
Jam setengah sebelas siang
Cuaca mendadak berubah menjadi gelap, padahal tadi pagi hingga sebelum Devran datang cuaca masih sangat cerah berawan.
"Mir, angkat jemuran... Arhan, Radit, Devran bantu ya!!" perintah mama Nadhira yang sedang menyetrika baju.
Emir menggelengkan kepalanya, "Mulai deh, Devran datang membawa masalah baru." gumam Emir yang membawa baskom lalu memasukan pakaian yang belum sepenuhnya kering ke dalamnya.
Radit tertawa, "Sudahlah, percuma mengeluh juga buat apa Mir.."
"Iya dah.." jawab Emir.
Zahra yang baru saja datang bersama suaminya dan keluarga besan tertawa melihat tingkah Emir dan anak anak lainnya..
"Hahaha... kalian rajin sekali!!" puji Zahra.
Emir membalas, "Bukannya rajin!! tapi terpaksa."
Zahra mengelus perutnya, "Semoga anakku enggak somplak kayak gini." gumamnya sambil berjalan masuk.
"Ehh Zahra, Figo... Aul nih katanya kalian menunggu kak Zahra?? ini udah datang, kalian jangan main terus di kamar dong." gumam mama Fathira.
Figo dan Aulia pun keluar dari kamar, lalu mereka menemui Zahra dan mengelus perut perempuan berusia 19 tahun itu.
"Kak Zahra capek bukan??" tanya Aulia yang hanya mengelus bahu Zahra.
Zahra melepas tas miliknya, lalu ia bersandar di bahu suaminya.
"Aul ambilkan bantal untuk kak Zahra.." perintah Figo.
Aulia memanyunkan bibir, "Beraninya suruh kakak sendiri."
__ADS_1
Figo hanya bisa tersenyum, "Mwehehe maaf.."
Figo mengambil bantal di kamar, lalu memberikannya pada Zahra. Zahra pun merasa senang karena ia dulu sempat ikut membantu mama Fathira menjaga dan mengasuh Figo dan Aulia.
"Terimakasih ya Figo.." ucap Zahra.
Figo menjawab, "Sama sama..."
"Angkat jemuran selesai, saatnya tidur siang.." gumam Emir yang pergi ke kamar bersama Devran, Arhan dan Radit.
Di kampung halaman neneknya, Nadia sedang membersihkan areal teras rumah. lalu Dendi, sepupunya datang dengan terburu buru.
"Assalamualaikum.." ucap Dendi.
Nadia menjawab, "Waalaikumusallam, kenapa Den?? kok terburu buru seperti itu??"
Dendi menjelaskan, "Nanti jika ada keluarga besar pak Doni kesini, terima saja dulu. akan tetapi jika mereka menawarkan kamu untuk menikah dengan salah satu putranya jawab saja belum mau.. masih fokus sekolah dan mengejar mimpi."
Dendi mengulang penjelasannya, "Maksud Dendi, kalau memang kamu belum siap. jawab saja belum, dan jika mereka beranggapan bahwa setinggi apapun perempuan sekolah ujungnya bakalan di dapur. itu kurang tepat, karena setidaknya kamu harus memiliki pendidikan yang cukup untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu." jelas Dendi.
Nadia mulai terpikirkan apa resikonya jika ia memang langsung menerima perjodohan itu, dampaknya bukan akan ia alami selama sehari atau dua hari, tapi seumur hidupnya.
"Kamu benar juga, seandainya kamu tidak memberitahukan soal ini. aku tidak bisa menjawab iya atau tidak, justru diamnya aku sama saja dianggap setuju oleh mereka." gumam Nadia.
Dendi berpesan, "Kamu gunakan saja cerita Emir, Devran, Arhan, Rifan atau kisah The Fifteen Rescue Disaster Force. mereka pasti akan langsung terdiam dan mengurungkan rencana itu."
Nadia mengangguk, "Baik.."
************
Jam setengah empat sore
__ADS_1
Nadia sedang berdandan di kamarnya, lalu Safeena datang dan memberitahu jika keluarga besar pak Doni sudah datang.
"Nad, keluarga pak Doni sudah datang tuh!! katanya kamu mau dikenalkan sama anaknya pak Doni??" tanya Safeena.
Nadia menjawab, "Aku sudah merencanakan sesuatu, kamu jika mendukung rencanaku cukup diam."
"Baik.." jawab Safeena.
Nadia, Safeena, Dendi dan Ridho berjalan bersama menemui pak Doni dan keluarga besarnya di ruang tamu.
"Begini pak, maksud kedatangan kami kesini ya hanya silaturahmi. ya sekalian inilah, kita kan sudah lama bersahabat nih. bagaimana agar persahabatan kita semakin erat, kita satukan anak anak kita dalam suatu janji pernikahan." kata pak Doni.
Pak Ghifari, Papa Nadia menunggu Nadia agar mendapat jawaban.
"Nah itu Nadia datang.." Kata bu Niniek.
Nadia duduk di kursi ruang tamu, sambil mendapat pengawalan dari Dendi dan Ridho.
"Maaf saya jelas menolak tawaran pernikahan dari anaknya pak Doni, karena belajar dari kejadian bencana hujan badai, banjir, longsor dan angin ****** beliung di desa teman SMA saya. saya rasa saya harus mendapat pendidikan yang cukup untuk menjadi seorang istri dan seorang ibu. saat ini sendiri saya belum mendapat itu semua." kata Nadia dengan tegas.
Pak Doni terkejut, "The Fifteen Disaster Force?? baiklah... kalau mau kamu begitu, kami tidak akan memaksakan kehendak kami."
Pak Ghifari menyanggah, "Maaf pak, mungkin akan saya diskusikan lagi dengan ananda Nadia nya."
"Tidak perlu, mereka memang adalah sekelompok pemuda hebat. beberapa kawan saya banyak yang menjadi korban jiwa bencana alam itu, karena mereka menolak evakuasi dari tim RDF." kata pak Doni.
Situasi berubah menjadi sangat kacau, lalu Nadia berjalan kembali menuju kamarnya dengan tatapan sinis.
"Semoga kalian semua mengerti.." pesan Nadia yang meninggalkan areal ruang tamu.
********
__ADS_1
Yuk Like, Vote dan Komen cerita ini...