
Hari itu adalah pertama kalinya aku diundang ke kediaman utama keluarga Bardsley.
Apakah ibu sudah mengakuiku?
Apa akhirnya kami akan hidup bahagia bersama sebagai keluarga.
Mendengar pelayan yang mengatakan kalau mereka akan membawaku ke kediaman utama membuatku bahagia. Rasa antusias terpancarkan di mataku.
Saat sampai dikediaman utama, aku langsung mencari sosok ibuku di setiap ruangan. Aku berhenti di sebuah ruangan yang terdapat di sudut rumah pada lantai dasar.
Di dalamnya aku melihat beberapa barang yang menarik. Sepertinya tempat ini adalah gudang tapi terawat dengan sangat baik.
Banyak benda-benda menakjubkan di tempat itu, seperti patung ukir, hiasan dinding, bingkai foto, aksesoris dan lain sebagainya.
Di sana aku melihat seorang pria terlihat berumur di awal 30 tahunan sedang mengerjakan sesuatu.
Aku yang penasaran mencoba mendekatinya. Dia merasakan keberadaanku dan menengok kearahku sampil tersenyum.
" Selamat siang, Tuan muda Edward "
Pria itu segera menghentikan pekerjaannya dan beranjak berdiri untuk menyapaku.
" Apa yang sedang anda lakukan?
Tempat apa ini?
Barang-barang di sini sangat menakjubkan! "
Aku yang antusias kembali melihat barang-barang di sekitar.
Pria yang ada di hadapanku adalah Gilbert Saxon. Di usia mudanya dia mendapatkan gelar Butler terbaik dari academy butler.
Keluarganya turun temurun melayani keluarga Bardsley padahal sangat banyak yang ingin merekrutnya, namun beliau tetap setia mendampingi keluarga Bardsley. Oleh karena itulah dia langsung diangkat menjadi kepala pelayan di usia yang terbilang cukup muda.
Tempat itu merupakan tempat penyimpanan barang-barang hasil buatan tangan Gilbert. Dengan kata lain barang-barang yang ada di sini adalah hasil ciptaannya.
Aku benar-benar terkejut. Barang-barang menarik di sini semua adalah buatannya.
" Hei, hei , Apakah anda bisa memberikanku salah satu barang-barang ini? "
Aku mencoba untuk meminta dengan wajah anak manis.
Kupikir dia tidak akan memberikannya dengan gratis, namum dia segera menanyakan barang apa yang kuinginkan. Dia akan memberikannya sebagai salam perkenalan.
Aku mengatakan, aku ingin memberikan sebuah hadiah untuk ibuku, kemudian Gillbert menyarankan sebuah topi yang cantik.
Setelah menerima topi tersebut aku dengan sopan mengucapkan terima kasih dan pamit pergi untuk mencari ibuku.
Gillbert bersedia untuk mengantatkanku dan kami pun menemukan ibuku sedang duduk di sofa ruang tamu sayap kanan.
Melihat ibuku sedang duduk bersantai, aku semakin antusias.
Apa yang akan ibuku katakan setelah dia menerima hadiah dariku?
Dia akan memujiku bukan?
Dia akan mengakuiku sebagai putranya. Aku yakin dia tidak mungkin membenciku. Akupun langsung berlari ke arahnya dan memperlihatkan sebuah topi yang indah.
Saat aku sampai di hadapannya, beliau tiba-tiba berdiri kaget dan mendorongku. Berteriak memanggil-manggil pelayan untuk menyeretku keluar.
Kenapa dia melakukan hal seperti itu?
Bukankah ibu yang memanggilku kerumah utama untuk tinggal bersama?
Seorang pria tua turun dari tangga dan membentak ibuku.
Aku tidak mengerti pembicaraan mereka, tapi aku tahu satu hal. Ibu tidak menginginkan keberadaanku di sini. Orang yang ingin aku berada di sini adalah kakek.
Apa yang harus kulakukan?
Apa aku akan dikembalikan ke kediaman yang sepi itu?
Gillbert mengajakku untuk beranjak dari tempat itu dan menggendongku keluar ruangan. Setelah di luar aku menanyakan pada Gillbert.
