
Kalau dipikir sudah seribu tahun.
Kira-kira sudah seribu tahun aku bekerja di tempat ini.
" Haebin Oh, apa kau sudah selesai ? " Seorang pria berjas hitam berteriak memanggilku dari kejauhan.
" Haebin, sudahi saja pekerjaan hari ini. Ayo kita pergi minum.
Eun jae bilang dia yang akan traktir. " Ucap satu orang lagi yang sedang bersender di pintu.
" Kalian berdua ini. Meskipun sudah waktu istirahat. Tetapi tetap saja, tidak sopan bersikap seperti itu di hadapan client. " Oh Haebin berbicara sambil menyentuh kacamatanya.
" Maafkan atas ketidak sopanan mereka nek.
Kalau begitu bagaimana kalau kita lanjutkan.
Nek, apakah nenek bisa menjelaskan kejadiannya kembali ? " Oh Haebin menghiraukan ajakan teman-temannya dan kembali berkonsentrasi pada client dihadapannya.
Saat oh haebin bertanya kepada nenek dia bingung kenapa nenek itu tiba-tiba terdiam bengong.
" Nenek ? apa anda bisa menceritakan kronologinya kembali ? " Oh Haebin mengulangi.
" Oh ah iya, cucuku
cucuku menghilang saat pergi pariwisata. " Nenek itu menjawab.
" ... " Oh Haebin terdiam. Dia kembali melihat lembaran kertas di tangannya.
" Nek, bukankah tadi anda mengatakan kalau anak anda menghilang saat pergi ke puncak ? " Oh haebin membacakan catatan yang dia tulis.
" Oh ? apa aku mengatakan anakku ?
Ahaha pak petugas ini bercanda. Yang menghilang adalah cucuku. Dia di culik. " Nenek yang duduk di hadapan Oh haebin mengatakannya dengan yakin.
" ... "
" Kalau begitu apa nenek masi mengingat tanggal kejadiannya ? " Oh Haebin masi dengan sabar bertanya.
" Tanggal ? Tanggal pernikahan ku dan kakek ? Tentu saja ingat.
Tunggu sebentar. Kapan ya ah 23 maret. Oh sepertinya bukan
oh 7 oktober ?
Sepertinya juga bukan. Ahaha pak petugas ini menanyakan hal yang sulit. " Sang nenek masih tertawa.
Tertarik mendengar percakapan antara Sang nenek dan oh haebin, kedua teman yang masih menunggu di pintu menahan tawa.
Mendengar suara itu Oh haebin sedikit kesal. Bagaimana tidak. Sudah berapa lama dia berbicara dengan nenek yang berada di hadapannya. Pertanyaan yang dia lontarkan selalu di jawab dengan jawaban dari pertanyaan lain.
Bukan hanya itu. Orang yang ada di hadapannya selalu memberikan kronologi kejadian yang berbeda.
" Kalau begitu mari kita akhiri sampai di sini hari ini. " Ucap oh Haebin.
" Oh? sudah selesai ? " nenek itu begitu senang mendengar perkataan oh haebin dan berdiri kegiranga.
" Sepertinya anda begitu senang. Apa yang membuat anda begitu senang sampai seperti itu ? " Oh haebin menanyakan dengan senyuman paksa.
" Petugas oh. Nenek tidak tahu apa yang membuat pak petugas begitu tertarik pada nenek.
Tapi nenek sungguh tidak dapat menerima perasaan pak petugas. Itu karena nenek masih mencintai kakek.
Jadi, lebih baik pak petugas Oh mencari kandidat lain. Pak petugas masi terlihat muda, dan pasti akan menemukan calon yang pas.
Jangan dengan nenek " Sang nenek berbicara dan langsung lari tergirang girang namun membuat Oh haebin tak dapat berkata-kata mendengarnya.
" Fuahahahahhahaahahahaha " Suara tawa terdengar dari arah pintu.
Dua orang yang dari tadi menunggu Oh haebin ternyata masi mendengarkan dengan seksama dan mereka sudah tidak dapat lagi menahan tawa mereka.
Mendengar suara tawa itu, oh haebin hanya dapat mendesah.
' Haaaahhh, kalau seperti ini terus aku bisa gila. '
" Haebin oh, sudah waktunya istirahat, ayo kita minum " Eun Jae mendekati Haebin dan merangkulkan tangannya ke bahu haebin untuk memberinya semangat.
" Kau yang traktir?
Sungguh ? " Haebin memastikan.
" Itu mudah. Aku yang traktir. Sungguh ! " Eun jae menyakinkannya dan haebin mulai berjalan keluar menghampiri satu orang lagi yang masi bersender di pintu.
