Positif

Positif
Bab 36


__ADS_3

Bab 36


Assalamu'alaikum, buat teman-teman yang baca novel 'Positif' ini author harap tidak berpikiran yang aneh-aneh ya.


Author tidak sedang menggiring opini jelek tentang seorang 'Gus'.


Disini sosok Yusuf di gambar kan sebagai seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta dan lupa dengan segala ilmu pengetahuan nya.


Pasti semua orang pernah merasakan, jatuh cinta hingga gila lupa segalanya. Author yakin semua orang mengalami nya walaupun sekali. Yaa kan? Ngaku 😁


Jadi jangan beranggapan yang tidak-tidak dengan cerita ini, karena cerita ini di ciptakan hanya untuk hiburan semata. Semoga kalian mengerti 😁😁😁


***


Sesampainya di rumah, Umi duduk di ruang tamu. Aku mengerti, Umi sedang menungguku. Aku pun duduk di sana, tanpa di minta aku langsung menceritakan semua nya.


Umi menyimak nya dengan baik, walaupun tergolong berita bagus tetap saja tidak merubah ekpresi umi. Beliau tetap saja diam kepadaku, bahkan setelah ku selesai kan ceritaku, Umi langsung pergi tanpa bicara satu huruf pun.


"Huh," Aku membuang nafasku, sungguh ini sangat menyakiti hati ku.


"Assalamu'alaikum"


Baru saja aku hendak beranjak dari kursi, Mas Adam datang dengan membawa sebuah koper hitam kecil.


"Waalaikumsalam," Jawab ku


Mendengar suara Mas Adam, Umi keluar lagi.


"Ada apa, dam?"


"Ini mau nganterin koper Umrah nya Yusuf"


"Umrah?" Kaget ku


"Iya, lusa berangkat"


"Mas, tapi... " Ucapku terhenti.


"Berangkat saja, siapa tau memperbaiki semua nya," Potong mas Adam.


"Mas, aku gak bisa"


"Ya sudah, gak usah pergi umrah. Pergi saja dari rumah ini!" Umi seperti nya semakin marah kepadaku.


"Chaca sudah setuju untuk berangkat, jadi tidak ada alasan bagimu untuk menolak nya. Kau yang salah, Suf. Kau harus memperbaiki semua nya!"


Mas Adam berlalu begitu saja, sungguh aku frustasi dengan keadaan ini. Tidak ada yang mau mengerti akan jeritan hati ku, semua nya memaksa ku. Kini aku menyesali pernikahan ini dari awal, seharusnya tidak aku turuti sejak awal.


"Kenapa diam?" Suara Umi mengagetkan ku, setelah aku menatap beliau. Umi berjalan mendekati ku.


"Yusuf, Umi sangat menyayangi mu. Tapi sikap mu ini membuat umi sangat sakit hati"


Aku menunduk seperti biasanya.


"Perbaiki semua nya, tunjukan kepada Kyai Hasyim bahwa Umi tidak salah mendidik mu. Tunjukan pada beliau bahwa kamu benar-benar ingin memperbaiki semua nya"


"Yusuf sudah dua kali meminta kesempatan kedua, Umi. Tapi Chaca tidak mau"


"Wanita akan luluh jika kamu lembut kepada nya. Kan kamu harus tulus melakukan nya, jika tidak semua akan melelahkan"


Setelah mengatakan itu, Umi meninggalkan ku lagi. Tapi baru saja dua langkah, Umi berhenti dan berbalik.


"Saat Umrah, kamu tanggung jawab penuh atas Chaca. Jika kamu tidak bersahabat dengan nya, dia pasti susah sekali di atur. Kau akan kelelahan an pusing di buat nya, untuk itu pikirkan lagi cara bagaimana bersahabat dengan nya"


Yaa, BENAR!!


Jika aku tetap bermusuh an, aku pasti akan kelimpungan menangani dia. Apalagi di Mekkah, dia sangat bandel sekali. Aku tau bagaimana cerita nya dulu, saat belum menikah. Pak Jamil sangat lelah menangani nya.


Tidak! Jika aku bersikap baik, hubungan ini akan baik pula. Dengan begitu... Ah, kenapa tidak Engkau cabut saja nyawaku Yaa Allah. Andai bunuh diri itu perbuatan d nmiperbolehkan, maka sudah ku lakukan detik ini juga.


***

__ADS_1


Aku tidak tau apa saja yang terjadi, yang pasti malam ini aku bersiap untuk menikah. Yah, aku ijab qobul atau bisa di katakan Rujuk. Ini gimana sih, aku sungguh tidak mengerti.


"Cepat, suf" Ucap mas Adam yang sejak tadi duduk di tepi kasur, menungguku


"Ini adalah kesempatan besar untuk kamu kembali sama Chaca. Mas harap kamu menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin"


"Aku masih tidak mengerti kenapa semua ini terjadi, mas"


"Ya mungkin takdir, kalian masih jodoh"


Tentu aku tidak bisa menolak, jika aku menolak maka semakin besar kesalahan ku di mata semua orang. Entahlah, rasanya semua berantakan sekali.


"Mas, pinjam Handphone nya," Khalila masuk, dengan tidak sopan nya mengambil langsung handphone ku


"Buat apa?"


"Telepon suamiku, handphone ku di pakai Zahra"


"Ke.... " Belum sempat berbicara, Khalila sudah keluar dari kamar ku.


"Ayo, Suf!" Ucap Mas Adam mengagetkan ku.


"Iya, iya mas. Ini tinggal pakai minyak wangi"


Tak perlu berlama-lama, aku pun langsung keluar kamar. Ternyata rumah ku sudah sepi, tinggal aku dan Mas Adam.


