Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
( Extra ) Edward Bardsley


__ADS_3

Catatan Penulis :


Ekstra ini terbilang cukup panjang karena akan terdiri dari 2 atau 3 chapter yang akan mengungkapkan kehidupan Edward Bardsley dari kecil dan juga mengungkapkan jati dirinya sebenarnya.


Selamat membaca ^_^'


########################


"Mom, lihat kepala pelayan gill membuat topi yang cantik. "


Seorang anak kecil berlari menuju ruang tamu.


Dalam ruang tamu seorang wanita berambut hitam yang terlihat berusia 25-28 tahun sedang duduk sambil mengelus perutnya yang sedang hamil.


Anak laki-laki itu berusaha mendekati wanita tersebut, tapi wanita tersebut menatap tajam pada anak laki-laki dan berteriak memanggil pelayan.


" Pelayan ! Pelayan !


Siapa yang mengizinkan anak haram ini masuk ke kediaman utama?!


Cepat seret dia kembali ke kediamannya.


Aku tidak ingin melihatnya! "


Wanita itu menatap anak laki-laki tersebut dengan tatapan jijik.


Anak laki-laki tersebut membeku sampai beberapa pelayan menghampirinya untuk membawanya kembali ke kediamannya.


" Lancang!


Apa yang kalian lakukan!


Aku yang membawanya ke rumah utama! "


Seorang pria paruh baya turun dari tangga menggunakan.


Dia turun bersama dengan beberapa orang berjas hitam yang merupakan pengacara pribadi keluarga Bardsley.


" Ayah ! "


Wanita yang tadinya duduk beranjak berdiri setelah melihat orang yang dia tunggu turun.


Pria paruh baya mengangkat tangannya mengisyaratkan sang wanita untuk tetap diam.


" Aku sudah mendengar hasil USG nya. Anak kalian perempuan? "


Pria paruh baya tersebut pergi untuk duduk.


" Ayah, kami masih bisa,.. "


" Cukup!


Aku sudah memikirkannya baik-baik.


Edward yang akan menjadi ahli warisku! "


Pria paruh baya memotong.


" Ayah!


apa ayah serius akan membiarkan anak haram itu jadi alih waris?! "


Wanita yang mendengar keputusan ayahnya menentang.


" Sadarlah!


dia anakmu juga!


Kamu pikir siapa yang memulai permasalahan seperti ini?! "


Pria paruh baya membentak.


Dadanya terasa sesak dan dia memegangi dadanya. Kepala pelayan Gillbert melangkah maju hendak ingin menanyakan keadaan tuannya namun segera di hentikan oleh pria paruh baya itu.


" Kepala pelayan Gill. tolong bawa Edward bermain di taman. "


Dia memerintahkan kepala pelayan Gill untuk membawa Edward pergi.


Dia jarang melihat ibu kandungnya, awalnya Edward menolak namun pelayan segera meyakinkan Edward.


" Tuan muda, saat ini ibunda tuan muda sedang dalam keadaan kurang baik.


Bagaimana kalau kita bermain sebentar di taman untuk membiarkan beliau beristirahat. "


Kepala pelayan Gillbert meyakinkan tuan mudanya.

__ADS_1


Edwardpun menuruti perkataan kepala pelayan Gill dengan mengangguk.


Tidak lama setelah Edward meninggalkan ruangan, Tetua Bardsley menyuruh seluruh pelayan meninggalkan ruangan.


" Siapa biang masalah permasalahan ini?!


Pulang dalam keadaan hamil!


Karenamu keluarga Bardsley tercoreng. Apa sebenarnya kesalahanku sampai-sampai harapan keluarga Bardsley satu-satunya tercemar dan sekarang


Bahkan sangat sulit untuk menentukan penerus karena tidak ada orang yang kompeten!."


Keluh kesah tetua Bardsley.


" Ayah, tapi masih ada suamiku! "


Terua Bardsley mengangkat tangannya lagi untuk menyuruh putrinya diam.


Tetua Bardsley sebenarnya memiliki dua orang anak. Namun anak keduanya yang merupakan laki-laki penerusnya meninggal karena kecelakaan.


Harapan satu-satunya adalah menemukan calon suami kompeten yang dapat membawa perusahaan keluarga ke masa depan yang cerah.


5 tahun yang lalu, putri yang jadi harapan satu-satunya pulang dalam keadaan didapati sedang mengandung.


Awalnya dia berusaha untuk menggugurkan kandungannya sendiri secara diam-diam, namun kabar kehamilannya sudah terdengar ke media.


Putri konglomerat keluarga Bardsley dikedapati hamil diluar nikah dengan pria misterius. Kabar mengenai kehamilannya sudah terlanjur menyebar luas.


Publik banyak yang menanyakan sebenarnya siapa pria misterius itu. Nama keluarga Bardsley sudah tercoreng dan akan lebih tercoreng apabila mereka tidak segera menikahkan putrinya.


Akhirnya putrinya mengakui siapa pria yang melakukannya padanya, namun pria yang melakukannya sudah memiliki seorang istri yang juga baru saja melahirkan.


