Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Tes Praktik Dewa Kematian (9)


__ADS_3


Setelah melihat seluruh rekaman lokasi kejadian, sepertinya akan cukup sulit untuk menemukan pelakunya. Namun hal itu tetaplah pekerjaan Ha joon untuk menyelidiki kasus tersebut.


Ha joon mengeluarkan walkie talkie nya untuk menyuruh setiap kelompok yang ada di bawah perintahnya untuk tetap berpatroli.


Setelah melakukan penyalinan video, dia melihat kearah xue li masih dengan sinis kemudian kembali melihat kearah pinggang xue li membuat xueli refleks menyentuh senjata dewa kematian yang dia pasang.


' Apakah dia mencurigai sesuatu? ' dalam pikiran xue li ketika dewa kematian di hadapannya tidak lepas dari senjata yang dia bawa.


" Nona Keanne. " Ha joon memanggil dan sedikit mendekat. Xue li tidak membalas, dia masih berusaha menenangkan dirinya.


" Tidak biasanya anda menempatkan senjata anda di satu sisi. " Ha joon membicarakan tentang senjata dewa kematian milik Keanne.


Sepertinya dia mencurigai sesuatu. Hanya karena xue li memasang senjata dewa kematiannya di satu sisi ?


Saat keadaan itu untungnya pikiran Xue li masih cukup jernih. Dia menempatkan satu tangannya ke seniata tersebut kemudian melihat ke arah Ha joon dan tersenyum.


" Oh, anda adalah orang yang begitu perhatian mengamatiku detail sampai ke senjataku juga? "


Seperti biasa Ha joon tidak menyukai senyuman Keanne yang seakan mengolok-oloknya itu.


" Humph ! " Dia langsung membalikkan badannya membuat rambut panjang yang di kuncirnya menghempas ke belakang.


' Aku tidak tahu hubungan keanne dengan pria itu. Namun aku memiliki firasat kalau aku harus berhati-hati di hadapannya '


Setelah Ha joon pergi, xue li mendekati Oh haebin yang masih duduk di depan layar.


" Oh Haebin, apa kamu bisa membantuku menyalin video ini juga ? " Xue li meminta copyan video itu.


Dia berpikir mungkin Connie dapat membantu mencari tahu mengenai kasus ini. Bagaimanapun ada orang lain yang menyusup selain xue li. Dia memiliki firasat buruk tentang hal itu.


Bagaimanapun, sekecil apapun firasat buruk yang di rasakan xue li. Xue li berpikir dia harus segera menanganinya agar dia tidak terbawa gelombang konflik tersebut.


Oh Haebin memberikan copy an data yang dibutuhkan. Dia memberikan sebuah flashdisk lalu xue li segera memasukkannya ke lubang spatialnya ketika mereka beranjak keluar dari ruang pengawasan.


' Connie, apa kau mendengarkanku? ' Xue li mengenakan telepati untuk terhubung dengan connie. Namun tidak ada jawaban.


' System, apa kau mendengarkanku? ' Xue li juga mencoba menghubungi system, namun tidak ada jawaban juga.


Apa yang terjadi? Tadi pagi dia masih dapat menghubunginya. Namun dia berusaha menghubungi mereka berdua lagi namun tidak mendapatkan jawaban.


" Senior Oh, anda kembali. " He an yang tadinya duduk di lobby kantor bergegas berdiri setelah melihat sosok Oh Haebin.


" He an. Hanya kalian bertiga? Kemana yang lainnya ? " Tanya Oh Haebin setelah melihat He an hanya bersama dua orang yang menjadi tim juniornya.


" Anak-anak dari tim lain sepertinya pergi menemui tuan Ho. Hanya kami yang menunggu di sini " He an menjawab, namun dia masih ragu apa dia harus menceritakan satu orang lagi pergi berkeliaran gedung ?.


" Nona Keanne " Oh Haebin memanggil xue li namun xue li masi tidak fokus karena mencoba menghubungi system dan connie.


Tidak mendapatkan respon, Oh haebin memanggilnya sekali lagi, dan akhirnya xue li meresponnya meski dia sedikit kaget.


" Sepertinya anda tidak fokus. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran anda ? " Oh Haebin bertanya sedikit cemas.

