
Chaca Pov
Sudah tiga hari mas yusuf tak datang ke rumah, kata ayah dia
sibuk ke luar kota bersama kak Ridwan. Hmm, aku tak masalah dengan hai itu. Tapi
kenapa gak menelpon atau sekedar mengirim pesan kepadaku.
Sudah dua jam ku genggam telepon ku, sejak tadi aku mau
menelpon nya. Tapi kata Bunda jangan hubungi Yusuf, takut Yusuf khawatir dan
ingin cepat pulang.
“Chaaa”
“Iyah, Yah?”
Aku berlari keluar kamar, menemui Ayah yang berteriak
memanggilku.
“Mau ikut Ayah?”
“Ke mana?”
“Ayah ma uke Gudang beras, Sekarang kan musim panen. Yuk
sekalian lihat panen di sawah”
“Males ah, yah”
“Nanti sawah-sawah itu punya kamu, nak. Masa yang punya
sawah gak tau mana sawah nya”
Aku diam, memikirkan lagi ajakan Ayah.
“Ayah tunggu di bawah, cepat!” Ucap ayah sambal berlalu
meninggalkan ku
Yasudahlah, dari pada aku di rumah semakin gabut, semakin
badmood dan kpikiran Mas Yusuf. Aku pergi saja ke sawah, hawa di sana pasti
sejuk kayak sawah yang ada di belakang pesantren.
Tapi dugaan ku salah, aku seharusnya mengerti. Siang-siang
bolong seperti ini pasti terik matahari sedang berada di atas kepala. Hiuhhhh!
Yusuf Pov
Sudah tiga hari aku berada di rumah, sudah tiga hari juga
aku tak kunjung mengingat makanan tersebut. Ridwan meminta kami membuat suasana
rumah tanggaku seperti sedang berada di ujung tombak, karena Nabila ada di
sini. Jangan sampai tau tentang kebenaran ini, kami tidah bisa berbuat apapun
lagi selain ini, Guna-guna adalah hal Mistik, tidak ada bukti nyata yang bisa menuntut
pelaku nya.
Selain itu, Kyai Hasyim memang memisahkan kami. Karena jika
__ADS_1
kami bersama terlalu lama pasti akan bertengkar, namun jika kami berjauhan
seperti ini. Maka kami akan saling merindukan. Dengan begitu masalah ini tidak
semakin runyam dengan drama pertengkaran.
“Suf, ngapain?” panggil mas Adam, membuyarkan lamunanku.
“Mas Adam ngagetin saja, mas ngapain? Tumben?”
“Aku habis ngantar Umi, jadi mampir lihat kamu”
“hemmm”
Bukan nya pergi, Mas Adam malah duduk di kursi samping kursi
goyang ku. Ngapain juga sih, gak atau aku lagi mengingat-ingat. Aku yakin Mas Adam
makin membuat ku pusing.
“Ehhh, Suf. Nabila tadi ke rumah, Rifa takut sama Nabila,
hahahah”
Tuh kan, dia malah bercerita gak penting. Mau ku usir ini
gak sopan, apalagi ini kakak ku sendiri.
“Ini aku lagi pusing juga Suf, gimana caranya ngomong sama
ZAhrah. Aku kau tau sendiri Zahrah gimana, kalau aku bilang gak boleh makan
makanan dari Nabila, pasti anak itu akan berkoar-koar ke semua orang, dan
melarang semua orang makan makanan Nabila”
nya. Sungguh aku sudah sangat pusing dengan masalah makanan ini.
“Assalamualaiku,” teriakan pemilik suara yang pasti membuat
ku sangat pusing lagi ini datang.
“Om Ucuppp,” Di tambah anak si tukang ceramah yang mulutnya
seperti orang dewasa ini, sudahlah ingin rasanya aku buang saja kepala ini biar
gak sakit.
“Gimana, Mas? Udah ingat belu?”
Sungguh aku badmood melihat Khalilah, apalagi Zahrah sudah
naik ke atas pangkuan ku.
“Om, Ucup kok Mecucu? Apa Abiku yang membuat Om Ucup Mecucu?”
“enggak, Zahrah. Om Ucup Cuma Cepek saja, pusing”
“Zahrah pijitin mau? Kata Abi pijitan Zahrah enak lohh”
“Mas coba deh ingat-ingat pertama kali lihat atau kenal Nabila
gitu”
“Kamu ketemuan sama Nabila pertama kali kapan?”
“Kamu pacarana nya mulai kapan?”
__ADS_1
“Mas kan gak perna di pesantren dulu? Terus kok bisa kenal
sam Nabila?”
“Atau Mas ketemuan diam-diam di luar?”
Bla..bla…bla…
Banyak sekali pertanyaan dari Khalila dan Mas Adam, tetapi
aku kini ingat. Waktu itu aku lihat Nabila saat mengantar Khalila sekolah.
Waktu itu biasa-biasa saja, suka pun enggak. Cuma wajah nya itu langsung
terekam di kepala, jadi saat melihat Nabila di barisan puluhan santri aku bisa
mengenalinya sebagai teman nya Khalila.
Lalu saat aku selesai kuliah S1, aku sempat di rumah selama
tiga bulan. Menunggu hasil pengumuman. Aku bertemu Nabila kembali, waktu itu
Nabila mengantarkan surat kepadaku. Surat dari kantor Pos yang isinya aku di
terima, dapat potongan biaya tiga puluh lima persen.
Setelah aku berangkat ke kuliah ke kairo, tiba-tiba saja
nomor baru mengirim pesan kepadaku. Ternyata itu Nabila, dia mengambil nomor ku
yang tertera di alamat surat.
Awal nya aku marah, Cuma karena di meminta maaf karena
kelancangan nya. Aku pun tak jadi marah, hanya saja waktu itu aku tak peduli
dengan nya.
Beberapa bulan kemudian, Mas Adam Nikah. Walaupun sebenarnya
tak ingin pulang, aku pun terpaksa pulang. Di sanalah aku bertemu Nabila, dia
menghadang jalan ku dan memberikan ku kue kesukaan ku.
“Getuk,” Ucapku
“Hah?”
“Nabila memberiku Getuk, Getuk Mbah Sarmin. Entah dari mana
dia tau aku suka Getuk”
“Tak penting itu, yang penting sekarang kita beli Gethuk itu”
“Yakin kamu itu getuk nya Mbah Sarmin?”
“Yakin Umi, Di desa ini kan hanya Mbah Sarmin yang jualan.
Gak mungkin Nabila beli di Pasar”
“Tapi Mbah Sarmin kan sakit, gak pernah keliling”
Deg
Deg
Deg
__ADS_1