
Bab 35
Aku berada di rumahku, rumah yang ku tinggali sejak kecil. Namun aku merasa asing di sini, merasa sendiri walaupun anggota keluarga ku sangat lengkap. Ada Abah, Umi, Mas Adam bahkan Khalila juga ada di sini sejak kemarin.
"Om Ucup," Hanya anak kecil ini yang menyapaku, tetap berbicara dengan ku, bermain, bercanda dan mengusir sepi ku.
"Zahra kok gak mengaji?"
"Capek, om. Zahra mau main saja sama om Ucup"
Gadis gembul ini ku angkat, ku letakkan di pangkuan ku. Lalu ku ayun-ayun kan badan ku agar kursi yang sedang ku duduki ini bergoyang.
"Om, mana hape nya. Zahra pinjam," Rayu nya sambil memelukku.
"Sebentar ya, om lagi kerja"
"Kerja apa om?" Tanya nya, kepo.
Lalu ku perlihatkan layar hape ku yang terpampang nyata tulisan-tulisan kecil.
"Apa ini om?"
"Ini nama nya materi sayang, udah duduk yang anteng di sini ya, " Aku mengangkat nya lalu aku letakkan dia di sofa dekat kursi goyang ku "Sebentar lagi Om selesai, kita beli es cream"
"Oke"
Setelah menjawab itu, benar saja dia duduk diam sangat anteng sekali. Kedua tangan nya ia tumpuk di atas paha nya, pandangan sesekali melihat sekeliling tapi badan tetap diam. Lucu sekali, ingin rasanya aku memeluk nya dan menciumi pipi gembul nya itu.
"Alhamdulillah, selesai"
"Horeee!" Dia langsung turun, berdiri dan mengangkat ke dua tangan nya.
"Capek ya nunggu om?"
"Gak capek, cuma bosen saja sih om"
Astaghfirullah, memang anak tukang ceramah pinter banget bicara.
"Om ayo cepatlah," Dia terus mondar mandir mengikuti langkah kaki ku. Sedangkan aku masih sibuk merapikan meja dan lemari ku, sejak dulu memang aku tidak suka yang berantakan.
"Ayo berangkat, dimana sandal nya?"
"Ada di depan," Badan gemuk itu langsung berlari, mungkin tenaga nya habis tapi tetap saja lambat, hahaha..
Kini aku letakkan Zahra gendut ini di kursi samping kemudi ku, "duduk yang anteng, kalau gak anteng, om gak suka"
"Iya, om"
__ADS_1
Dia memang menurut, walaupun cerewet seperti Khalila. Tidak seperti Chaca, yang tidak menurut dan cerewet.
Tak lama, mobil ku sampai di sebuah minimarket. Nampak seorang wanita berdiri yang sepertinya sudah menungguku di depan minimarket ini.
"Nunggu lama?" Tanya ku sambil berjalan melewati nya
"Mboten, Gus"
Setelah mengatakan itu, dia berjalan di belakang ku. Kami bertingkah seolah-olah tidak kenal satu sama lain nya.
"Zahra bisa pilih es cream nya dulu ya, om mau beli sesuatu di sana"
"Hemm, iyaa," Jawab Zahra tanpa melihatku, gadis gemuk itu sibuk melihat es cream di dalam kulkas.
"Ayahku terus mendesak ku, agar hari sabtu aku pulang dan merayakan ramadhan di rumah. Ibu ku bercerita bahwa beberapa orang ada yang mengajukan taaruf untukku"
"Turuti saja ayahmu, untuk saat ini aku tidak bisa langsung melamar mu" Jawabku sambil sibuk memegang snack yang berjajar rapi di depan ku.
"Aku tau, Gus. Aku tak menginginkan secepatnya juga, jika memang ada niat baik. Aku akan menolak semua taaruf yang datang"
Aku dia, tidak bisa menjawab nya. Andai orang tua ku menyetujui atas aku dan Nabila, mungkin saat ini aku akan memberikan sebuah kepastian kepada Nabila.
"Kapan sidang nya?"
"Mediasi dulu, besok jam sembilan"
"Tenang saja, Gus. Aku tidak akan memberi tahu siapapun tetang perceraian panjenengan, mungkin saja berita ini akan terdengar di pesantren ketika panjenengan sudah resmi bercerai"
Aku langsung pergi menemui Zahra, ini sudah terlalu lama bagiku.
"Om, sudah," Ucap Zahra dengan senyuman lebar. Ku lihat kedua tangan nya memegang es cream.
"Sudah? Gak mau beli jajan?"
Dengan cepat gadis menggemaskan itu menggeleng.
