Positif

Positif
Bab 64


__ADS_3

Chaca Pov


Sudah tiga hari mas yusuf tak datang ke rumah, kata ayah dia


sibuk ke luar kota bersama kak Ridwan. Hmm, aku tak masalah dengan hai itu. Tapi


kenapa gak menelpon atau sekedar mengirim pesan kepadaku.


Sudah dua jam ku genggam telepon ku, sejak tadi aku mau


menelpon nya. Tapi kata Bunda jangan hubungi Yusuf, takut Yusuf khawatir dan


ingin cepat pulang.


“Chaaa”


“Iyah, Yah?”


Aku berlari keluar kamar, menemui Ayah yang berteriak


memanggilku.


“Mau ikut Ayah?”


“Ke mana?”


“Ayah ma uke Gudang beras, Sekarang kan musim panen. Yuk


sekalian lihat panen di sawah”


“Males ah, yah”


“Nanti sawah-sawah itu punya kamu, nak. Masa yang punya


sawah gak tau mana sawah nya”


Aku diam, memikirkan lagi ajakan Ayah.


“Ayah tunggu di bawah, cepat!” Ucap ayah sambal berlalu


meninggalkan ku


Yasudahlah, dari pada aku di rumah semakin gabut, semakin


badmood dan kpikiran Mas Yusuf. Aku pergi saja ke sawah, hawa di sana pasti


sejuk kayak sawah yang ada di belakang pesantren.


Tapi dugaan ku salah, aku seharusnya mengerti. Siang-siang


bolong seperti ini pasti terik matahari sedang berada di atas kepala. Hiuhhhh!


Yusuf Pov


Sudah tiga hari aku berada di rumah, sudah tiga hari juga


aku tak kunjung mengingat makanan tersebut. Ridwan meminta kami membuat suasana


rumah tanggaku seperti sedang berada di ujung tombak, karena Nabila ada di


sini. Jangan sampai tau tentang kebenaran ini, kami tidah bisa berbuat apapun


lagi selain ini, Guna-guna adalah hal Mistik, tidak ada bukti nyata yang bisa menuntut


pelaku nya.


Selain itu, Kyai Hasyim memang memisahkan kami. Karena jika

__ADS_1


kami bersama terlalu lama pasti akan bertengkar, namun jika kami berjauhan


seperti ini. Maka kami akan saling merindukan. Dengan begitu masalah ini tidak


semakin runyam dengan drama pertengkaran.


“Suf, ngapain?” panggil mas Adam, membuyarkan lamunanku.


“Mas Adam ngagetin saja, mas ngapain? Tumben?”


“Aku habis ngantar Umi, jadi mampir lihat kamu”


“hemmm”


Bukan nya pergi, Mas Adam malah duduk di kursi samping kursi


goyang ku. Ngapain juga sih, gak atau aku lagi mengingat-ingat. Aku yakin Mas Adam


makin membuat ku pusing.


“Ehhh, Suf. Nabila tadi ke rumah, Rifa takut sama Nabila,


hahahah”


Tuh kan, dia malah bercerita gak penting. Mau ku usir ini


gak sopan, apalagi ini kakak ku sendiri.


“Ini aku lagi pusing juga Suf, gimana caranya ngomong sama


ZAhrah. Aku kau tau sendiri Zahrah gimana, kalau aku bilang gak boleh makan


makanan dari Nabila, pasti anak itu akan berkoar-koar ke semua orang, dan


melarang semua orang makan makanan Nabila”


nya. Sungguh aku sudah sangat pusing dengan masalah makanan ini.


“Assalamualaiku,” teriakan pemilik suara yang pasti membuat


ku sangat pusing lagi ini datang.


“Om Ucuppp,” Di tambah anak si tukang ceramah yang mulutnya


seperti orang dewasa ini, sudahlah ingin rasanya aku buang saja kepala ini biar


gak sakit.


“Gimana, Mas? Udah ingat belu?”


Sungguh aku badmood melihat Khalilah, apalagi Zahrah sudah


naik ke atas pangkuan ku.


“Om, Ucup kok Mecucu? Apa Abiku yang membuat Om Ucup Mecucu?”


“enggak, Zahrah. Om Ucup Cuma Cepek saja, pusing”


“Zahrah pijitin mau? Kata Abi pijitan Zahrah enak lohh”


“Mas coba deh ingat-ingat pertama kali lihat atau kenal Nabila


gitu”


“Kamu ketemuan sama Nabila pertama kali kapan?”


“Kamu pacarana nya mulai kapan?”

__ADS_1


“Mas kan gak perna di pesantren dulu? Terus kok bisa kenal


sam Nabila?”


“Atau Mas ketemuan diam-diam di luar?”


Bla..bla…bla…


Banyak sekali pertanyaan dari Khalila dan Mas Adam, tetapi


aku kini ingat. Waktu itu aku lihat Nabila saat mengantar Khalila sekolah.


Waktu itu biasa-biasa saja, suka pun enggak. Cuma wajah nya itu langsung


terekam di kepala, jadi saat melihat Nabila di barisan puluhan santri aku bisa


mengenalinya sebagai teman nya Khalila.


Lalu saat aku selesai kuliah S1, aku sempat di rumah selama


tiga bulan. Menunggu hasil pengumuman. Aku bertemu Nabila kembali, waktu itu


Nabila mengantarkan surat kepadaku. Surat dari kantor Pos yang isinya aku di


terima, dapat potongan biaya tiga puluh lima persen.


Setelah aku berangkat ke kuliah ke kairo, tiba-tiba saja


nomor baru mengirim pesan kepadaku. Ternyata itu Nabila, dia mengambil nomor ku


yang tertera di alamat surat.


Awal nya aku marah, Cuma karena di meminta maaf karena


kelancangan nya. Aku pun tak jadi marah, hanya saja waktu itu aku tak peduli


dengan nya.


Beberapa bulan kemudian, Mas Adam Nikah. Walaupun sebenarnya


tak ingin pulang, aku pun terpaksa pulang. Di sanalah aku bertemu Nabila, dia


menghadang jalan ku dan memberikan ku kue kesukaan ku.


“Getuk,” Ucapku


“Hah?”


“Nabila memberiku Getuk, Getuk Mbah Sarmin. Entah dari mana


dia tau aku suka Getuk”


“Tak penting itu, yang penting sekarang kita beli Gethuk itu”


“Yakin kamu itu getuk nya Mbah Sarmin?”


“Yakin Umi, Di desa ini kan hanya Mbah Sarmin yang jualan.


Gak mungkin Nabila beli di Pasar”


“Tapi Mbah Sarmin kan sakit, gak pernah keliling”


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


__ADS_2