Putri Bardsley tidak memiliki cukup bukti, terlebih lagi orang yang menghamilinya bukanlah dari keluarga biasa. Hubungan mereka hanya sekedar cinta satu malam.


Akhirnya dengan berat tetua bardsley mencari seseorang dari keluarga cabang untuk menikahi putrinya.


Dia akan memberikan imbalan tertentu untuk orang yang akan menikahi putrinya. Tentu saja seleksi calon dilakukan kepada keluarga-keluarga yang tidak terlalu terkenal karena dia ingin orang itu mengakui anak yang ada dalam rahim putrinya.


Saat itu munculah pria yang bersedia menikahi putrinya dan dia menjadi Tn Bardsley.


Mereka menikah, karena permintaan sang ayah Ny Bardsley tidak menggugurkan kandungannya.


Sebagai gantinya, setelah bayi itu lahir dia tidak ingin mengurusnya. Dia melahirkannya dengan lancar. Setelah dilahirkan, bayi tersebut dirawat oleh pelayan di kediaman lain selain kediaman utama.


Sejak saat itu Ny Bardsley tidak pernah menemui putranya. Kehidupan Edward yang hanya ditemani oleh pelayan-pelayan membuatnya kesepian.


Kapan ibu akan datang?


Apa yang harus ku katakan saat dia datang menjengukku?


Harus kupanggil apa dia?


Dalam pikiran Edward selalu menanti-nantikan kedatangan Ibunya. Dia ingin melihatnya langsung, bukan dari sebuah foto.


Hari demi hari dia terus menanti, namun orang yang di tunggunya tidak kunjung datang. Sejak itu pertanyaan dalam hatinya berubah.


Kenapa ibu tidak pernah menjengukku?


Apa dia membenciku?


Apa aku memang benar memiliki ibu?


Edward menjadi anak yang lebih tertutup dan pendiam.


Awalnya dia senang dengan para pelayan yang melayaninya dengan baik. Tapi mood nya benar-benar sangat tidak bagus. Dia mulai suka memberontak dan menjadi nakal.


Dia tidak ingin mendengarkan perkataan pelayan. Saat itu pelayan mulai memberikan keluhan kepada kediaman utama mengenai keadaan emosi tuan mudanya.


Kabar tersebut terdengar di telinga tetua Bardsley. Dia langsung memanggil putrinya untuk meminta penjelasan kenapa dia tidak pernah mengunjungi cucunya.


Putrinya mengatakan dia tidak sudi bertemu dengan anak haram itu.


Bagaimanapun dia adalah putramu sendiri. Dia lahir dari rahimmu sendiri


Seharusnya aku tidak melahirkannya!.


Kata-kata itu terus keluar dari mulut putrinya. Sebagai ayah dan sebagai seorang kakek, Tetua bardsley merasa bertanggung jawab.


Dia tidak bisa mengurusnya sendiri. Dia meminta tolong kepada menantunya untuk membujuk putrinya menemui putranya. Tetua bardsley menjanjikan beberapa persen sahamnya.


Mendengar penawaran tetua bardsley, Tn bardsley menyetujuinya. Dia membujuk istrinya untuk setidaknya menemui putranya saja.


Dia menceritakan apa yang di janjikan tetua bardsley. Mendengar perkataan suaminya Ny Bardsley tidak percaya ayahnya akan dengan mudah memberikan beberapa persen saham untuk suaminya.


Selama ini ayahnya tidak pernah mengizinkan suaminya ikut campur urusan perusahaan. Ikut campur saja tidak bisa bagaimana dia bisa mengambil alih perusahaan ayahnya?.

__ADS_1


Ini adalah kesempatannya.


Anak itu, mereka harus memanfaatkannya. Mereka harus memanfaatkan kesempatan yang ada di depan mata mereka saat ini.


Tn dan Ny Bardsley mulai melaksanakan rencana mereka. Ny Bardsley dan Tn Bardsley mulai mengunjungi Edward.


Setiap mereka mengunjungi Edward mereka akan mengatakannya pada Tetua Bardsley. Hal itu membuat tetua Bardsley sedikit lega.


Meski mereka berkunjung, perlakuan yang mereka lakukan kepada Edward bukan perlakuan sebagai orang tua yang mengunjungi anaknya.


Mereka hanya datang kemudian bersenang-senang berdua. Mereka sama sekali tidak mempedulikan keberadaan Edward.


Saat mereka bertemu mereka langsung mengalihkan pandangannya dari Edward dan beranjak pergi.


Tidak jarang Tn Bardsley juga memberikan pukulan kepada Edward kalau ia mengganggu aktivitas mereka berdua. Ny Bardsley tidak mempedulikan.


Sejak hari itu, Tn Bardsley akhirnya mendapatkan posisi di perusahaan. Kerja keras mereka akhirnya terbayarkan.


Tuan Bardsley tidak pernah menyangka pekerjaan di perusahaan keluarga Bardlsey ternyata tidak mudah.


Dia lebih sering di marahi bahkan dibentak karena tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Hal itu membuatnya stres berlebihan.


