
Bab 33
Hari ini aku Izin tidak mengajar ke Malang, tentu aku harus mengorbankan satu waktu ku. Ini adalah hari yang aku Tunggu-tunggu.
Setelah sholat dhuha, aku langsung berangkat hingga aku baru menyadari Handphone ku ketinggalan di rumah. Dan sekarang aku sudah memberhentikan mobil ku di pintu masuk perumahan Pak Jamil, menunggu rombongan Mas Adam dan Abah datang.
"Lama sekali sih," Omel ku
Tak mungkin aku kembali ke rumah untuk sekedar mengambil handphone, andai saja tadi Faisal tak sibuk, aku akan mengajak nya juga.
Tok
Tok
Tok
Aku menoleh ke samping, ternyata itu satpam komplek.
"Gus Yusuf?" Ucap nya setelah aku membuka Jendela mobil ku
"Engge, pak. Ada apa ngge?"
"Maaf, Gus. Tidak boleh berhenti di sini, udah peraturan, pak"
"Engge, pak. Hanya sebentar saja, saya lagi nunggu Gus Adam disini"
"Gus Yusuf masuk saja, nanti saya akan cegat dan anterin Gus Adam"
Aku tau ini adalah perumahan elit, tentu yang masuk di sini akan di periksa. Kecuali aku, karena aku di kasih kartu untuk membuka palang pintu perumahan oleh Pak Jamil saat dulu baru menikah sama Chaca.
Tidak ada alasan lagi, untung saja dia mobil hitam yang aku kenali itu membunyikan klakson nya.
"Ohh, itu Gus Adam. Saya permisi ya, pak. Maaf ngge"
"Ohh, Engge gus. Mboten nopo-nopo"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam,"
Aku langsung menutup jendela mobil ku, dan segera menuju kemenangan, hahaha...
Setelah memarkirkan mobil ku di halaman rumah Chaca, aku pun langsung turun. Mencium punggung tangan Kyai Hasyim, Abah dan Pak Jamil yang ternyata juga ada di rombongan tersebut, bahkan ada Ridwan juga.
Saat memasuki rumah pak Jamil, jantung ku langsung deg degan.
Plakkk..
Plakkk...
Ridwan langsung memukul Chaca yang duduk di sofa, aku kaget sekali. Tak tega melihat nya.
"Ridwan! Siapa yang suruh kamu mukul Chaca!" Bu Mila sangat marah dan mendorong Ridwan.
"Ridwan!" Kyai Hasyim juga marah kepada Ridwan.
"Bunda tidak ridho kamu nyakiti, Chaca lagi!"
"Dia udah bikin malu, bunda!"
"Diam!"
Ridwan pun langsung masuk kedalam rumah dengan marah, dan bu Mila langsung memeluk Chaca yang sudah menangis.
"Bunda, itu keluar darah"
Semua orang tak menyadari bahwa bibir Chaca keluar darah karena pukulan Ridwan. Sungguh tak tega, pasti itu sangat sakit sekali.
"Bawa masuk dulu," Titah Pak Jamil yang seperti nya masih marah kepada Chaca.
"Chaca istighfar terus sayang, biar tenang hati nya," Ucap Kyai Hasyim sambil mengelus kepala Chaca.
Kasian juga melihat nya seperti itu, tapi biarkan saja. Ini juga salah nya, lagipula siapa suruh Zina!
Setelah kepergian Chaca, kami semua duduk di ruang tamu. Perasaan ku mulai tak enak, mungkinkan aku akan di sidang semua orang.
Tenanglah Yusuf, katakan semua dengan jujur. Memang akan memalukan tapi orang-orang yang ada di hadapan mu sekarang tidak akan mengatakan aib mu kepada orang lain.
"Langsung saja pada inti nya, karna ini sudah siang"
__ADS_1
"Engge, Yai. langsung saja"
Aku semakin terasa deg deg an.
"Yusuf, Apa benar dan yakin bahwa Chaca hamil bukan anak kamu?"
"Yakin, Pak Kyai. Karena kami belum melakukan apapun"
"Itu termasuk Nafkah batin, apa kamu juga tidak memberi Chaca Nafkah lahir?"
