertahan lagi dengan semua ini.
"Mas aku akan jelaskan dulu, aku.. "
"Jangan pegang-pegang aku wanita ******!"
__ADS_1
Ku hempas tangan nya yang memegang lengan ku. Sekarang tangisan nya tak akan membuatku kasian.
"Stopp mas! Aku bukan wanita ******, bukan juga wanita murahan seperti yang kau pikirkan!"
"Ku tunggu di luar! Capat!"
Aku tak mau meladeni dia lagi, aku sungguh sudah muak dengan kelakuan nya.
"Suf, mau kemana?"
"Umi, Yusuf mau bicara sesuatu"
Umi pun mengikuti langkah kaki ku, aku pun duduk di kursi depan ruang tamu.
"Umi, Chaca hamil bukan anak Yusuf"
Wajah umi syok, tapi aku harus mengatakan hal yang sejujur nya.
"Yusuf dan Chaca sampai saat ini belum melakukan apapun, ini memang memalukan. Tapi itulah kenyataan nya, umi" Aku menunduk, sungguh ini sangat memalukan sekali.
Setelah beberapa detik aku diam, menunggu reaksi Umi. Ternyata umi juga diam, akupun memberanikan diri ku untuk mendongak, melihat Wajah wanita yang slalu aku hormati ini.
Ku lihat raut Wajah Umi seperti kecewa, marah dan sedih. Aku sungguh tak ingin membuatnya seperti ini. Tapi bagaimana lagi, inilah kenyataan nya.
"Umi, maafkan Yusuf. Tapi percayalah, Yusuf memperlakukan Chaca seperti ini bukan karena apa, kami memang sepakat untuk saling mengenal dulu"
"Umi... "
Belum selesai aku bicara, Tiba-tiba saja Chaca keluar dengan terburu-buru menggeret koper nya.
"Umi, Yusuf mau antarin Chaca dulu," Ucapku sedikit keras namun dengan nada rendah.
Aku pun segera keluar, namun Chaca sudah pergi. Dia pergi bersama mobil nya, akupun langsung masuk ke mobilku hendak menyusul nya. Namun Abah dan Mas Adam tiba-tiba datang dengan langkah panjang.
"Ada apa, Suf? Istrimu mau kemana? umi kenapa menangis?"
"Masuk dulu, Suf. Ini ada apa sih!" Terdengar suara Abah tegas dan raut wajah nya marah.
Akupun mengikuti langkah abah dan Mas Adam yang masuk ke dalam rumah dengan wajah Khawatir.
Sesampainya di dalam rumah, Umi ternyata sudah duduk sambil menangis di ruang tengah. Melihatku juga ada di sana, Umi memalingkan muka nya. Apa ini? Apa Umi marah kepada ku? Padahal aku tak melakukan apapun.
"Tidak mungkin," Ucap Abah tak percaya setelah umi menceritakan keadaan Chaca, hmm lebih tepat nya sesuatu yang sedang terjadi di rumah tangga ku.
"Minggu lalu, Chaca izin kepada Yusuf untuk pergi bersama teman-teman nya, Bah. Tentu Yusuf tak mau membiarkan nya pergi sendiri. Akhirnya Yusuf meminta salah satu santri kepercayaan Yusuf untuk membuntuti nya. Awalnya biasa saja, dia pergi ke Cafe untuk bercanda. Namun jam tiga sore, Chaca pergi berdua dengan laki-laki bernama Al ke rumah sakit"
__ADS_1
Flashback on. (Author Pov)
Chaca keluar dari ruangan seorang dokter, Dokter tersebut bernama Wika Haryani, dokter bergelar SPOG. Dia tak sendirian, melainkan bersama seorang laki-laki yang jelas akan di kenali oleh Yusuf.
"Gimana ini, Al? Hiks hiks"
Chaca menangis di pundak Al, dengan cepat santri suruhan Yusuf memotret nya. Tentu untuk bukti, santri tersebut takut jika dibilang fitnah.
mereka berdua duduk di bangku depan ruang tersebut, dengan cepat santri tersebut memencet tombol rekam suara. Tentu itu termasuk yang yusuf pinta.
"kamu harus bilang sama suami mu, Cha"
"Aku takut sekali, Al"
"Atau bilang ke Orang tua mu"
"Tidak, nanti mereka tau kalau aku sama mas Yusuf belum Anu. Masalah semakin runyam, Al"
"Baiklah, aku yang akan bantu kamu ngomong"
"Tidak, aku akan berusaha dulu. Jika bulan depan Mas Yusuf belum mau, aku akan menceritakan semua nya"
Flashback Off
"Yusuf awalnya tak mau pusing dengan hal tersebut, Umi, Bah. Ternyata ini jawaban nya, jadi ya mau gimana lagi"
"Yakin bukan anak mu?" Tanya Mas Adam.
Aku menghela Nafasku, ini sangat memalukan sekali, tetapi memang harus di katakan.
"Hingga sampai saat ini, Yusuf belum melakukan apapun dengan Chaca." Aku menunduk "ii memang memalukan sekali, tapi memang inilah kenyataan nya"
"Abah gak bisa ngomong lagi, dada abah terasa sesak sekali"
Mendengar penuturan Abah, aku bingung sekali hendak bagaimana. Begitu juga Mas Adam, dia menunduk seolah-olah tidak ada nasihat untukku.
"Kamu susul Chaca, ceritain apa adanya. Nanti Abah juga akan telepon Kyai Hasyim untuk ini"
Aku pun mengangguk, sebelum aku meninggalkan ruang tengah ini, Abah bicara lagi.
"Jangan talak Chaca, menalak istri di saat marah tidaklah baik"
"Tapi tadi Yusuf sudah mengusir nya, Bah. Bagaimana?"
"Sudah kamu susul dulu Chaca, masalah itu nanti kita bahas. Intinya kamu kesana jangan talak Chaca, atau bilang ke pak Jamil kalau menyerahkan kembali Chaca, ngerti suf!"
__ADS_1
"Enggeh, Bah"
Aku sungguh tidak mengerti dengan keluarga ku, masalah sefatal ini seharusnya tidak bisa di toleransi. Tapi tak mengapa, toh pada akhirnya semua akan berakhir. Aku tidak akan mau jika harus memberikan nama ku kepada anak yang di kandung oleh Chaca, tidak mau!