Positif

Positif
Bab 71


__ADS_3

"Takut ihh, Mas. Banyak yang teriak," Chaca merinding saat mendengar teriakan Santriwati yang kesurupan.


"Kamu tak antar ke Umi saja, Mas mau bantuin dulu"


Chaca pun menurut saja, ia bergabung bersama Umi yang dengan sabar memberi minum dua santriwati yang sudah kembali kesadaran nya.


"Wes istighfar, baca ayat kursi. Jangan kosong dan mikirin lain-lain nya"


"engge, bu nyai," jawab salah satu santriwati tersebut, sedangkan satunya hanya mengangguk lemas.


Chaca fokus memperhatikan suami nya yang tengah duduk di sebelah santriwati yang histeris, bibir Yusuf komat-kamit. Yang sebenarnya Yusuf tidak tau dengan hal-hal semacam ini, namun ia percaya bahwa bacaan alquran mampu membuat setan dan jin kepanasan. Hanya itu saja yang bisa Yusuf lakukan, lagipula ada Ustadz Zanuar yang ahli dalam hal ini.


Beberapa santriwati mulai sadar, hanya tersisa tiga yang masih belum berhasil di takhlukan. semua mulai kuwalahan, namun beberapa detik kemudian. Ketiga gadis ini langsung tak sadarkan diri, semua langsung panik. Alhamdulillah, tak lama mereka semua sadar.


"Alhamdulikkah, Tadz" Ucap Yusuf


"Kalau Pak Yai ndak ada kualahan saya, Gus"


Adam hendak ikut berbicara, namun tiba-tiba ada yang tertawa hingga membuat semua orang kaget sekaligus takut.


"Cha," Yusuf langsung menghampiri Chaca yang sedang berdiri sambil menatap nya tajam.


"Gus, Ning Chaca kerasukan"


"Hahahah," Chaca kembali tertawa sambil menarik jilbab hitam yang menutupi rambut nya. Yusuf panik, apalagi detik kemudia Chaca hendak membuka gamis nya. Untung saja Yusuf dengan sigap menghebtikan pergerakan nya.


"Hahah, Wedi kowe?"


Yusuf sedikit lega, untung Chaca memakai leging. Kalau tidak sudah pasti kaki nya sudah terlihat.


"Njaluk opo?" Tanya Ustadz Zanuar


"Njaluk cah ganteng ini, hehehe" Ucap Chaca genit sambil menuding Yusuf.


"Beda dunia, wes ojo kakean pola. Metu!" Ustadz Zanuar mengambil tangan Yusuf, lalu di letakan nya di atas kepala Chaca


"Panas! sakit, hiks hiks" teriak Chaca

__ADS_1


Yusuf langsung menarik tangan nya, entah mengapa dia tidak tega. Ia merasa Chaca yang kesakitan.


"Gak tega aku, Tadz"


"Ck, yang kesakitan bukan istrimu, setan e iku!" kesal Adam.


"Duh, mantuku. Hiks hiks" Umi langsung menangis melihat Chaca. Beliau baru saja mengantarkan santriwati ke kamar, hingga ada yang mengatakan bahwa Chaca kesurupan. Adam pun langsung menghampiri Umi, menenangkan nya agar suasana tidak semakin mendramatisir.


"Telepon Abah mu, Dam. Duhh, Chaca hiks hiks"


"Hahahaha," Chaca kembali tertawa, sehingga tangisan umi terhenti karena kaget.


"Dam," Umi tercengang


"Kowe iki rah pantes sanding karo arek iki, wes tah nuruto aku. Tinggalno arek iki, opo arek iki tak ajak e mati? Hahaha"


Chaca hendak berlari, namun Yusuf berhasil menarik tangan Chaca. Chaca kembali teriak, namun tak membuat Yusuf takut. Kata-kata terakhir yang Chaca ucapkan beberaoa detik yang lalu tersebut membuat Yusuf marah, pikiran nya langsung terhubung dengan Nabila. Cerita buruk tentang kekuarga Nabila langsung terniang-niang di telinga nya.


"Wes di telepon ta abah, dam?" Umi kembali panik, apalagi sekarang Chaca terus berteriak.


"Sampun, Umi. Tapi belum di angkat sama Abah"


"Bah," Ucap Adam


Umi juga langsung berlari menghampiri suami nya tersebut, tak lama dari arah belakang Ridwan berlari dan ada Pak Jamil juga.


"Lepaskan, sudah lepaskan saja gak apa-apa" Ucap Ridwan santai setelah berdiri di belakang Yusuf.


Beberapa Santriwati yang tadi ikut memegangi tubuh Chaca pun dengan ragu melepaskan. Setelah tubuh Chaca terbebas dari cekalan, Chaca berdiri dan hendak berlari, sontak membuat Yusuf ikut berdiri hendak meraih tangan Chaca. Namun tubuh itu langsung berdiri tegap seolah tak bisa bergerak.


"Lepaskan! Sakit!"


Semua orang masih tercengang, ini adalah drama persetanan. Ridwan pun berjalan menghampiri Chaca.


"Ayo tak bantu kamu bebas, mau ndak?"


"Takut, aku takut hiks hiks hiks"

__ADS_1


"Nanti tak kasih tempat tinggal baru, bos mu itu gak akan tau. Gimana?"


"Tapi aku takut"


"Percaya sama aku?"


"Enggak, hahahah"


Ridwan pun geram, ia langsung menekan lengan Chaca dengan jari telunjuk nya. Mata Ridwan memerah, membuat Yusuf takut. Bukan hanya Yusuf, semua takut bahkab Ustadz Zanuar.


"Bah, gimana itu. Bantu jangan diam saja," panik Umi


"Udah ada Ridwan, Sebentar lagi selesai itu"


Chaca teriak dengan sangat kuat, Yusuf kembali tidak tega, namun ia tak bisa apa-apa.


"Iya lepas, aku akan keluar sekarang. Lepasin!"


"Tadi gak mau keluar kan? Wes tak turuti ini, Ayo!" Geram Ridwan


"Hiks hiks sakit, lepaskan," Rengek Chaca, dan itu membuat hati Yusuf teriris mendengar nya.


"Siapa yang bawa kamu ke sini?"


"Datang sendiri"


"Siapa? Cepat katakan kalau gak jawab kau gak akan bisa keluar dan akan sangat tersiksa!"


Belum sempat menjawab, Tubuh Chaca langsung lemas. Untung Yusuf menangkap nya hingga tak sampai jatuh.


"Gimana ini?," Yusuf menatap Ridwan


"Bawa pulang saja,Suf. Udah gak apa-apa itu, nunggu sadar nya"


Yusuf langsung memakaikan suban nya untuk menutupi rambut Chaca, tak mungkin ia membiarkan Rambut Chaca terlihat. Apalagi jika hendak membawa Chaca pulang ke rumah akan melewati Dapur, pasti di sana banyak Santri putra. Ini Adam dan Ustadz Zanuar sudah melihat nya saja Yusuf tidak rela.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


Heheh maaf yang bab sebelum nya keliru nama, karena beberapa minggu ini author baca cerita syarif dan keisha...


__ADS_2