
Jam setengah lima sore
Rifan memegangi perutnya, karena merasa ada sesuatu yang harus ia selesaikan. "Mir, boleh minta sesuatu tidak??" tanya Rifan.
Emir menjawab, "Mau backup dan buang cache di perutmu bukan?? silakan Fan, sebelum terlambat."
"Oke.." Rifan berjalan menuju toilet yang berada di dalam rumah bu Yati, sementara itu Emir, Radit dan Arhan duduk di ruang tengah.
Emir menyalakan kipas, lalu ia mendapat telepon dari Rinjani adik Rifan. "Lah kenapa kak Rinjani telepon saya?? Halo?? apa kak??"
"Kamu lagi sama mas Rifan kan??" tanya Rinjani.
Emir menjawab, "Iya, tapi dia lagi backup data perutnya dulu. sekalian bersihin cache, mungkin ponselnya di silent atau batereinya lagi lowbat."
Rinjani mengangguk, "Yaudah, bilang ke dia buruan balik.. kak Rinjani sama keluarga besar suami mau ke rumah."
"Oke.." balas Emir.
Rifan kembali dari urusannya yang telah selesai, lalu ia menemui Emir di ruang depan. "Izin numpang charge Handphoneku, takutnya Rinjani telepon."
"Emang udah kali.." jawab Emir.
Rifan terkejut, "Apa katanya??" tanyanya kebingungan.
"Katanya Kak Rinjani sama keluarga besarnya mau ke rumah, nah pak Rifan disuruh pulang sama kak Rinjani." balas Emir.
Rifan menjawab, "Yaudah, tolong balaskan dulu.. nanti habis magrib Pak Rifan pulang. kalau mau ke rumah, besok pagi saja.."
"Sip, sudah.." jawab Emir.
Rifan mencharge handphone miliknya, lalu ia duduk disamping Emir. "Tidak terasa, diriku sudah jadi paman."
"Emangnya anaknya kak Rinjani sudah boleh dibawa kemana mana??" tanya Arhan.
Rifan menjawab, "Alhamdulillah sudah usia enam bulan, boleh kemana saja. cuman saya sarankan boleh dibawa asal ada kebutuhan yang penting seperti ke rumah mertuanya dan rumah saya dulu."
__ADS_1
Emir mengangguk, "Sekarang kita harus ngapain??"
"Main mobile legend saja yuk!!" seru Radit.
Arhan memberikan ponselnya pada Rifan, "Nih pak Rifan mainkan saja, saya sudah terlalu sering menang."
"banyak gaya...," balas Radit.
Rifan memainkan game mobile legend milik Arhan, lalu Arhan memakan astor sambil menonton aksi Radit, Emir dan Pak Rifan.
"Nah.... maju.... itu musuh didepanmu!!" teriak Emir.
Karena ada serangan bertubi tubi, keempat anak itu saling bersahutan di depan layar ponsel.
"Ahhh kalah..." gumam Emir.
Emir menunggu kesempatan untuk bergabung lagi, tak lama mama Nadhira datang lalu menghampiri putranya itu.
"Mir, bangunkan Syilla, Anan, dan Anin dong.. mereka tertidur sejak tadi." perintah mama Nadhira.
Emir menjawab, "Oke.."
"Syilla, Anan.. Anin bangun!! kalian kok sudah ashar malah tidur?? kan enggak boleh.." kata Emir yang mengelus kening adik adiknya itu.
Syilla mengucek matanya, "Whoaamm, hari ini kita capek banget kak..,"
"Capek, karena dari tadi jalan ke bazar bolak balik.. yaudah sekarang kalian bantu mama siapkan makan malam." perintah Emir.
Anan menjawab, "Iya.."
tiga anak gadis itu keluar dari kamar, lalu Emir tersenyum dan mengikuti langkah adik adiknya itu.
Flashback saat hari ke 12 Ramadhan
Emir keluar dari areal sekolahnya, ia kebetulan sedang tidak bersama Arhan dan anak anak lainnya karena ia mengikuti rapat ketua kelas satu angkatan.
__ADS_1
"Dah lah segera naik angkot.." gumam Emir yang mengangkat satu jarinya, kemudian angkot berwarna hijau itu berhenti dan Emir pun masuk dan duduk di depan samping sopir.
Di perjalanan, Emir memperhatikan setiap kendaraan yang ia lihat. setiap ada yang menarik, ia akan menekan tombol jepret kamera miliknya.
"Uhh jalanan macet juga, mana sudah jam lima lewat sepuluh menit lagi." gumam Emir.
"Kiri mang.. di depan dekat Alamart.." ucap Emir.
Emir memberikan uang lima ribu pada abang sopir angkot, lalu ia turun dan menyebrangi jalan dengan hati hati.
"Sudah menjelang jam buka puasa... lebih baik beli menu buat berbuka.." gumam Emir.
Emir berjalan masuk ke dalam Alamart, lalu ia mengambil roti bantal dan sebotol air mineral untuk berbuka nanti.
"Ini kak.." ucap Emir.
Kakak kasir bertanya, "Ini saja dek?? saus DEF nya sekalian?? atau biskuit Areanya jadi dua bungkus??"
"Tidak usah... ini saja.." jawab Emir.
Setelah dihitung, Emir memasukan roti dan air itu ke dalam tas miliknya. kemudian ia mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dalam kantong celananya.
"Oke, terimakasih.. silakan datang kembali!!" ucap kakak itu.
"Sama sama.." Emir keluar dari minimarket itu, lalu ia menyambung angkot kedua untuk turun tepat di areal depan rumahnya.
Di perjalanan angkot kedua, suara adzan berkumandang. ia pun meminum air yang tadi ia beli, tak lama penumpang lain pun mengikuti berbuka puasa di dalam angkot itu.
"Alhamdulillah.." ucap Emir.
Flashback off
Emir duduk bersama anak anak lainnya, kemudian ia membaca sebuah berita kanal online sambil menikmati angin sore di teras rumah neneknya itu.
*****
__ADS_1
Halloo...
Author is back, jangan lupa like, komen dan vote...