Positif

Positif
Bab 25


__ADS_3

25.


"Tadi contoh yang aku sebutkan itu salah ya, mas? Atau kurang tepat, gak nyambung?"


Sudah lebih tiga kali dia menanyakan hal yang sama, walaupun aku sudah menjawab nya dengan jelas bahwa "tidak salah", dia terus saja bertanya hal tersebut.


"Sudah, cepat. Kita akan berkeliling, aku akan kenalkan kamu sama orang-orang di sini"


"Iya, iya. Ini tinggal pakai lipstik saja kok"


Akhirnya dia berhenti juga bertanya, mana mungkin aku menjawab yang sebenarnya, bahwa tadi dia sudah sangat luar biasa memberikan sebuah contoh. Tidak, tidak. Dia tidak boleh tau hal tersebut.


"Mas, gimana? Bagus?"


Dia berdiri di depan ku, mamakai abaya hitam dan jilbab coklat muda. Seperti biasanya, dia tetap cantik memakai apapun, dan yang hari ini dia begitu sangat cantik saat menggunakan pakaian simple seperti ini, tidak banyak model seperti kemarin-kemarin.


"Pakai Kaos kaki nya"


"Heheh," Dia menatap kaki nya yang sangat putih tersebut "iya, lupa mas"


Jangan kira aku posessif, atau tak rela dia di lihat oleh orang lain. Aku hanya tak ingin aurat nya itu menjadi dosa buat ku, bagaimanapun juga itu sudah menjadi kewajiban ku.


Kini dia berjalan di sampingku, menggandeng tangan ku. Wajah nya full senyum, sedangkan aku sendiri merasa tak nyaman dengan posisi seperti ini.


"Kemana saja, Gus. Baru di ajak keluar Ning nya"


"Cantik banget, diam-diam pinter juga cari istri"


Semua ibu-ibu yang sudah aku kenal sejak kecil ini terus menggodaku. Aku hanya bisa tersenyum saja, memang aku jarang bicara bersama orang-orang di sini, tidak seperti Mas Adam yang sangat dekat dengan mereka.


"Masak apa hari ini, bu?"


"Masak telur balado saja, ning. Kalau gak sibuk main ke sini sama ibu Nyai, Gus Yusuf itu sibuk banget, daripada kesepian di rumah"


"Engge, Bu"


Cukup lama aku dan dia di sana, karena banyak orang yang datang dan tiba-tiba nimbrung untuk melihat nya.


"Yuk kita ke rumah belakang,"


"Rumah siapa,mas?"


"Rumah untuk ustadzah yang ngajar disini"


"Ya sudah ibu, saya mau ke rumah belakang dulu. In syaa Allah kalau Umi ke sini, saya ikut"

__ADS_1


Cepat sekali berinteraksi dengan banyak orang di sini, padahal aku sendiri tak mau dia berinteraksi dengan orang-orang di sini.


Setelah mengenalkan dia, aku membawa nya pulang. Cukup lelah juga, terlebih aku sejak tadi BT.


Satu bulan berlalu begitu cepat, semakin aku mencoba membatasi pergerakan nya, dia semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan.


Bahkan sekarang Umi memberikan sebuah kepercayaan memegang uang belanja dapur untuk memasak makanan semua penghuni pondok. Melarang nya pun aku tak bisa, tidak bisa bagaimana mengungkapkan rasa keberatan ku dengan semua yang dia lakukan. Dia bisa di andalkan, bahkan Nilai setiap mata kuliah selalu menjadi nomor satu.


"Mas, boleh gak nanti siang aku ketemu sama temen-temen ku?"


"Di mana?"


"Ada di Cafe dekat sini aja sih, mas. Boleh ya mas? Aku gak enak sama mereka, aku juga lupa mau izin jauh-jauh hari sama mas. Apalagi minggu-minggu ini mas sering pulang malam"


"Jam empat harus ada di rumah"


"Wahhh, beneran boleh mas?"


"Iya," Jawabku singkat, "Cepat siapkan sarapan, aku harus cepat berangkat"


"Oke, siap"


Setelah itu dia keluar dari kamar dengan wajah sumringah, sebenarnya aku tidak suka dia pergi ke cafe seperti itu. Mau ngelarang juga aku tak mau ada pertengkaran, aku gak mau mood ku rusak gara-gara dia.


