
Bab 59
AllahuAkbar
AllahuAkbar
AllahuAkbar
La ilaha illallah
AllahuAkbar
AllahuAkbar
Walilahilham
Suara takbir sudah berkumandang, suara merdu milik santri itu menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengar nya. Memang beberapa santri memilih untuk berlebaran bersama kami, hanya lima persen saja, yang sembila puluh lima persen nya pulang.
Malam ini, aku duduk bersama Chaca di teras rumah. Sejak sore tadi Chaca membuat Drama tak mau di tinggal, alhasil Umi yang memanjakan menantu nya ini sudah memberiku sebuah titah, agar menuruti saja apa yang di mau oleh Chaca.
"Yuk ke depan, nanti ada yang nyalain kembang api, ada obor nya juga"
__ADS_1
"Enggak mau, mau nya di sini"
"Umi dan Mbak Rifa juga ada di lapangan lo, Cha. Masak gak ikut gabung"
Jawaban Chaca masih sama, dia menggeleng dengan yakin.
Setelah beberapa menit, Chaca mengajak ku untuk masuk ke dalam rumah. Tepat nya sih masuk ke kamar karena dia sudah mengeluh mata nya gak kuat melek lagi. Okelah, betapa senang nya aku. Saat dia sudah tidur, aku bisa melihat kemeriahan di luar. Tapi nyatanya itu tinggal rencana saja, Chaca meminta ku untuk tidak meninggalkan nya saat dia sudah tertidur. Baiklah, sepertinya malam takbir ini aku diam di dalam rumah saja.
Cukup gabut karena mata ku masih belum bisa terpejam, jangan tanya Chaca. Dia sudah tertidur pulas. Aku pun memilih untuk membuka handphone, mengecek grup yang pada rame mengucapkan selamat hari raya idul fitri. Aku hanya menyimak saja, tidak menjawab nya, karena bukan kebiasaan ku muncul di grup jika benar-benar tidak penting pekerjaan.
Seumur hidup, baru kali ini aku merasa gabut diam di rumah. Padahal biasanya aku paling betah di dalam rumah, tapi kali ini benar-benar bosan.
Rute ku cukup singkat, tak sampai lima menit. Tapi saat aku masuk ke kamar, Chaca bangun dan menatap ku tajam, marah.
"Mas ambil minum sama cemilan, Cha. Kok kamu bangun? Kamu belum tidur?"
"Kan aku udah bilang jangan tinggalin aku, mas. Aku takut sendirian!"
"Okey, ma'af"
Seperti nya mengalah adalah hal yang lebih baik daripada mendebat nya, aku harus sabar menghadapi sikap nya yang berubah menyebalkan seperti ini saat menstruasi.
__ADS_1
"Ayo tidur lagi, jangan marah ya sayang"
Chaca langsung merebahkan diri nya, setelah itu aku juga mengikuti pergerakan nya. Sebaiknya ku tunda makan cookies nya, daripada Chaca marah, Bisa-bisa aku pusing di buat nya.
Setelah ku rasa Chaca benar-benar tertidur, aku pun duduk kembali. Ku ambil handphone ku, tak lupa ku pasang handset di telinga ku, lalu ku buka aplikasi berwarna merah.
Cukup lama aku memandangi layar ponsel ku, Tiba-tiba saja Chaca terbangun dan langsung memeluk kaki ku yang ku selonjor kan sejak tadi.
"Cha, kenapa?" Tanya ku sambil melepas handset di telinga ku.
"Mau kelonin, mas"
"Baiklah, sebentar. Mas taruh HP sama handset nya"
"Mas tidur saja ya, pokok nya aku mau di kelonin terus. Aku takut mas"
"Takut apa?"
"Pokok nya aku gak tenang kalau gak di kelonin mas"
Gak biasanya Chaca seperti ini, ini terlalu aneh dan manja nya juga terlalu berlebihan. Tapi aku tak mau bahas ini sekarang, apalagi Chaca dalam keadaan menstruasi. Bisa saja karena hormon nya, semoga saja seperti itu.
__ADS_1