__ADS_1


" Tidak, bukan apa-apa. "


Mendengar jawabannya membuat Oh Haebin sedikit cemas. Apa orang di hadapannya memiliki sebuah petunjuk tentang kasus ini? Tapi dia tidak begitu memikirkannya. Namun setelah Oh haebin membahas tentang pelatihan dewa kematian, sepertinya dia menyadari kalau orang di hadapannya tidak mendengarkannya.


" Nona Keanne, bagaimana menurut anda ? "


Saat Haebin menanyakan pendapat Keanne, lagi lagi dia tidak mendapatkan respon seakan-akan pikirannya saat ini tidak berada di sana.


Tidak lama akhirnya xue li merespon, namun pada akhirya xue li memutuskan untuk bergabung dengan tuan Ho untuk mendiskusikannya terlebih dahulu.


################################


Begitu tiba di luar gedung, xue li melihat tuan Ho sedang berbicara pada para calon dewa kematian.


" Ada apa? apa yang sedang kalian bicarakan yang sepertinya kalian membicarakan hal yang menarik ? "


Kaget mendengar suara yang tiba-tiba mengikuti obrolan membuat para calon dewa kematian terdiam. Hal itu memberikan tanda kalau yang mereka bicarakan pasti mengenai xue li atau mungkin hal lain ?


" Jangan salah paham.


Kami tidak mungkin tidak sopan membicarakan anda di belakang.


Seseorang dari timku tidak kembali. Kami sedang membicarakannya. " Jelas tuan Ho dengan sedikit keringat terlihat di wajahnya.


" Siapa ? " Xue li bertanya.


Tuan ho mengatakan kalau yang belum kembali adalah Han seul gi. Namun Yeol yang tidak dapat menahan diri akhirnya maju untuk menjelaskan ulang kronologi kejadiannya.


" Bukankah dia benar-benar semena-mena ? Padahal kita masih dalam masa tes. " Ucap yeol setelah menjelaskan kejadian di lobby tadi.


" Bukan, bukan itu maksudku! Dia mengatakan sesuatu yang membuat kami kesal. Mengatakan kalau dia orang yang akan lulus sedangkan kami hanya sebagai tokoh tambahan " curhat Yeol.


" Dia bahkan pergi begitu saja setelah mengatakan itu, itu sebabnya kami berpisah. " Sahut Chris.


" Kalau dia memang benar-benar memiliki kemampuan seperti yang dia katakan. Apa yang akan kalian lakukan ?


Merengek ? " Xue li berbicara dengan lantang.


" Hanya karena masalah sekecil ini kalian mengadu ke pembimbing kalian hanya untuk mencari pembelaan ?


Menurut apa yang aku dengar, kalian yang meninggalkannya padahal kalian telah diperingatkan untuk tetap bersama.


Sekarang satu orang pergi entah kemana, apa kalian tidak tahu aturan alam baka ? berkeliaran seorang diri, di alam baka ?


Siapa yang harus bertanggung jawab ? " Ucap Xue li yang asal menyimpulkan.


" Anu.. nona dewa kematian. sepertinya anda sedikit salah paham. " Han ji soo memotong.


" Salah paham apa ? "


" Pria bernama Han seol gi, dia sendiri yang seenaknya pergi. Kami melihatnya, chris dan yeol tidak melakukan apapun ". Jelas Han ji soo.


" Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan ? Bukankah kalian bertikai makannya dia akhirnya pergi ? " Tanya Xue li.

__ADS_1


" Tidak bukan begitu. Kami tidak melakukan apa-apa hanya saja, pria bernama han seol gi itu memutuskan pergi sendiri setelah mengolok-olok rekan timnya. Untuk itulah anda mungkin sedikit salah paham disini" Jelas han ji soo.


Xue li terdiam mengolah kata-kata yang masuk ke telinganya. Saat ini Xue li memang dalam keadaan pikiran yang buruk. Itu karena dia tidak dapat menghubungi system maupun connie makannya dia dalam kondisi bad mood.


" Namamu ? " Setelah mengolah kata-kata yang di dengar dia menanyakan nama anak bimbingnya.


" Han ji soo, madam ". Ji soo langsung menjawab.


" Apa kau barusan menceramahiku ? Mengatakan kalau aku sedikit memiliki kesalah pahaman ? Kau pikir kau lebih cerdas dariku? " Entah kenapa pikiran xue li selalu negatif.


Melihat ucapan lantang yang keluar dari mulut xue li tuan ho mencurigai sesuai.