***


Aku tak menyangka segampang ini mendapatkan izin nya, sebelum nya aku sangat takut sekali saat bicara dengan Mas Yusuf. Memang sih, Akhir-akhir ini hubungan kami ada sedikit perubahan. Yang awal-awal dulu mas Yusuf selalu tidur terlebih dahulu atau menunggu ku tidur lalu dia merebahkan diri nya di samping ku. Se-Malu itukah mas Yusuf, uluh-uluh Lucu nya.


Aku tau dia orang yang kaku, jadi aku tak mengharap hal-hal romantis dari nya. Jangan kan merayu, ngomong saja jarang banget kecuali kalau lagi membahas atau menjelaskan pelajaran. Sisanya itu ya dia selalu ngomong seperlu nya saja.


"Perfect," Aku memuji penampilan ku sendiri, setelah itu aku langsung pergi keluar rumah. Umi sedang ada undangan manten, jadi ya aku langsung berangkat saja, toh di rumah gak ada siapapun, hanya beberapa mbak-mbak yang biasa bersih-bersih rumah.


Eiitts, hampir saja aku melupakan sesuatu. Sudah satu minggu ini aku memegang uang dapur, sebelum aku pergi, aku ingin memastikan makanan yang di masak sesuai dengan apa yang aku katakan kemarin. Umi berpesan, agar selalu melihat nya walaupun lima menit.


"Bu, saya mau keluar. Jadi nanti sore saya gak kesini"


"Enggih, ning. Ini bumbu nya sudah siap, tinggal cemplungin tahu dan tempe nya."


"Baiklah, bu. Nanti malam saya ke sini lagi"


"Siap, Ning"


"Ya sudah, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Aku pun berjalan cepat, sangat terburu-buru karena baru saja ku buka grup whatsapp semua sahabat-sahabat terbaikku itu sudah berkumpul di tempat.


Brakk...


Tak sengaja aku menabrak seseorang, karena aku menunduk menatap layar handphone ku.


"Maaf, ning"


"Maaf, aku yang salah," Aku pun ikut berjongkok, membantu nya mengumpulkan isi tas nya yang keluar.


"Eh,"


Aku melihat sesuatu, sebuah foto seorang laki-laki memakai toga, sekilas seperti mas Yusuf.


"Ngampunten ngge, ning. Saya permisi, assalamualaikum"


Dia berlalu begitu saja, ku lihat arah kaki nya melangkah. Ternyata ia masuk ke rumah belakang, tempat para ustadzah yang mengajar di sini.


"Siapa dia?"


Ah, bukan. Mungkin itu foto pacarnya, hehehe.. Gak nyangka orang-orang seperti itu pacaran, nyimpen foto cowok, wkwkwk.. Ku kira Hanya Mega saja yang sebucin itu, bahkan aku pun bertahun-tahun suka sama Mas Yusuf gak pernah menyimpan foto nya. Jangan kan memandang nya penuh cinta, pernah ketemu berhadapan saja aku marah-marah karena gugup. Ya segitu bodoh nya diri ku.


"Assalamualaikum, Ning Chaca. Memang tukang ceramah selalu datang terakhir, dan kita yang jadi jamaah nya menunggu sampai bedak hilang," Seru Mega heboh.


"Maaf, tadi dosen jam terakhir resek banget. Jam udah habis tapi malah suruh lanjutin presentasi sampai selesai"


"Kemana Al? Kata nya datang?"


"Al lusa baru pulang, Cha. Katanya sih sekalian libur panjang tanggal merah"


"Ohh, ya sudah. Kita makan-makan saja, aku yang teraktir"


"Oke siap"


Kami bertiga makan, mulai cemilan, makanan berat, minuman semua kami pesan. Kita tertawa bersama untung saja cafe ini sepi, jadi tidak ada yang tau kalau aku keceplosan ngakak.


"Ayo kita cuss ke Mall"


"Tapi jam Empat aku harus pulang guys"


"Masih ada setengah jam lagi, telat lima belas menit gak apa-apa kali,Cha"


"Iya, yuk cepat yuk"


Aku pun tak bisa menolak nya, kami pun ke Mall untuk membeli sesuatu yang 'Rahasia' , hehehe...

__ADS_1


Setelah itu, aku cepat-cepat langsung pulang. Dan setengah lima tepat mobil ku berhenti di depan rumah.


"Semoga saja Mas Yusuf gak Marah"


__ADS_2