Positif

Positif
Bab 60


__ADS_3

Sejak pagi Chaca merengek minta pulang, padahal kami sudah videocall


meminta maaf kepada keluarga Chaca, setelah sungkeman tadi. Rencana nya aku


ingin besok pagi saja berangkat ke rumah nya, namun aku pusing mendengar Chaca


merengek minta pulang. Walapun aku capek sekali, kini aku duduk di mobil


bersama nya. Kami sudah berada di jalan untuk pergi ke rumah nya.


“MAkasih ya, Mas. Udah nurutin aku”


Aku menangguk sambil tersenyum, sungguh aku tidak bisa marah


kepadanya, walaupun amarah usah ada di ubun-ubun.


Sesampainya di rumah nya, aku langsung duduk di ruang tamu


bersama ayah mertua dan kakak ipar ku, Ridwan. Sedangkan Chaca sendiri langsung


masuk, entah kemana.


“Gimana? Masih lanjut jadi dosen?”


“Iyah, Yah. Bulan depan sudah mulai aktif lagi”


“Alhamdulillah kalau seperti itu”


Suasana hening sejenak, lalu Ridwan membuka percakapan setelah


ia meletakan cangkir kopi yang baru ia seruput.


“Ridwan mau nikah, Yah”


Ekspresi ku tak tau beda dengan Ayah mertua, Kaget!


“Kalau Ayah tidak ada calon untukku, aku mau menjalani


taaruf”


“Hah?”


Aku menatap wajah Ridwan dan Ayah bergantian, aku merasa


bingung dengan situasi ini. Mungkin karena pak jamil ini orang nya santai jadi

__ADS_1


tanggapan serius Ridwan begini.


“Ayah! Ridwan serius, mau taaruf”


“Mau taaruf atau sudah kau pacari anak nya?”


“Heh?” aku terkaget, kenapa percakapan nya jadi begini, kan


seharusnya pak Jamil bertanya wanita yang mana? Atau anak mana?.


“Ya gak pacvaran, Cuma WA an seminggu ini”


“Hah?” lagi-lagi terkaet aku


“Sudah ayah duga!”


“Gak boleh, Kak Ridwan harus nikah sama pilihan nya Ayah! Biar


Adil” suara yang sangat ku kenali itu terdengar kesal.


“Ehhh, gak boleh ikut-ikut”


“Ayah curang pokok nya, gak boleh seperti itu”


“Yehhh! Mana bisa seperti itu, aku di jodoh kan, jadi kak


“Nyesel di jodohin sama Maa?” aku bersuara


“YA gak gitu, Mas” Chaca duduk di sebelah ku “Gak ada


hubungan nya sama kita, ini masalah perjodahan dan keadilan,” dia menatapku sambal


menaik-turunkan alis nya.


“gak, gak!” Ridwan bersuara “Dia aslinya menyesal itu, Suf!”


“Sepertinya seperti itu, sih”


“Ihh, kok gitu sih, aku gak gitu. Maksud nya itu biar kak


Ridwan juga….”


“Alasan!” potong Ridwan


Aku pun menikmati pertengkaran adik-kakk ini, biarkan saja. Seru!

__ADS_1


Pak Jamil, selaku ayah mertuaku itu juga sangat menikmati nya.


“ahhh, tau ah,” Chaca lalu berlalu begitu saja karena kesal.


Kami bertigapun langsung tertawa, merasa menang dengan perang kecil yang baru


saja terjadi.


Tak lama setelah Chaca berlalu, kami melanjutkan


perbincangan. Ridwan mengutarakan niat nya yang ingin menikah. Dan lagi-lagi


aku merasa malu dengan Ridwan. Keluarga kami sama-sama mempunyai tradisi


perjodohan. Bedanya aku dengan berani nya jatuh cinta bahkan diam-diam pacarana.


Ya walaupun hanya online saja, tapi aku salut dengan Ridwan. Dia kini jatuh cinta,


ehh bukan.


Ridwan sedang mengagumi seorang wanita, wanita ini adalah


seorang guru. Ridwan bercerita bahwa dia sudah mencegah agar rasa itu tak terus


melampaui batas. Tapi setiap hari Ridwan merasa tertekan dengan situasi


tersebut. Untuk itulah dia menanyakan tentang kesiapan nya menikah. Karena hanya


itulah solusi untuk nya saat ini.


“Jika ayah akan menjodohkan ku. maka aku akan tetap menerima


nya, aku hanya memastikan saja. Untuk itu aku menceriakan ini semua”


“Ayah sudah ada calon untuk mu, Cuma sekarang gadis itu


masih belum datang. Untuk itu Ayah minta kamu untuk sebisa mungkin menghindari


gadis itu”


“Baik, Yah. Ridwan akan menerima Gadis pilihan Ayah dan Bunda”


Maa sya Allah, soal ilmu agama memang aku lebih pandai. Tapi


soal ketaatan kepada orang tua aku kalah dengan Ridwan.  Aku memang menerima apapun yang orang tua ku katakana

__ADS_1


dan perintahkan, tapi soal cinta kemarin aku sempat menolak keras, bahkan berani


berhubungan dengan seorang wanita.


__ADS_2