
Bab 38
Setelah mandi, aku biarkan dia tidur. Tidak tega melihat nya lelah seperti itu, mungkin dia tidak terbiasa seperti ku.
"Mana Chaca, Suf?" Tanya bunda saat aku berjalan menuju ke dapur.
"Tidur, Bunda"
"Kok gak di bangunin? Apa dia gak mau bangun?"
"Enggak, Bun. Memang Yusuf biarkan dia tidur,"
"Gimana sih, Chaca itu. Seharusnya melayani suami nya," Omel bu Mila
"Gak apa-apa, Bunda. Biarkan saja"
Aku bingung hendak gimana, tentu aku tak mungkin mengatakan bahwa dia baru tidur jam dua dini hari, malu dong.
"Bunda, udah biarin!"
Setelah pak jamil mengatakan itu, Bu Mila langsung tersenyum. Ah, kenapa aku malu sekali.
"Bunda seperti gak pernah jadi pengantin baru saja!" Celetuk Ridwan yang baru saja menuruni tangga
Eh, ini kenapa semua senyam-senyum. Membuatku semakin malu saja, mungkin saat ini semua melihat wajah ku yang merah. Dan aku harus menunduk untuk menyembunyikan nya.
"Gak ngajar, Suf?" Tanya Ridwan sambil duduk di samping ku
"Cuti, aku ambil Cuti tiga bulan"
"Ohhh, enak dong sekali bulan madu. Setelah umroh mau kemana? Aku akan siapin akomodasi nya"
"Udah, umroh selama lima belas hari itu sudah termasuk liburan. Cukup, Ridwan"
"Seminggu udah cukup umroh nya, seminggu nya bisa jalan-jalan berdua"
"Nah, itu maksud aku"
"Ayo makan dulu, nanti setelah sarapan saja ngobrol nya"
Aku pun sarapan bersama, hanya minus Chaca saja. Setelah sarapan, Ridwan bersiap kembali ke Pulau seberang. Sedangkan Pak Jamil pergi ke gudang karena musim panen, jadi pak Jamil harus ada di gudang.
Tinggal aku, tidak ada yang aku kerjakan. Jika di pesantren aku bisa mengajar ngaji, atau jadi imam sholat dhuha. Hingga aku menjadi mengantuk.
"Suf, Bunda mau arisan di rumah sebelah. Kamu tutup pintu nya ya, soal nya bibi mau ke puskesmas"
"Enggeh, Bunda"
Sekarang hanya ada aku dan Chaca di rumah, dan tiba-tiba saja aku memikirkan banyak hal, yang pasti hal-hal tersebut berhubungan dengan Chaca. Ah, sejak kapan pikiran ku menjadi mesum seperti ini.
Aku pun naik ke lantai dua, tepat nya masuk ke kamar. Ku lihat Chaca sudah bangun, tapi dia masih rebahan sambil memainkan handphone nya.
"Mas kok gak kerja?"
__ADS_1
"Cuti," Jawab ku singkat, lalu aku naik ke atas bed, dan merebahkan diriku di samping nya.
Perlahan aku membuka kancing daster nya yang ada di bagian atas, Chaca hanya diam saja. Dia fokus melihat handphone nya.
"Mas," Panggilan peringatan itu tak membuatku berhenti, aku memasukkan tangan ku dalam baju nya.
"Mas Yusuf, ihhh" Dia menarik tangan ku agar keluar dari baju nya.
"Lagi yuk!"
"Besok malam kita berangkat umrah, mas... "
"Nah itu, kalau Umrah kan gak ada kesempatan buat anu," Potong ku
"Ihhh," Dia mencubit hidung ku gemas "ini masih sakit, nanti kalau aku gak bisa jalan gimana? Apalagi di sana jalan terus, kesana jalan, ke sini jalan!"
Lucu sekali kalau mengomel, bukan hanya bibirnya yang bergerak, tangan nya pun ikut juga.
"Mumpung sepi, Cha. Mas pengen banget" Ucap ku dengan nada renda dan ekpresi yang tentu nya memelas, hahaha..
Dia terlihat diam, berpikir dan mungkin akhirnya kasian melihat wajah ku yang memohon ini.
"Aku cuci muka sama gosok gigi dulu"
"Gak usah," Aku langsung menarik nya, ku bawa dia ke dalam rengkuhan ku, tanpa banyak bicara dan aku juga tidak suka banyak bicara. Langsung saja ku cium bibir nya, dia pun menjadi pasrah. Memang ya, wanita ini malu-malu tapi mau. Sering menolak padahal juga ingin. Sudah jelas sekali, bahwa nafsu wanita lebih besar dari pria. Hanya saja wanita bisa menahan nya dan wanita cenderung lebih ke rasa malu atau gengsi. Berbeda dengan pria jarang sekali bisa menahannya, apalagi sudah punya yang halal untuk melampiaskan nya.
"Mas Yusuf," Nada manja nya ini membuatku semakin ingin melakukan lebih.
"Jangan lama-lama sih bisa, kalau pelan sih gak janji," Aku tersenyum mengejek nya
"Mas Yusuf, ihhh"
Tuh kan, dia malu. Ini adalah hal favorit ku, menggoda nya dalam keadaan seperti ini dan dia akan menenggelamkan wajah nya di dadaku.
