
Setelah setengah jam mengendarai sepeda motornya,Emir mampir sebentar di sebuah masjid yang berada di komplek cempaka. “Sampai juga, ayo turun Nan..” perintah Emir kepada Anan. Gadis berkerudung biru itu pun turun dari motor gede yang ia tumpangi.
“Kita mau ngapain kesini?” tanya Anan.
Emir mengelus kepala adiknya itu, “Kita mau memberikan makanan ini pada yang akan berbuka di masjid ini. Perlu kamu ketahui, jalan ini adalah jalur arteri antar kota. Pasti banyak orang yang akan berbuka dan shalat magrib disini.” Jawab Emir.
Anan mengangguk, “oke kak, aku mengerti sekarang.” Ucap Anan.
Emir dan Anan berjalan menuju masjid itu, lalu bertemu dengan Ustadz Akbar Pratama, pengurus DKM Masjid itu.
“Assalamualaikum..” Ucap Emir dan Anan.
Ustadz Akbar menjawab,”Waalaikumsallam, ada apa mas Emir??”
Emir memberikan bungkusan makanan itu, “ini pak, kita berdua menyumbang sedikit untuk para pengguna jalan dan jamaah masjid yang berbuka dan shalat magrib disini.”
Ustadz Akbar tersenyum,”Syukron, Alhamdulillah.. terimakasih mas Emir. Suatu kebaikan yang pasti pahalanya akan dilipat ganda, apalagi di bulan suci Ramadhan seperti ini.”
Emir menjawab,”Sama sama..”
Ustadz Akbar bertanya,”Kalian berdua mau berbuka disini?”
“Afwan, tidak pak…kalau begitu saya sama Anan pamit karena sebentar lagi akan masuk waktu berbuka.” Gumam Emir.
Ustadz Akbar menjawab,”Iya, hati hati dijalan..”
“Iya, mari pak.. Waasalamualaikum..” ucap Emir.
__ADS_1
“Waalaikumusallam… pak Hendra, bawa makanan ini.. pemberian dari mas Emirsyah..” perintah Ustadz Akbar.
“Baik..” jawab pak Hendra.
Saat dalam perjalanan pulang, pemberitahuan waktu berbuka sudah datang dari speaker mushola dan masjid di wilayah itu.
“Pengumuman, waktu berbuka akan tiba dalam lima menit.”
Emir mempercepat laju motornya, saat tiba di gang depan komplek rumah Arhan, suara adzan berkumandang dan Emir pun menepikan motornya ke sebuah ruko untuk berbuka puasa. Kebetulan, Arfan ada disana dan menawarkan dua air mineral dalam cup.
“Nih, mau berbuka bukan??” tanya Arfan.
“Oke, terimakasih Fan..” ucap Emir.
“Sama sama..” jawab Arfan yang membayar tiga buah air mineral itu.
Setelah berbuka, Emir dan Anan melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Di rumah, Arhan, dan keluarga besarnya sudah berbuka. Tak lama, Emir dan Anan baru saja tiba dari acara ngabuburit yang ternyata kaburitan (kesorean).
“Assalamualaikum..” ucap Emir.
“Waalaikumsallam, pulang juga… ayo cepat berbuka!!” kata mama Nadhira.
Emir dan Anan menjawab,” Baik Ma..”
Setelah shalat magrib, Emir duduk di ruang keluarga bersama Echa, Icha, Anan, Anin, Vira, Rion, Arhan, Syilla dan Kiya.
__ADS_1
"Jadi apa yang kamu dapat Han??" tanya Emir pada Arhan.
Arhan menjawab, "Ini Mir, ada pesawat terbang, helikopter, burung Elang, matahari terbenam dan pelangi."
"Nih sama dengan diriku dan Anan, besok kemana nih??" tanya Emir.
Arhan menjawab, "Kita main bola mau gak??" tanya Arhan.
"Oke.." jawab Emir.
"Oh iya, sekalian nanti kita melakukan persiapan untuk meliput arus mudik menjelang lebaran nanti." kata Emir.
Arhan menjawab, "Baik Mir.."
Sekilas Info..
Mudik (oleh KBBI disinonimkan dengan istilah pulang kampung) adalah kegiatan perantau/pekerja migran untuk pulang ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran, Natal & Tahun Baru, Idul Adha dan Hari besar Nasional. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Transportasi yang digunakan antara lain: pesawat terbang, kereta api, kapal laut, bus, dan
kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor, bahkan truk dapat digunakan untuk mudik.
Kata mudik berasal dari kata "udik" yang artinya selatan/hulu. Pada zaman dahulu sebelum di Jakarta terjadi urbanisasi besar-besaran, masih banyak wilayah yang bernama akhir udik atau ilir (utara atau hilir) dan kebanyakan akhiran itu diganti dengan kata Melayu selatan atau utara. Contohnya seperti Meruya Udik, Meruya Ilir, Sukabumi Udik, Sukabumi Ilir, dan sebagainya.
Pada saat Jakarta masih bernama Batavia, suplai hasil bumi daerah kota Batavia diambil dari wilayah-wilayah di luar tembok kota di selatan. Karena itu, ada nama wilayah Jakarta yang terkait dengan tumbuhan, seperti Kebon Jeruk, Kebon Kopi, Kebon Nanas, Kemanggisan, Duren Kalibata, dan sebagainya. Para petani dan pedagang hasil bumi tersebut membawa dagangannya melalui sungai. Dari situlah muncul istilah milir-mudik, yang artinya sama dengan bolak-balik. Mudik atau menuju udik saat pulang dari kota kembali ke ladangnya, begitu terus secara berulang kali.
( Source : Wikipedia )
****
__ADS_1
Like, Vote dan Komen cerita ini... biar Author dapat terus Up setiap episodenya..