Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Tes Praktik Dewa Kematian (19)


__ADS_3


Dunia dalam system sebelum salju abadi


################################


Tak Tuk


Suara hentakan bambu terdengar saling bergantian memperdengarkan suara nyaring mengiringi suara air kecil yang mengalir.


Sebuah jembatan membentang memotong jalur pertemuan kolam ikan dengan sebuah danau yang cukup luas. Di sekitar kolam ikan tumbuh pohon bunga sakura yang sedang bermekaran memberikan warna peach indah bagai senyuman seorang gadis.


Di atas jembatan seorang wanita tersenyum dengan sangat cantik mengalahkan keindahan pemandangan yang awalnya menjadi fokus perhatianku.


" Lagi? Apakah kamu senang mengganggu ikan-ikan di kolam ? " Wanita itu tersenyum membuat pandanganku kembali teralih ke dalam kolam, lalu kembali ke wanita itu.


Perasaan itu sangat familiar. Apakah ini adalah ingatanku ? Pandanganku kembali teralih ke ikan-ikan di kolam. Sebuah batu di lemparkan ke dalam kolam membuat ikan-ikan tersebut berenang tidak beraturan karena gangguan.


Aku merasa aneh. Hanya ada jembatan yang membatasi kolam ikan dengan danau besar. Mengapa ikan-ikan itu tidak pernah pergi ke danau yang jelas lebih luas. Tidak ada penghalang di tempat itu, namun ikan ikan itu tetap berlelompok di kolam ikan.


" Apa kamu penasaran mengapa ikan tersebut tidak pergi ke danau yang jelas lebih luas dan megah dari kolam ini padahal tidak ada penghalang ? "


Pandanganku kembali ke arah wanita itu yang seperti bahkan dapat membaca pikiranku dan akupun mengangguk.


" Hhmm, aku juga penasaran. Mereka sudah ada di sana saat pertama kali aku datang ke sini. Bukankah seharusnya kamu yang lebih tahu ? " Wanita itu bertanya balik dan pandanganku bergerak ke kanan ke kiri menandakan aku tidak tahu.


" Kalau begitu mungkin, karena danau itu terlalu luas. Sehingga menakutkan hidup di tempat yang sangat luas. " Ucapnya dan dia kembali tersenyum.


Tiba-tiba pandanganku memudar dan menghitam. Setelah beberapa saat pandanganku kembali, namun apa yang dapat kulihat adalah kegelapan. Saat itu musim salju. Wanita di atas jembatan itu, aku hanya dapat melihat wajahnya bersama dengan air mata. Kenapa melihatnya membuat hatiku begitu sakit ? Seperti dia orang sangat berarti untukku.


Aku.. ingin melihat senyum yang biasanya. Aku mengulurkan tangan kecilku ke pipinya, mengusap air matanya. Tanpa disadari, aku merasakan air hangat juga menetes dari mataku. Lalu tiba-tiba pemandangan itu pecah menjadi berkeping-keping dan menghilang tertelan kegelapan.


" Xue li " Di dalam kegelapan aku dapat mendengar suara wanita itu lagi.


" Xue li. " Aahh suara yang begitu ku rindukan.


" Xue li ! " Mengapa suara itu semakin berubah.


" Xue li ! Sadarlah ! " Suara itu menjadi semakin jelas dan bukan milik wanita itu.

__ADS_1


Aku kaget lalu membuka mataku. Pipiku basah, di hadapanku seorang pria berambut putih kebiruan terlihat cemas berusaha membangunkanku.


" Darius IV " Aku berusaha menenangkan diri dan membaca situasiku saat ini.


" Apa kau baik-baik saja ? Apa yang terjadi ? " Tangan darius mengusap pipiku untuk menyingkirkan air mataku.


Tunggu dulu, air mata ?


Apa aku menangis ?


Aku baru saja melupakan sesuatu yang sangat penting. Kenapa aku menangis ? Mimpi ?


- Xue li melupakan mimpi yang baru saja dia alami -


################################


Beberapa saat setelah Darius dan Xue li memasuki lubang dimensi.


Xue li belum membuka matanya. Lu xinnian masih berusaha mengintip gadis yang berhasil menarik perhatian seorang Darius dan Lu Xinrong yang masih memblokir pandangannya dengan daun rambat.


" Xinrong ge. Bukankah kamu seharusnya berada di pihakku ?! Biarkan aku melihatnya sedikit! " Lu Xinnian mengeluh.


" Rasa penasaran berlebihmu akan membunuhmu suatu hari nanti. " Lu Xinrong menanggapi.


" Apa yang terjadi ? " Lu Xinnian bertanya, Lu Xinrong membuka pagar serabut yang dia pasang.


Xue li akhirnya terbangun dan mendapati dirinya tergeletak di sebuah altar dengan Darius berdiri di sampingnya dan serabut daun mengelilinginya meskipun sekarang sudah sedikit longgar sehingga dia dapat melihar dua sosok lainnya.


" Di mana ini ? " Xue li yang baru selesai mengumpulkan kesadarannya bertanya.


" Mungkin, di Dungeon? " Darius menjawab singkat.


Xue li masih sangat mengingat kalau dia berada di alam baka, lalu pergi mencari udara segar dan berakhir jatuh ke jurang dan terkubur oleh ribuan tangan panjang hitam. Lalu bagaimana dia bisa berada di sini ? Bersama dengan seorang Darius ?. Meski tidak jelas, namun dia merasa seseorang menyelamatkannya. Sepertinya orang yang menyelamatkannya adalah Darius?.


