Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Oh Haebin (2)


__ADS_3

" Bi, tambah sojunya ! " Teriak Eun jae.


" Baik. Segera " Jawab bibi pemilik restoran tempat aku, eun jae dan mo yong minum.


Awalnya aku tidak pernah memikirkan seperti apa alam baka tempat jiwa orang kembali setelah kematian.


Sepertinya budaya di tempat ini sudah bercampur dengan budaya alam manusia. Meskipun masi banyak tempat yang belum kukunjungi di alam baka, tapi aku sudah dapat melihat betapa modernnya alam baka saat ini.


" Makan, makan, jangan khawatir aku yang traktir.


Ingin tambah daging ?


Bi tambah Gopchang juga 2 set " Eun jae kembali berteriak.


" Hei hei, apa tidak terlalu berlebihan ? " Tanyaku melihat beberapa menu yang tersedia di atas meja.


" Tenang aku yang traktir. " Eun jae menenangkan.


" Kau sudah sering mengatakannya. Tapi ujung-ujungnya aku yang membayar karena kau mabuk. " Ucapku memikirkan bagaimana nasib dompetku setelah foya-foya ini.


" Hehe, " Eun jae hanya tertawa membuat feelingku semakin tidak enak.


" Aigoo, ini pesanan anda. " Bibi yang melayani pesanan akhirnya datang membawa 2 nampan kecil dan beberapa botol soju yang dia sangkutkan di ketiaknya.


" Silahkan di makan.


makan yang banyak " bibi tersebut tersenyum.


Meja kami saat itu di penuhi dengan banyak makanan yang cocok untuk di makan bersama soju. Aku yang hanya dapat pasrah melihat apa yang dipesan oleh eun jae.


" Kau serius akan membayar semua ini kan ? " Aku bertanya pelan.


" Haebin oh. Kau tidak percaya ? kalau begitu pegang ini pegang. " Eun jae sedikit kesal mengeluarkan sebuah kartu debit dari saku dalamnya.


" Kau puas ? kali ini aku sungguhan akan traktir " Dia mengatakannya membuatku sedikit lega.


" Kalau vegitu biar kupegang kartunya " Ucapku mengambil kartu di atas meja.


" Eun jae. Oh haebin kita dalam mood yang tidak bagus. Sebaiknya kamu tidak membuatnya tambah kesal lho. " Mo Yong menasehati.


" Kalau begitu untuk itulah kita datang ke sini. Ayo makan makan ! " Eun ja mengambil capit yang ada di atas nampan dan memanggang beberapa daging baru.


Beberapa daging yang telah matang dia berikan pada haebin.


" Makan lah. Kau pasti sudah mendengar berita kalau aku akan segera di pindahkan kan ? "


Mendengar perkataan Eun jae, haebin sedikit mengulas balik ingatanya.


Karena suatu hal, Eun jae akan di pindah bagian ke distrik lain.


" Ah, aku sudah mendengarnya. Apa kau tahu ke bagian mana ? " Aku bertanya pada eun jae namun dia menggelengkan kepala.


" Siapa yang peduli ? " Dia menjawab masi dengan senyum di wajahnya.


Peforma Eun jae sebagai Dewa kematian sangat brilian. Dia bahkan di juluki dewa kematian tertampan abad ini. Berbeda sekali denganku.


" ... " Aku yang hendak membalik daging tambahan tiba-tiba memikirkan sesuatu.


Bukan aku iri terhadap penampingan eun jae, tapi bahkan penampilanku sekarang bukanlah penampilanku saat aku mati.


Oh Haebin 28 tahun dahulu adalah pria gemuk dengan wajah brewok. Sedangkan penampilan yang kugunakan setelah menjadi dewa kematian adalah penampilan terbugarku.

__ADS_1


Kalau begitu bahkan Eun jae dan Mo yong pun. Apakah mereka juga sama ?


" Mo yong, kudengar ratingmu turun ? Kalau di pikir-pikir apa ada sesuatu yang membuatmu mendapat penilaian buruk ? 😆 " Eun jae mencari topik baru.


" Haaah , sebenarnya aku tidak ingin menceritakan kejadian memalukan seperti itu. Tapi akan kuceritakan. " Mo yong sedikit lesu.


" Sebenarnya beberapa bulan lalu aku turun ke dunia manusia untuk mencabut nyawa seseorang. " ucap mo yong


" Oh, itu hal yang wajar. Apa terjadi sesuatu selama proses pencabutan ? " Aku yang juga ikut penasaran.


" Bukan hanya itu. Saat itu aku ditugaskan mencabut nyawa seorang pencuri.


Setelag kulakukan ternyata jiwa yang ada dalam tubuh pencuri makam adalah orang lain. Dan kau tahu orang lain itu siapa ? " Mo yong menanyakan ketertarikan ke dua temannya.


" Siapa ? Jangan menceritakan setengah setengah " Desakku.


" Ternyata jiwa yang ada dalam tubuh pencuri makam itu adalah jiwa Raja yang saat itu berkuasa di negri itu.


Kau tidak pernah menyangkanya kan ?


Bagaimana bisa mereka bertukar jiwa " Ucap mo yong.


" Lalu lalu, apa yang terjadi ? " Eun jae menannyakan kelanjutannya.


