
Kini aku duduk di sebuah kursi pesawat, memang aku dan Chaca
baru menikmati Dubai selama dua hari. Bahkan oleh-oleh saja hanya sedikit
sekali, tapi aku memaksa Chaca untuk pulang. Wajah ku sejak tadi sangat datar,
walaupun sebenarnya aku sedang sangat Khawatir seskali.
Aku benar-benar marah kepada Chaca, kita sudah membuat
kesewpakatan. Namun diam-diam Chaca melanggarnya. Walau sudah ku larang, dia tetap
meminum obat herbal. Dan sekarang akibat nya sangat Fatal, Darah sejak tadi
keluar, di tambah area bawah perutnya sakit.
“Mas, hiks hiks hiks”
Aku hanya melhat nya, memang tak aku hiraukan sejak tadi,
walaupun sebenarnya aku ingin sekali memeluk nya. Tidak, aku sekuat tenaga
menahan nya, agar di kemudian hari Chaca tidak begini lagi. Jika aku memanjakan
nya setelah dia melakukan kesalahan, lama-lama dia akan seenak nya sendiri. Aku
gak mau itu terjadi, apalagi Chaca sangat Bandel sekali.
“aku akan belikan makanan, setelah makan, minum obat dan
tidur. Perjalanan masih sangat jauh sekali”
Wajah nya memelas, aku gak tega. Tapi hari ini aku tak
peduli walaupun di katakan seorang suami yang kejam, biar saja.
Memang tadi sebelum kita berangkat, kami ke klinik untuk
chek Kesehatan Chaca. Ternyata aman-aman saja di buat terbang dan di kasih obat
Pereda nyeri yang mengandung obat tidur.
Aku melirik nya sesekali, dia makan dengan sangat pelan,
sesekali di meringis. Mungkin karena nyeri. Akupun berinisiatif menyiapkan obat
yang akan dia minum, tak lupa aku juga membukakan segel tutup air mineral. Hanya
ini yang bisa aku lakukan, aku gak mau lebih.
Setelah delapan jam lebih, kami sampai di Jakarta. Kami transit
di Jakarta, karena gak ada maskapai dari dubai yang langsung ke Surabaya. Kamipun
harus menunggu selama kurang lebih dua sampai tiga jam an.
“Mas mau ganti pembalut”
“tadi sepertinya beli lima”
“udah habis mas, kan tadi sering ganti”
__ADS_1
“Ayo tak antar”
“aku sungguh gak bisa jalan, mas. Sekali ini saja tolong
belikan
“Aku gak tau yang mana, nanti salah,” tolakku langsung
“Ini ada bungkus nya, mas”
Aku menatap bungkus pembalut yang di pegang Chaca, ragu
sekali harus membelinya. Tapi sebenarnya aku ingin membelikan nya, ah, tak tau
lah!
Aku pun memfoto bungkus tersebut, mana mungkin aku membawa
bungkus itu sambal berjalan. Memalukan kan.
Setelah sampai di sebuah mini market, aku mengambil
keranjang belanjaan. Karena tak mau salah, aku pun menghampiri seorang pegawai
wanita yang sedang menata minuman.
“Maaf permisi, mbak”
“Iya, pak? Ada yang bisa di bantu?
“Tolong ambilkan pembalut yang seperti ini,” akupun
memperlihatkan layer posel ku.
Akupun mengekor dibelkang wanita ini.
“silahkan, pak. Ini pembalut nya,” wanita ini menunjukan
pembalut yang aku cari
“Terima kasih”
Aku pun mengambil nya satu, lalu ku cari satu bungkus ini
isi nya berapa. Ternyata satu bungkus besar ini hanya isi satu. Aku pun
penasaran, sebelum aku membuka bungkusnya, aku melihat sekeliling ku, aku harus
memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat ku.
“ini seperti pempers Zahra,” gunam ku
Walaupun aku tidak pernh membeli pembalut, tapi yang u lihat
di iklan bentuk nya tidak seperti ini. Ah, sudahlah. Chaca minta yang ini, aku
akan belikan sepuluh bungkus, biar gak di suruh beli lagi!
Tidak enak rasanya ke kasir hanya membeli pembalut, aku pun
mengambil minuman, snack dan coklat.
__ADS_1
Setelah selesai, aku mampir ke outlet roti.untuk makanan
berat biar ku tawari dulu, jadi aku beli roti untuk mengganjal perut.
“Cepat ganti”
“Banyak sekali, mas. Tiga saja sebenarnya cukup, akua da simpanan
di rumah”
“Gak apa-apa, sudah ganti sana. Nanti bocor”
“iya, iya”
Aku tak mengantarnya ke toilet, aku masih ingin marah
kepadanya, walaupun sebenarnya aku ingin menyudahi semua nya.
Cukup lama, dia kembali. Setelah duduk di samping ku, ku
sodorkan roti yang tadi ku beli.
“Makanlah, masih lama sampai rumah”
Dia mengangguk, lalu mengambil roti di tangan ku. kalau
nurut gini aku benar-benar gak tega.
“mau makan Nasi?”
“Enggak mas” jamwab nya sambal menggeleng
“nanti di pesawat gak dapat makan”
“Gak apa-apa”
Aku pun menelpon ayah mertua ku, memang saat aku pergi sudah
mengabari. Tapi sekarang aku akan mengabrai kalau kami sedang transit.
“Ayah dan Ridwan baru saja sampai di juanda, Suf. Ayah
khawatir sekali”
“Tapi kami masih transit, Yah”
“Gak apa-apa, ayah tunggu di sini saja”
Aku jadi tak enak merepotkan banyak orang, jika saja
situasinya seperti ini. Aku tidak akan mengabari kalau aku pulang hari ini. Setelah
menelpon aku pergi ke mussollah, aku akan sholat maghrib, untuk sholat isya
bisa ku kerjakan nanti Ketika sampai rumah, karena wkatunya sangat Panjang.
Stelah sholat dan berdzikir
sebentar, aku langsung buru-buru menghampiri Chaca. Aku taku dan khawatir dia
tertidur di ruang tunggu. Aku lupa jika dia akan mengantuk setelah meminum obat.
__ADS_1
Namun aku langsung membuang nafas lega, saat ku lihat dia duduk dan sepertinya
sedang menelpon.