"Khalila?"


"Sudah berangkat, ayo!"


Bisa-bisa nya khalila tidak mengembalikan handphone ku, dia malah membawa nya pergi ke rumah Chaca.


Akupun masuk ke dalam mobil bersama mas Adam. Ternyata semua keluarga ku sudah berangkat, hanya tinggal aku dan mas Adam.


Lama-lama mobil yang di kendarai Mas Adam ini semakin maju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil mas Adam masih diam, mungkin karena efek masalah kemarin, jadi mas Adam belum banyak bicara kepadaku.


"Mas, memang Chaca mau ya rujuk?" Aku memecah keheningan, lagi pula ini harus ku tanyakan agar aku tidak penasaran.


"Kalau gak mau ngapain kamu ijab sekarang"


"Iya, Kyai Hasyim sudah membujuk nya. Jadi tinggal kamu nya nanti gimana bujuk dia biar tidak marah"


"Mas... "


"Apa? Nabila? Iya!"


"Tidak, mas. Anu... "


"Sudahlah, Suf. Kau tau sendiri Umi tidak menyukai Nabila, dan kamun hafal bagaimana sifat buruk Umi. Sekali nya dia tidak suka, selamanya tidak akan suka"


Mungkinkah aku kalah, sekuat apapun aku menghindar, takdir tetap akan terjadi. Mungkinkah ini jodoh? Jika iya kenapa aku masih terpaut dengan sosok Nabila.


Sesampainya di rumah Pak Jamil, aku langsung masuk bersama mas Adam. Tak lupa kami mengucap salam terlebih dahulu.


"Lama sekali, manten ini"


Aku tersenyum kepada Kyai Hasyim, lalu aku duduk di dekat nya.


"Kami sudah berusaha keras merayu Chaca, aku berharap kamu bisa menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki semua nya, memulai dari awal lagi"


Aku mengangguk, tapi terlepas dari itu semua Kyai Hasyim memintaku untuk menjamin agar rumah tangga ku akan baik-baik saja selamanya.


"Nanti malam, Penuhi semua kewajiban mu sebagai seorang suami"


Deg


"Jika nanti setelah melakukan nya kau masih belum mencintai nya, kasih tau aku. Aku tidak akan memaksa mu untuk melanjutkan pernikahan ini, aku tak akan marah. Tenang saja"


Aku diam, tak bisa menjawab walaupun hanya dua huruf saja. Setelah itu Kyai Hasyim mengelus paha ku, lalu mengatakan bahwa acara harus segera di mulai.


"Berapa mahar nya, Suf?"

__ADS_1


"Sebentar, pak kyai," Jawab ku sambil buru-buru mengambil dompet di saku baju koko ku.


"Maaf, saya hanya bawa uang tiga ratus ribu"


"Gak apa-apa, udah tiga ratus ribu cukup"


Seperti sebelumnya, aku tetap saja deg deg an menghadapi ini. Walaupun ini bukan yang pertama tapi rasa nya sama.


"Saaahhhh,"


"Alhamdulillah," Ucap semua orang, keluarga ku dan keluarga pak Jamil sangat berbahagia dengan semua ini, tetapi hingga detik ini chaca tidak ku lihat, bahkan sampai acara penutupan makan malam pun dia tidak di panggil untuk keluar.


"Ini handphone nya, mas"


"Eeh, iya. Aku sampai lupa"


Aku pun memasukan handphone itu ke dalam saku.


"Suf, panggil Chaca. Umi mau pulang"


"Heh?"


"Mas Yusuf jangan hah heh, hah heh. Udah pengantin lawas, masa harus di antar"


"Hahaha.... "


Semua orang menertawai ku.


"Bunda antar, suf?" Tanya Bu Mila


"Mboten, Bunda. Yusuf akan panggil Chaca"


Akupun dengan langkah ragu naik ke lantai dua, bisa ku lihat kamar nya tertutup. Entah apa yang sedang ia lakukan di dalam.


Tangan ku hampir saja menekan handel pintu, tapi ku urung kan.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum," Mungkin ini adab nya.


"Waalaikumsalam, masuk saja gak di kunci"


Aku pun membuka pintu dengan perlahan, ku lihat dia duduk diam sendirian.


"Umi mau pulang, ayo turun"


"Iya," Jawab nya singkat padat dan dia langsung berdiri, berjalan keluar kamar. Dan aku pun mengikuti nya di belakang.


Ternyata umi tidak langsung pulang, Khalila meminta untuk foto bersama.


"Umi do'a kan kalian bahagia selalu, cantik nya Umi" Umi mencium pipi Chaca. Sungguh dia sudah mengambil semua rasa sayang umi.


"See you yesterday ya mbak Chaca," Ucap Khalila


"Iya, Hati-hati ya di jalan"


"Semoga sakina mawaddah warahma, Cha" Ucap Abah


"Aamiin, matur nuwun bah"


Setelah berpamitan kepada semua orang, keluarga ku benar-benar pulang, meninggalkan aku di sini sendirian.


Aku pun kembali duduk bersama Kyai Hasyim, pak Jamil dan Ridwan. Aku tak begitu memperhatikan Chaca, tak lama kami bicara Kya Hasyim meminta ku untuk menyusul Chaca di kamar.


"Enggeh, Kyai"


Aku pun menurut saja, ku lewati ibu mertua dan beberapa orang yang sedang membersihkan rumah. Ku kira Chaca juga ikut membantu ternyata tidak.

__ADS_1


Kini aku berada di depan pintu kamar nya, jantung tiba-tiba saja berdetak. Bahkan tangan ku gemetar saat hendak membuka pintu kamar ini.


"Bismillah"


__ADS_2