
Jam setengah tujuh malam
Rifan menaiki motornya, lalu ia berpamitan dengan Emir, Arhan dan Radit. "Saya balik dulu, mau bersihin rumah.. biar nanti enggak habis diomeli sama mama, papa dan keluarga besar suaminya Rinjani."
"Hahaha.. aman lah.. hati hati.." pesan Emir.
Rifan menjawab, "Baik, Wassalamualaikum.."
"Waalaikumsallam.." balas Emir, Arhan dan Radit.
Ketiga remaja itu kembali masuk ke dalam rumah, lalu mereka menyantap makan malam yang sudah disediakan oleh Anan, Anin, Syilla dan mama Nadhira.
"Wih banyak makanan nih!! pasti kolaborasi menu makanannya." jelas Arhan.
Emir membalas, "Iya, kita langsung gaskan saja.. perut sejak tadi sudah bergejolak."
Anak anak itu pun menyantap menu makan malam itu, Di sisi lain Rifan yang pulang ke rumahnya malah terjebak macet.
"Waduh, panjang juga macetnya.." gumam Rifan.
"Kdubraghhhh!!!"
Rifan menoleh, ternyata ada kecelakaan tunggal sebuah mobil mewah karena ada motor yang keluar dari gang secara tiba tiba.
"Saya harus segera menolong mereka!!" gumam Rifan yang menepikan motornya, lalu melihat kondisi korban.
Seorang perempuan yang sedang mengandung nampak terjepit bersama suaminya, Rifan pun berusaha mengeluarkan keduanya dari mobil yang ringsek itu.
"Sabar ya bu, pak..." ucap Rifan.
Tak lama, dua unit ambulans datang. kedua korban segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan perawatan medis.
Rifan pun berinisiatif untuk membukakan jalur ambulans itu, agar bisa sesegera mungkin dilakukan penyelamatan pada korban.
"Ayo pak!! ke pinggir dulu.." perintah Rifan yang mengangkat tangan kirinya.
Ambulans di belakangnya semakin meraungkan sirinenya karena kondisi pasien semakin gawat darurat.
Setibanya di rumah sakit, kedua korban kecelakaan itu langsung dibawa menuju unit gawat darurat. Rifan pun memilih jajan sejenak di sebuah warung yang masih buka.
__ADS_1
"Permisi, beli Es Teh ini satu.. ini uangnya.." ucap Rifan.
Gadis pemilik lapak itu menjawab, "Oke, terimakasih mas.."
"Sama sama.." balas Rifan.
Tak lama, Driver ambulans itu keluar dari rumah sakit dengan keadaan lemas. Rifan pun turun dari motornya menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf pak?? ada apa??" tanya Rifan.
Driver itu menjawab, "Udah lewat.."
Rifan kebingungan, "Maaf pak.. maksudnya pasien yang dibawa tadi tak bisa terselamatkan??" tanya Rifan.
"Iya... dua duanya meninggal." jawab Driver itu.
Rifan mengelus dadanya, "Innalillahi, apakah pihak keluarga sudah mendapat infonya??" tanya Rifan.
Driver itu menjawab,"Sudah, nanti akan dijemput oleh keluarganya jam sebelas malam nanti."
Tak lama, Rendi datang bersama keluarga wanita tadi. Rifan yang mengenali Rendi pun memanggil anak itu.
Rendi menoleh, lalu ia menghampiri Rifan yang sedang melanjutkan minum es miliknya.
"Pak Rifan bukan yang tadi ngawal??" tanya Rendi.
Rifan menjawab, "Lebih tepatnya lokasi kecelakaan berada tepat di belakang saya tadi."
Rendi mengangguk, "Oh pak Rifan baru pulang dari rumah neneknya Emir ya?? perasaan tadi saya liat bapak, cuman karena takut salah orang jadinya saya lewatin, maaf pak.."
Rifan tersenyum, "Yowes, aman... yaudah kita susul orangtuanya gadis tadi."
"Baik pak..." jawab Rendi.
Rifan dan Rendi tiba di depan ruangan jenazah, lalu keduanya menunggu kedua orangtua wanita tadi.
Setelah makan malam, Emir duduk santai sambil memperhatikan video di reels instagram miliknya. tak lama, Anin datang dan berbaring dipangkuannya sebari membaca cerita pendek buatan Emir sendiri yang berjudul Eagle Invassion.
"Kamu lagi baca cerita buatan kakak bukan Anin??" tanya Emir.
__ADS_1
Anin menjawab, "Iya kak, seru banget.. kakak hebat!!"
Emir tersenyum, "Iya Terimakasih, nanti yang buruk buruknya jangan kamu ambil ya!! apalagi pas yang serangan burung Elangnya itu yang membuat salah satu tokoh tidak mau menikah."
Anin menjawab, "Iya kak,"
Anan membuka laptop miliknya, lalu ia membuka channel milik kakaknya. kemudian ia menonton salah satu konten Emir yang berisi kisah Tragedi Tanah Baru.
"Anan?? kamu kenapa buka video ini?? kan enggak boleh sama kak Emir." ucap Kiya yang mengclose channel di laptop Anan.
Anan menjawab, "Aku lagi pengen nonton kak.."
Kiya membalas, "Iya, kakak tau. kan kamu bisa nonton yang lain asal jangan video ini. tau sendiri kan kamu punya trauma apa??"
Anan meneteskan air matanya, membuat Emir dan Anin bergegas ke kamar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa ini??" tanya Emir.
Kiya menjawab, "Ini nih Anan, dia diam diam buka konten kamu yang tentang tragedi itu. kami tau sendiri, Anan punya trauma apa.."
"Hmm... gitu ya?? Sini Nan.. kamu kan bisa menonton yang lain.. kartun buatan si Arhan aja.. itu juga lumayan lucu." pesan Emir.
Anan memeluk Emir, "Kak, kenapa sih aku dikasih penyakit kayak gini?? rasanya enggak enak kak.."
"Sabar ya sayang, kamu pasti bisa melewati semua ini.." balas Emir yang mengelus punggung adiknya itu.
Emir tersenyum, "Yaudah, kita keluar yuk!! cari jajanan.." seru Emir.
"Gaskeun.." jawab Arhan dan Radit.
Emir memakai topinya, "Kalian berdua mengawal, nanti ku traktir belakangan."
"Siap Pak.." jawab Arhan dan Radit.
"Yaudah, kalau begitu kita semua Dandan dulu.." kata Yashmine.
"Oke.." jawab Emir.
******
__ADS_1
Yuk Like, Vote dan Koment...