
Emir dan Arhan tiba di rumah, lalu mereka berjalan masuk dan menemui Vira dan Rion sedang menonton televisi bersama. "Pulang juga kalian, habis darimana sih??" tanya Vira.
Emir menjawab, "Jalan jalan dong, healing sekali kali."
Vira mendengus sebal, "Ihh enggak ajak ajak.."
Emir hanya tersenyum, lalu ia berjalan ke dapur menemui Syilla dan Anin yang belum sempat sarapan.
"Nih, sarapan dulu.." perintah Emir.
Syilla menerima bungkusan itu, lalu Emir pergi ke kamarnya. "Yaudah, kakak mandi dulu.." ucap Emir.
"Iya.." jawab Syilla.
"Yaudah Emir mandi, Arhan boleh minta tolong?? belikan bumbu ayam goreng dan kuah bakso di warung bu Resmi??" tanya bi Nadhira.
Arhan menjawab, "Yaudah sini, Arhan berangkat dulu.. Assalamualaikum.." ucap Arhan yang berjalan keluar dari rumahnya itu.
Dengan menggunakan motor gedenya, Arhan pergi ke warung kelontong milik bu Resmi untuk belanja keperluan tantenya itu.
"Sampai juga,.." gumam Arhan.
__ADS_1
Arhan berjalan mendekati areal warung itu, lalu dua orang gadis yang nampak familiar memperhatikan wajah Arhan yang tertutup helm.
"Permisi beli bumbu kuah bakso satu renceng dan bumbu ayam goreng, jumlahnya samakan saja dengan yang awal." ucap Arhan.
"Arhan?? iya sebentar aku ambilkan dulu.." jawab Lulu yang sedang menjaga toko itu.
Arhan duduk sebentar di atas motornya, "Lulu sama Arunika kerja disini?? Emir harus tahu soal ini.."
Baru sejenak matanya tertutup karena mengantuk, ia dikejutkan dengan suara perempuan yang sedang menanyakan keberadaannya di tempat itu.
"Hei, lagi ngapain disini mas??" tanya gadis berusia delapan belas tahun itu yang juga mengenakan kebaya berwarna putih.
"Eh Astaghfirullah.." teriak Arhan yang kemudian terjatuh dari motornya.
"Kamu enggak apa apa??" tanya Lulu.
Arhan menjawab, "Enggak, tadi siapa sih yang pakai kebaya?? sumpah bikin kaget aja.." batin Arhan.
Bu Resmi terdiam, "Maafkan anak ibu ya!!"
Arhan kebingungan, "Maksudnya bagaimana bu??" tanya Arhan.
__ADS_1
"Sini ikut ibu ke dalam dulu.." ucap Bu Resmi.
Arhan mengangguk, lalu ia mengikuti bu Resmi masuk ke dalam rumahnya. "Yang tadi manggil kamu yang itu bukan??"
"Iya..." jawab Arhan.
Bu Resmi memulai ceritanya, "Sebenarnya dia adalah anak ibu yang meninggal enam tahun lalu. saat itu anak ibu yang bernama Kinara sedang diantar ke rumah sakit untuk dinikahkan dengan anak sahabat suami saya yang sedang sakit keras. di perjalanan, mobil yang saya tumpangi bersama Kinara, satu adik laki laki dan suami saya tersambar motor yang terpental karena menabrak motor sebelumnya yang tergeletak di tengah jalan. anak ibu sempat dibawa ke rumah sakit, lalu ia berpesan agar seorang kenalan dari kampusnya yang seharusnya melamar dia jangan bersedih. dan dia pun mempersilakan si lelaki itu mencari perempuan yang lain. sesaat kemudian ia menghembuskan nafas yang terakhir, bapaknya pun kini menjadi gila dan sekarang dia pergi entah kemana." jawab bu Resmi.
Arhan yang menjaga jaraknya dari tiga perempuan itu berpikir sejenak. "Kok mirip ya?? kalau di kampung saya dulu.. ada seorang laki laki yang ingin melamar seorang gadis, namun dia kalah cepat karena gadis itu terlanjur sudah dilamar dan di rumahnya sudah banyak orang rombongan dari keluarga laki laki yang mendahului dia. otomatis dia pulang dengan rasa kecewa, di perjalanan pulang ia mengalami laka tunggal dimana keberadaan motor dan ceceran oli tidak diketahui oleh pengendara di belakangnya sehingga tabrakan tak bisa terelakkan. dan menyebabkan banyak korban jiwa dimana dua diantaranya adalah teman si perempuan itu, yang satu sudah dilamar dan akan segera menikah dan satunya lagi sudah melamar seorang gadis. dan puncaknya, karena trauma kehilangan dua temannya dan satu orang yang seharusnya melamar dirinya. ia membuat keputusan yang cukup mengecewakan di pihak laki laki yang menyebabkan konflik berkepanjangan. yaitu, memilih membatalkan lamaran si lelaki itu dan bersedia menikah dengan lelaki lain."
Bu Resmi memberikan pesan kepada Lulu dan Arunika, "Kalian berdua, setelah mendengar cerita tadi. jangan dijadikan alasan untuk tidak mau menikah nantinya, kalian harus jadikan ini pembelajaran agar kalian bisa membuat keputusan tanpa mengecewakan yang lainnya."
"Baik Bu.." jawab Arunika.
Arhan memberikan uang dua puluh ribu pada bu Resmi, "Ini bu uang belanjaannya."
"Baik.. ini belanjaan kamu, terimakasih ya.." ucap bu Resmi.
"Sama sama bu.. kalau begitu saya pamit dulu ya bu!!" ucap Arhan.
"Iya hati hati.." jawab bu Resmi.
__ADS_1
********
Maap Up nya kelamaan...