" Hei, apakah ibuku tidak menginginkan keberadaanku di sini? "
Aku menanyakan padanya namun dia hanya diam.
" Saya yakin, tuan muda adalah anak yang pintar. "
Dia hanya mengatakan kalimat itu.
Apa maksud dari jawaban itu, apakah iya atau tidak. Kenapa tidak mengatakan saja ibuku membenciku atau tidak agar aku bisa tahu.
Setelah kejadian itu, kakek menemuiku dan mengatakan kalau aku akan menjadi penerusnya, dengan begitu mulai saat itu aku akan mempelajari segala hal yang berhubungan dengan etika dan perusahaan.
Memaksa seorang anak belajar keras pada usia kurang dari 6 tahun. Beliau menyiapkan beberapa tutor untuk mengajarkanku.
Rasanya aku seperti ingin muntah. Mereka memaksaku untuk mempelajari semuanya, tidak memberi kesempatan untuk bermain bersenang-senang.
Tidak lama sejak aku menerima pengajaran dari para tutor di kediaman utama, ibuku melahirkan adikku.
Saat itulah aku mendengar kalau ibuku, dia pergi untuk selamanya setelah melahirkan adikku.
" Tuan muda, ibu tuan muda.
Beliau sudah pergi jauh dan tidak akan bisa kembali. "
Seorang pelayan dengan lembut menginformasikan hal itu.
Dia berpikir mungkin aku akan menangis mendengar berita seperti itu. Aku tidak mengerti perasaan yang ku rasakan saat ini.
Proses pemakaman berlangsung, melihat orang-orang datang dan pergi memberikan salam belasungkawa. aku masih tidak dapat menangis.
Pelayan mencoba menghiburku, aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan. Aku tidak memiliki perasaan yang harus di hibur.
Karena bosan, aku pergi ke ruangan lain. Di sana aku melihat sebuah tempat tidur kotak. Di dalamnya ada seorang bayi perempuan yang sangat mungil.
Aku memanjat untuk mendekatinya.
" Tuan muda! "
Seorang pelayan yang baru kembali berteriak melihat tuan mudanya memanjat pagar tempat tidur bayi. Dia langsung menurunkanku.
" Tuan muda, anda tidak boleh memanjat seperti itu.
__ADS_1
Bagaimana kalau sampai terjatuh dan terluka. "
Pelayan yang sudah merasa lega setelah membantu menurunkan tuan mudanya.
" Tuan muda ingin melihat adik tuan muda?
Kalau begitu biar saya siapkan sebuah tumpuan. "
Pelayan langsung memindahkan sebuah kursi ke samping tempat tidur bayi dan membantuku berdiri di atasnya.
Aku bisa melihat sosok bayi tersebut, kali ini dengan jelas. Bayi mungil di hadapanku adalah orang yang membunuh ibuku.
Tidak, bukan.
Dia adalah orang yang sudah membantuku menyingkirkan penyihir jahat.
Sekarang penyihir itu tidak akan pernah kembali lagi.
Dia akan menjadi adikku.
Apakah suatu hari nanti dia juga akan membantuku menyingkirkan pria jahat yang selalu memukulku?
Sejak carol lahir, aku sering mengunjunginya untuk melihat pertumbuhannya.
Waktu berlalu dengan cepat. Carol sudah berumur 6 tahun. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat cantik. Kehidupanku juga tumbuh dengan baik.
Selama aku mengikuti pelajaran yang diberikan oleh tutor, aku mulai terbiasa dan tidak merasa terbebani. Itu semua berkat carol.
Carol selalu dapat menghiburku dengan tingkahnya. Dia anak yang manis. Mulai saat itu juga pria jahat itu tidak pernah memukulku.
Itu karena aku selalu di awasi dimanapun aku berada. Kurasa menjadi pewaris keluarga Bardsley bukan sesuatu yang buruk.
Suatu hari carol membawa pulang seekor kelinci yang terluka dari taman.
Sejak kapan di taman ada kelinci hidup?
