
" Hahhaa, straigh flush! Kali ini aku pasti menang! " Ucap han seul gi yang senang karena dia yakin kali ini dia akan memenangkan permainan kartu itu.
" Hhmm, sayang sekali. Royal flush " Sahut tuan ho.
" Begitupun aku, Royal flush. " Tambah Xue li.
Mendapatkan kartu royal flush sangatlah sulit meski hanya untuk satu orang merupakan kombinasi yang sangat langka. Namun kali ini dua orang di hadapannya sama-sama mendapatkan royal flush. Seul gi dibuatnya membatu.
" Tidak mungkin. Pasti ada kecurangan ! " Seul gi tidak terima dengan hasil akhir yang seperti itu.
" Curang kau bilang ? Bagaimana caraku curang ? kau tidak memiliki bukti kan. " Ucap xue li yang mengambil sebuah spidol dari meja.
Itu adalah kekalahan ke sekian kalinya han seul gi dalam permainan poker bersama dua senior di hadapannya. Entah mengapa dia menjadi satu-satunya orang yang selalu kalah dalam permainan melawan orang orang di hadapannya. Itu adalah kekalahan sepihak.
" Kugambar apalagi ya hhmm. ah " Xue li mendapatkan ide.
Hanya tersisa sedikit ruang yang masih belum memiliki coretan di wajah han seul gi, Xue li mendapatkan ide coretan apa yang selanjutnya harus dia gambar. Dia membuka tutup spidol lalu menggambarkan sebuah kotoran di wajah han seul gi.
" Selesai ~ Dengan begini kau tidak bisa lagi mengikuti permainan.
Lihat, kau tidak mempunyai ruang lagi untuk hukuman nantinya kalau kau kalah lagi. " Xue li selesai mencoret wajah seul gi sebagai hukumannya.
" Siapa yang mau ! Dari awal kau yang memaksaku memainkan permainan sampah seperti ini! " Bentak Han seul gi.
" Lagi pula kau pasti bermain curang! Bagaimana bisa kau selalu mendapatkan royal flush pada setiap permainan ?! " Kecurigaan han seul gi sangat besar.
" Lihat lihat, kau benar-benar mencurigaiku yang bermain curang ?
Itu hanyakan keberuntunganku semata. Kau tahu aku ini memang selalu beruntung jadi tidak heran kalau aku mendapatkan kartu yang bagus. " ucap xue li.
' Beruntung macam apa ? Padahal saya yang melihat sendiri anda menukar kartu anda dengan kekuatan spatial milik anda ' pikitan tuan ho.
" Tuan ho, anda melihat sendiri kan ? bagaimana bisa dia menuduhku bermain curang ? " xue li meminta pendapat tuan ho.
" Sudah , sudah. Mari kita bereskan. Sebentar lagi kita akan sampai di stasiun dekat jembatan alam baka. " Ucap tuan Ho.
Benar saja, tidak lama terdengar suara pengumuman kalau kereta akan segera berhenti di stasiun tujuan kami.
Sebelumnya untuk menggunakan kereta, tuan ho mengajak xue li pergi ke kantor sipil untuk membuat kartu sementara. Beruntung mereka bertemu dengan Ha joon yang sepertinya sedang mencari informasi orang hilang. Karena suatu alasan kartu identitas yang xue li butuhkan jadi dalam kurun waktu 3 jam karena konfirmasi dari Ha joon.
Butuh waitu 2 jam untuk sampai ke stasiun dekat jembatan alam baka Distrik D.
" Lalu, di mana penginapannya ? " Tanya xue li yang langsung bertanya setelah turun dari kereta.
Kota dekat jembatan alam baka distrik D. Mereka menyebutnya perbatasan dunia akhirat. Tempat ini merupakan lokasi awal seluruh jiwa berkumpul setelah kematian.
Berbeda dengan pusat kota pada distrik D, tempat ini terlihat seperti pedesaan. Xue li tidak bisa percaya kalau gurun pasir yang baru saja mereka lewati adalah bagian dari satu distrik itu. Dia juga mengingat tempat ini hanyalah salah satu dari banyak lantai yang terbentuk dari rukha. Alam baka sangatlah luas, berapa besar kekuatan yang dibutuhkan untuk mengontrol rukha sebesar itu ?
Berjalan beberapa saat di tengah sawah akhirnya mereka menemukan sebuah toko klontong, di sana tuan Ho membeli bahan-bahan yang mungkin di butuhkan. Xue li juga melihat-lihat barang dagangan di toko tersebut.
Beberapa barang sudah diberi label harga ketika xue li melihatnya dia merasa aneh karena label harga itu terbagi menjadi beberapa bagian.
" Aneh bukan ?
Tidak seperti dunia lainnya, alam baka memiliki beberapa sistem pembayaran. " Jelas tuan Ho.
" Aku tahu " Xue li melanjutkan melihat-lihat barang-barang sekitar.
Hanya dengan melihat beberapa label harga, xue li bisa mengetahui tentang sistem pembayaran alam baka.
Alam baka, tempat di mana jiwa orang-orang yang telah meninggal berlabuh. Tempat itu seperti kehidupan kedua setelah meninggal. Tidak jauh berbeda dengan saat mereka hidup. Untuk bertahan di tempat ini mereka juga harus berjuang.
