
Semua orang yang melihat Haebin melompat dari tempat itu heboh dan mengatakan kalau dia gila.
" Memang benar kalau aku gila lalu kenapa ?!
Hahahaha, melakukan hal semacam ini,.. " Haebin tertawa saat terjun.
" Dengan kecepatan seperti ini kupikir 10 hitungan cukup " Haebin mulai memperhitungkan perkiraan jatuhnya.
Dia mulai menghitung mundur dari 10. Ketika mencapai hitungan terakhir dia menggigit kopernya dan mulai mengeluarkan sesuatu dari telapak tangan kirinya menggunakan tangan kanannya.
Dia menarik benda panjang dari telapak kanannya. Itu adalah sebuah sabit besar. Sabit dewa kematian miliknya.
Setelah mendapatkan sabitnya dia mulai memperbaiki posisi jatuhnya masih dalam keadaan menggigit pegangan kopernya dan dengan sabit besar dipegang dengan kedua tangannya lalu bersiap meregangkan tubuhnya dan.
" Buuuuzzzzzzz Ckiiiitttttt " Menancapkan sabit dewa kematian tepat di tiang pusat menyebabkan suara gesekan yang begitu pekik.
Namun itu tidak menghentikan haebin dari jatuhnya. Dia masih terus turun membuat suara pekik karena gesekan sabit dengan tiang membentuk cakaran panjang hingga akhirnya berakhir tepat sebelum mencapai lempengan hitam.
Karena suara gesekan pekik semua orang yang berada di distrik tersebut melihat, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Suara gesekak itu begitu pekik sehingga membuat beberapa orang tanpa sadar menutup telinga mereka hingga mereka tidak mendengar suara pekik itu lagi.
" Ah, mohon maaf atas ketidak nyamanannya. " Haebin meminta maaf setelah menarik sabitnya dari tiang kemudian kembali berjalan dan melompat.
Tentu saja bekas goresan pada tiang entah bagaimana menghilang. Tiang tersebut mampu meregenerasi ke bentuk semula, tanpa goresan.
Seperti biasa mereka yang sedang berada di distrik menunggu perbaikan lift kaget melihat seseorang melompat.
Jelas saja cara ini cukup mainstream namun haebin cukup menikmatinya. Hal itu seperti terjun bebas dari pesawat dan berlandas.
Untuk Sampai ke distrik pusat dia harus melewati 3 distrik. Dia sudah melompat dua kali, dan jika dia melompat sekali lagi maka dia akan sampai ke distrik pusat. Namun ketika haebin akan melompat seseorang memanggilnya.
" Oh, bukankah kamu Haebin ? Lama tidak berjumpa. "
Ketika mendengar sebuah suara menyebutnya dari kerumunan, Haebin yang hendak melompat mengurungkan niatnya kemudian melihat ke arah sumber suara.
Seorang pria terlihat berpakaian rapi dengan jas hitam membawa koper keluar dari kerumunan.
" Ah, rupanya benar, aku tidak salah mengenali wajah itu. Kamu benar Haebin kan ? " Ucapnya lagi memastikan.
" Anda ? " Haebin berbicara setelah mengambil koper yang dia gigit dan kemudian mencoba mengingat identitas orang yang memanggilnya itu.
Di lihat sekilas, sangat jelas kalau dia adalah seorang dewa kematian sama sepertinya. Tetapi Haebin merasa tidak pernah bertemu dengan orang itu.
" Ah, kamu pasti tidak mengingatku. Kau ingat kita pernah bertemu. Saat itu kamu masih baru menjadi Dewa kematian." Ucapnya mengingatkan.
" Ah, maaf ingatanku cukup buruk. "
" Tidak apa tidak apa. Aku cukup terkejut melihatmu di sini. Oh kalau tidak salah namamu juga tertera di daftar senior pelatihan? " Tanyanya.
" Itu benar. Saya sedang dalam perjalanan. "
__ADS_1
" Dengan melompat dari distrik atas ? "
" ... Lift nya rusak " Haebin mencoba memberikan jawaban namun seketika terdengar suara pengumuman.
" Mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Saat ini list antar distrik telah selesai di perbaiki.
Sekali lagi mohon maaf atas ketidak nyamanannya. " Suara informan.
" Nah lift nya sudah selesai di perbaiki. Sepertinya kita harus bergegas agar tidak terlambar.
Ah, apakah mungkin nah haebin ingin melanjutkan (melompat) ? " Tanya pak tua itu.
" Tidak, izinkan saya ikut " Haebin memutuskan untuk menggunakan lift bersama.
Antrian saat itu tidak begitu ramai seperti distrik atas. 12 buah lift yang sudah beroperasi kembali membuat haebin langsung masuk ke dalam lift.
" Cukup mengejutkan mendengar lift pusat rusak.
Tapi cukup mengejutkan lagi melihat nak Haebin melompat dari satu distrik ke distrik lain. Hahaha, kalau saja aku masih muda mungkin aku juga akan melakukannya. " Puji pria tua itu.
" Anda terlalu berlebihan. Biasa saja. " Ucap Haebin formal.
" Uoo kamu terlalu formal. Oh apa kamu lupa siapa aku. Aku adalah rekan baik master Baek.
Kita pernah bertemu saat kamu sedang dalam pelatihan menjadi dewa kematian. " Ucapnya.
Mendengar perkataan pria itu Haebin sedikit mengingat seseorang. Dia mulai mengingat pria yang selalu datang untuk mengajak Masternya bermain Igo.
" Ah, tuan Ho ? "
Bagaimana mungking Haebin melupakannya. Apa yang sebenarnya ada di kepala Haebin. Bagaimana mungkin dia melupakan jasa Tuan Ho selama dia masih dalam pelatihan menjadi dewa kematian.
Pria yang ada di hadapan Haebin tersebut adalah Ho byung min. Beliau merupakan sahabat dekat master baek wo bin yang merupakan pelatihnya.
Sudah berkali-kali tuan Ho menyelamatkan haebin dari jadwal training yang seperti di neraka. Dia juga banyak membantunya dalam latihannya. Kalau bukan karena Haebin di latih untuk menjadi penerua master baek, dia pasti sudah berada di bawah kaki orang ini memohonnya untuk menjadikannya murid. Bagaimana mungkin Haebin melupakan hal itu.
Dalam perjalanan haebin menggunakan waktu ya untuk saling bertanya kabar. Sudah seribu tahun mereka tidak pernah berkomunikasi seaktif itu, Tuan ho juga menanyakan kabar dari master Baek karena setelah haebin menjadi penerus master Baek, tuan Ho sudah tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi.
15 menit sudah berlalu di dalam lift, akhirnya mereka sampai ke distrik pusat.
Di depan lift, jalan ke arah distrik pusat terdapat pemeriksaan ketat. Hal itu memang sudah biasa, namun kali ini pemeriksaannya seperti di perketat. Apa telah terjadi sesuatu ?
" Kudengar hari ini ada penyusup yang masuk ke distrik pusat. Penyusup itu juga yang menyebabkan kerusakan pada lift.
Mungkin peserta pelatihan kali ini juga di periksa dengan ketat. Sangat jarang terjadi hal memalukan seperti kemasukan penyusup di hari seperti ini. " Tuan Ho membicarakan apa yang dia ketahui.
Memang benar penjagaan seperti ini sangat berlebihan. Mendengar tentang penyusup membuat Haebin sedikit penasaran. Menyusup di hari seperti ini, mungkin hanya seorang idiot yang akan melakukannya.
Penjagaan saat hari biasa saja sudah terbilang ketat. Dia menyusup saat hari pelatihan. Haebin hanya dapat menggelengkan kepala sambil menunggu kabar kalau penyusupnya sudah di tangkap.
Setelah melewati pos pemeriksaan, haebin dan Tuan ho segera pergi ke kantor untuk melapor.
__ADS_1
Saat perjalanan mereka sudah dapat melihat murid pelatihan yang sudah berbaris di aula utama.
" Woah, tahun ini kita memilik cukup banyak calon dewa kematian.
