
Angin berhembus dengan kencang di sertai hujan badai. Kilatan petir terlihat menyambar-nyambar di langit yang tertutup awal gelap. Di puncak gunung Jiang, beberapa orang sedang memotong pohon yang ambruk menghalangi jalan, berusaha membuat jalan.
" Apa masih belum juga ? Cepat singkirkan ! "
Sepertinya jalan ke puncak terhalang oleh beberapa pohon besar yang tumbang. Saat itu seluruh puncak gunung Jiang terguyur hujan lebat.
" Cuacanya begitu lebat, apa tidak sebaiknya menunda proses persalinannya sampai hujan reda ? "
Seorang wanita paruh baya mengenakan jubah jerami mengikuti dari belakang.
" Tapi nyonya, nyonya besar kami sepertinya sudah akan melahirkan
Tuan besar langsung menyuruh kami menjemput nyonya "
Seorang pria gagah membalas saran nyonya di belakangnya sambil berusaha membantu menyingkirkan pohon besar yang menghalangi.
" Sudah sudah, jangan teruskan.
Kalau seperti itu bantu aku melewati pohon besar ini. "
Wanita itu kemudian menunjuk seseorang untuk menjadi pijakan dan melewati batang pohon besar dengan bantuannya.
Cuaca sangat buruk, meskipun begitu mereka harus mencapai sekte seriubu pedang sesegera mungkin.
Jalanan gunung sangat terjal, di tambah hujan deras membuat jalanan tersebut licin. Setelah melalui berbagai rintangan akhirnya mereka berhasil sampai ke sebuah kediaman besar di puncak gunung Jiang.
Kediaman itu sangatlah luas, setelah melewati pintu besar mereka masih harus melewati lapangan yang sangat luas.
Akhirnya mereka sampai di bangunan, namun tidak ada waktu bersantai. Pria itu segera menunjukkan jalan menuju kediaman utama.
Setelah sampai, dari luar terdengar dengan sangat jelas erangan seorang wanita dari dalam kamar. Dia berteriak kesakitan, suara erangan itu mengalahkan suara hujan dan petir besar di luar.
" Nyonya, tolong bantu istri saya "
Seorang pria yang tadinya panik menggenggam tangan wanita yang berbaring kesakitan melihat kedatangan orang lain membuatnya sedikit lega. Itu karena wanita yang datang adalah seorang ahli persalinan ( dukun beranak )
" Nyi, tolong bantu istri saya. Dari tadi dia kesakitan seperti ini "
Tuan besar sekte seribu pedang yang menatap ke arah orang yang datang dengan rasa penuh berharap.
Wanita yang tadinya diam langsung memerintahkan orang-orang untung membawakan satu baskom air hangat dan beberapa potong kain bersih.
Setelah perlengkapan di siapkan, proses persalinanpun di mulai. Ahli bersalin tersebut mengambil alih proses persalinan.
Begitu banyak metode yang di gunakan, membantu memijit perut sambil menyuruh wanita yang akan melahirkan itu menarik dan membuang napas.
Proses melahirkan sudah berjalan selama beberapa jam, namun bayi itu belum juga keluar.
" Terus tarik, buang tarik buang "
Wanita itu terus berusaha membantu, darah sudah mengalir sejak tadi, akhirnya terlihat kepala dari sang bayi, dia tidak membuang-buang waktu menyuruh wanita yang melahirkan lebih berusaha menekan bayi itu keluar. Sampai akhirnya,
" Oeekkk oeekkkk oeekkk "
Suara bayi terdengar mematahkan suasana cemas di luar.
" Akhirnya, setelah menghabiskan begitu banyak waktu. "
Beberapa orang yang menunggu di luar ruangan ikut lega mendengar suara bayi.
" Nyi, bagaimana dengan anakku ? Oh anakku. "
__ADS_1
Kepala sekte Jian langsung masuk setelah mendengar suara bayi.
" Selamat tuan, selamat nyonya. Anda mendapatkan seorang putra. "
Ahli persalinan itu baru saja selesai memandikan bayi mungil itu dengan air hangat, menggendongnya untuk membuatnya tidak lagi menangis.
Tuan Jian sangat senang, dia langsung menghampirinya meminta izin untuk menggendongnya.
Setelah menggendongnya, dia langsung menuju sang istri tercinta.
" Istriku, terima kasih karena telah melahirkan putra ketiga kita. "
Tuan jian menunjukkan sosok bayi mungil itu ke istrinya.
" Syu.. kurlah. Anakku.. Putraku.. "
Tidak lama setelah memperhatikan bayi yang dilahirkannta, Nyonya jian menutup matanya.
" Istriku? Istriku? "
Tuan Jian melihat sesuatu yang tidak beres pada istrinya.
" Tabib ! Cepat panggil tabib! "
Beliau langsung berteriak memerintahkan orang lain untuk mencari tabib.
Wanita yang membantu proses kelahiran memeriksa nadi dan napas nyonya Jian.
" Tuan, turut berduka cita. "
Mendengar kata-kata itu membuat hati tuan jian seperti tersambar petir. Tidak, itu adalah petir sungguhan di luar sana membuat orang-orang di luar ruangan menutup telinga mereka.