"Saya memberinya Nafkah Lahir, Pak Kyai. Gaji saya ngajar di kampus malang sepenuhnya saya transfer ke Chaca, saya cuma pegang gaji ngajar di kampus milik Abah saja"
Semua diam, kenapa aku yang di sidang ya. Tapi gak apa-apa, toh aku tak melakukan kesalahan.
"Lalu kenapa kamu tidak memberinya Nafkah Batin?"
"Kami sepakat tidak teeburu-buru untuk hal itu, kami masih dalam tahap saling mendekatkan diri. Karena saya tidak terbiasa untuk itu, Kyai"
Jawaban ini penuh dengan kebohongan, jujur saja aku merasa bersalah dalam hal ini. Tapi mana mungkin aku menjelaskan yang sebenar nya.
"Tidak!" Chaca tiba-tiba datang sambil menangis dari dalam. "Yang sebenarnya Gus Yusuf tak mau melakukan nya karena dia mencintai wanita lain"
Rasa kasian ku sekarang langsung hilang kepadanya, lagi-lagi dia memancing emosi ku.
"Katakan saja Gus Yusuf, siapa nama wanita itu"
Mas Adam dan Abah langsung menatapku Tajam.
"Chaca diam!" Bentak Pak jamil, untung saja pak Jamil menghentikan nya.
"Abah Hasyim, aku sudah tidak mau lagi sama Gus Yusuf"
Siapa juga yang masih mau dengan mu!
"Kenapa, sayang? Apa sudah tidak sayang lagi ke suami mu?"
"Tidak, Abah Hasyim. Gus Yusuf mencintai seorang wanita, tanyakan saja kepada nya siapa wanita itu"
Jika saja tidak ada orang di sini, jelas aku akan memarahi nya.
"Apa karena itu, Chaca akhirnya berpaling dari Yusuf?"
"Chaca tidak pernah berpaling, Abah Hasan"
Setelah aku bertanya, dia akhirnya bungkam.
"Kenapa diam? Ayo katakan, kamu tadi berani berbicara tapi kenapa sekarang diam?"
"Assalamualaikum," Seorang wanita masuk kedalam rumah, Bu Mila langsung menghampiri wanita tak berjilbab itu dan menyuruhnya masuk, lalu di persilahkan duduk, bergabung dengan kami.
"Sebelum aku menjelaskan semua nya, aku ada satu permintaan yang harus di ikuti oleh semua orang. Termasuk Ayah"
Drama apa lagi ini, aku sungguh eneg melihat nya. Rasanya ingin pergi dari sini.
"Jangan main-main Chaca! Ini masalah serius, jangan minta yang aneh-aneh. Kamu tersangka nya sekarang, jangan berulah!"
"Baiklah, jika aku memang bersalah maka semua boleh melakukan apapun kepadaku, termasuk membakarku hidup-hidup. Jika aku tidak berasalah, maka jangan memaksa aku untuk rujuk dengan Gus Yusuf"
"Ini bukan masalah salah atau benar, ini tentang ayah dari bayi mu. Dan kamu harus mengatakan bahwa itu bukan anakku!"
Aku sungguh jengkel sekali dengan nya.
"Siapa yang hamil, pak? Chaca?" Wanita tak berhijab itu menatapku. Lalu ekspresi semua orang berubah.
"Chaca ini pasien saya, sudah satu tahun"
"Pasien?" Pak Jamil memastikan nya
"Iya, pak. Saya tante nya Al, seorang dokter kandungan. Di rahim Chaca terdapat sebuah Miom satu tahun ini"
"Hah?" Semua orang kaget, dan aku juga ikut kaget.
"Iya, pak. Miom Chaca semakin bulan semakin membesar, sedangkan Chaca tak mau operasi karena takut mengatakan nya kepada Pak Jamil dan Bu Mila, karena ini Miom, opsi lain nya bisa di keluarkan dengan ramuan herbal, tapi akibat nya akan merusak selaput darah perawan dan Chaca menolak hal tersebut"
"Lalu kenapa kemarin Umi tespect Chaca menjadi Positif?" Tanya ku yang tak percaya.
"Itu karena obat hormon yang saya berikan, sudah tiga bulan ini Chaca tidak menstruasi. Otomatis jika di tespect akan positif"
Duar... Kini semua harapan ku pupus. Aku malu, lalu bagaimana dengan Nabila.