Kalau di lihat-lihat sepertinya jumlah calon dewa kematian tahun ini 3x lipat dari jumlah calon dewa kematian seribu tahun yang lalu. Mungkin karena profesi ini sedang populer. " Ucap tuan Ho.
" Anda benar. Saat saya baru menjadi dewa kematian dulu, pesertanya tidak sebanyak ini.
Kalau tidak salah, mereka semua adalah peserta yang berhasil melewati tes tertulis. Apa kita akan melatih mereka yang telah lolos tes tertulis ? " Tanya haebin.
" Entahlah.
Mungkin saja kali ini mereka mempekerjakan kita untuk sekalian menjadi panitia penilai tes? " Tanggal Tuan Ho.
Sepertinya bukan hanya Haebin saja yang penasaran. Ada yang berbeda dengan sistem penerimaan tahun ini. Namun apa yang dapat mereka lakukan hanya terus berjalan maju menuju ruang berkumpul untuk panitia.
" Sepertinya ini ruangannya. " Setelah memastikan tuan Ho membuka pintu ruangan tersebut.
Benar saja pintu itu membawa mereka ke ruang perkumpulan. Setelah melangkah beberapa langkah dari pintu terdapat beberapa anak tangga menuju ke bawah. Di ujung tangga tepat di depan mereka berdiri sebuah podium.
Setiap beberapa anak tangga berjajar kursi-kursi dan meja-meja yang telah di sediakan untuk tempat duduk panitia.
Melihat keadaan yang sepi hanya berisikan beberapa orang, Haebin menganggap kalau beberapa dari mereka ada yang belum hadir karena terjebak antrian karena kerusakan lift.
Tuan ho melirik ke sekeliling dan raut wajahnya berubah saat melihat seseorang wanita yang duduk di kursi depan dekat podium.
" Ohoho, mari kita lihat siapa ini.. " Tuan ho berbicara sambil berjalan menghampiri orang yang dia perhatikan.
" Oh bukankah ini tuan Ho, lama tidak bertemu. " Ucap wanita itu.
Setelah diperhatikan wanita itu memiliki porposisi badan yang sempurna seperti vas bunga cantik. Dia menggunakan kemeja putih lengan pendek dan mengenakan celana bahan hitam panjang. Mungkin karena pakaian yang dikenakan itulah, tubuh wanita itu terlihat begitu, menggoda ?
Yang Haebin pikirkan saat itu bukanlah tubuh bahenol wanita yang berbicara dengan tuan Ho. Yang menjadi perhatiannya adalah benda yang tergantung di pinggan wanita itu.
' Seorang dewa kematian ? Tapi tunggu dulu. Pakaiannya tidak menunjukkan seperti itu. '
Memang sangat jarang ada dewa kematian wanita. Bahkan wanita yang menjadi dewa kematian terbilang sangat sangat langka.
Ini pertama kalinya Haebin melihat dewa kematian wanita. Tentunya selain wanita yang ia lihat saat ia pertama kali menjadi dewa kematian.
Tuan Ho kelihatan menghormati wanita itu, jadi Haebin mengira kalau wanita itu bukanlah wanita biasa. Menanamkan hal tersebut dalam pikirannya Haebin mulai mendekati dan menundukkan kepalanya untuk memberikan hormat.
Wanita itu menyadari kehadiran haebin yang tiba bersama dengan tuan Ho dan menanyakan siapakah gerangan pria gagah yang datang bersama tuan Ho ?
" Ah, dia adalah dewa kematian penerus master Baek. " Jelas tuan Ho.
" Master Baek ? Master Baek yang anda maksud adalah master baek yang itu ?
Ini pertama kalinya aku mendengar Master Baek mengangkat seorang penerus. " Ucap wanita tersebut heran.
" Panjang ceritanya kalau di ceritakan sekarang.
__ADS_1
Mari kita duduk dan berbincang mengenai masa lalu sambil menunggu yang lain hadir ? " Tuan ho mengajak wanita itu untuk duduk dan berbincang bincang dengannya.
Haebin yang membaca situasi ikut duduk namun di bangku satu baris di belakang mereka.