Positif

Positif
Bab 63


__ADS_3

Selesai Sholat, Kami semua kembali ke kamar Chaca.


Alhamdulillah, Istriku ini sudah membuka mata nya. Bahkan terlihat sudah


bercanda dengan Khalilah, karena hanya dia yang tak ikut sholat.


“Cha,” Aku memegang tangan nya, lalu ku ciumi punggung


tangan tersebut.


“Mas, aku keguguran. Maaafin aku yang tak bisa menjaga nya”


Aku lanmgsung memeluknya dan tangisan nya langsung pecah,


semua orang akhirnya meninggalkan kami berdua di dalam kamar.


“Udah jangan nangis, Cha. Yang paling penting sekarang kamu


sudah sehat, sudah sembuh,” aku melepaskan pelukan nya, lalu ku tatap matanya


dalam-dalam.


Aku terus menenangkan Chaca, aku tak mau dia bersedih terus


seperti ini. Aku pun memutuskan untuk memanggil semua orang untuk masuk, suasana


berdua begini hanya akan menambah kesedihan nya, aku juga tak enak berlama-lama


berdua dengan Chaca. Karena bukan hanya aku yang ingin bertemu dan berbicara


dengan Chaca, namun tak lupa aku meminta kepada semua orang unuk tidak membahas


apapun.


“Kita hibur saja Chaca”


Alhamdulillah, Chaca kembali tersenyum. Apalagi dokter bilang


bahwa Chaca boleh langsung pulang. Dan lebih Bahagia lagi Chaca mau pulang ke


rumah ku, senang nya hati ku.


“Bunda jangan khawatir, besok Yusuf libur. Jadi bisa rawat


Chaca,” Aku menyakinkan Ibu Mertua ku yang nampak khawatir


“Ada aku, Mila. Percaya kan sama aku?”


“Iya,” Bunda mengangguk, lalu beliau menghampiri Chaca yang masih


duduk di pinggiran ranjang rumah sakit. “Kamu yang nurut sama Yusuf sama Umi


juga, jangan nakal!”


“Iya, Bun”


Dengan Bahagia aku membawa Istriku yang cantik ini pulang ke


rumah, aku janji akan merawat ya, memberikan yang terbaik untuk nya sehingga


dia merasa nyaman berada bersamaku, di rumahku.


Walaupun sudah ju berigan segalanya, ternyata Chaca tidak


berubah. Baru saja satu hari berada di rumah ku, dia sudah merengek minta


pulang terus. Dan alhasil Umi memarahi ku, Beliau pikir aku yang tak menjaga


dan merawat Chaca dengan baik.


Padahal, aku sudah merawat nya. Hingga mandipun aku … tidak,


tidak. Bahkan baju-baju Chaca aku yang mencuci tadi pagi. Apa itu belum cukup? Lalu


aku harus bagaimana?


Sesaimpainya aku di rumah Chaca, ternyata di sana ada Kyai

__ADS_1


Hasyim, perasaan ku langsung tidak enak melihat beliau.


“Loo, baru saja kami hendak ke sana. Udah ke sini duluan”


“Kenapa, Suf? Semua baik-baik saja kan?”


“Chaca minta pulang lagi, Yah”


“Ya, sudah. Sini duduk dulu”


Aku tau Bu Mila dan Pak Jamil marah kepada Chaca, mungkin


semua orang masih diam karena masih ada Kyai Hasyim disini. Atau mungkin


masalah ini akan di selesaikan oleh beliau. Entahlah, yang pasti saat ini aku


ingin pulang. Males aja berada di sini.


“Jamil, Ajak Yusuf makan dulu. Aku mau ngomong sama Ridwan


dulu”


“Ehh.. Yusuf sudah maem, Yusuf mau pamit dulu”


“Looohh, kok pamit? Katanya Chaca habis ke guguran, kok di


tinggalin”


Rupanya aku salah stategi, aku terlalu terburu-buru. Ah,


menyesal sekali aku. Lalu sekarang aku harus bagaimana ini? Bingung gak ada alasan,


karena memang gak jago berbohong.


“Sini duduk dulu!” Ucap Kyai Hasyim tegas, lalu beliau menatap


Ridwan tajam “Kau ini juga! Seharusnya di sampaikan, percuma punya ilmu! Kalau orang


lain boleh, ini adikmu!”


Laaa, kenapa Ridwan yang di marahin?


