Positif

Positif
Bab 48


__ADS_3

Jam dua belas malam kami baru saja sampai rumah, rumah mertua


ku. Chaca langsung ku suruh mandi dan istirahat. Aku sudah mengakhiri semua


kemarahanku kepada Chaca, dan kini aku akan merawat nya.


“Mas, aku takut”


“Gak usah takut, ada mas yang akan terus menemanimu”


“Mas udah gak marah sama aku?”


Aku menggeleng lalu tersenyum menatap nya. “Sudah kamu tidur


dulu, mas mau sholat Isya’ dulu”


Dia tersenyum lalu memelukku, dan apa ini. Dia menangis di


dada ku, kenpa?


“jangan pernah tinggaln aku mas, mafin aku yang gak nurut


sama mas”


“udah jangan di bahas lagi masalah ini, yang penting saat


ini kita focus dengan penyakit kamu, sayang,” ku elus rambut nya, lalu ke kecup


kening nya agar dia merasa tenang. Lalu ku baringkan tuhuh nya perlahan “kamu tidur


ya, besok pagi kita ke klinik. Gak boleh terlambat kan?”


“iya, mas”


Aku pun meninggalkan nya, kini aku melangkah ke lantai satu,


menuruni anak tangga. Dari sini aku melihat ayah mertua ku duduk bersama


Ridwan, aku tau merka sedang menungguku.


“rencana nya, setelah ke klinik besok. Aku bawa Chaca pulang


ke pesantren, Yah. Karena jarak klinik dari rumah kan lebih dekat”


“Iya, itu terserah kamu. Tapi kamu harus Janji, selalu kasih


kabar tentang Kesehatan Chaca kepada Ayah dan kalau ada apapun langsung kabari

__ADS_1


ayah”


Aku berpikir sejenak, sebenarnya aku ingin mengemban smua masalah


ini berdua Degnan Chaca. Ketika nanti Chaca sudah sembuh aku ingin langsung


mengabarkan kepada semua nya, itu yang aku ingin kan. Karena apa? Karena aku


tak mau membuat semua orang kepikiran dan repot dengan kami.


“Baiklah, Yah. Yusuf Janji akan kasih kabar,” aku sudah


berjanji, baiklah. Aku mungkin harus memaklumi kekhawatiran seorang ayah.


“Ridwan, aku minta maaf. Hadiah yang kamu berikan semua


terbuang sia-sia”


“Tidak ada yang sia-sia, Suf. Walaupun Chaca menyebalkan,


aku tetap sangat menyayangi nya”


“teima kasih”


Tapi aku kok merasa ada yang aneh ya, ada yang kurang


“Yah, BUnda kemana?”


“Bunda mu ada di rumah Kyai Hasyim, Ayah gak kasih dia kabar.


Di sana ada acara, sebenarnya besok kami juga akan pergi kesana. Untuk itu jika


bunda telepon kamu atau Chaca jangan Angkat dulu, nanti jika kami sudah di sini


baru kita ceritakan”


“Enggeh, yah”


Setelah sholat isya’, aku berbaring di sebelah Chaca. Sebenarnya


sudah nanggung sekali, tapi karena aku belum tidur jadi tidak bisa melakukan


sholat tahajud.


Mungkin karena kelelahan, aku baru bangun jam enam pagi, aku


tau Ayah dan Ridwan tidak akan membangunkan kami, tapi istriku juga tidak

__ADS_1


membangunkan ku.


“Cha,” panggilku, pasal nya saat aku membuka mata, dia tidak


ada di sampingku


Tapi nyatanya dia tidak menjawab nya. Aku pun langsung pergi


ke kamar mandi, tapi baru saja aku keluar kamar. Chaca datang smabil membawa


nampan berisi makanan.


“Mas, udah bangun?”


“kamu kok gak bangunin mas? Mas gak sholat subuh Cha”


“Chaca gak tega bangunin mas yang sepertinya tidur sangat


nyenyak, wajah mas juga kelelahan”


“Cha itu salah, kamu gak boleh seperti itu”


Dia duduk di tepi Kasur, lalu menarik tangan ku agar aku


mengikutinya duduk di samping nya.


“besok subuh mas sholat nya doble kan bisa, jadi hutang dan besok


di bayar. Aku kan pernah sep[erti itu”


“Astaghfirullah, bukan gitu konsep nya,” aku rasa nya ingin


sekali menjewer telinga nya, bisa-bisa nya dia mempunyai akal-akalan seperti


itu.


“kamu siap-siap. Kita langsung pergi ke klinik”


“Mas itu yang siap-siap. Kalau aku tinggal pakai outher dan


jilbab, selesai deh”


Aku langsung meninggalkan nya, heran sekali sampai sekarang.


Bisa-bisa nya dia tak membangunkanku untuk sholat dan malah menyuruhku bayar


sholat besok. Benar Ridwan, menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2