Positif

Positif
Bab 40


__ADS_3

Bab 40


"Kyai Hasyim?"


Aku lupa kalau ada kyai Hasyim di sini, tadi ku kira beliau sudah pulang. Tapi ternyata beliau masih ada di sini dan sekarang sedang duduk sambil membaca sebuah kitab.


"Yusuf," Beliau memanggil ku


"Enggeh, Bah"


Dia tersenyum kepada ku, tapi aku sangat malu sekali menatap nya.


"Gak apa-apa, dengan mendengar nya sendiri seperti ini. Aku bisa pulang dengan pikiran tenang," Beliau kembali tersenyum kepadaku, sedangkan aku jangan di tanya lagi, aku hanya menunduk saja.


"Ayo bersiap sholat dzuhur di masjid," Ajak Kyai Hasyim sambil menutup kitab nya dan melepas kacamata nya.


"Enggeh, Bah. kulo bilang Chaca dulu, takut dia cariin"


"Iya, tak tunggu di depan"


Aku pun sedikit berlari menaiki tangga, ku buka pintu kamar mandi ternyata sudah tidak ada orang. Ternyata istri cantik ku ini sedang duduk mengeringkan rambut nya.


"Cha, aku mau ke masjid sama Abah Hasyim" Pamit ku sambil menyemprotkan minyak wangi ke baju ku


"Mas," Dia memanggil ku dengan manja, aku pun langsung menatap nya. "Sakit banget," Keluh nya sambil cemberut.


"Nanti saja di bicarakan ya, mas di tungguin Abah Hasyim, gak enak"


"Okey," Jawab nya pasrah


Aku pun langsung meninggalkan dia, tetapi baru saja tiga langkah keluar kamar. Aku kembali lagi masuk "cha, jangan lupa pakai jilbab kalau keluar kamar. Biar gak kelihatan itu," Aku menunjuk lehernya dengan tatapan ku


"Mas sih, udah di bilang jangan tetap saja di lakuin. Mana banyak lagi!"


Aku tersenyum, lalu menghampiri nya dan mengigit bibir nya yang manyun itu. Biarkan saja wudhu ku batal, nanti aku akan wudhu lagi di masjid.


"Mas Yusuf, suka nya gigit-gigit!" Dia semakin kesal tapi tetap dengan nada manja, membuatku gemas saja.


"Enak sih," Aku menggoda nya sambil ku kedip kan satu mata ku.


"Mas Yusuf," Dia langsung menelukku, menyembunyikan wajah malu nya.


"Udah ah, nanti malah lain cerita nya. Mas sudah ditungguin Abah, kamu jangan lupa makan"


Dia mengangguk manja, huh gemas nya. Lucu sekali melihat nya seperti itu.


"Kenapa suf?" Tanya Kyai Hasyim

__ADS_1


"Memang nya kenapa, Bah? Yusuf tidak kenapa-kenapa"


"Kok muka nya agak merah gitu?"


Benarkah muka ku merah? Apa karena aku gemas tadi wajah ku seperti ini. Atau karena aku tadi menuruni tangga sambil memikir kan Chaca.


"Masa merah, bah?"


"Tidak, mana ada wajah berwarna merah, hahaha"


Astaghfirullah, Kyai Hasyim hanya menggodaku saja.


Setelah jama'ah sholat dzuhur, aku berjalan pulang bersama Kyai Hasyim. Rencana nya sih aku akan pulang sebentar untuk mengambil koper dan baju-baju ku, tapi ternyata di sini sudah ada Khalila. Dia mengantarkan koper ku, biar aku tak perlu lagi pulang.


"Terima kasih, tumben pengertian"


"Gak tumben, memang aku yang paling pengertian dan perhatian"


Aku tak menjawab nya lagi, ngapain juga aku meladeni Khalila yang pasti nya tidak akan ada ujung nya.


"Mas," Bisik nya. "Lihatlah, istri mas itu jalan nya kok aneh ya"


Aku melirik Chaca yang sedang berjalan menuju ke dapur, benar saja. Terlihat aneh sekali.