" Aku tidak percaya.
Sudah berapa kali dia mengatakan akan traktir tapi ujung-ujungnya aku yang membayar di akhir. " Ucap Haebin kepada orang yang bersender di pintu.
__ADS_1
" Hee ? kapan aku begitu ? " Eun jae bertanya mengikuti jejak haebin.
" Hampir setiap kali keluar.
Kau memang selalu begitu. " Oh haebin memalingkan wajahnya dari temannya dan mengambil jas yang tergantung di samping pintu masuk.
" Sudahlah siapapun yang membayar tidak penting. Yang penting mari kita minum untuk mengurangi stres.
Dan lagi. Kau masih belum menyerah soal nenek seoja ? Kau tahu dia itu kan ahahha, aku tidak bisa menahan tawaku saat melihatmu menghadapinya.
Sepertinya stresku hilang. " Ucap Mo yong.
" Kalian ini. Kalau sudah dapat hiburan bantu sedikit dong. " Kecam Haebin.
" Ahahaha tidak mau! coba suruh eun jae saja. " Mo yong membalas.
" Dari pada berurusan dengan nenek seoja. aku lebih memilih menarik seribu nyawa di bawah. " Eun jae menolak.
" Kalau begitu kenapa tidak lakukan tugasmu dengan baik " cela haebin.
" Eh ? apa aku masih belum melakukan tugasku dengan baik ?
Lihat ! Lihat ini. Rating ku 5/5.
Aku selalu mengerjakan tugasku dengan sempurna " Ucap Eun jae menunjukkan smartphonenya.
" Hhmm ? Ratingmu sangat mencurigakan. Bagaimana kamu bisa mendapatkan penilaian sempurna?
Bahkan aku sulit mempertahankan penilaian. Lihat, ratingku turun jadi 4.7/5 " Mo Yong mengeluh.
" Haha, memang sulit hidup menjadi orang yang sempurna sepertiku. Kalian pasti iri. iri kan ? "
" Omong kosong " Haebin menyela.
" Ei ei, haebin kita.
Coba perlihatkan ratingmu. " Eun jae menggoda dan merangkulkan tangannya lagi ke bahu haebin.
" Berisik, jangan sentuh-sentuh " Haebin mencoba menolak rangkulan eun jae.
" Lihat, sepertinya haebin kita sedang ngambek. " Eun jae masi menggoda dan mo yong masih tertawa.
Begitulah keseharian Oh Haebin yang dijalani.
Dan pekerjaan kami bukan sebagai pegawai kantoran melainkan pekerjaan terkenal yang di sebut dengan ' Dewa Kematian '.
Itulah yang sebenarnya aku, Oh haebin jalani selama 1000 tahun di alam baka.
Cerita itu berawal saat aku masih hidup di sebuah negara bernama Kareo.
Namaku Oh Haebin, 28 tahun dan seorang pengangguran.
" Oh Haebin !! Keluar !!
Hoi !! Keluar !! " Terdengar suara teriakan dan gedoran pintu dari luar.
Mendengar itu aku tidak perlu melihat siapa orang yang ada di balik pintu. Aku yang baru saja terbangun dari tidur lelapku mencoba untuk berdiri meskipun rasanya tubuh itu berat.
" Ya bu pemilik kontrakan? " Jawabku setelah membuka pintu dengan sigap.
" Ya ya ya !? Kapan kamu akan melunasi uang kontrakan?!
Saya sudah tidak bisa tutup mata lagi. Sudah 3 bulan kamu menunggak uang kontrakan.
Kalau kamu tidak bisa bayar silahkan pergi!
Memangnya saya tidak butuh uang ?! " Ucapnya.
" Maaf bisa beri saya waktu ?
Saya pasti akan bayar bu. " Ucapku menenangkan.
" Kapan ?
Kapan kamu akan bayar? Kamu sudah menjanjikan minggu depan minggu depan tapi apa hasilnya ?
Pokoknya saya tidak ingin tahu !
Keluar dari kontrakan saya !
Saya ingin kamar ini beres besok. " Ucap ibu kontrakan dan langsung pergi.
Aku yang masih terdiam berdiri di depan pintu kemudian mulai melihat keadaan sekitar. Beberapa dari tetangga kontrakan menyaksikan kejadian memalukan itu.Aku hanya dapat menggaruk kepala lalu langsung menutup pintu kembali.
" 28 tahun, berat badan 100 kilo, pengangguran dan tidak memiliki kekasih ... "
__ADS_1
Aku yang mulai melihat refleksi diriku saat itu pada cermin di ruangan gelap.
