Positif

Positif
Bab 31


__ADS_3

Bab 31


(Pov Chaca)


Aku sungguh kecewa dengan Mas Yusuf, selama ini aku diam dan mencoba untuk memaafkan semua sikap nya. Bahkan aku terus berusaha sabar dengan luka yang dia berikan.


Tapi sekarang tidak lagi, bagiku ini fatal sekali. Dia memaki ku, Kata-kata nya tidak mencerminkan seorang 'Gus'. Padahal Gus Adam sendiri yang suka sekali bercanda dan ceplas ceplos pun tak sekasar itu jika bicara. Sedangkan mas Yusuf, dia bukan hanya kasar namun juga pedas kata-kata nya.


"Assalamu'alaikum," Teriakku sambil membuka pintu kayu besar rumah orang tua ku.


"Cha, kamu kenapa?" Tanya Bunda yang kebetulan saat itu seperti nya hendak keluar rumah. Aku pun segera memeluk wanita yang selalu bicara lembut kepadaku walaupun aku sering membuat nya repot.


"Yah, ayah. Chaca Nangis, yah!" Teriak bunda memanggil Ayah.


"Kenapa, nak?" Bunda memeluk ku erat sambil mengelus kepalaku.


"Kenapa, cha? Mana suami mu?"


"Chaca sendiri, Yah. Chaca gak mau kesana lagi!"


Ku kira aduan ku ini mendapat respon baik, atau setidak nya Ayah menyuruhku untuk duduk menenangkan diri. Tapi apa yang terjadi di luar ekspetasi ku.


"Apa kamu bertengkar dengan Yusuf lalu kabur?"


"Aku di Usir, yah"


Ayah langsung menyeret ku keluar "Jika memang Yusuf mengusir mu, maka ayah tidak mau menerima mu, kecuali Yusuf sendiri yang mengantarkan mu ke sini!"


"Yah, kenapa Ayah mengusir ku juga? Apa Chaca benar-benar tidak di terima?"


"Cha, Ayah tau banget kamu gimana. Kamu buat masalah kan di sana? Bikin Ulan kan? Atau bisa jadi kamu sengaja kabur ya? Itu gak baik! Ayah gak mau nanggung dosa menampung seorang istri yang keluar dari rumah suami nya!"


"Assalamu'alaikum," Tiba-tiba saja dia datang, dengan sopan memberi salam dan mencium punggung Ayah dan Bunda.


Aku tak menjawab salam nya, aku langsung lari ke dalam rumah. Dan akhirnya aku lolos hingga berhasil masuk ke dalam kamar. Aku nangis, bukan hanya mas Yusuf, tapi Ayah juga sudah menyakiti ku kali ini.


Beberapa menit kemudian. Aku menyadari sesuatu, seharusnya aku tetap ada di sana. Aku yakin Mas Yusuf akan menceritakan semua nya.


Dengan segera aku membuka pintu kamar ku yang tadi ku kunci, saat satu langkah keluar dari kamar..

__ADS_1


Plak...


Plak...


Ayah menampar wajah ku dengan keras, sakit sekali.


"Ayah, hentikan yah!" Bunda langsung merangkul ku yang sudah tersungkur di lantai.


"Cukup, yah. Biar bunda yang hukum Chaca"


"Bikin malu! Anak perempuan yang aku banggakan menjadi menantu kyai, malah bikin malu!"


"Cukup, Yah. Bunda mohon, biar Bunda yang hukum Chaca"


Aku yang masih syok dengan pukulan ayah, di tambah lagi rasa sakit yang ku rasakan di pipi ku, belum lagi darah yang keluar dari sudut bibirku. Aku pun tak menghiraukan Bunda yang membela ku hingga sujud di kaki ayah ku, dengan kesal ayah meninggalkan kami. Lalu Bunda kembali merangkul ku sambil menangis.