__ADS_1
"Chaca sayang, kenapa kamu gak menjelaskan ini kepada Yusuf, nak? Kalau kamu jelaskan kepada Yusuf kam gak jadi begini," Ucap Abah
"Maaf, Bah. Tapi Gus Yusuf waktu itu marah-marah, gak memberikan jeda untuk Chaca menjelaskan, bahkan Gus Yusuf berkata sangat kasar kepada Chaca"
Aku sudah menduga nya bahwa dia akan mengatakan itu. Mana peduli dia dengan aib suami nya.
"Wes sudah, gak usah di perpanjang. Ayo kalian berdua saling memaafkan. Biar masalah ini menjadi pelajaran buat kalian berdua"
"Tidak, Abah Hasyim. Chaca tidak mau menjadi istri Gus Yusuf!"
Dia langsung berlari masuk, tidak sopan sekali! Ku lihat Bu Mila dan dokter tersebut masuk, seperti nya mereka menyusul Chaca.
Lalu setelah ini, aku tak tau dengan nasib ku. Aku yakin Abah akan marah besar kepadaku, begitu juga Umi.
"Ayah, maafkan Yusuf"
"Iya, gak apa-apa. Sudah jangan di bahas lagi"
"Lalu ini bagaimana, Kyai Hasyim?" Tanya Abah, ku lirik Kyai Hasyim masih diam, seperti masih memikirkan jawabannya. Semoga saja semua orang menuruti Chaca, sehingga aku benar-benar bebas dengan pernikahan ini.
"Begini saja, bagaimana pun juga ini adalah masalah antara suami dan istri. Biar Yusuf yang memutuskan, yang pasti nya jelas Chaca tidak hamil"
Tidak!!!
"Iya, Suf. Kamu harus minta maaf kepada Chaca. Bukan nya aku membela Chaca, cuma aku rasa kamu salah karena asal menuduh"
"Adam benar," Sambung Abah, dan itu membuatku sangat terpojok. Dengan semua ini aku tidak bisa membantah.
"Begini saja, kau pastikan dulu. Jika Chaca memang Zina seperti yang kamu ceritakan kepada Abah mu," Kyai Hasyim nampak bingung "Siapa laki-laki itu? Yang kamu kira pacar Chaca?"
"Chaca sering memanggil nya Al"
"Al?" Sahut Pak Jamil, "Al teman Chaca yang penampilan nya laki-laki itu?"
"Penampilan?" Sahut mas Adam.
"Iya, Al sahabat Chaca itu?"
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam"
Kami semua langsung menoleh ke arah pintu, Anak yang baru saja aku sebut nama nya ini tiba-tiba saja datang. Pak Jamil pun langsung menyuruhnya untuk masuk.
"Apa dia, suf?" Tanya pak Jamil kepadaku setelah anak itu masuk.
"Iya, Yah"
"Hehehe.. Dia itu perempuan, dulu waktu masih Tsanawiyah rambut nya masih panjang dan berjilbab, lalu waktu masuk SMA dia berubah seperti itu. Tomboy maksud nya"
Semua langsung tertawa, menertawakan ku.
"Kau ini cemburu buta ya, Suf"
Aku diam, sungguh tak suka dengan suasana ini, ku kira pagi ini adalah awal yang baru di kehidupan ku, dan aku akan memulai semua nya dari awal. Tetapi tidak, semua nya di luar ekpetasi ku.
"Sudah, sudah"
Semua pun diam.
"Aku punya nasihat untuk Yusuf"
Aku pun dengan seksama mendengarkan Nasihat dari Kyai Hasyim.
"Dasar masalah ini adalah cemburu, aku punya solusi nya untuk memperjelas nya"
Bukan hanya aku, semua orang nampak menunggu solusi yang akan di berikan Kyai Hasyim.
"Jamil, ajak semua sarapan. Aku ingin bicara empat mata dengan Yusuf"
Deg
Deg
Deg
Seketika jantung ku berdegup sangat kencang, takut. Aku yakin ini semua tidak baik-baik saja.
...****************...
__ADS_1
Bab Ini sudah panjang, biasanya cuma 1000 kata dan Bab ini berisi 1600 kata.
tunggu next episode ya, kalian bisa request di komentar ya. next episode minta sudut pandang (Pov) Chaca atau Yusuf dulu.