"Ya sudah, yuk"
Aku menuntun nya, lalu ku ajak dia pergi ke kasir untuk membayar. Untung saja Zahra tidak menyadari keberadaan Nabila, kalau tau bisa-bisa dia lapor ke Mbak Rifa.
***
Aku sudah berada di sebuah pengadilan Agama, menunggu giliran di panggil ke ruang mediasi.
Di sini aku bersama Faisal, dan Chaca bersama ketiga sahabat nya, tentu ada wanita yang berpenampilan pria itu.
"Gus, yakin?"
__ADS_1
Aku mengangguk dengan cepat.
Faisal membuang nafasnya kasar, dia memang belum aku ceritakan apapun. Jadi dia tidak tau apapun, bahkan tadi pagi pun dia tidak tau bahwa akan ku ajak ke sini.
Setelah tiga puluh menit, aku dan Chaca masuk ke sebuah ruangan. Kami di persilahkan untuk duduk berdampingan di depan seorang laki-laki dengan jas hitam rapi.
"Gus Yusuf dan Aisya"
"Chaca," Koreksi nya.
"Ohhh, oke Chaca"
Tak lama, laki-laki yang ada di depan ku ini membacakan tuntutan Chaca. Sungguh aku sangat jengkel dengan nya, bisa-bisa nya dia mengadukan bahwa aku selingkuh, keterlaluan sekali.
"Untuk point selingkuh itu tidak benar, Pak"
"Lalu?"
"Mencintai wanita lain sama saja menghianati istri nya, simpel nya Selingkuh!" Dia menatap ku tajam.
"Tidak! Kamu tidak ada bukti untuk itu!"
"Tapi chaca sudah print screenshot percakapan beserta nomor telepon yang di beri nama kontak Nabila," Ucap laki-laki yang sedang me-mediasi ku
"Aku mendapatkan semua itu dari handphone mu, Gus Yusuf. Bahkan surat-surat Nabila juga aku foto dan aku serahkan kepada pengadilan.
" Kau bersalah Gus Yusuf, bagaimana pun juga anda harus meminta maaf dan memperbaiki semua nya"
"Iya, pak. Saya memang salah, dan saya menyesali semua yang sudah aku lakukan. Saya berjanji tidak mengulangi nya. Bahkan saya sudah meminta maaf, dan meminta kesempatan satu kali lagi, namun tidak di berikan"
"Aku tidak mau lagi, pak. Sudah cukup dia menyakitiku"
Andai saja tadi sebelum berangkat Mas Adam tidak menghadang ku, sudah pasti akan aku kabulkan semua permohonan pengajuan talak nya. Masalah ini semakin rumit dan membuatku pusing sekali.
"Kau harus mempertahankan nya, jika hari ini kau menyetujui permohonan talak. Aku tak tau bagaimana murka nya Umi, abah dan tentu nya aku juga akan marah kepadamu. Proses perceraian ini tidak bisa terwujud, karena letak talak ada di pihak laki-laki (Suami). Jika kamu tidak mengabulkan nya, maka perceraian tidak akan terjadi, dan Chaca akan di bimbing oleh pengadilan agar mau memberimu kesempatan lagi, atau setidak nya pengadilan menunda sidang"
Itulah wejangan yang Mas Adam berikan kepadaku, bukan wejangan. Tetapi itu perintah yang mengandung ancaman.
"Bagaimana, Gus Yusuf?"
"Saya tetap tidak mau menceraikan nya pak, untuk itu aku tidak bisa menandatangani surat permohonan talak ini"
"Mau nya apa sih? Hah!" Dia mendorong ku, ku lihat wajah nya sudah berderai air mata. Lalu aku menarik tangan nya, ingin ku peluk tapi tangan ku langsung di hempaskan oleh Chaca
Tak masalah, ini semua harus ku lakukan agar pengadilan tidak mengabulkan permohonan cerai Chaca, aku harus membuat laki-laki di depan ku ini percaya bahwa aku mencintai nya, terlebih aku juga ingin membuktikan kepada keluarga ku, bahwa aku sudah berusaha mempertahankan Chaca.
Jika aku langsung menceraikan nya, tentu keluarga ku murka dan sulit sekali untuk menikahi Nabila. Untuk itu pasrah, mengikuti alur nya saja. Toh Chaca sudah tak mau lagi dengan ku, kita pasti akan bercerai dan keluarga ku akan merestui ku dengan Nabila.
__ADS_1
"Baiklah, kurasa Gus Yusuf dan Chaca harus konseling dulu minggu depan, jika tiga kali konseling tetap tidak berhasil, maka pengadilan akan mengabulkan permohonan perceraian dari Chaca"
Aku sungguh tak mengerti, tiga minggu ini sangat lama sekali. Tak apalah, sabar. Orang sabar pasti akan bahagia.