
Jam dua belas malam kami baru saja sampai rumah, rumah mertua
ku. Chaca langsung ku suruh mandi dan istirahat. Aku sudah mengakhiri semua
kemarahanku kepada Chaca, dan kini aku akan merawat nya.
“Mas, aku takut”
“Gak usah takut, ada mas yang akan terus menemanimu”
“Mas udah gak marah sama aku?”
Aku menggeleng lalu tersenyum menatap nya. “Sudah kamu tidur
dulu, mas mau sholat Isya’ dulu”
Dia tersenyum lalu memelukku, dan apa ini. Dia menangis di
dada ku, kenpa?
“jangan pernah tinggaln aku mas, mafin aku yang gak nurut
sama mas”
“udah jangan di bahas lagi masalah ini, yang penting saat
ini kita focus dengan penyakit kamu, sayang,” ku elus rambut nya, lalu ke kecup
kening nya agar dia merasa tenang. Lalu ku baringkan tuhuh nya perlahan “kamu tidur
ya, besok pagi kita ke klinik. Gak boleh terlambat kan?”
“iya, mas”
Aku pun meninggalkan nya, kini aku melangkah ke lantai satu,
menuruni anak tangga. Dari sini aku melihat ayah mertua ku duduk bersama
Ridwan, aku tau merka sedang menungguku.
“rencana nya, setelah ke klinik besok. Aku bawa Chaca pulang
ke pesantren, Yah. Karena jarak klinik dari rumah kan lebih dekat”
“Iya, itu terserah kamu. Tapi kamu harus Janji, selalu kasih
kabar tentang Kesehatan Chaca kepada Ayah dan kalau ada apapun langsung kabari
__ADS_1
ayah”
Aku berpikir sejenak, sebenarnya aku ingin mengemban smua masalah
ini berdua Degnan Chaca. Ketika nanti Chaca sudah sembuh aku ingin langsung
mengabarkan kepada semua nya, itu yang aku ingin kan. Karena apa? Karena aku
tak mau membuat semua orang kepikiran dan repot dengan kami.
“Baiklah, Yah. Yusuf Janji akan kasih kabar,” aku sudah
berjanji, baiklah. Aku mungkin harus memaklumi kekhawatiran seorang ayah.
“Ridwan, aku minta maaf. Hadiah yang kamu berikan semua
terbuang sia-sia”
“Tidak ada yang sia-sia, Suf. Walaupun Chaca menyebalkan,
aku tetap sangat menyayangi nya”
“teima kasih”
Tapi aku kok merasa ada yang aneh ya, ada yang kurang
“Yah, BUnda kemana?”
“Bunda mu ada di rumah Kyai Hasyim, Ayah gak kasih dia kabar.
Di sana ada acara, sebenarnya besok kami juga akan pergi kesana. Untuk itu jika
bunda telepon kamu atau Chaca jangan Angkat dulu, nanti jika kami sudah di sini
baru kita ceritakan”
“Enggeh, yah”
Setelah sholat isya’, aku berbaring di sebelah Chaca. Sebenarnya
sudah nanggung sekali, tapi karena aku belum tidur jadi tidak bisa melakukan
sholat tahajud.
Mungkin karena kelelahan, aku baru bangun jam enam pagi, aku
tau Ayah dan Ridwan tidak akan membangunkan kami, tapi istriku juga tidak
__ADS_1
membangunkan ku.
“Cha,” panggilku, pasal nya saat aku membuka mata, dia tidak
ada di sampingku
Tapi nyatanya dia tidak menjawab nya. Aku pun langsung pergi
ke kamar mandi, tapi baru saja aku keluar kamar. Chaca datang smabil membawa
nampan berisi makanan.
“Mas, udah bangun?”
“kamu kok gak bangunin mas? Mas gak sholat subuh Cha”
“Chaca gak tega bangunin mas yang sepertinya tidur sangat
nyenyak, wajah mas juga kelelahan”
“Cha itu salah, kamu gak boleh seperti itu”
Dia duduk di tepi Kasur, lalu menarik tangan ku agar aku
mengikutinya duduk di samping nya.
“besok subuh mas sholat nya doble kan bisa, jadi hutang dan besok
di bayar. Aku kan pernah sep[erti itu”
“Astaghfirullah, bukan gitu konsep nya,” aku rasa nya ingin
sekali menjewer telinga nya, bisa-bisa nya dia mempunyai akal-akalan seperti
itu.
“kamu siap-siap. Kita langsung pergi ke klinik”
“Mas itu yang siap-siap. Kalau aku tinggal pakai outher dan
jilbab, selesai deh”
Aku langsung meninggalkan nya, heran sekali sampai sekarang.
Bisa-bisa nya dia tak membangunkanku untuk sholat dan malah menyuruhku bayar
sholat besok. Benar Ridwan, menyebalkan.
__ADS_1