Positif

Positif
Bab 55


__ADS_3

Bab 55


Satu jam lebih mata ku tidak bisa terpejam, padahal biasanya aku akan cepat tidur jika hidungku menghirup aroma tubuh Mas Yusuf. Namun lain malam ini, mungkin karena mimpi yang menghantui ku selama satu minggu ini.


Awalnya aku anggap hanya mimpi biasa, namun mimpi yang sama ini selalu hadir di dalam tidur ku.


"Astaghfirullah," Aku terus beristighfar, sampai akhirnya aku tenang dan tertidur.


Aku yakin ini semua hanyalah mimpi, mungkin karena aku tidur di rumah sakit dan aku lagi sakit. Jadi semua ini bisa saja terjadi, positif thinking saja. Kata Bunda dulu, Mimpi hanya bunga tidur. Tak lebih dari itu.


Jam sembilan pagi, setelah dokter chek kesehatan ku. Akhirnya selang infus ini lepas juga dari tangan ku, lega.


"Gak apa-apa kita pulang ke rumah ku?" Aku menatap Mas Yusuf, aku merasa tak enak saja karena sering pulang.


"Gak apa-apa, kasian Bunda juga. Kemarin kita sembunyikan hal ini dari beliau"


"Gak enak saja sama keluarga Mas," Aku menatap nya dalam, dan Mas Yusuf malah tersenyum hingga terlihat gigi nya.


"Keluarga Mas juga keluarga kamu, cha. Ngapain gak enak. Lagian Umi gak masalah, malah kemarin-kemarin Umi ngancam Mas agar nurutin jika kamu mau pulang ke rumah Ayah"


Aku memeluk Mas Yusuf, merasa bahagia saja mendapatkan suami seperti nya dan mertua sangat baik seperti Umi. Ya walaupun Mas Yusuf dulu gak... Udahlah, yang itu jangan di bahas, udah kelewat juga, heheh...

__ADS_1


Aku pulang hanya dengan Mas Yusuf dan Kak Ridwan saja, Bunda dan Ayah gak ikut jemput karena jarak rumah ku dari rumah sakit cukup jauh. Lagian ngapain juga di jemput, toh nanti akan ketemu di rumah.


Sesampainya di rumah aku langsung istirahat di kamar, sungguh sangat nyaman dan merasa lega. Walaupun di rumah sakit kamar nya luas dan juga bersih, tapi tetap saja merasa engap aku di sana.


"Cha, Mas takut sekali. Stop saja ya minum obat-obatan itu,"


"Mas kok gitu?"


Entah apa yang terjadi dengan mas Yusuf, Tiba-tiba datang, memelukku dan berbicara seperti itu.


"Gak tega, Cha. Udah cukup kemarin sakit nya," Pelukan Mas Yusuf semakin erat.


"Enggak, Mas. Hampir enam puluh lima persen semua sudah keluar lohh mas, ini hanya tinggal tiga puluh lima persen lagi. Sebentar lagi udah bersih, biar bisa cepat hamil"


"Mas kerja saja, gak apa-apa. Biar mas Yusuf ada kesibukan dan gak kepikiran aku terus"


"Mas kan lagi cuti, Cha"


"Udah masuk saja, cuti nya cukup"


"Mana bisa seperti itu, cha. Kamu ini ada-ada saja," Mas Yusuf mencubit hidung ku gemas.

__ADS_1


"Udah ah, aku mau mandi, pakai lulur, pakai shampoo yang banyak dan berendam air hangat"


"Ya sudah, mas mau tidur. Ngantuk dan capek banget"


Mas Yusuf mulai membenarkan posisi nya, setelah itu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh nya. Aku membiarkan nya dan memilih untuk cepat masuk ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi aku diam, karena terakhir aku dengerin musik di kamar mandi mas Yusuf marah. Sebenarnya mas Yusuf juga melarang ku untuk berlama-lama di kamar mandi. Tapi mungkin kali ini Mas Yusuf membiarkan ku karena memang kemarin waktu sakit hanya mandi ala kadarnya, itupun kadang cuma sehari sekali saja. Tapi jika perut sakit tidak akan mandi.


***


Sore hari Mas Yusuf membawa ku jalan-jalan membeli takjil. Tapi ya gitu, aku tak boleh keluar dari mobil, menyebalkan memang.


"Tau gitu aku nunggu di rumah, mas!"


"Kok gitu? Mas pengen kamu gak bosan di rumah"


Entah bagaimana konsep yang di maksud Mas Yusuf. Dia ingin aku terhibur, tidak bosan di rumah tapi aku harus ada di dalam mobil menunggu nya membeli makanan. Kan kalau gini lebih merasa tertekan dari pada hanya di dalam rumah saja.


"Kamu mau apa lagi? Biar Mas belikan?"


"Pulang saja, lagian aku gak puasa"

__ADS_1


Terdengar Mas Yusuf menghela nafas nya kasar, biar saja marah. Biar saja dia merasa aku tak bersyukur dan lain-lain nya.


*Assalamu'alaikum semua, Terima kasih sudah sangat setia dengan novel ini. Stay tune ya, Nabila masih belum mau muncul. Sengaja kok, wkwkwkw... Pelan-pelan saja, yang penting jangan bosan-bosan ya..


__ADS_2