
Bab 67
Pov Author
Setelah sholat Maghrib, tirai pembatas laki-laki dan perempuan di buka. Pengajian ini di ikuti oleh bapak dan ibu-ibu, sebagian ada beberapa anak muda, namun itu hanya 25 saja.
"Siapa yang ngisi? Ganteng sekali"
"Gak tau, masih muda juga ya"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Yusuf membuka pengajian nya. Karena Yusuf sangat menjaga pandangan nya, dia hanya menatap bapak-bapak yang ada di depan nya, sebisa mungkin ia tidak menatap jamaah yang ada di sebelah kiri, yaitu jamaah perempuan.
Tak terasa satu jam sudah berlalu, walaupun adzan isya sudah berkumandang dia puluh menit yang lalu, jamaah masjid ini baru melaksanakan sholat jamaah isya.
"Ohh ini menantu nya pak Jamil, kalau bisa sering-sering ngisi nya, gus"
"Kalau memang saya ada di sini, saya tidak akan menolak jika untuk mengisi pengajian nya"
"Iya, ini kebetulan lagi main ke rumah," Sambung pak Jamil
"Oh, jadi Chaca pulang ke rumah mertua?"
"Iya, pak..."
Yusuf hanya jadi pendengar saja, mengikuti langkah kaki ayah mertua dan beberapa orang yang masih berbincang.
Pov Yusuf.
Saat aku sampai di teras, ku lihat sosok yang membuat ku sangat bahagia sekali.
"Cha," Panggil ku.
"Hemm," Dia menatapku sejenak lalu ia sibuk membagikan kotak yang aku yakini itu berisi kue yang di beli ayah mertua tadi siang.
Aku sungguh tak sabar ingin membawa Chaca masuk ke kamar, ini kenapa juga makan malam lama sekali. Bahkan setelah makan malam aku masih terkunci di ruang tengah karena Ridwan membicarakan tetang perempuan.
Ku lihat Chaca juga masih ada di dapur, istriku itu seperti nya masih sibuk menggoreng, entah apa yang dia buat sama Bunda.
"Gimana menurut mu, suf?" Tanya Ayah
"Hah?" Aku yang sejak tadi memperhatikan Chaca, tidak nyambung dengan obrolan yang sedang berlangsung.
"Apa nya, yah?"
"Pendapat mu tentang calon istri Ridwan?"
Jantung ku langsung berdetak kencang, ini aku harus bilang apa.
"Menurut islam, wanita yang baik di nikahin itu karena hartanya, keturunan nya... "
__ADS_1
"Dia janda, Suf. Ayah jujur gak mau"
Glek..
"Aku benar-benar kasihan dengan nya, dia yatim piatu. Suami nya pergi meninggalkan nya karena lebih memilih wanita lain, saat ini dia berjualan demi menghidupi anak nya. Gak tega liatnya"
"Gak harus di nikahin juga, Wan!"
Aku sungguh bingung hendak bicara apa, lagian ada-ada saja Ridwan ini. Dia pengusaha muda sukses, bisa dapetin wanita manapun, tapi dia malah membuat permasalahan dan berbuntut perdebatan.
"Ada apa sih ini!" Umi datang bersama Chaca, Chaca pun duduk di samping ku.
"Ini nih, Ridwan. Dia mau melamar Janda!"
"Heh!" Kaget Umi
Ridwan pun menjelaskan kembali bagaimana wanita tersebut kepada umi..
"Hahaha," Chaca tertawa, ini anak bisa-bisa nya tertawa dalam suasana seperti ini.
"Anak kecil gak boleh ikutan!" Kesal Ridwan.
"Lagian kakak ini ada-ada saja! Emang yang gadis gak ada yang menarik, secantik apasih Janda itu!"
"Hus, Cha!" Aku menatap nya tajam
"Suf, bawa Chaca ke kamar saja"
"Ehh, aku mau di sini"
"Cha!" Aku melototi nya, dan pada akhirnya dia bangkit saat aku tarik tangan nya.