"Chaca sayang, masuk ke kamar yuk"


"Bun... Bundaaa.. Ayah me.. me.. nam.. par chaa.. chaaa"


Bunda menuntunku masuk ke dalam kamar, lalu memintaku untuk tidur.


"Mbok! Ambilkan obat merah sama air dingin!" Teriak bunda kuat.


"Bunda, sakit sekali!" Keluh ku


"Iya, sayang. Bunda tau, sabar ya nak. Bunda ada di sini sama Chaca. Chaca tenang, ya"


Aku memeluk wanita yang tak pernah meninggalkan ku sendirian. Sejak dulu, apapun yang aku lakukan beliau selalu memaafkan ku. Ketika Ayah memarahi ku, beliau juga selalu ada bersama ku, menenangkan ku, dan tak membiarkan ku sedih.


"Ayah lagi emosi, kamu sabar ya. Ayah sebenarnya sayang kok sama Chaca," Dan kata-kata ini slalu keluar di saat setitik rasa kecewa, marah atau benci kepada Ayah muncul.


Tak lama, mbok datang dengan baskom berisi air es, obat merah dan juga segelas air putih.


"Minum dulu, sayang"


Aku pun meminum air putih yang Bunda berikan kepadaku.


"Mbok ambilkan sedikit nasi dan obat nyeri, yah. Biar aku yang kompres Chaca"

__ADS_1


Aku tidak tau hati Bunda ku terbuat dari apa, beliau begitu sangat baik. Beliau tetap menyayangiku bahkan setelah mendengar cerita dari Mas Yusuf. Jika aku menjadi Bunda, aku tak yakin bisa tetap baik seperti ini, mungkin aku akan marah seperti Ayah.


"Bunda, Chaca gak mau makan"


"Makan sedikit, minum obat, setelah itu istirahat sayang. Udah jangan ngelawan Bunda"


Dengan menahan semua rasa perih, aku menuruti apapun yang bunda katakan.


"Kamu istirahat, sayang. Nanti bunda ke sini lagi."


"Bundaa, Chaca... "


"Udah, jangan takut sayang. Bunda selalu bersama Chaca"


Bunda tersenyum kepadaku sambil mengelus perutku, kini aku yakin bahwa Mas Yusuf sudah mengatakan semua nya.


Setelah Bunda pergi dari kamar, aku pun merogoh handphone ku yang ada di saku gamis ku. Aku langsung menelpon AL dan menceritakan semua yang terjadi.


"Aku akan ke rumah mu sekarang, Cha"


"Jangan sekarang, Al. Waktu nya belum tepat untuk saat ini"


"Tapi aku tidak tega melihat mu seperti ini, Cha"


"Tidak, Al. Ini semua salah ku, seharusnya aku menceritakan sejak awal kepada keluarga ku"


"Sabar ya, Cha. Bukan hanya aku, Mega dan Vera juga selalu bersama mu"


"Terima kasih, Al. Kamu jangan cerita ke Mega dan Vera dulu, Mega kan baru putus kamu hibur dia juga, Vera juga jangan lupa hibur dia. Aku gak apa-apa"


"Iya, Cha. Kalau kamu di usir, rumah ku slalu terbuka lebar untuk mu. Jangan khawatir ya"


"Iya, Al. Udah dulu ya, bibirku sakit kalau buat ngomong"


"Iya, kamu istirahat ya. Nanti kabarin aku kalau ada apa-apa"


"Iya, Terima kasih ya Al. Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"

__ADS_1


Setelah meletakkan handphone di atas nakas, aku terdiam menatap langit-langit kamar ku. Semua kejadian hari ini kembali teringat. Mas Yusuf menghina ku, mengusir ku, dan Ayah menamparku. Semua terasa begitu sakit, sangat sakit sekali membuatku menangis menjadi, dadaku sesak, kepalaku juga langsung sakit. Hingga akhirnya, pengaruh obat anti nyeri itu bekerja dengan baik membuatku tertidur beberapa jam. Lumayanlah, setidak nya membuat ku tenang.


__ADS_2