Kyai Hasyim menghela nafas kasar setelah mendapat jawaban


dari Ridwan.


“Lalu?” Kyai Hasyim masih mengintrograsi Ridwan, bukan aku. Ini


ada apa sih? Apa Ridwan berbuat salah? Ah, rasanya aku ingin sekali keluar,


tapi akal waras ku menolak. Tidak sopan jika aku langsung pamit begitu saja.


“Tapi aku sudah tau jalan keluar nya kok, Bah. Cuma belum di


sampaikan aja”


“Kenapa gak di sampaikan? Jika terlambat bagaimana? Lalu jika


rumah tangga adik mu hancur gimana?”


Kini aku mengerti, ini pasti membahas permasalahan drama


tempat tinggal aku dan Chaca. Tapi mengapa Ridwan yang kena semprot, bukan aku ataupun


Chaca.


“Suf, kau kena pellet,” Ucap Ridwan lantang


“Hah?” Jawab semua orang kecual Kyai Hasyim


“Kau ini memang hanya pandai berdagang dan berbisnis saja. Menyampaikan


kenapa harus seperti itu?”


“Ehh, iya Bah. Maaf, lagi gugup soal nya”


Mereka malah beradu argument, sedang kan kami masih melongo.

__ADS_1


“Ridwan! Ada apa ini?” tanya bu mila yang sepertinya sudah


tak sabar sekali.


Ridwan pun menceritakan, bahwa aku sejak awal sudah kena pellet


dari Nabila. Aku tak percaya, karena aku benar-benar dulu suka sama gadis manis


itu. Tapi Ridwan menjelaskan beberapa point yang akhirnya membuatku percaya. Salah


satu nya aku membenci Chaca dengan alasan yang tidak masuk akal.


Lalu Kyai Hasyim menambahkan, bahwa beliau dan Ridwan sudah


tau sejak awal. Saat aku pulang dari pengadilan dulu, Kyai Hasyim berharap saat


aku dan Chaca melakukan hubungan suami-istri, pellet itu hilang. Saat hubunganku


dan Chaca sudah mulai membaik, mereka pikir pellet itu benar-benar hilang.


Namun ternyata tidak, Drama tempat tinggal ini adalah pellet


kedua yang dikirim kan oleh Nabila. Dimana Chaca juga terkena agar tidak suka


berada di rumahku dan begitupun aku, yang tak nyaman tinggal di rumah Chaca.


“Kalau pellet yang ada di Chaca itu nafas dari Yusuf, jadi


cukup Yusuf yang harus di hilangkan pellet nya. Maka otomatis Pelet Chaca juga


hilang”


Aku masih diam, masih tidak percaya denga napa yang terjadi.


Jika saja aku tidak tau kalau keluarga Nabila keluarga dukun, mungkin aku tak


akan percaya hal ini. Untung saja aku mengetahui hal tersebut, Syukur sekali.


“Kamu pernah di kasih apa sama Nabila, Suf?”


“Hah?” Nge-blank tiba-tiba


“Makanan, apa yang pernah Nabila berikan kepada mu?”


“Gak pernah, aku gak pernah makan apapun dengan Nabila”


“Ingat-ingat, Suf. Pelet itu masuk dari makanan, kamu pasti


pernah makan sesuatu dari Nabila”


Aku benar-benar tak ingat apapun, aku merasa tak pernah


makan apapun dari Nabila.


“Ingat-ingat dulu,Suf. Jika kamu ingat, belilah makanan yang


sama. Akan lebih manjur jika kamu membeli nya dari orang yang sama. Jika sudah


beli kamu makan, maka sisa nya akan menjadi tanggungan ku”


Aku masih diam, memikirkan banyak hal. Yang pasti di otak ku


memikirkan semua makanan yang pernah aku makan seumur hidup ku.


“Ada kah cara lain untuk menghilangkan?”


“Gak ada Bunda, Bapak Nabila itu Dukun. Itulah satu-satunya,


karena tubuh Yusuf ini gak bisa di sentuh sama pellet karena Al-quran nya kuat.


Beda sama Chaca, aku terus membentengi tubuhnya, Lagi pula Chaca udah tak kasih


amalan”


Aku sedih, tenyata sikap Chaca ini karena guna-guna. Untung


semua ini belum terlambat, tapi aku harus mengingat makanan apa itu. Walaupun kepalaku

__ADS_1


sakit memikirkan semua itu.


__ADS_2