Terkadang dia menginap di kediaman samping keluarga Bardsley tempat Edward tinggal karena jarak dari perusahaan ke kediaman utama lebih jauh di banding kediaman samping.


Selain itu dia juga memilih pindah karena terganggu dengan istrinya yang manja dan penuh pemikiran negatif tentang di tempat kerja.


Kenapa dia selalu pulang malam?


Kenapa tidak memberi kabar?


Menanyakan wanita di kantor yang dekat dengannya membuatnya tambah stres bahkan saat dia melihat Edward membuat stresnya lebih bertambah.


Tetapi akhirnya dia tidak sengaja menemukan obat stres untuk dirinya sendiri. Ketika dia melampiaskan stresnya dengan memukuli edward, dia merasa stresnya berkurang, dia merasa jauh menjadi lebih ringan.


Setiap kali stresnya memuncak dia akan mencari berbagai alasan untuk memukul Edward.


Pelayan yang menyaksikan perbuatan tuannya hanya bisa menutup mata. Mereka ingin melaporkannya tapi mereka juga takut.


Edward hanya bisa diam. Dia tidak ingin merengek setelah mendapatkan hukuman.


Dia selalu menanamkan apa yang dikatakan ayah tirinya pada dirinya setiap dia melakukan kesalahan.


Tanpa mengeluh dia menerima semua omelan dan pukulan dari ayahnya. Tidak jarang setelah menahan menerima pukulan Tn Bardsley, Edward demam tinggi keesokan harinya.


Saat demam Edward bermimpi. Dia bermimpi sangat indah. Dia berharap kalau dia tidak terbangun.


Dia ingin hidup di dalam mimpi indah dimana dia hidup bersama dengan keluarganya dan mereka hidup dengan bahagia.


Dengan perhatian, tanpa omelan dan tanpa kekerasan. Dia memimpikan kehidupan seperti itu.


Di kediaman utama, Ny Bardsley merasa tidak enak badan beberapa hari itu. Pelayan memanggil dokter pribadi keluarga Bardsley untuk melakukan pemeriksaan.


Tidak lama setelah dokter tiba, beliau langsung memeriksa keadaan Ny Bardsley.


" Bagaimana dokter, kondisi istri saya? "


Tn Bardsley menanyakan pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan istrinya.


" Tuan tidak perlu khawatir, nyonya hanya menderita gejala biasa.


Selamat, istri anda sedang mengandung. " Dokter memberikan selamat kepada Tn Bardsley.


Kabar mengenai kehamilan Ny Bardsley sampai kepada tetua Bardsley. Setelah mendengarnya, dengan segera tetua Bardsley pulang ke kediaman utama.


Di wajahnya tergambarkan kebahagiaan. Putriku hamil. Berharap anak yang dikandungnya adalah seorang laki-laki.


Bagaimanapun dia membutuhkan anak laki-laki untuk menjadi alih warisnya.


Melihat niat tetua Bardsley, Tn Bardsley juga berharap kalau anak yang dikandung istrinya adalah laki-laki. Dengan begitu harta orang tua itu akan menjadi miliknya.


Takdir berkata lain. Setelah beberapa bulan USG sudah dapat di lakukan. Hasil USG mengatakan kalau anak yang dikandung Ny Bardsley adalah seorang perempuan.


Kabar mengenai hasil USG sangat cepat terdengar ke telinga tetua Bardsley. Itulah sebabnya dia sudah merencanakan kalau anak yang di kandung putrinya kali ini bukan anak laki-laki, dia akan menjadikan cucunya Edward untuk menjadi pewarisnya.


Tidak mungkin dia akan membiarkan seorang perempuan menjadi alih waris. Dia juga tidak ingin memberikan perusahaan pada orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya.


Mendengar keputusan tetua Bardsley yang akan menjadikan Edward sebagai alih warisnya membuat Tn Bardsley dan istri kebakaran jenggot.


Mereka memikirkan cara agar harta dan perusahaan tidak jatuh ke tangan anak haram. Tn Bardsley akhirnya menyuruh istrinya untuk membujuk ayahnya memikirkan kembali keputusannya.


Hari itu Ny Bardsley datang untuk membujuk ayahnya untuk menarik keputusannya. Dia tidak menyangka kalau ayahnya sudah menarik Edward kembali ke kediaman utama.


Melihat anak yang sangat mirip dengan pria yang telah menghamilinya membuatnya sangat marah. Dia tidak ingin melihat anak itu. Sangat tidak ingin.


Meskipun dia mewarisi warna rambut ibunya, tetapi setiap dia melihat matanya yang biru bagai samudra tak berdasar seperti pria itu, Ny Bardsley selalu kehilangan emosinya.

__ADS_1


Apalagi sekarang dia sedang hamil. Dia tidak segan menghantamkan kepala Edward ke meja sampai berdarah hanya karena Edward melihatnya.


Kehidupannya yang penuh kekerasan terus berlangsung hingga waktu kelahiran Carol di dunia ini.


__ADS_2