
15.
Pagi cerah, langit biru dengan awan putih yang membentuk indah jika di pandang. Embun pagi di atas dedaunan, angin bertiup hingga pagi ini terasa lebih dingin dari sebelum nya.
Jarum jam masih menunjuk angka enam, namun di rumah ini sudah sangat sibuk sekali. Beberapa perias datang, mereka langsung merias siapapun yang sudah siap untuk pergi ke acara resepsi ku.
Aku masih duduk sendiri di teras, dengan segelas kopi yang sudah dingin susah subuh tadi. Aku tak merasakan bahagia, tidak merasakan nya. Hambar, semua terasa hambar.
"Mas, maem dulu. Sebentar lagi bersiap-siap"
Dia meletakan sepiring Nasi, lengkap dengan sayur lodeh dan telur rebus.
"Kurang enggak?" Tanya nya kepada ku
"Tidak," Jawabku singkat
"Baiklah, aku masuk dulu ya. Mau di rias dulu," Pamit nya
Aku menjawab nya dengan mengangguk saja, tidak berkata apapun lagi. Ku raih sepiring nasi yang terlihat begitu sangat lezat itu, apalagi perutku saat ini terasa sangat lapar sekali, hingga tak terasa habis begitu cepat nya.
"Alhamdulillahirobbilalamin"
Ku masih setia untuk duduk di sini, tidak ada niatan untuk beranjak dari kursi kayu ini. Menjadi seorang suami adalah hal yang begitu aku ingin kan sebelum nya, tetapi saat ini menjadi seorang suami membuatku terasa berat. Menjadi pengantin adalah impian semua orang, tapi mengapa saat aku menjadi pengantin tidak merasakan bahagia.
"Yusuf,"
Aku ter jingkrak kaget saat seseorang memanggilku dan menyentuh pundak ku.
"Ngelamunin apa sih?"
"Mboten, Kyai.."
"Lagi mikirin apa sih? Kok sepertinya berat banget"
"Mboten, cuma kepikiran kalau ngajar di kota sebelah saja," Jawab ku bohong
"Kalau memang berat ninggalin istri, di ajak saja."
"Heheh, Chaca kuliah juga Kyai, mana bisa temani setiap saat"
"Setiap hari apa memang nya ngajar di kampus sebelah?"
"Setiap hari selasa sampai kamis"
"Full day semua kah?"
"Hari rabu yang fullday, selasa dan kamis jam satu sampai jam empat sore saja"
"Jadi ngontrak rumah juga di sana?"
"Mboten, kan di pesantren juga ngajar setiap hari. Jadi harus bolak-balik,"
__ADS_1
"Kalau berat, di tinggalkan saja salah satu nya. Memang jihad itu berat, tapi gak boleh sampai merasa keberatan"
"Enggeh, Kyai"
Aku merasa berdosa sekali telah berbohobg kepada Kyai Hasyim, tapi mana mungkin aku mengatakan apa yang aku pikirkan sebenarnya. Aku tidak tau harus bagaimana lagi, bagai teh yang sudah terlanjur masuk kedalam air, air nya pun tidak lagi berwarna putih.
"Silahkan, gus. Ganti baju dulu," Ucap seorang wanita yang seperti nya tukang rias.
Aku pun mengangguk, lalu menatap Kyai Hasyim seraya pamit. Dan tanpa berkata lagi seolah mengerti, beliau pun mengangguk.
Aku berjalan mengikuti wanita tadi, tampak di sana banyak sekali orang yang seperti nya masih saudara mertua ku, dan keluarga Kyai Hasyim.
"Pengantin pria belum siap, tapi kami semua sudah siap"
Aku hanya tersenyum menanggapi semua orang, di sana sungguh banyak sekali orang. Semua bersiap dengan make up. Ini benar-benar pernikahan besar, dan yang membuatku tak percaya ini semua adalah pernikahan ku.
"Mas, gimana?"
Baru saja aku masuk ke kamar, dia menyambut ku dengan senyuman. Dan kali ini aku berhasil terbuai beberapa detik, kecantikan nya semakin bertambah, sungguh.
"Cantik," Bibir yang susah sekali berbohong ini tiba-tiba saja mengatakan nya.
"Makasih," Ucap nya malu-malu, dan ini pertama kali nya aku melihat nya malu-malu.
"Ya sudah, gus. Nanti lagi lihat istri nya, sekarang ayo pakai baju nya, heheh"
Aku pun tersadar, mungkinkah semua menyadari sikap ku. Ah, malu nya aku.
"Karena sebelumnya tidak ada latihan, sekarang latihan berjalan beriringan bersama. Dari sini sampai depan saja, yuk"
Aku hanya pasrah, menuruti apapun yang mereka ingin kan. Dia kini menggandeng lengan ku, kami berdekatan hingga tidak ada jarak.
