
Jam menunjukan setengah tujuh malam, Emir yang baru selesai shalat magrib berjamaah. berjalan melintasi jalanan komplek yang cukup sepi terkejut karena mendengar suara jeritan perempuan.
"Tolonggg!!!"
Emir mencari sumber suara itu, lalu ia melihat seorang gadis yang masih mengenakan pakaian SMP sedang dihadang oleh seseorang.
"Dia dalam bahaya!! ayo selamatkan dia!!" teriak Emir.
Arhan mengangguk, lalu ia melepas sarung yang ia kenakan. untungnya saat itu keduanya mengenakan celana jogger panjang hingga sarung bisa menjadi senjata unggulan jika dalam kondisi darurat.
"Splaaasttt!!!"
Pukulan dari sarung itu membuat orang yang wajahnya penuh luka cakaran itu pergi dari hadapan Emir.
"Beuh, indit sing ka jauh..." gumam Emir dengan bahasa sundanya.
Arhan menghampiri gadis itu, "Kamu tidak apa apa?? kenalin nama ane Arhan ini sepupu ane namanya Emir."
"Iya, terimakasih A Arhan dan A Emir..." ucap gadis itu.
Emir tersenyum, "Kamu teh dari mana emang??" tanya Emir dengan logat sunda.
Gadis itu menjawab, "Nama aku Indira Ratu Fathira, panggil aja Indira. aku teh dari majalengka, A Emir dari mana??" tanya Indira.
"Saya mah campuran Bogor - Banjar, terus ini si Arhan dia dari Cibinong. maka dari itu logatnya ala orang jakarta." kata Emir.
Indira tersenyum, "Ohh gitu, disini enggak ada ojek atau angkot ya??" tanya Indira.
__ADS_1
Emir mengangkat tangannya, "Mas... nah itu angkot, mungkin karena jalanan sedang macet." kata Ezra.
"Ohh kalau begitu terimakasih ya.. saya mau pulang duluan!!" ucap Indira.
"Silakan hati hati.." pesan Emir.
Emir dan Arhan pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. baru beberapa menit Emir melangkah, sebuah mobil melaju kencang dalam keadaan terbakar lalu menghantam rumah milik warga.
"Duarrrrrr!!!!!!!!"
Emir dan Arhan pun menoleh, lalu mereka menghampiri mobil yang terbakar itu. "Disana ada alat pemadam, kamu padamkan saja dulu dengan itu. Arhan berusaha untuk menghubungi pihak pemadam kebakaran."
"Oke.." jawab Emir yang memadamkan api dibantu oleh para warga dengan peralatan seadanya.
Setelah api padam, lima korban di dalam mobil dievakuasi ke rumah sakit terdekat. Ezra dan Arhan pun melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Pak Andriawan lama sekali datangnya!! hari sudah semakin malam... seharusnya perjodohan ini harus bisa dilakukan sebelum jam tujuh malam." gumam pak Karto.
"Makannya lahap sekali bang!! tenaga habis karena sudah bantu bantu bukan??" tanya Arhan.
Emir menatap Arhan, "Enak aja, punteun we ini mah.. saya lagi makan.. jangan ganggu dong!!" gumam Ezra.
"Iya.." jawab Arhan yang juga makan bersama Emir.
Di kamarnya, Lulu masih terus menangis sambil wajahnya dirias oleh bibinya yang memang jago untuk merias.
"Aku enggak mau... aku enggak mau!!!" teriak Lulu yang menangis histeris.
__ADS_1
"Meongg!!" kucing betina peliharaannya tiba tiba kembali setelah sebelumnya dibuang oleh pak Yogi.
"Cimi?? kamu kembali?? ahh kucingku.." ungkap Lulu yang bahagia.
Sekeluarga terkejut, apalagi mereka tak memberitahu dimana mereka membuang kucing itu.
"Hah?? kucing itu kembali?? lalu dimana bapakmu Lulu??" tanya pak Karto.
Lulu menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu, yang penting kucingku kembali.."
"Ini tidak bisa dibiarkan!! heh serahkan kucing itu!! kamu fokus saja dengan perjodohanmu itu." ucap pak Karto yang merebut kucing itu untuk dibuang ke tempat yang sangat jauh.
Tak berselang lama, segerombolan kucing yang berjumlah puluhan masuk dari seluruh penjuru rumah. karena mendapati wilayah mereka rusak oleh pak Karto.
"Meooongggg!!!"
"Aaaaaaa!!!!!" teriak pak Karto dan seisi rumah itu.
namun tidak bagi Lulu, ia diberi kode oleh kucing betinanya untuk berkemas lalu pergi dari rumah itu sementara waktu.
"Kita pergi kemana Cimi??" tanya Lulu.
Cimi memberi kode untuk ke selatan, dimana disana ada rumah Arunika. sahabat Ezra di sekolah yang sama dengan Lulu.
"Iya Cimi... kita pergi sekarang.." jawab Lulu yang pergi keluar dari rumah itu bersama Cimi.
"Lulu... Tungguuuu!!!!" teriak pak Karto.
__ADS_1
****
Yuk Like, Votes dan koment cerita ini...