
Kini aku berjalan bersama Khalila menyusuri gang kecil yang
tak jauh dari pesantren, beberapa orang sejak tadi menyapa kami. Bahkan saat
kami bru turu dari mobil, salah satu warga langsung menghampiri kami, menanyakan
tujuan kami.
“Kami mau beli Gethuk nya Mbah Sarmin, Pak?” Ucapku kepada
bapak paru baya
“Sepertinya Mbah Sarmin udah lama gak jualan, karena sakit”
Namun kami ingin bertemu langsung, siapa tau Mbah sarmin mau
membuatkan khusus untuk ku. Bapak tadi pun mengantar kami, hingga akhirnya kami
berhenti di depan rumah berwarna Hijau yang di depan nya ada gerobak Gethuk
-nya.
“assalamualaikum”
“Waalaikumsalam,” Jawab langsung dari dalam rumah.
“Lohhh, Pak Hadi ini kok ada Gus Yusuf? Ada apa Ngee?” seorang ibu-ibu menatapku, aku pun tersnyum kepada beliau
“Maaf, Bu. Saya mau beli Gethuk,” Ucapku langsung tanpa basa-basi,
Khalilah yang seperti nya tak suka langsung mencubit punggungku, lalu dia berkata
“Boleh kami masuk dulu, bu?
“Ohh, iya. Maaf silahkan masuk”
Khalila menatapku tajam, “gak sopan sekali. Seharusnya kita
masuk dulu, baru ngomong!”
Iya, benar Khalilah. Mungkin karena aku nya saja yang gak
bisa bsa-basi dan bukan kebiasaan ku bertamu ke rumah gini, aku juga jarang dan
hamper tak pernah bersosialisasi.
“Gimana kabar nya Mbah Sarmin, Bu. Saya dengar Mbah Sarmin
sakit?”
Pandai sekali membuka obrolan, untung aku ajak Khalilah,
hehehe.
“Alhamdulillah, sudah bisa bangun. Kalau minggu lalu sempat
opname dua hari”
“Mbah Sarmin sakit apa, Bu?”
Khalilah masih basa-basi, kalau aku pasti udah to the point.
“Sakit sesak, Ning. Biasanya kalau kecapek an sesak nya
__ADS_1
kambuh”
“Ohh, jadi udah gak jual Gethuk lagi ya, bu?”
“Jual, ning. Cuma hari senin, rabu sama sabtu saja”
Mendengar itu, aku langsung mengingat-ingat hari apa ini. Dan
ternyata sekarang hari selasa.
“Padahal saya kesini mau beli gethuk, bu. Tapi gak apa-apa,
besok saya beli ke lapak”
“beli berapa, ning? Ini ada sisa pesanan tadi pagi. Tapi Cuma
sepuluh ribu”
“Iya, itu aja, bu. Gak apa-apa,” potongku langsung
“Baik, Gus. Sebentar saya siapkan,” Ibu itu langsung berdiri,
sepertinya benar-benar hendak menyiapkan pesanan kami, namun baru dua langkah,
aku teringat sesuatu “Bu, maaf. Apakah yang buat Gethuk masih Mbah sarmin?”
Ibu itu tersenyum, “enggeh, Gus. Yang buat Mbah sarmin, Cuma
memang yang jaga lapak menantu nya, alias suami saya”
Hatiku langsung lega, aku ingin segera memakan nya habis. Sungguh
aku ingin rumah tangga ku baik-baik saja, aku rindu Chaca, ingin bercanda
“Jangan di makan, Mas. Tanya Mas Ridwan, itu langsung di
makan atau di do’ain dulu”
Aku pun meletakkan kembali makanan jadul berwarna kuning
ini, padahal air liur ku hamper menetes mlihat nya. Apalagi parutan kelapa yang
ada di atasnya, huh! Sungguh sangat menggoda sekali.
Chaca Pov
Aku sungguh rindu Mas Yusuf, ingin sekali aku bertemu dengan
nya. Namun kata Ayah mas Yusuf besok pulang, tapi saat ini aku gak bisa menahan
nya lagi.
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan
Kecewa sekali aku, sudah tiga kali ku telepon mas Yusuf tapi
hasil nya tetap sama. Aku Chat juga gak di balas, memang kebiasaan!
Aku pun turun ke bawah, jam makan siang sudah berlalu sejak
tadi. Memang mas Yusuf ini menyebalkan, dia tidak mengabariku. Ah, sudahlah,
aku ingin makan dulu, Perutku juga sudah bunyi sejak tadi. Jangan sampai sakit,
__ADS_1
tapi ya beginilah Cinta. Perut laparpun bisa di tunda demi menunggu kabar Ayang,
wkwkwk….
“Cha, besok ikut Ayah lagi ya?” ucap ayah saat aku baru saja
duduk di samping nya
“Besok Mas Yusuf datang kan, Yah? Chaca di rumah saja”
Ayah dan Bunda langsung saling melempar pandangan, aku jadi
curiga. Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku? Aku sangat hafal sekali
gerak-gerik mereka.
Drrrtttttt
Handphone Ayah yang ada di atas meja makan bergetar, belum
sempat aku melihat nya. Ayah sudah mengambil nya dengan cepat. Ternyata itu
pesan masuk, bukan panggilan yang masuk ke handphone nya.
Tak lama setelah memandangi layer Handphone nya, wajah ayah
langsung berubah. Apa Ayah menang undian? Kok seperti nya dia Bahagia sekali.
“Bunda, kata Ridwan, Yusuf sudah dapat makanan nya”
“Terus gimana,Yah?” Bunda langsung menghampiri Ayah
“Ridwan sudah ke pesantren, nemuin Yusuf”
Hah? Apa aku gak salah dengar.
“Yah? Bukan nya Mas Yusuf pergi ke luar kota sama Kak
Ridwan? Kok Ayah Bilang Kak Ridwan ke Rumah Mas Yusuf?”
“Ehhh, bukan gitu, Cha”
Ayah gelagapan, aku tau Ayah kini sedang mencari ALasan.
Jadi kebenaran nya, Mas Yusuf ada di rumah nya. Apa ini?
“Ohh, jadi sebenarnya Mas Yusuf marah sama Chaca karena
Chaca minta tinggal disini? Tapi Ayah bilang Mas Yusuf pergi sama Kak Ridwan?”
“Tidak, Cha…”
Aku langsung meletakkan sendok dan garpu yang sedang aku
pegang, walaupun perutku sangat lapar, namun amarah ini mengalahkan semua nya. Aku
kini mengerti kenapa Mas Yusuf gak pernah kabari aku, jadi semua orang
menyembunyikan kemarahan mas Yusuf dariku. Semua orang bilang bahwa Mas Yusuf pergi bisnis Bersama Kak ridwan.
Baiklah, aku saja yang naif. Seharusnya aku mengerti kebohongan semua orang.
SEGINI DULU YA GAES, CUACA DI RUMAH LAGI SANGAT DINGIN SEKALI. BIKIN MAGER, SEKALI NYA SEMPATIN NULIS PASTI UJUNG-UJUNG NYA MASUK ANGIN KARENA MEMANG HAWANYA DINGIN BANGET. DI TAMBAH LAGI BADAN AGAK KECAPEK AN. JANGAN LUPA kOMEN YAA!!!! KIRA-KIRA MANJUR GAK GETHUK NYA, WKWKWKW
__ADS_1