Positif

Positif
Bab 23


__ADS_3

23.


"Jadi gimana? Mau cerita apa sih?"


"Kita makan Bakso dulu, gus. Soal nya aku belum sarapan juga, hehehe... "


Dan aku pun menuruti nya, kami makan Bakso bersama. Seperti nya Zadid benar-benar lapar, dia menghabiskan satu mangkok Bakso plus lontong dengan cepat. Padahal Bakso di mangkok ku masih separuh jalan.


"Alhamdulillah," Dia bergumam, sejak dulu dia tak berubah. Kocak, banyak bicara dan suka melebih-lebihkan. Entah gimana gaya nya ketika menjadi dosen, aku tak yakin jika ia bersikap sama.


"Gus, do'ain lancar ya"


"Lancar apa?" Tanya ku heran


"Sebenarnya aku tu mau ke Pasuruan, pengen nemuin seseorang"


"Siapa?"


"Dia murid ku dulu"


Aku menatap nya sambil menaikan satu alisku, ku lihat Zadid malah cengengesan.


"Aku tuh suka sama dia, gus. Dulu sedikit insecure sih.."


"Idih, bahasa nya," Potong ku


"Iya, gus. Tapi in syaa Allah sekarang kalau aku melamar, orang tua nya gak nolak, hahaha"


"Yakin kamu gak di tolak?"


"Ya gak tau sih, gus. Dulu cerita nya aku kan ngajar di sekolah dasar, aku sering lihat dia. Anak nya energik, pandai bergaul, cantik juga, gus."


"Murid mu waktu SD?" Aku kaget dengan pernyataan nya


"Bukan, gus. Waktu pertama kali lihat itu aku masih ngajar di SD, rumah nya sekitaran SD tersebut. Dan gak nyangka waktu dia SMA aku kebetulan ngajar ektrakurikuler qira'at. Gitu maksud nya,"


"Ohhh," Jawabku sambil mengangguk-angguk kan Kepala ku.


"Aku sempet deketin bapak nya, hehehe... Kebetulan bapak nya itu sering jadi imam sholat di masjid dekat kos ku"


Aku masih menatap Zadid yang bercerita dengan ekspresi bahagia.


"Bapak nya sederhana kok, beliau hanya ingin menantu yang baik dan mau membimbing anak nya"

__ADS_1


"Inti nya gak muluk-muluk deh, sekarang aku udah jadi Dosen. Semoga ini cukup untuk meyakinkan beliau"


"Aamiin, in syaa Allah niat baik akan berakhir baik."


"Makasih do'a nya, gus"


Seperti nya perbincangan ini selesai, sebelum si kepo ini memintaku untuk bercerita juga. Aku pun segera mengajak nya pergi dari kantin dengan dalih ingin bertemu rektor. Untung saja Zadid ini nurut-nurut saja, mungkin karena efek setelah cerita wanita idaman nya barusan.


Kelas pertama ku cukup baik, mahasiswa nya semua aman terkendali. Ada sih beberapa yang mencuri perhatianku, akan ku ingat nama nya, agar nanti aku tau kemampuan nya setelah mengumpulkan tugas yang baru saja ku berikan. Apa dia bisa untuk di andalkan urusan pelajaran atau memang biang masalah di kelas.


"Ini e-mail saya, bisa di catat dan di kirim lusa. Paling lambat jam lima sore, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh"


Aku langsung mengambil buku-buku ku lalu aku berjalan keluar dari ruangan ini. Aku harus terburu-buru, karena tadi rektor memintaku menggantikan nya untuk memberikan kertas ulangan kepada mahasiswa nya.


"Iya, pak. Ini saya sudah berjalan menuju kelas"


📞 Saya kemungkinan satu jam lagi baru selesai. Apa tidak masalah, pak Yusuf?"


"Iya, pak. Siap, tidak masalah"


📞 Baiklah, Terima kasih. Assalamu'alaikum


"Waalaikumsalam"


Akupun segera masuk ke ruangan ku, meletakkan beberapa buku ku lalu mengecek e-mail dari Pak Bambang.


"Assalamualaikum," Ucapku saat memasuki kelas


"Waalaikumsalam," Jawab mahasiswa sambil mulai merapikan duduk mereka.


Setelah ku letakkan buku dan laptopku, aku berdiri di samping meja menatap mahasiswa yang bisa ku dengar bergunam. Mahasiswa di kelas ini menatapku dengan aneh, membuat ku merasa aneh juga. Tetapi detik selanjut nya aku menyadari, mungkin mereka mengira aku salah masuk kelas.