"Kiri... Kanan... Kiri... Kanan" Salah satu laki-laki dengan badan sedikit gemuk itu terus mengatur langkah kami dengan teratur, "pandangan terus ke depan, lurus ya"
Aku merasa sedang latihan baris berbaris seperti jaman waktu sekolah Aliyah, aku juga bukan seorang Abdi negara yang prosesi pernikahan nya se resmi ini. Tapi yasudahlah, aku hanya bisa sabar.
***
Kini aku benar-benar berjalan di atas karpet merah, di samping kami berjalan sudah ramai teman-teman nya dan juga teman-teman di pesantren.
Semua berlomba-lomba mengabadikan moment kami berjalan beriringan dengan ponsel mereka masing-masing.
Aku menebarkan senyuman, sedikit. Mata ku harus jeli, aku ingin mencari seseorang. Tetapi belum ku lihat sosok tersebut.
Sesampainya di sebuah lingkaran, kami berhenti di sana. Lalu di belakang ku tiba-tiba ada Gus Hasan, Gus Husen, Faisal, dan Ridwan. Lalu ada juga teman-teman nya, kalau kata dia kemarin teman-teman nya menjadi bridesmaid.
"Gus, silahkan berhadapan sambil memegang tangan istri," Ucap laki-laki gendut itu kepada ku
Aku tak bisa menolak nya, apalagi Gus Hasan menatapku penuh senyuman. Aku pun langsung meraih tangan nya sedikit ragu, tapi aku masih tak ingin menatap mata nya.
"Gus... "
__ADS_1
Aku tidak bisa mendengar jelas suara laki-laki gendut itu, karena musik sudah memenuhi telinga ku. Akhirnya laki-laki itu pun mendekat ke arah kami, lalu dia menatakan tangan kami.
Tangan kanan nya ada di pundakku, tangan kiri nya melingkar di pinggang ku, dan kedua tangan ku berada di pinggang nya.
Dan pada akhirnya kami berdansa, walau sangatlah kaku sekali.
Alhamdulillah, ini tidak berlangsung lama. Mungkin karena tadi aku bengong, jadi durasi nya habis.
"Ini yang terakhir, gus. Tunggu aba-aba saya, nanti cium kening nya Ning Chaca"
Hah? Aku benar-benar tak ingin melakukan itu. Apalagi tiba-tiba saja ku lihat Nabila berdiri bersama kerumunan yang ada di depan ku.
"Satu, dua... Tigaaaa"
Aku lalu mencium kening nya, cukup lama. Sampai akhirnya semua orang bertepuk tangan.
Sesungguhnya ini adalah momen yang begitu sangat indah, berjalan bersama bak seorang raja dan ratu. Di sambut banyak orang, berdansa dan mencium kening nya dengan di lempari kelopak bunga mawar. Sungguh sangat indah sekali jika saja di lakukan nya dengan wanita yang aku cintai.
Cukup lama bibirku menempel di kening nya sambil ku pejamkan mata ku, ada rasa malu aku melakukan ini, terlebih mencium wanita yang tidak aku cintai.
"Yehhh..."
Prok.. Prok.. Prok....
Ku buka mata ku perlahan sambil mulai melepaskan ciuman kening ku, saat mataku benar-benar terbuka sempurna aku langsung melihat Nabila. Yah, Nabila juga menatapku. Dia melihatku penuh dengan luka, pasti.
"Mas, mas," Tubuh ku di goncang oleh nya, sontak aku langsung menunduk, menatap wanita yang baru saja ku cium.
"Ayo, lanjut jalan nya"
Sebelum aku berbalik, ku sempatkan untuk melihat Nabila kembali. Namun sayang nya dia sudah hilang, entah kemana. Karena itulah pikiran ku menjadi tak karuan.
Walau saat ini aku tengah sibuk menyalami para tamu, tapi mata ku sesekali mencari-cari sosok Nabila. Bahkan tamu-tamu penting ayah mertua ku aku tak begitu memperhatikan nya, hanya tersenyum sesekali tertawa. Begitu saja, hingga akhirnya rombongan pesantren yang sangat banyak ini naik ke panggung pelaminan ku yang memang sangat besar dan mewah ini.
"Barakallah, Gus," Ucap seorang Ustadz yang dulu nya juga seangkatan dengan ku, nama nya Hairul. Dia pintar sekali, kini dia menjabat kepala madrasah tsanawiyah di pesantren.
"Terima kasih, Hairul. Tak do'a kan kamu cepat nyusul jadi pengantin juga," Ucap ku
"Aamiin, aamiin"
Kini aku kembali fokus, ku salami semua keluarga besar Ustadz dan Ustadzah pesantren ini. Tapi memang terlalu berharap itu akan kecewa, Nabila tidak ada. Entah kemana dia pergi, aku yakin telah menyakiti nya. Sehingga dia tak datang menghadapi ku.
"Gus, ngapunten. Ini ada hadiah dari kami para Guru"
"Alhamdulillah, syukron"
"Terima kasih," Ucap Chaca, dia sejak tadi memang seperti itu, ikutan saja.
"Enggeh, ning"
Nabila benar-benar tidak ada, hingga acara selesai pun aku tak melihat nya lagi.
__ADS_1