" Apa masih ada gunanya aku hidup ? " Menatap tajam pada diriku di cermin.
Tidak berselang lama, terdengar nada dering dari handphone di atas meja. Kugapai handphone itu dan melihat, siapa yang menelpon di jam seperti ini.
Saat kulihat nama dan nomor yang telihat di layar adalah nomor ibuku.
" Ibu ? Ada apa menelpon ? " Tanya ku dengan lembut.
" Oh, haebin ah. Bagaimana kabarmu di sana? Sudah mendapat pekerjaan baru ? " Ibuku bertanya cemas.
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Merasa tidak enak aku berbohong pada ibuku.
" Ibu, tidak perlu cemas. Kemarin aku mendapatkan panggilan interview.
Sepertinya kali ini akan lancar. " Aku menjawab.
" Uhuk uhuk, syukurlah. Ibu tenang mendengarnya.
Nak, apa kamu sudah makan? " Tanya ibu.
" Ibu, apa ibu sedang sakit ?
Ibu batuk ? " Aku yang teralih mendengar suara serak ibuku.
" Tidak, ibu tidak batuk
Ibu hanya
uhuk uhuk. Ibu hanya sedang memasak. Baunya membuat ibu bersin " Jawab ibu menenangkanku.
Aku tahu, bagaimana bersin karena memasak sampai seperti itu ? Ibu hanya tidak ingin membuatku cemas.
" Haebin ah, begini..
Untuk bulan depan. Apa bisa mengirim uang ?
Adikmu, Haena. Ibu kasian pada adikmu. bulan depan sekolahnya ada pariwisata. " Terdengar suara ibuku yang terdengar ragu berbicara.
" Ibu jangan cemas. Akan aku usahakan mencari uang untuk biaya pariwisata Haena. " Ucapku menenangkan.
Bagaimana aku bisa mendapatkan uang ? Sedangkan uang kontrakan saja menunggak sudah 3 bulan.
Rasanya aku sudah tidak kuat lagi. Sepertinya hari ini aku harus mencari jalan lain.
Hal itulah yang terpikirkan di benakku. Sambil memikirkan bagaimana aku bisa melunasi hutangku, aku mulai melihat iklan lowongan kerja sambilan di internet.
Setelah beberapa saat aku mencatat beberapa tempat kerja dekat yang mungkin akan menerimaku. Pekerjaan serabutan apapun, selama aku bisa menghasilkan uang bukan masalah.
Setelah beberapa saat sebelum berangkat, suara nada dering terdengar lagi dari handphoneku. Kali ini ku cek nama penelpon menampilkan nama Adikku Haerim.
Sebelumnya aku ragu ingin mengangkatnya atau tidak. Tapi aku sedikit penasaran apakah ada sesuatu yang penting terjadi jadi aku memutuskan untuk menerima panggilan itu.
" Halo ? Oppa ? " Terdengar suara wanita dari sebrang telpon.
" Haerim ada apa ? " Tanyaku.
" Oppa, aku mendengar dari ibu. Ibu bilang oppa akan membayarkan biaya tour haena ? " Tanyanya langsung.
" Oppa akan usahakan " Jawabku.
" Oppa, apa oppa tidak keberatan ? Apa oppa sudah bekerja ? Kalau oppa belum aku masih bisa .. "
Sebelum Haerim dapat melanjutkan perkataannya aku menyelanya dengan lembut.
" Haerim ah, oppa tidak apa-apa. Lagi pula sebentar lagi kan kamu mau melahirkan. Sebaiknya uangnya ditabung untuk persalinan nantinya. " Aku mencoba meyakinkan Haerim.
" Oppa sungguh tidak apa-apa?
Oppa tidak bohong kan? " Tanyanya lagi memastikan.
" Sudah dulu ya, oppa ingin berangkat kerja " Ucapku ingin langsung mengakhiri permbicaraan.
" Oppa semangat. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri " Sarannya dan langsung menutup telfon.
Mendengar adik yang mengkhawatirkan kakak sampah seperti dirinya membuat hatiku sedikit pilu. Bagaimanapun aku harus berjuang. Demi ibuku, demi adik-adikku juga.
" Semangat Oh Haebin !
Kamu harus mendapatkan pekerjaan hari ini ! " Sambil menepuk kedua pipinya dengan telapak tangannya.
Aku tidak lagi memikirkan mengenai kontrakan. Aku harus memikirkan bagaimana mencari uang hari itu juga. Pekerjaan sambilan yang harus langsung mendapatkan uang harian.
Tetapi aku tidak menyangka kalau hari itu ternyata adalah hari terakhirku.
__ADS_1