"Jangan di jilat, geli sayang" Bohong ku, tentu itu aku katakan agar dia melakukan nya. Dan benar saja, dia melakukan nya. Mungkin dia berpikir akan membalasku, tapi nyatanya inilah yang memang aku inginkan.
Karena aku tak tertawa tapi malah menikmati nya, dia mendongak menatapku. Dan tatapan nya itu membuat ku ingin sekali memakan nya habis.
"Ahhhh," Chaca teriak saat aku menghentakan tubuh nya secara kasar. Aku tak peduli lagi dengan teriakan nya dan rengekan nya, aku ingin melakukan ini sekali saja. Mumpung tidak ada orang di rumah, Hari-hari berikutnya mungkin tidak akan ada kesempatan begini lagi, kecuali kita pergi berbulan madu di tengah hutan.
Rengekan itu hanya berlangsung sebentar saja, dia langsung memelukku erat. Ku biarkan saja, sejak kemarin dia tak mau menatapku. Dia lebih suka menyembunyikan ekpresi nya.
"Jangan di tahan suara nya sayang, mas pengen dengar," Ucapku dengan suara terengah-engah
Tapi nyatanya Chaca masih malu, mungkin karena masih pertama sih. Rasanya tak bisa ku ungkapan dengan sebuah kata, aku saja bodoh. Tentu saja aku sudah berdosa mendzolimi nya kemarin. Seharusnya aku melakukan ini sejak awal, bukan karena rasa ini. Tapi dengan melakukan ini aku bisa melepaskan Nabila dengan mudah.
"Massssh"
Aku langsung menarik tangan nya agar pelukan kami lepas, kepala nya pun terjatuh di bawah ku. Kulihat kening nya berkeringat, kepala nya mendongak dengan mata terpejam dan bibir nya terbuka sedikit.
Tentu aku tau, ini sudah ku pelajari di kitab fathur izar. Dan aku ingin melepaskan nya bersama-sama seperti kemarin, karena ketika air mani kita bercampur maka itu akan menjadi penguat cinta kami.
Berhasil, aku merasa senang saat bisa melepaskan nya bersama-sama, hingy kami sama-sama lemas. Ku ciumi seluruh wajah yang lesu itu dengan gemas.
__ADS_1
"Aku mau mandi, mas. Ning khalila kata nya mau ke sini"
Merusak, ngapain juga khalila ke sini sih.
"Mau apa ke sini?"
"Lihat sendiri Chat nya di Handphone ku," Jawab nya dengan lemas
Aku pun beranjak, tentu bukan untuk langsung mengambil handphone Chaca. Tapi masih ingin menyelesaikan ending dari pergumulan ini.
Sejak kemarin aku yang selalu membersihkan sisa-sisa cinta yang keluar dari tubuh kami. Bahkan kemarin pun aku yang membersihkan darah perawan Chaca hingga bersih, memang sih Chaca menolak nya. Tapi tentu saja aku marah dan akhirnya dia menurut-menurut saja.
"Mas, biar tak bersihkan sendiri di kamar mandi"
"Diam!" Aku menatap nya tajam, selalu saja protes
"Mas sakit"
"Alasan kan?" Tanya ku tanpa menatap nya, aku masih fokus membersihkan milik nya dengan tisu.
Dia diam, benar saja dia hanya alasan.
"Mas, jelek ya?"
Aku mendongak, menghentikan aktifitas ku. Ku tatap dia yang juga menatap ku.
"Apanya nya jelek?"
"Itu," Jawab nya ragu-ragu
"Apa?" Aku tak mengerti
"Itu, mas" Dia menunjuk dengan mata nya. Aku pun jadi mengerti.
"Aku kemarin melihat nya, bentuk nya berubah dan menurut ku jelek gak seperti sebelum nya"
Aku pun tersenyum, memang istri ku ini ada-ada saja. Aku pun merangkak di atas nya, ku sejajar kan wajah ku dengan wajah nya.
"Cantik, cantik banget"
"Ihh, bukan wajah nya. Kalau wajah ku memang cantik dan selamanya cantik," Omel nya "tapi itu"
"Itu cantik juga kok," Aku mengatakan itu dengan menatap nya dalam, sehingga dia malu dan menyembunyikan wajahnya di dada ku.
"Mas bohong kan, aku kemarin udah lihat. Rusak, bentuk nya berubah"
Aku menarik wajah nya, aku ingin sekali menatap wajah merah nya ini.
"Gak apa-apa sayang, kan yang merusak mas. Lagian yang penting rasanya"
"Mas Yusuf, ihhh" Dia memelukku lagi. Sebenarnya ya, aku tak mesum seperti ini. Tapi sejak kemarin aku jadi suka mesum kepada Chaca hanya karena ingin membuat nya malu seperti ini. Tak apalah, mesum ke istri sendiri tak akan dosa.
Aku merasa sangat bahagia sekali, dia benar-benar membawa kebahagiaan buat ku. Aku sangat menyayangi mu Siti Aisyah.
__ADS_1