Kami tidak pernah memelihara binatang ini. Dari mana dia berasal. Aku langsung mengambil kelinci di tangan Carol dan mengatakan pada carol untuk tidak khawatir.
Luka pada kelinci tidak terlalu parah. Dia hanya memiliki sedikit luka di kakinya yang membuatnya kesulitan untuk berjalan, jadi aku membawanya ke kamarku untuk dirawat.
Saat itu matahari sudah terbenam.
Saat aku kembali ke kamar setelah mencari beberapa obat luka dan perban suatu yang mengejutkan terjadi.
" Si.. siapa ?! "
Aku berteriak setelah melihat sosok bayangan di dekat jendela.
Saat mendekat aku melihat seorang pria dengan rambut merah dan mata merah bercahaya berdiri di bawah sinar rembulan.
Dia menggunakan baju dan celana putih. Berdiri samping jendela yang di terangi oleh cahaya rembulan.
Saat aku melihatnya, dia memiliki bekas darah di kaki kanannya. Sepertinya dia sedang terluka, sama seperti kelinci putih yang ku bawa.
Setelah diam sejenak akhirnya orang itu mulai ingin berbicara. Namun yang berbicara adalah perutnya.
Apakah dia lapar?
Suara perut yang keroncongan di susul dengan suara perutku.
Pada akhirnya aku pergi ke ruang masak untuk meminta beberapa cemilan dan kembali ke kamarku.
Aku tahu, seharusnya aku tidak memperlakukan penyusup sebaik ini. Sempat terpikir olehku, seharusnya aku memanggil penjaga saja.
Bagaimanapun membiarkan orang asing berkeliaran di sekitarmu cukup berbahaya, tapi aku mengurungkan niat itu. Entah kenapa saat melihatnya aku merasakan sesuatu yang familiar.
Tapi aku tidak tahu sesuatu itu apa.
Setelah kupersilahkan dia hanya memandangi cemilan dengan air liur di samping mulutnya. Kalau kau memang ingin makan saja.
" Kau boleh memakannya! "
Aku mengatakan sepatah kata itu.
Tangannya gemetar namun dia mulai ingin menggapai makanan di meja namun segera berhenti.
" Apakah tidak apa?
Apa aku boleh memakan semua makanan ini? "
Mengejutkan, dia mulai berbicara.
Mendengar pertanyaannya aku membalasnya dengan anggukan. Melihat anggukanku, dia mulai menyantap cemilan yang ada di atas meja dengan cepat.
Aku yang kesal menghantamkan cangkit teh yang kupegang ke atas meja.
" Crang ! "
" Kau tidak perlu terburu-buru!
Apa kau tidak punya sopan santun?!
Kau bisa memakan semuanya tapi pelan-pelan! "
Aku mengatakannya.
Aku tidak pernah berpikir aku akan menjadi orang yang tegas seperti ini. Padahal selama bersama adikku aku tidak pernah setegas ini padanya.
Setelah memakan semua cemilan yang disediakan diatas meja akhirnya pria itu sudah bersedia menjawab pertanyaanku.
Dia mengatakan kalau dia adalah roh kelinci. Saat sedang dalam perjalanan kembali ke sarang, dia diserang oleh gagak yang mengincar permata di lehernya.
Ngomong-ngomong soal permata, pria itu menyentuh lehernya. Wajahnya mulai terlihat panik. Aku sudah dapat menebak.
" Kau kehilangannya? "
" Mereka mencurinya? "
Ucapan tersebut diucapkan bersamaan.
" Omong kosong!
Mana ada kelinci yang bisa berubah menjadi manusia, atau kelinci yang membawa permata kemana-mana "
Aku tidak mau mempercayai omong kosong itu.
Tetapi, orang itu menceritakan dengan detail, sedang apa dan untuk apa dia mencari batu permata. Mendengarnya membuatku semakin tidak percaya.
__ADS_1
Apa ini jebakan?
ini scam!
Namun pria itu mengatakan dia bisa membuktikannya. Dia ingin membawaku ke sarangnya.