" Lalu mereka siapa ? " Xue li melihat ke dua orang lainnya yang berada di sana. Lu Xinrong membatalkan mantra sihirnya melihatnya telah siuman.


" Perkenalkan, saya Lu Xinnian, putra keluarga besar Lu, Penjaga pilar naga.


Sedangkan orang tampan yang tidak mudah tersenyum ini adalah sepupu saya, Lu xinrong, orang yang sangat saya harapkan menjadi penerus keluarga Lu. " Lu Xinnian memperkenalkan dirinya dan Xinrong. Kedua tangannya mencubit pipi Lu xinrong karena gemas, namun segera di tepisnya.

__ADS_1


Saat itu Xue li masi dalam wujud Keanne. Itu berarti dia tidak terlalu lama berada di tempat itu. Itu karena sihir perubahan wujud system masih memiliki efek di tempat itu.


Xue li memperkenalkan diri sebagai Keanne Baume dan berbicara mengenai tempat itu. Apakah mereka saat ini berada di dalam sebuah dungeon ? Namun Lu xinnian dan Lu xinrong hanya menggelengkan kepala. Itu karena mereka juga tidak tahu mengapa mereka bisa berakhir di tempat itu.


Setelah menjelaskan kalau mereka sudah berada lebih dari dua minggu di tempat itu mereka juga menjelaskan bahwa mereka sudah mengelilingi tempat itu. Tidak ada tanda-tanda jalan keluar di tempat itu. Hal itu membuat xue li ingin mencoba menggunakan lubang spatial miliknya, namun itu di blokir.


Selain dari ruangan seluas 30x30 meter itu, mereka menemukan sebuah batu yang mereka rasa itu adalah pintu. Namun di coba sekeras apapun, batu itu sangat sulit di hancurkan. Bahkan dengan kekuatan seorang darius itu tidak bergeming hanya membuat telinga penging karena bentrokan kekuatan dengan batu tersebut jadi mereka berhenti melakukannya. Pasti ada jalan lain yang harus mereka temukan sendiri.


Waktu terus berlalu, meski begitu mereka merasa aneh karena mereka sama sekali tidak merasakan lapar. Mungkin bagi seorang Darius yang telah mencapai Inedia tidak terpengaruh, namun bagi xue li , xinnian dan xinrong yang belum menxapai inedia rasa lapar harusnya dapat di rasakan apalagi untuk mereka yang telah beberapa minggu terkurung di tempat itu.


Xue li sekali lagi berkeliling meraba setiap detil dinding berharap menemukan jalan keluar. Namun hal itu percuma. Tempat itu memang memiliki dinding yang tidak rata seperti menyembunyikan tombol rahasia, namun sudah seluruhnya dia raba tidak ada petunjuk. Bahkan dia juga sudah menelusuri lantai dan langit-langit.


Mereka tidak dapat lagi menghitung berapa lama waktu yang mereka habiskan di tempat itu. Xue li memutuskan untuk mencari petunjuk kembali di batu besar yang mereka duga adalah pintu keluar. Saat memperhatikan dengan seksama, dia menemukan sebuah tulisan.


" Apa ini ? " Dia merabanya dan suaranya bergema menarik perhatian mereka yang ada di sana saat itu.


" Apa yang kamu temukan ? " Tanya Darius.


" Tidak, aku tidak menyadari kalau ada angka terukir di batu ini. " Jelas Xue li.


" Ah, angka 3 pada batu ? Kami juga melihatnya namun tidak menemukan petunjuk apapun tentang angka itu. " Ku Xinnian menjelaskan


" Angka 3 ? tapi yang tertulis di sini adalah angka 1 " Darius menanggapi.


" Angka 1 ? Jelas yang terlihat di sana adalah angka 3 saat kami pertama tiba di sini" Lu Xinnian tidak mempercayai perkataan Darius lebih mendekat untuk melihat angka yang terukir di batu.


" Tidak mungkin, itu benar-benar berubah. Apa maksudnya ? " Lu xinnian melihat angka pada batu benar-benar berubah dari yang terakhir mereka lihat.


" Mungkin itu hitungan mundur ? Namun untuk apa ? " Lu xinnian bingung.


" Atau bisa juga itu adalah petunjuk kalau ingin keluar dari sini kita hanya perlu bertarung sampai satu dari kita menang ? " Lu Xinrong menakuti.


" Tidak, kalau melihat dari polanya, saat pertama kali kalian tiba angka 3 tertulis di sini.


Lalu setelah aku dan Darius di sini angka yang terukir di batu adalah angka 1. " Xue li menganalisa.


" Kita hanya perlu menunggu satu orang lagi untuk keluar dari ruangan ini ? " Darius menanggapi analisa Xue li.


Angka yang terukir di batu menandakan angka orang yang diperlukan di sini.

__ADS_1


Akhirnya Xue li menemukan petunjuk. Lalu kapan orang terakhir ini muncul ? apa mereka akan tetap di sini sampai orang terakhir masuk ? Bagaimana jika dia tidak muncul selamanya ? Itu artinya mereka akan terperangkap di tempat ini selamanya ?


Saat berpikir seperti itu tiba-tiba terdengar suara gedebuk dan angka pada batu mulai mengilang.


__ADS_2