"Biasa saja, kenapa?" Aku berusaha menyembunyikan semua nya, jangan sampai aku terpancing oleh siapapun.


"Kayak nya gak biasa deh, apa jangan-jangan... "


"Heheheh, mas Yusuf malu ya"


Aku tak menanggapi nya, jika aku menghiraukan Khalila pasti dia akan mengetahui yang sebenarnya.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam," Akhirnya Faisal datang, kali ini dia menjadi penyelamat ku. Khalila pun beranjak, meninggalkan aku dan Faisal.


"Penuh Drama!" Ucap Faisal sambil menggeleng-gelengkan kepala nya


"Siapa?"


"Sampean, Gus. Sampean ini penuh drama sekali. Kemarin siang ada di pengadilan agama, malam nya rujuk. Ini gimana sih konsep nya?"


"Sudahlah, duduk. Jangan banyak bicara"


"Sek sek sek, sampean ini kok aura nya berbeda?"


"Beda apa nya?" Aku berusaha biasa-biasa saja, walaupun aku sebenarnya ingin sekali tersenyum melihat tingkah Faisal

__ADS_1


"Rambut nya Basah, apa jangan-jangan"


"Kenapa? Halal juga gak akan dosa"


"Wkwkwkwk"


Faisal tertawa terbahak-bahak, biarkan saja dia tertawa sampai puas. Aku ingin membagikan kisah ku yang indah ini dengan nya, walaupun tak cerita detail nya.


"Semoga kamu juga merasakan apa yang aku rasakan, Sal"


"Doa kan ya, Gus. Biar cepat tau rasanya jatuh cinta setelah halal"


"Sabar, makanya sekarang nabung. Jangan beli sarung terus, hehehe"


"Udah lama sekali aku gak melihat sampean tertawa seperti ini, Gus. Aku ikut senang mendengar nya"


Ya, aku mamang jarang sekali tertawa atau bisa dikatakan jarang sekali bercanda. Jika saja Khalila, Umi, Abah dan yang lain nya mendengar ku tertawa saat bercanda dengan Chaca tadi. Mungkin semua orang akan kaget, tapi nanti saat aku pulang ke rumah, aku akan menunjukan nya kepada Umi dan Abah, agar mereka yakin bahwa aku dan Chaca sudah baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Setelah Faisal dan Khalila pulang, aku naik ke lantai dua. Niat ku hanya ingin membuka koper untuk mengambil beberapa baju ganti, tapi nyatanya Chaca ini membuat ku tidak mau keluar dari kamar.


"Mas, nanti antarin aku ke dokter?"


"Sakit? Mana yang sakit?" Aku panik, apa karena ulah ku chaca harus ke rumah sakit


"Tidak, aku mau ambil obat herbal. Kan sekarang udah gak perawan, jadi aku mau coba minum obat herbal agar Miom ku keluar"


"Mas takut, sayang. Gimana kalau operasi saja?"


"Aku takut, mas"


Aku memeluk nya, ikut sedih dan juga merasakan kesakitan nya.


"Kata dokter, kalau aku minum obat herbal. Kemungkinan Miom itu akan keluar seperti haid. Jadi nanti setiap bulan nya di cek, Miom itu akan berkurangnya sedikit demi sedikit"


Aku memandang nya, lalu ku cium kening nya.


"Mas masih memikirkan nya lagi, mas juga takut sekali sayang"


"Mumpung Miom ini masih kecil, kemungkinan dua kali haid bersih mas"


"Ya sudah, nanti kita ke dokter. Biar mas sendiri tau gimana baik nya"


Dia memelukku, ku ciumi puncak kepala nya berkali-kali.


"Aku ngantuk mas, mau tidur"


"Sebentar lagi Ashar, jangan tidur cha!"

__ADS_1


"Gak mau, aku mau tidur"


Tetapi ujung-ujungnya kami tidak tidur, ku paksa Chaca untuk menuruti kemauan ku. Dengan jurus mujarab, tentu dia tidak akan menolak ku, hehehe...


__ADS_2