Bayi yang di gendongnya terus menangis, seakan dia dapat merasakan kesedihan orang yang menggendongnya.
Itu sebabnya, mereka menamainya yi an ( 议案 ) yang artinya " motion ".
Enam tahun berlalu, sekte Jiang.
Seorang anak berusia sekitar 8 tahun sedang meraba-raba sesuatu di tanah. Dia sedang berusaha mencari tongkatnya yang jatuh, lebih tepatnya seseorang telah dengan sengaja melemparkannya.
" Hei hei, lihat siapa itu ? "
" Kau tidak tahu siapa dia ? "
" Aku baru pertama kali melihat anak itu "
" Wajar kau baru melihatnya, kau baru di terima di sekte ini, jadi kau tidak mungkin melihatnya.
Dia adalah tuan muda ketiga dari sekte Jiang. Ah mungkin aku harus mulai menyebutnya sebagai tuan muda pembawa mala petaka ? "
Tiga orang yang sedang bolos latihan bersantai di bawah pohon bambu sedang melakukan percakapan yang menarik.
" Ah ah, aku juga pernah mendengarnya.
Gosip beredar, bukan hanya dia menyebabkan ibunya meninggal karena proses melahirkannya, 100 hari kemudian setelah meninggalnya ibunya kepala sekte Jiang juga meninggal karena di serang monster. "
" Kau pasti tidak mendengar cerita rincinya kan? kau tahu siapa yang membuat kepala sekte terdahulu meninggal ?
Saat itu kepala sekte sedang mencari obat mujarab untuk mengobati kebutaannya, siapa yang menyangka monster menyerang mereka dalam perjalanan?
Alhasil rombongan mereka musnah, hanya beberapa yang selamat untuk menceritakan seluruh kejadiannya.
__ADS_1
Dia memang pembawa mala petaka. Lebih baik tidak memiliki kontak langsung dengannya. "
" Hei hei, tapi aku juga pernah mendengar dia orang yang cukup beruntung? "
" Itulah yang membuat semua was-was. Itu karena setelah keberuntungannya, mala petaka akan menimpa siapa saja di sekitarnya.
Itulah sebab mengapa dia selalu di kurung di pondok bambu terpencil di belakang sekte. "
Tidak lama seseorang terlihat muncul dari arah berlawanan, menghampiri mereka yang sedang membolos.
" Oh bagus, jadi kalian masih punya nyali untuk bolos pelatihan pagi? "
" Uwaa, senior anda mengagetkan kami "
" Cepat kembali! Latihan ! "
Seorang senior memarahi mereka bertiga yang sengaja membolos latihan pagi ke hutan bambu belakang sekte sekilas melihat sosok anak kecil yang masih berusaha mencari tongkat yang terjatuh.
Senior itu kemudian menghampiri membantunya mengambilkan tongkat yang dia cari.
" Silahkan, tuan muda jian "
Dia menyodorkan tongkat bambu kepada anak kecil itu. Anak itu menerimanya kemudian menundukkan kepala bermaksud berterima kasih, namun senior itu langsung pergi tidak ingin mendengar ucapan terima kasihnya.
Mendengarkan sosok orang yang membantunya mengambil tongkat bambu itu melangkah pergi, Jian yi an hanya dapat menunduk.
Kemudian tidak membuang waktu lagi, dia berusaha mencari jalan sendiri kembali ke gubuk bambunya.
Sudah 8 tahun lamanya dia hidup dalam kegelapan. Dalam 1 tahun terakhir ini dia hidup sendirian di sebuah gubuk belakang kediaman utama.
Bayangkan betapa kesepiannya dirinya. Meski setiap hari selalu ada pelayan yang membawakan makanan, dan mencucikan pakaiannya. Tetap saja, perlakuan itu sangat tidak cocok apalagi untuk anak berusia 8 tahun.
Dunia jian yi an begitu dingin.
Ketika dia akhirnya menemukan jalan kembali ke gubuk bambu miliknya, sebuah suara muncul.
" Namamu jian yi an ? "
Suara itu terdengar tiba-tiba, membuat jian yi an menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk mencari sumber suara.
" Si.. siapa yang berbicara ? "
Jian yi an begitu takut karena ini pertama kalinya dia mendengar suara orang lain di sekitar kediamannya. Biasanya tidak ada orang yang akan datang ke sini selain pelayan yang mengurus kebutuhannya.
Pelayan itu pun tidak pernah bersuara. Datang dan pergi begitu cepat.
" Aku? Aku adalah kakak ketigamu, Fan "
Suara itu terdengar lagi, namun asal suara itu terdengar tepat di hadapannya.
" Dan aku Su kakak ke empatmu. "
Suara seorang lagi terdengar dari depan, itu adalah suara seorang anak perempuan.
" Kakak ketiga? kakak ke empat ? "
" Benar, namaku Jian yi fan "
" Dan aku Jian yi su "
Sejak hari dimana mereka bertemu, dunia yang dingin jian yi fan berubah 180 derajat.
__ADS_1