Positif

Positif
Bab 26


__ADS_3

26.


"Tadi ke Cafe yang ada di dekat Alun-alun, ada di sana hampir dua jam an"


"Ngapain saja di sana sampai selama itu?"


"Hanya ngobrol, bercanda sambil makan-makan saja,Gus."


Aku diam sejenak, memikirkan apa yang mereka obrolin selama itu.


"Setelah itu kemana? Kok sampai jam setengah lima baru sampai rumah"


"Ning Chaca ke Mall, Gus. Tapi hanya sebentar, hanya masuk ke salah satu toko pakaian wanita"


"Belanja banyak?"


"Mereka keluar tidak membawa apapun, gus"


"Baiklah, terima kasih. Ini buat jajan," Aku memberinya uang seratus ribu kepada nya.


"Engge,gus. Matur nuwun, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Santri tersebut perlahan mundur, namun aku ingat sesuatu.


"Tadi siapa saja yang datang? Apa ada laki-laki?"


"Mboten, Gus. Hanya dua orang wanita yang seperti nya seumuran sama Ning Chaca"


"Kamu yakin gak ada laki-laki?"


Santri tersebut mengangguk "engge,gus. Mboten enten laki-laki"


"Ya sudah, pergilah"


Aku tak mungkin membiarkan dia sebebas itu, mana mungkin juga aku tak mengirimkan laki-laki untuk membuntuti nya. Bukan karena protektif atau apapun, aku tak mau dia melakukan hal-hal buruk di belakang ku.


Setelah itu, aku pun kembali ke rumah untuk ikut makan malam bersama keluarga. Benar saja, semua sudah duduk di meja makan menikmati hidangan makan malam.


Tanpa berkata, karena memang tak biasa makan sambil bicara. Aku pun segera duduk di samping nya.


"Makan saja, biar aku ambil sendiri," Aku mencegah nya saat hendak melayani ku.


Makan malam dengan hening, tidak ada yang bicara.


"Setelah makan temui aba di depan, ya suf"


"Engge, ba"


Setelah mendengar jawaban ku, Abah pun pergi dari ruang makan sedangkan aku sesegera mungkin menyelesaikan makanan ku.

__ADS_1


"Ini minum nya, mas"


"Aku buat kan teh jahe ya, tanya mbak di dapur cara buat nya, setelah itu taruh di meja belajar ku"


"Iya, mas"


Setelah menyelesaikan makan malam, aku pergi ke ruang depan untuk menemui Abah. Ku pikir, beliau hendak membahas tentang pondok pesantren, tetapi ternyata aku salah.


"Tadi Pak Jamil telepon, memberi saran kalian berdua pergi bulan madu nya ke mekkah saja. Sekalian ajak Chaca Umroh"


Tidak!


"Abah juga setuju, begitu juga dengan Umi mu. Tadi abah sudah bicarakan semua ini dengan Umi"


Aku masih diam, jelas aku tidak setuju dengan hal ini. Jelas aku sengaja mengulur waktu agar tidak jadi bulan madu, ya walaupun waktu terus mendesakku untuk segera memberi nya Nafkah batin.


"Pergi saja, Rif. Jangan kejar dunia terus, abah lihat enam bulan terakhir ini kamu ngejar dunia terus, kamu juga pengantin baru, abah perhatikan kalian jarang ada waktu berdua"


"Baiklah, ba. Tapi Yusuf minta pergi umroh nya pas bulan ramadhan saja"


"Masih dua bulan lagi?"


"Iya, Bah. Yusuf sudah pernah Umroh, begitupun dengan Chaca. Kali ini biar beda saja, Umroh nya waktu Ramadhan"


"Baiklah, kamu bahas ini sama istri mu. Biar nanti Chaca yang bicara ke Pak Jamil, atau bisa kamu yang bilang langsung"


"Engge Bah. In syaa Allah besok Yusuf ke rumah Mertua. Udah sebulan gak kesana"


"Engge, Bah"


Setelah abah pergi, aku pun langsung masuk ke kamar hendak menemui Chaca. Aku ingin membahas masalah umroh ini dengan nya. Tetapi saat aku memasuki kamar, astaghfirullah apa yang dia lakukan.


