Positif

Positif
Bab 65


__ADS_3

Kini aku berjalan bersama Khalila menyusuri gang kecil yang


tak jauh dari pesantren, beberapa orang sejak tadi menyapa kami. Bahkan saat


kami bru turu dari mobil, salah satu warga langsung menghampiri kami, menanyakan


tujuan kami.


“Kami mau beli Gethuk nya Mbah Sarmin, Pak?” Ucapku kepada


bapak paru baya


“Sepertinya Mbah Sarmin udah lama gak jualan, karena sakit”


Namun kami ingin bertemu langsung, siapa tau Mbah sarmin mau


membuatkan khusus untuk ku. Bapak tadi pun mengantar kami, hingga akhirnya kami


berhenti di depan rumah berwarna Hijau yang di depan nya ada gerobak Gethuk


-nya.


“assalamualaikum”


“Waalaikumsalam,” Jawab langsung dari dalam rumah.


“Lohhh, Pak Hadi ini kok ada Gus Yusuf? Ada apa Ngee?” seorang ibu-ibu menatapku, aku pun tersnyum kepada beliau


“Maaf, Bu. Saya mau beli Gethuk,” Ucapku langsung tanpa basa-basi,


Khalilah yang seperti nya tak suka langsung mencubit punggungku, lalu dia berkata


“Boleh kami masuk dulu, bu?


“Ohh, iya. Maaf silahkan masuk”


Khalila menatapku tajam, “gak sopan sekali. Seharusnya kita


masuk dulu, baru ngomong!”


Iya, benar Khalilah. Mungkin karena aku nya saja yang gak


bisa bsa-basi dan bukan kebiasaan ku bertamu ke rumah gini, aku juga jarang dan


hamper tak pernah bersosialisasi.


“Gimana kabar nya Mbah Sarmin, Bu. Saya dengar Mbah Sarmin


sakit?”


Pandai sekali membuka obrolan, untung aku ajak Khalilah,


hehehe.


“Alhamdulillah, sudah bisa bangun. Kalau minggu lalu sempat


opname dua hari”


“Mbah Sarmin sakit apa, Bu?”


Khalilah masih basa-basi,  kalau aku pasti udah to the point.


“Sakit sesak, Ning. Biasanya kalau kecapek an sesak nya

__ADS_1


kambuh”


“Ohh, jadi udah gak jual Gethuk lagi ya, bu?”


“Jual, ning. Cuma hari senin, rabu sama sabtu saja”


Mendengar itu, aku langsung mengingat-ingat hari apa ini. Dan


ternyata sekarang hari selasa.


“Padahal saya kesini mau beli gethuk, bu. Tapi gak apa-apa,


besok saya beli ke lapak”


“beli berapa, ning? Ini ada sisa pesanan tadi pagi. Tapi Cuma


sepuluh ribu”


“Iya, itu aja, bu. Gak apa-apa,” potongku langsung


“Baik, Gus. Sebentar saya siapkan,” Ibu itu langsung berdiri,


sepertinya benar-benar hendak menyiapkan pesanan kami, namun baru dua langkah,


aku teringat sesuatu “Bu, maaf. Apakah yang buat Gethuk masih Mbah sarmin?”


Ibu itu tersenyum, “enggeh, Gus. Yang buat Mbah sarmin, Cuma


memang yang jaga lapak menantu nya, alias suami saya”


Hatiku langsung lega, aku ingin segera memakan nya habis. Sungguh


aku ingin rumah tangga ku baik-baik saja, aku rindu Chaca, ingin bercanda


“Jangan di makan, Mas. Tanya Mas Ridwan, itu langsung di


makan atau di do’ain dulu”


Aku pun meletakkan kembali makanan jadul berwarna kuning


ini, padahal air liur ku hamper menetes mlihat nya. Apalagi parutan kelapa yang


ada di atasnya, huh! Sungguh sangat menggoda sekali.


Chaca Pov


Aku sungguh rindu Mas Yusuf, ingin sekali aku bertemu dengan


nya. Namun kata Ayah mas Yusuf besok pulang, tapi saat ini aku gak bisa menahan


nya lagi.


Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan


Kecewa sekali aku, sudah tiga kali ku telepon mas Yusuf tapi


hasil nya tetap sama. Aku Chat juga gak di balas, memang kebiasaan!


Aku pun turun ke bawah, jam makan siang sudah berlalu sejak


tadi. Memang mas Yusuf ini menyebalkan, dia tidak mengabariku. Ah, sudahlah,


aku ingin makan dulu, Perutku juga sudah bunyi sejak tadi. Jangan sampai sakit,

__ADS_1


tapi ya beginilah Cinta. Perut laparpun bisa di tunda demi menunggu kabar Ayang,


wkwkwk….


“Cha, besok ikut Ayah lagi ya?” ucap ayah saat aku baru saja


duduk di samping nya


“Besok Mas Yusuf datang kan, Yah? Chaca di rumah saja”


Ayah dan Bunda langsung saling melempar pandangan, aku jadi


curiga. Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku? Aku sangat hafal sekali


gerak-gerik mereka.


Drrrtttttt


Handphone Ayah yang ada di atas meja makan bergetar, belum


sempat aku melihat nya. Ayah sudah mengambil nya dengan cepat. Ternyata itu


pesan masuk, bukan panggilan yang masuk ke handphone nya.


Tak lama setelah memandangi layer Handphone nya, wajah ayah


langsung berubah. Apa Ayah menang undian? Kok seperti nya dia Bahagia sekali.


“Bunda, kata Ridwan, Yusuf sudah dapat makanan nya”


“Terus gimana,Yah?” Bunda langsung menghampiri Ayah


“Ridwan sudah ke pesantren, nemuin Yusuf”


Hah? Apa aku gak salah dengar.


“Yah? Bukan nya Mas Yusuf pergi ke luar kota sama Kak


Ridwan? Kok Ayah Bilang Kak Ridwan ke Rumah Mas Yusuf?”


“Ehhh, bukan gitu, Cha”


Ayah gelagapan, aku tau Ayah kini sedang mencari ALasan.


Jadi kebenaran nya, Mas Yusuf ada di rumah nya. Apa ini?


“Ohh, jadi sebenarnya Mas Yusuf marah sama Chaca karena


Chaca minta tinggal disini? Tapi Ayah bilang Mas Yusuf pergi sama Kak Ridwan?”


“Tidak, Cha…”


Aku langsung meletakkan sendok dan garpu yang sedang aku


pegang, walaupun perutku sangat lapar, namun amarah ini mengalahkan semua nya. Aku


kini mengerti kenapa Mas Yusuf gak pernah kabari aku, jadi semua orang


menyembunyikan kemarahan mas Yusuf dariku.  Semua orang bilang bahwa Mas Yusuf pergi bisnis Bersama Kak ridwan.


Baiklah, aku saja yang naif. Seharusnya aku mengerti kebohongan semua orang.


SEGINI DULU YA GAES, CUACA DI RUMAH LAGI SANGAT DINGIN SEKALI. BIKIN MAGER, SEKALI NYA SEMPATIN NULIS PASTI UJUNG-UJUNG NYA MASUK ANGIN KARENA MEMANG HAWANYA DINGIN BANGET. DI TAMBAH LAGI BADAN AGAK KECAPEK AN. JANGAN LUPA  kOMEN YAA!!!! KIRA-KIRA MANJUR GAK GETHUK NYA, WKWKWKW

__ADS_1


__ADS_2