" Tidak mungkin. Mungkinkah ? " Dia bergegas mengambil sebuah kotak kecil dari kopernya kemudian bergegas mengeluarkan permen dari kotak tersebut dan menyugukannya langsung ke mulut Xue li sebelum dia kembali berbicara.


" Apa anda baik-baik saja ? nona keanne ? " Tangan tuan ho masi menutup mulut xue li meski setelah dia menelan permen yang di sugukan tuan ho.


Xue li melirik ke sekitar, dia tidak tahu apa yang barusan dia perbuat. Apa yang membuat moodnya naik turun seperti bukan dirinya.


Setelah melihat xue li kelihatan sudah tenang tuan ho dengan perlahan melepaskan tangannya dari mulut xue li.


" Maaf, aku ada urusan sebentar dengan tuan Ho. Kalian bisa pergi mencari penginapan sementara untuk kalian sekarang. " Ucap xue li menenangkan dirinya namun dalam hatinya dia masih berteriak apa yang sebenarnya dia lakukan ? apa yang dia katakan? mengapa dia begitu mudah emosi.


" Lalu bagaimana dengan Han seol gi ? " Han ji soo bertanya.


" Kalian pergi saja. Biar para senior yang mengurusnya. Hari ini cukup dengan perkenalan. Kita akan memulai pelatihan besok. "


Setelah mengatakan itu akhirnya para calon dewa kematian mendengarkan dan langsung pergi untuk mencari penginapan sementara tempat mereka tinggal, setelah memastikan mereka tidak melihat, xue li menatap tuan ho yang baru saja menyugukan sesuatu ke mulutnya bertanya-tanya apa yang dia masukkan ke mulutnya ?


" Anda tidak perlu khawatir? saya hanya memberikan ini. " ucap tuan ho yang menunjukkan sebuah kotak kecil berisi beberapa butir pil kecil berwarna merah muda.


" Ini hanya permen penyegar. Sepertinya anda terkena pengaruh rukh di dunia ini. " Jelas tuan ho.


" Rukh ? "


Rukh atau Rukhwa merupakan komposisi udara dari pembentuk lempengan alam baka.


Pernah mendengan tentang jembatan penghubung dunia dan alam baka. Sebenarnya jembatan itu adalah rukhwa yang berbentuk seperti jembatan yang membawa roh masuk ke alam baka.


Ketika sebuah roh melewati jembatan itu, rukhwa yang menempel pada rok akan membuat keadaan mental roh menjadi tidak stabil. Bagi mereka yang bisa melewatinya akan langsung berada di alam baka, di sambut oleh petugas sensus untuk diberikan hak tinggal sementara di alam baka untuk menunggu waktu renkarnasi atau pengadilan.


Sedangkan mereka yang terpengaruh rukhwa dan tidak dapat melewati jembatan, akan selamanya terperangkap di jembatan rukhwa ataupun langsung jatuh ke neraka.


" Seperti yang anda lihat. Alam baka adalah pusat dari rukhwa. Sepertinya anda terkena efek dari rukhwa makannya emosi anda tidak stabil. Jadi saya langsung mengambil tindakan untuk menenangkan anda. "


Xue li mengingat saat dia berada di lift alam baka. Kabut hitam yang dia lihat dan berusaha untuk melukai jian yi an. Itu adalah rukhwa. Mungkin karena itulah xue li terpengaruh efek dari rukhwa. Dia tidak mengetahuinya. Dia hanya mengira kalau kabut itu mengincar makhluk hidup.


" Lalu apakah anda juga mengalaminya ? Hal yang sama seperti saya ? " Tanya xue li namun tuan ho hanya tersenyum.


Tentu saja jawabannya adalah tidak. Mental yang kuat adalah salah satu syarat menjadi dewa kematian. Siapapun yang terpengaruh rukhwa tidak akan pernah menjadi dewa kematian.


" Ah, sekarang aku paham


Kalau begitu sikap Ha joon padaku , itu juga karena pengaruh dari Rukha ? Saya harus memiliki permen penyegar itu dan menyugukannya langsung padanya untuk membuatnya tenanh juga. " Xue li mengingat wajah ha joon yang selalu kesal melihatnya.

__ADS_1


" Tidak, saya pikir kalau itu adalah karena masalah lain ". Tuan ho membalas.


Hari pertama tes dewa kematian akhirnya terlewat dengan banyak rintangan. Waktu yang dimiliki xue li di alam baka adalah, 20 hari sampai connie menyelesaikan alat pendeteksinya.


__ADS_2