Saat ini dia sedang duduk di tepi kasur, memakai piyama berwarna peach dengan bahan kain yang transparan.


"Hemm, tadi Ayah telepon Abah. Kita di suruh pergi umroh"


Bibir ku langsung keluh, lihat saja kata-kata yang keluar dari bibirku, kaku.


"Iya, mas. Ayah juga telepon aku, kalau mas setuju kita bisa berangkat minggu depan"


"Tidak, kita umroh nya bulan Ramadhan saja. Dua bulan lagi, gimana menurutmu?"


"Okey, aku setuju-setuju saja"


"Ya sudah, aku masih ada urusan. Kamu tidur saja duluan"


Aku harus menghindari nya, jelas terlihat dia sedang menggoda ku. Aku tak siap untuk itu, semoga Allah mengampuni dosa-dosa ku. Aku tau semua ini salah, aku tau semua ini dosa dan tidaklah benar. Tapi jangan sekarang, sungguh aku belum siap melakukan nya.


"Mas," Panggil nya, aku pun ketar ketir mau menoleh kebelakang


"Teh Jahe nya, gimana?"

__ADS_1


Dia mendekati ku, dan kini dia berdiri di depan ku sambil memegang gelas yang berisi teh Jahe request ku.


"Taruh saja di meja, aku masih ada urusan di suruh Abah"


Setelah itu aku segera pergi dari sana, ku usap keringat ku yang sudah memenuhi kepala ku. Tentu aku Laki-laki normal, walaupun aku tak mau melakukan nya, bukan berarti aku tak tertarik melihat nya seperti itu.


"Tumben banget sih, gus. Jam segini ngajak keluar"


"Udah ayo," Aku langsung duduk di jok belakang motor milik Faisal.


"Kemana?"


"Udah, jalan saja dulu"


Sepanjang perjalanan, aku memikirkan bagaimana perasaan Chaca. Mungkinkah dia kecewa, tapi lagipula ngapain juga dia seperti itu, liar sekali. Jelas dia wanita, harus nya dia malu dong.


Dua jam lebih aku mengitari kota ini tak jelas, beberapa kali Faisal mengomel karena bensin nya habis. Akhirnya jam setengah sebelas malam aku pulang, dan dia sudah tertidur.


"Maaf," Ucap ku lirih sambil memandang wajah cantik nya itu. Rasa bersalah kembali memeluk hati ku, tapi aku harus bagaimana? Aku juga sangat terluka dengan semua ini.


***


"Cha, Chaca," Aku menggoyang tubuh nya pelan, "Bangun, Cha. Sebentar lagi subuh"


Perlahan dia membuka mata nya, wajah bantal nya itu benar-benar sangat cantik sekali.


Cup,


Tak kusadari aku tiba-tiba saja mengecup kening nya, ada rasa gemas melihat wajah bantal nya.


"Ayo bangun, setelah sarapan nanti kita berkunjung ke rumah mu"


Aku menjadi salah tingkah setelah mengecup nya, apalagi dia tersenyum penuh memandang ku dengan pipi merah.


"Kok gak bilang-bilang kalau mau ke rumah"


"Hemm, lupa"


"Bilang saja kalau Mas Yusuf mau kasih Suprise kan?"


"Aku mandi dulu," Aku langsung berlalu mengambil handuk dan sarung, lalu keluar dari kamar.


Aku tak peduli apa yang dia katakan, dan yang dia pikirkan. Terserah pokok nya, apapun yang dia pikirkan biarkan saja.


"Kamu ngapain buka lemari ku?" aku terkaget saat melihat nya membuka lemari ku


"Aku mau ambil sarung nya Mas Yusuf, buat di bawa ke rumah"


"Kita hanya Nginep semalam, jangan banyak-banyak bawa baju nya"


"iya, iya mas"

__ADS_1


Setelah dia menjauh dari lemari ku, ku lihat beberapa kertas rahasia ku masih tersimpan rapi di tempat nya. Setelah ini aku akan membuang semua nya, tidak. Aku bakar saja biar tidak meninggalkan jejak, aku tidak mau mencari masalah hanya gara-gara ini.


__ADS_2