Kebetulan sarangnya selalu berpindah-pindah dan kali ini sarangnya tidak jauh dari tempat itu. Saat itu malam hari, akupun nekat menyusup keluar kediaman dipandu oleh pria itu. Entah apa yang merasukiku.
Kami sampai ke sebuah pohon besar yang ada di ujung taman.
" Kau membuat sarang dikediaman orang lain? "
Ucapku tidak percaya.
" Um, kau bisa masuk ke dalam kalau mendapatkan izin dariku.
Silahkan "
" Masuk?
Bagaimana aku masuk?
Dimana pintu masuknya ?
Ini hanya sebuah po.. "
Aku yang tadinya ingin memegang pohon tersebut tidak dapat memegangnya. Aku kehilangan keseimbangan dan tersedot masuk ke dalam pohon.
Di dalam pohon terdapat sebuah kamar kecil hanya dengan sebuah tempat tidur kecil dari jerami dan beberapa meja tingkat dengan banyak perhiasan di setiap tingkatnya.
Saat aku melihat ke atas, di atas terdapat sebuah bola kristal kecil bercahaya, melayang di langit-langit. Aku tidak mau mempercayainya, tapi aku harus mempercayainya setelah melihat semua ini.
Aku melihat ke arah pertama kali masuk, aku tidak melihat pria itu, yang kulihat hanya seekor kelinci.
Lukanya sudah menutup. Apa yang sebenarnya terjadi. Kelinci itu memperkenalkan diri. Dia menceritakan maksudnya berkeliling.
Dia mencari teman kontrak untuk mengumpulkan teman-temannya yang tersebar di seluruh dunia.
" Sekarang apa kamu bermaksud untuk mengikat kontrak denganku?
Jangan bercanda!
Siapa yang mau ? "
Mendengar perkataanku, kelinci tersebut mulai berubah menjadi sosok anak kecil. Dia lebih pendek dariku, umurnya mungkin sekitar 3 tahun di bawahku.
" Siapa juga yang mau mengikat kontrak denganmu! aku tidak memilih lawan kontrakku sembarangan huh "
Orang ini, beraninya dia bertingkah lebih arogan dariku.
" Kamu "
Dia menatapku dengan mata merahnya.
" Apa kamu benar-benar manusia? "
Mendengar pertanyaannya, aku tidak mengerti apa maksudnya.
Apa kau mau bilang kalau aku bukan manusia?
Omong kosong macam apa ini.
" Kau itu yang bukan manusia! "
Aku membentak.
" Hhmm , bagaimana ya menjelaskannya ya.
Tubuhmu memang terlihat seperti manusia, tapi seperti yang kamu perlihatkan hanyalah cangkang.
Jangan bilang.. "
" Apa?
Jangan bilang apa?! "
" Jangan bilang kalau kita sebenarnya sejenis, dan kau datang ke kediaman itu berharap untuk mengikat kontrak dengan anak perempuan di kediaman ini? "
Dia mengatakan apa yang tidak dapat kumengerti.
Entah kenapa aku merasa marah mendengar perkataannya.
" Mengikat kontrak katamu?!
Jangan-jangan kamu datang ke adikku untuk menjerumuskannya ke dalam kontrakmu?! "
" Adikmu?
Aneh, kalian tidak memiliki bau darah yang sama.
Aku tidak bisa percaya "
" Itu karena kami beda ayah "
" Bukan itu, aku melihat kalian sangat berbeda.
Kau tidak sedang berpura-pura menjadi kakaknya kan? "
" Bicara omong kosong apa kamu! "
Aku tidak mengerti omong kosong yang dia katakan.
Berpura-pura menjadi kakak carol?
Omong kosong!
Aku adalah kakaknya!
Benar kan ?
Aku adalah Edward Bardsley, aku adalah kakak Carol.
Sejak saat itu kehidupan Edward Bardsley berubah. Dia merasa, entah kenapa dia harus mulai mendengarkan perkataan kelinci itu.
Apa aku benar-benar kakak carol?
" Bagaimanapun juga, aku mencium kalau kamu
__ADS_1
sepertinya,
Bukan dari dunia ini kan? "