
Jam setengah Sembilan pagi
"Maaf nih, enggak bisa lama lama.. saya mau lanjut kerja dulu." ucap Rama.
Emir menjawab, "Iya, sekalian nebeng ke depan gang dong.. mau beli mie ayam.. pusing kepala hari ini."
"Saya tidak diajak??" tanya Radit.
Emir menjawab, "Mana muat?? kalau mau nitip sini ke saya aja.."
"Yaudah ini uangnya.." gumam Radit.
Emir mengambil uang itu, lalu ia ikut bersama Rama yang akan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Saya berangkat dulu ya Dit.. bilang ke mama ada urusan penting dulu.." Pesan Emir pada Radit.
Radit menjawab, "Iya.. hati hati bang Rama, dia agak sedikit gesrek.."
"Ehhh...." batin Emir.
Radit tertawa, lalu ia masuk ke dalam kamar. Rama pun menancapkan gas motornya, Emir pun terjengkang karena Rama gas mendadak.
"Ehh... pelan pelan aja bro.." pesan Emir.
Rama tertawa, "Makanya pegangan bambang.."
"Kan situ yang ngegas mendadak, tidak ada notifikasi dulu ke saya.." Balas Emir yang masih mengatur nafas.
Rama mengangguk, "Iya, benar kata si Radit. dirimu agak sedikit gesrek. apa karena setelan pabrikannya gini ya??"
__ADS_1
"Enak aja.." balas Emir.
Setibanya di gang depan, Emir turun dari motor. lalu Rama melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.
"Bang, Mie ayam dibungkus empat ya!!" kata Emir.
"Oke, ditunggu ya!!!" jawab abang tukang mie ayam itu.
Anan menemui Radit yang sedang memainkan ponselnya di kamar, lalu ia menanyakan soal Emir kakaknya.
"Bang Radit, liat kak Emir ngga??" tanya Anan.
Radit menjawab, "Lagi ke depan, beli mie ayam dulu.."
"Ihh bener bener, enggak bilang bilang kalau mau jajan.." batin Anan yang kesal karena tidak dibelikan mie ayam oleh Emir.
Radit menggaruk kepalanya, "Sial, mana kuotaku habis lagi.."
"Sama sama.." jawab abang tukang mie ayam.
Emir kembali ke rumah dengan berjalan kaki, setibanya di rumah ia disambut oleh Anin dan Syilla yang baru selesai mencuci pakaian.
"Aduh, pake lewat sini lagi.." batin Emir.
Anin menatap wajah Emir yang kebingungan, "Beli apa kamu??" tanya Anin.
Emir menjawab, "Mie ayam, kenapa emang??"
"Ishh kebiasaan ya!! mau jajan enggak pernah bilang..." gerutu Anin yang merasa kesal dengan kakaknya itu.
__ADS_1
Emir menelan ludahnya,"Yaudah, ini kan ada empat bungkus, kamu sama Anan.. Syilla sama abang, Kiya sama Yashmine.. dan ini terakhir milik Radit."
"Yaudah sini, si Anin sama Anan lagi ada tamu bulanan makanya agak emosian dan gesrek kayak kamu Mir." jelas Syilla.
Syilla mengambil piring lalu pergi ke meja makan, "Kak Kiya, kak Yashmine.. nih mau enggak??"
"Iya, sebentar..." jawab Yashmine yang mencabut kabel setrika.
Yashmine dan Kiya keluar dari kamar, lalu mereka menerima mangkuk berisi mie ayam.
"Siapa yang beli??" tanya Yashmine.
Syilla menjawab, "Nih tuan Emir..."
"Yas, nanti besok kak Rama akan ke rumah kamu untuk membahas rencana pernikahan dengan keluarga kamu." kata Emir.
Anan tersenyum, "Ihh kak Yashmine diam diam mau sold out.."
"Iya Anan, doain ya biar lancar..." jawab Yashmine.
Anan menjawab, "Iya...."
"Aku enggak menyangka loh kalo kak Yashmine tiba tiba mau menikah. apalagi sama kak Rama, dia itu idolanya para perempuan di sekolah loh.." kata Syilla.
Yashmine tersenyum, "Ya inilah namanya rezeki, datangnya tidak diduga tapi bikin bahagia."
"Kamu benar Yas.." Balas Emir.
*******
__ADS_1
Yuk Like, Vote dan Koment.