PRATAMA

PRATAMA
PROLOG


__ADS_3

Seorang gadis berusia dua belas tahun sedang duduk di sebuah cafe, bersama kedua orangtuanya dan sahabat orangtuanya dalam rangka perjodohan antara ia dan seorang anak laki laki seusia dirinya dan merupakan ide dari sahabat orangtuanya itu.


"Jadi bagaimana dengan perjodohan ini??" tanya pria berdasi itu.


Gadis itu menjawab, "Ternyata ini hanya jebakan, maaf aku harus pergi. tidak ada gunanya aku disini!!" teriak gadis itu..


"Hei, kamu tidak bisa pergi dari perjodohan ini. kamu pasti akan bahagia jika nanti sudah dewasa menikah dengan anak saya." jawab seorang ibu istri pria itu.


Gadis itu tak bergeming, ia memberontak lalu mengigit tangan wanita itu. lalu ia pergi keluar sambil berlari hingga ia tak mengetahui saat akan menyebrangi jalanan kota yang cukup ramai, sebuah mobil sedan melaju dengan kencang dan menabrak gadis itu.


"Duarrr!!"


Gadis itu terpental hingga beberapa meter, sampai ia mengeluarkan banyak darah hingga tak sadarkan diri.


"Kiyaaaa!!!"


Teriak kedua orangtua gadis itu, hingga beberapa orang datang dan membawanya menggunakan pick up ke rumah sakit.


"Ayo, ini kesempatan kita untuk mencuri simpati mereka." kata istri pria itu.


Tiga ekor burung elang berkepala putih menghujamkan tubuh mereka ke dinding kaca cafe. hingga membuat kaca itu pecah dan serpihannya melukai siapapun yang berada di dalam cafe itu. termasuk anak laki laki dan kedua orangtuanya yang mengalami luka parah.

__ADS_1


"Aaaaaa!!!"


Teriak pria berdasi yang kini terkulai lemas tak berdaya karena kehilangan banyak darah.


di tempat lain, Emir, Arhan dan Anton sedang mengikuti turnamen sepakbola antar sekolah. sampai di beberapa saat sebelum pertandingan usai, Arhan mengoper kepada Anton lalu ia melakukan tendangan jarak jauh. namun masih terkena bahu lawan, Ezra datang dari belakang lalu menendang bola pantul itu menggunakan kaki kirinya.


"Gooooollllll!!!!"


Emir berselebrasi dengan Arhan dan Anton dengan tatapan dingin.


setelah beberapa saat usai pertandingan dilanjutkan, wasit meniup peluit panjang dan Emir dan tim sekolahnya melakukan selebrasi juara setelah mengalahkan SMP 13 Baru Jadi.


"Yeeeee..... juara!!!" teriak Emir yang digendong oleh beberapa pemain seniornya.


"Terimakasih coach.." ucap Emir.


"Sama sama.." jawab coach kevin.


Di perjalanan, karena jalanan macet karena padatnya arus di akhir pekan. sebuah ambulans berpapasan dengan mobil pick up tersebut, lalu Kiya dipindahkan ke ambulans berwarna merah itu.


"Ayo pak... biar saya bantu kawal.." ucap Arfan, sahabat Emir yang sedang tidak ikut bertanding.

__ADS_1


Arfan mengangkat sebelah tangannya dan mengendalikan sepeda miliknya itu secara zigzag, hingga akhirnya jalur terbelah.


"Ayo pak.." seru Arfan.


Ambulans itu melaju di tengah padatnya kendaraan yang menepi demi nyawa gadis cantik itu.


"Akhirnya sampai juga, pak tolong pak.. kode merah ini.." teriak Arfan pada security dan perawat.


"Baik.. ayo.." Kiya pun dibawa ke ruang unit gawat darurat untuk pertolongan medis.


"Kuat ya nak!!" kata Bu Nadhira, orangtua Kiya.


Emir yang keluar dari arena pertandingan, lalu ia pulang dengan menaiki angkutan umum. tak lama, Bi Rumi datang dan memberitahukan bahwa Kiya berada di rumah sakit.


"Mas Emir... ayo ke rumah sakit!! Neng Kiya!!" kata bi Rumi.


Emir, Arhan dan Anton pun ikut ke rumah sakit dengan menumpangi mobil milik suami bi Rumi.


Sesampainya di rumah sakit, Emir menemui mama Nadhira di depan ruang Unit Gawat Darurat dan melihat Kiya sedang ditangani oleh tim dokter.


"Tenang Kiya, nanti aku akan persulit setiap orang yang ingin melamarmu." kata Emir dalam hati.

__ADS_1


*****


Yuk Like, Follow dan komen cerita ini..


__ADS_2