"Hmm, Saya dosen Baru di sini. Dan sekarang saya menggantikan Pak Bambang sebentar, karena beliau ada kepentingan mendadak"


"Ohhh,"


"Gus Yusuf, bukan sih?"


"Iya, panggil saya Pak Yusuf di sini"


Aku tersenyum sekilas, lalu aku kembali menampakkan wajah datar ku.


"Sesuai dengan apa yang Pak Bambang amanat kan. Tidak ada apapun di meja kecuali alat tulis!"

__ADS_1


"Yaa, ku kira keberuntungan. Nyatanya sama saja seperti pak Bambang"


Ku dengar keluhan salah satu mahasiswa di depan ku, ya begitulah jika terlalu berharap, ujung nya pasti kecewa. Mungkin mereka pikir aku menggantikan Pak Bambang, mereka akan bisa menyontek dan lain sebagainya. Tetapi aku sungguh tidak suka perbuatan curang seperti itu, sejak dulu aku tak pernah menyontek. Aku lebih bangga dengan nilai jelek penuh kejujuran, daripada Nilai bagus di dasari kepalsuan.


"Ini adalah soal nya, capat di tulis semua karena sepuluh menit lagi LCD nya saya matikan"


Wajah mereka mulai murung, aku yakin yang murung tidak belajar dengan sungguh-sungguh.


"Itu kertas apa? Mohon di masukkan ke dalam tas semua kecuali alat tulis dan kertas ulangan yang ada di atas meja"


"Iya, pak"


Aku sungguh tidak mengerti dengan anak-anak zaman sekarang, padahal semua ini di lakukan untuk kebaikan mereka sendiri, namun mereka salah mengartikan nya dan mengira bahwa seorang guru yang tegas itu jahat.


Klinggg...


Chaca : Mas jangan lupa makan siang, alhamdulillah teman ku bertambah. Tadi di bagi kelompok, akhirnya aku nambah teman lagi.


Aku membaca nya, namun tak berniat membalas nya. Saat ini aku fokus dengan orang-orang yang ada di depan ku. Pak Bambang berpesan agar aku mengawasi nya dengan jeli, karena kelas ini termasuk paling super.


Aku berkeliling, aku tau yang tidak bisa mengerjakan akan takut jika pengawasan ujian sangat ketat. Tetapi jika mereka belajar, dan tidak main-main dengan kuliah nya, mereka akan duduk tenang mengerjakan apapun sebisanya.


"Yang bicara dengan teman nya, akan saya ambil kertas nya," Ini amanat pak Bambang, jadi aku harus mengikuti sesuai apa yang beliau katakan.


Beberapa menit suasana aman terkendali, aku pun duduk di tempat ku lalu membuka Handphone ku. Tidak, jangan salah paham. Aku membuka Grup Chat pondok untuk mengetahui perkembangan informasi.


Klinggg...


Chaca : Mas, aku ingin beli Strudel. Beliin ya, rasa coklat keju


Aku menghela Nafasku,


Yusuf : Aku gak tau tempat nya.


Tak lama dia mengirimkan semua maps kepada ku, lengkap dengan ancer-ancer dan foto sebuah gedung bertuliskan Strudel Malang.


Dan terpaksa aku membelikan nya, jika tidak aku takut Umi sudah mengetahui ini. Jika aku tak membelikan nya, umi akan memarahiku.


Jam delapan malam, aku baru saja sampai di rumah. Rumah sangat sepi, mungkin semuanya masih di masjid. Akupun memutuskan untuk mandi, lalu sholat isya di kamar.


"Assalamu'alaikum, mas. Kok malam. .. "


"Ssstttt!" Aku langsung meletakkan jadi telunjuk di bibir ku "aku capek! Gak seharusnya kamu posesif seperti ini, aku udah belikan kue, jadi tolong jangan ganggu aku! Aku mau istirahat"

__ADS_1


Aku langsung meninggalkan dia di sana, aku sungguh tidak suka dengan semua sikap nya itu. Seharusnya dia melayani ku, atau setidak nya menawarkan pijatan. Jikapun dia melakukan itu, aku tak mau ada akan menolak nya.


Aku sungguh sangat kesal, aku kali ini aku lebih nyaman tidur sambil duduk di kursi goyang ku. Sungguh dia membuatku emosi sejak tadi dia posesif dan meminta ini itu.


__ADS_2