Positif

Positif
Bab 47


__ADS_3

Kini aku duduk di sebuah kursi pesawat, memang aku dan Chaca


baru menikmati Dubai selama dua hari. Bahkan oleh-oleh saja hanya sedikit


sekali, tapi aku memaksa Chaca untuk pulang. Wajah ku sejak tadi sangat datar,


walaupun sebenarnya aku sedang sangat Khawatir seskali.


Aku benar-benar marah kepada Chaca, kita sudah membuat


kesewpakatan. Namun diam-diam Chaca melanggarnya. Walau sudah ku larang, dia tetap


meminum obat herbal. Dan sekarang akibat nya sangat Fatal, Darah sejak tadi


keluar, di tambah area bawah perutnya sakit.


“Mas, hiks hiks hiks”


Aku hanya melhat nya, memang tak aku hiraukan sejak tadi,


walaupun sebenarnya aku ingin sekali memeluk nya. Tidak, aku sekuat tenaga


menahan nya, agar di kemudian hari Chaca tidak begini lagi. Jika aku memanjakan


nya setelah dia melakukan kesalahan, lama-lama dia akan seenak nya sendiri. Aku


gak mau itu terjadi, apalagi Chaca sangat Bandel sekali.


“aku akan belikan makanan, setelah makan, minum obat dan


tidur. Perjalanan masih sangat jauh sekali”


Wajah nya memelas, aku gak tega. Tapi hari ini aku tak


peduli walaupun di katakan seorang suami yang kejam, biar saja.


Memang tadi sebelum kita berangkat, kami ke klinik untuk


chek Kesehatan Chaca. Ternyata aman-aman saja di buat terbang dan di kasih obat


Pereda nyeri yang mengandung obat tidur.


Aku melirik nya sesekali, dia makan dengan sangat pelan,


sesekali di meringis. Mungkin karena nyeri. Akupun berinisiatif menyiapkan obat


yang akan dia minum, tak lupa aku juga membukakan segel tutup air mineral. Hanya


ini yang bisa aku lakukan, aku gak mau lebih.


Setelah delapan jam lebih, kami sampai di Jakarta. Kami transit


di Jakarta, karena gak ada maskapai dari dubai yang langsung ke Surabaya. Kamipun


harus menunggu selama kurang lebih dua sampai tiga jam an.


“Mas mau ganti pembalut”


“tadi sepertinya beli lima”


“udah habis mas, kan tadi sering ganti”

__ADS_1


“Ayo tak antar”


“aku sungguh gak bisa jalan, mas. Sekali ini saja tolong


belikan


“Aku gak tau yang mana, nanti salah,” tolakku langsung


“Ini ada bungkus nya, mas”


Aku menatap bungkus pembalut yang di pegang Chaca, ragu


sekali harus membelinya. Tapi sebenarnya aku ingin membelikan nya, ah, tak tau


lah!


Aku pun memfoto bungkus tersebut, mana mungkin aku membawa


bungkus itu sambal berjalan. Memalukan kan.


Setelah sampai di sebuah mini market, aku mengambil


keranjang belanjaan. Karena tak mau salah, aku pun menghampiri seorang pegawai


wanita yang sedang menata minuman.


“Maaf permisi, mbak”


“Iya, pak? Ada yang bisa di bantu?


“Tolong ambilkan pembalut yang seperti ini,” akupun


memperlihatkan layer posel ku.


Akupun mengekor dibelkang wanita ini.


“silahkan, pak. Ini pembalut nya,” wanita ini menunjukan


pembalut yang aku cari


“Terima kasih”


Aku pun mengambil nya satu, lalu ku cari satu bungkus ini


isi nya berapa. Ternyata satu bungkus besar ini hanya isi satu. Aku pun


penasaran, sebelum aku membuka bungkusnya, aku melihat sekeliling ku, aku harus


memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat ku.


“ini seperti pempers Zahra,” gunam ku


Walaupun aku tidak pernh membeli pembalut, tapi yang u lihat


di iklan bentuk nya tidak seperti ini. Ah, sudahlah. Chaca minta yang ini, aku


akan belikan sepuluh bungkus, biar gak di suruh beli lagi!


Tidak enak rasanya ke kasir hanya membeli pembalut, aku pun


mengambil minuman, snack dan coklat.

__ADS_1


Setelah selesai, aku mampir ke outlet roti.untuk makanan


berat biar ku tawari dulu, jadi aku beli roti untuk mengganjal perut.


“Cepat ganti”


“Banyak sekali, mas. Tiga saja sebenarnya cukup, akua da simpanan


di rumah”


“Gak apa-apa, sudah ganti sana. Nanti bocor”


“iya, iya”


Aku tak mengantarnya ke toilet, aku masih ingin marah


kepadanya, walaupun sebenarnya aku ingin menyudahi semua nya.


Cukup lama, dia kembali. Setelah duduk di samping ku, ku


sodorkan roti yang tadi ku beli.


“Makanlah, masih lama sampai rumah”


Dia mengangguk, lalu mengambil roti di tangan ku. kalau


nurut gini aku benar-benar gak tega.


“mau makan Nasi?”


“Enggak mas” jamwab nya sambal menggeleng


“nanti di pesawat gak dapat makan”


“Gak apa-apa”


Aku pun menelpon ayah mertua ku, memang saat aku pergi sudah


mengabari. Tapi sekarang aku akan mengabrai kalau kami sedang transit.


“Ayah dan Ridwan baru saja sampai di juanda, Suf. Ayah


khawatir sekali”


“Tapi kami masih transit, Yah”


“Gak apa-apa, ayah tunggu di sini saja”


Aku jadi tak enak merepotkan banyak orang, jika saja


situasinya seperti ini. Aku tidak akan mengabari kalau aku pulang hari ini. Setelah


menelpon aku pergi ke mussollah, aku akan sholat maghrib, untuk sholat isya


bisa ku kerjakan nanti Ketika sampai rumah, karena wkatunya sangat Panjang.


Stelah sholat dan berdzikir


sebentar, aku langsung buru-buru menghampiri Chaca. Aku taku dan khawatir dia


tertidur di ruang tunggu. Aku lupa jika dia akan mengantuk setelah meminum obat.

__ADS_1


Namun aku langsung membuang nafas lega, saat ku lihat dia duduk dan sepertinya


sedang menelpon.


__ADS_2