" Karena hal itu saat aku melapor ke kepala bagian bintangku di cabut. Rating kinerjaku turun dan bahkan mereka memotong gaji intensif ku. " Mo yong berbicara kesal namun ucapannya itu di ikutin suara canda tawa dari dua sahabatnya.


" Kau pantas mendapatkannya. Harusnya kamu mengeceknya dahulu.


Kau tidak ingat kejadian yang terjadi pada senior kita ? " Ucap Eun jae.


" Senior kira ? Senior yang mana ? "


" Senior yang memiliki bekas luka gores di wajahnya "


" Benar, aku mendengar dia mengalami kejadian yang tidak mengenakkan saat sedang dalam pekerjaannya.


Saat itu dia di tugaskan menyabut nyawa seluruh penumpang pada sebuah kecelakaan kapal.


Kalau tidak salah yang ditugaskan saat itu ada 5 dewa kematian. Kalian pasti bisa membayangkan betapa kacaunya situasi kapal karam ?


Tapi yang membuat kacau bukanlah penumpang tapi ada satu orang dari penumpang yang memiliki kekuatan aneh. " Cerita Mo yong.


" Ah aku mendengar tragedi itu. Saat itu adalah alarm darurat bukan ?


Tunggu dulu, bukankah waktu itu Haebin kita juga bertugas di sana ? Aku tidak mungkin salah mengingat " Ucap eun jae.


" Apa benar begitu ? Wah kalau begitu kita memiliki saksi mata di lokasi kejadian.


Aku hanya mendengar ceritanya sebelum dipindahkan ke distrik ini.


Sejujurnya aku juga sedikit penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu ? Haebin oh.


Ceritakan pada kami ! " paksa Mo yong.


" Ahaha, hari itu sangat kacau. Bagaimana aku bisa menceritakan kejadian buruk seperti itu. " Ucapku.


" Haebin kita menyimpan rahasia "


" Ah, dia menyimpan rahasia dari kita sahabatnya "


" Haebin kita ternyata tidak setia kawan "

__ADS_1


" Itu benar haebin kita dewa kematian yang jahat. " Eun jae dan Mo yong yang tidak berhenti mencemoh.


" Ah kalian berdua, bisa tolong hentikan ? " Aku yang mulai tidak tahan.


" Bercanda bercanda,


haebin kita benar-benar cepat emosi "


Lalu kami bertiga tertawa sambil menikmati soju dan daging panggang.


Itu adalah kehidupan yang seperti normal saat aku masih hidup. Bekerja dan minum bersama rekan setelah bekerja.


Hanya saja yang berbeda. Tempat ini, adalah tempat dewa kematian.


Mereka semua memakai jas ? Tidak, tidak semua semodern itu. Misalnya lihat beberapa orang yang ada di luar restoran ini.


Ada beberapa dari mereka yang mengenakan pakaian tradisional. Kalaupun ada kesamaan semuanya mengenakan pakaian berwarna hitam. Itulah dewa kematian.


Kalau di ingat kembali? Bagaimana aku bisa berakhir dan menjadi dewa kematian ?


Kejadiannya terjadi setelah saat itu aku keluar untuk mencari pekerjaan.


" Cih, apa benar kamu masi 28 tahun ?


Tampangmu sudah seperti om om. Kami sudah tidak menerima pegawai.


Pergi-pergi " Ucap seorang manager toko swalayan.


" Tapi pak, saya masih melihat iklan lowongan di depan.


Tolong pertimbangkan lagi. " Aku yang terus memohon diberi kesempatan bekerja.


" Pergi pergi. Di sini tidak menerima orang lagi ! " Ucap manager toko ketus.


Aku akhirnya memutuskan untuk menyerah. Tetapi tidak lama datang seorang pria yang menanyakan.


" Permisi, pak, apa lowongan pekerjaan di pintu masih berlaku ? " Ucap pria itu.


" Kau ingin melamar ? Masuk masuk. Mari diskusikan di dalam " Wajah manager yang tadinya begitu ketus padaku berubah menjadi wajah yang berseri-seri.


" Kau masih di sini ? Pergi !


Jangan membuat tokoku sial " Ucapnya.


" ... "


Hatiku merasa sedikit sakit. Bagaimana tidak, aku menanyakan lowongan yang sama namun beliau bahkan tidak melihatku namun malah mengusirku begitu saja.


Tapi anak muda yang baru datang itu menanyakan lowongan yang sama dan dia dipersilahkan masuk dengan sopan.


Sebenarnya apa yang salah dengan diriku.


" Kukuruyuuukkk ~ " Suara itu terdengar dari perutku.


Kalau di pikir-pikir sejak bangun tadi aku sama sekali belum makan apapun. Kalau seperti ini terus aku bisa mati kelaparan.


" Kukuruyuuukkk ~ " Suara itu terus terdengar seiring dengan langkah kakiku.


Aku memutuskan untuk sedikit beristirahat di bawah jembatan. aku duduk di tepi sungai bawah jembatan untuk merenungkan apa yang akan kulakukan selanjutnya.


Namun saat itu lah seseorang menghampiriku. Seorang gadis berambut ungu gelap seperti malam, dan mata amethys dengan tahi lalat di bawah matanya tiba-tiba menghampiriku.

__ADS_1


Saat itu kupikir itu adalah malaikat yang menjemputku. Apa akhirnya aku benar-benar akan berakhir seperti ini ? Mati karena kelaparan ?


__ADS_2