Malam ini, aku tidak menyesali ketidaksopanan Chaca. Akhirnya aku bisa membawa nya masuk kemar.
"Sejak kapan Nifas nya selesai, cha?"
"Tadi sore," Jawab nya singkat lalu masuk kedalam selimut.
"Kok cepet banget, cha. Biasanya kamu haid saja sampai lima belas hari" Tanya ku yang ikut menyusul masuk ke dalam selimut.
"Sejak kemarin udah berhenti, aku udah tanya ke Dokter. Katanya gak apa-apa, minggu depan suruh cek up"
"Jadi kalau sudah, berarti boleh dong.. "
Dia langsung berbalik menatap ku, "mas bisa-bisa nya hanya itu yang di pikirkan! Aku... "
"Cha, mas mohon sekali saja. Mas janji sekali saja, cha"
Aku harus bersikap sememellas mungkin, ini bukan hanya tentang 'Rindu' tapi aku harus melakukan nya untuk memenuhi syarat-syarat Ridwan.
__ADS_1
"Sekali saja, jangan lama-lama dan pelan-pelan!"
Aku pun mengangguk, lalu aku menarik tangan Chaca agar duduk menghadap ku.
"Ngapain lagi sih, mas! Biasanya gak gini!"
"Kamu diam, pejamkan saja mata mu"
Aku mulai memegang ubun-unun nya, lalu membaca doa sebelum memulai berhubungan. Lalu bener surah yang Ridwan anjurkan, dan tak lupa berdoa agar hubungan ini membawa kebaikan dan menghilang kan segala keburukan.
Ya bisa di bilang sih ini aneh, tapi tidak ada yang mustahil jika berhubungan dengan mistis.
"Mas, lama sekali sih!!"
Aku tak menghiraukan Chaca, memang cukup lama. Tapi setelah selesai, aku mengeksekusi nya. Ku luapkan semua nya, biar saja.
"Tau ah!"
"Kan sekali, cha."
"Aku tadi bilang apa mas? Pelan-pelan dan jangan lama-lama"
"Itu otomatis, cha. Gak bisa di kontrol"
"Ya sudah sekarang jangan peluk-peluk!," Chaca mengambil sebuah guling lalu menumpuk nya lagi dengan sebuah boneka besar "jangan lewati batas ini, hukuman buat mas Yusuf!"
Yasudahlah, aku harus sabar dulu. Gak boleh marah dan gak boleh aneh-aneh dulu. Satu minggu ini aku harus menahan emosi, demi kebaikan bersama dan keutuhan rumah tangga.
***
Pagi ini aku berangkat untuk mengajar ke kota sebelah, karena memang ada jadwal kelas. Sedangkan Chaca harus di rumah bunda dulu, aku tak berani membawa nya pulang karena di pesantren masih ada Nabila.
Jangan tanya tentang kuliah Chaca, Kuliah Chaca keteteran, untuk itu aku liburkan Chaca satu semester. Chaca tidak tau hal ini sih, tapi aku sudah membicarakan nya dengan Ayah mertua.
Hari ini aku mengajar dari pagi sampai sore, memang beberapa jadwal untuk lusa aku ganti hari ini, karena lusa aku mau menemani Chaca pergi chek up. Untung saja mahasiswa ku setuju, tentu saja mereka akan setuju, karena lusa adalah malam tahun baru. Tentu mereka akan bahagia satu jam kelas akan hilang.
Drettt...
Ponsel ku bergetar, aku pun segera merogoh nya.
"Assalamu'alaikum," Ucap ku setelah tau itu telepon dari Bunda.
"Suf, Chaca pendarahan. Kamu bisa pulang sekarang, nak?"
"Iya bunda, Yusuf juga mau pulang ini, assalamu'alaikum"
Aku langsung mematikan telepon nya sepihak, panik sekali mendengar kabar tersebut. Kenapa bisa seperti itu.
Astaghfirullah...
__ADS_1
Aku tak peduli dengan kecepatan mobil yang ku kendarai, aku ingin segera sampai dan melihat keadaan Chaca.