Saat Xue li tiba di stasiun sebelumnya, dia melihat tidak sedikit orang yang hidup menggelandang. Namun tidak sedikit juga mereka yang selain dewa kematian bekerja. Sekarang xue li mengetahuinya karena melihat label-label yang berbeda di toko itu.
Ada sesuatu yang dapat di beli dengan uang, dan ada juga yang hanya dapat dibeli dengan poin kebajikan. Lalu satu lagi..
" Barang yang hanya dapat di beli oleh dewa kematian. Namun tempat ini juga menerima pembayaran dengan point dewa kematian " Jelas tuan ho sambil menunjukkan beberapa pack ciggaret.
__ADS_1
" Anda juga mau beberapa ? " Tuan ho menawarkan.
" Saya tidak merokok " Xue li hanya mengabaikan tawaran tuan Ho.
" Begitu. "
" Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan. Ke villa di gunung itu " Tuan ho menunjuk ke arah sebuah gunung besar.
" Jadi kita sudah dekat ? Villainya ada di kaki gunung itu ? "
" Tidak, mereka berada di puncak. Dan aku membutuhkan banyak ciggaret untuk bisa mencapai ke sana. " Tuan ho memasukkan beberapa pack ciggaret ke kantong jasnya.
" Di atas ?
Sebenarnya tempat seperti apa yang bocah itu pesan?! " Xue li tidak habis pikir. Bagaimana dia bisa berakhir di tempat seperti itu.
Setelah berjalan beberapa menit akhirnya mereka telah sampai di kaki gunung. Mereka berniat pergi ke villa yang berada di atas gunung itu. Xue li tidak bisa berkata-kata. Dia tidak percaya bahwa villa itu berada di atas sana dan mengharuskan mereka mendaki untuk tiba di sana.
" Heh, saya yakin anda sudah lelah dengan perjalanan. " Tuan ho mengambil satu batang rokok yang dibelinya di toko klontong tadi. Dia menyalakan rokoknya lalu menghirupnya dan menghempaskan asapnya.
" Fuhhhh
Teknik kabut, penciptaan bentuk " Tuan ho megucapkannya dan asap rokok tersebut berubah menjadi sebuah model macan.
Teknik itu, dia pernah melihatnya sekali. Teknik yang di gunakan higan saat menciptakan dayang-dayangnya yang pernah xue li lihat. Teknik kabut.
Namun teknik itu tidak serupa dengan yang pernah dia lihat pada higan dono. Higan dono menciptakan dayang-dayang yang sempurna bahkan sampai ke detail penampilan dan warna. Namun macan yang dilihatnya saat ini berwarna abu sesuai dengan warna asap namun masih membentuk macan dengan sempurna.
Tuan ho menciptakan 2 macan lainnya dengan batang rokok lainnya dan akhirnya mereka sampai ke villa yang tepat di atas gunung tersebut.
Sesampainya di villa mereka tidak melihat tanda-tanda Oh haebin. Saat mereka sampai mereka langsung bertanya tentang reservasi atas nama Oh haebin, dan mereka mengkonfirmasinya bahwa itu benar, namun mereka juga mengatakan kalau orang bersangkutan belum sampai di tempat.
Itu artinya tim xue li yang pertama tiba di lokasi. Bagaimana bisa ? bukankah mereka duluan yang pergi ke lokasi ? Namun xue li hanya menghiraukan berpikir mungkin ada sesuatu penting yang harus ditanganinya dulu jadi mereka akhirnya masuk ke dalam villa dan di antarkan ke kamar masing-masing.
" Aku dengar tempat ini memiliki pemandian air panas yang terbaik.
" Itu ide yang bagus " Itu mengingatkan xue li kalau tubuhnya saat ini benar-benar tidak nyaman setelah dia tiba di alam baka. Tentu itu akan menjadi tempat rileksi terbaik. Pemandian air panas.
Jadi xue li mencari jam yang pas untuk menikmati pemandian air panas.
################################
Di sisi lain tempat Oh haebin dan ke 8 calon dewa kematian lainnya berada.
" Hari sudah semakin gelap, sepertinya mau tidak mau kita harus bermalam di sini. " Ucap Haebin melihat ke arah matahari buatan.
Matahari di tempat itu berbeda dengan matahari yang sesungguhnya. Itu adalah matahari buatan yang di gunakan untuk menentukan sistem waktu alam baka.
" Kruyukruyukkk "
Sudah lebih dari 8 jam mereka berjalan di tengah padang pasir. Jelas para calon dewa kematian sudah dari tadi menahan lapar. Mereka tidak akan mendapatkan makanan di tengah padang pasir. Mereka ingin segera keluar dari tempat itu namun Oh Haebin menyarankan untuk bermalam di tengah pasir.
" Senior oh, Bukankah lebih baik kita melanjutkan perjalanan ? " He an bertanya.
" Tidak bisa. Tempat ini terkenal dengan bahaya pada malam hari. Tidak mungkin untuk kita melanjutkan perjalanan. "
Setelah saat Haebin mengatakan terdengar suara gemuruh dari dalam pasir.
" Gempa ? " Hal itu membuat beberapa dari calon dewa kematian yang tadinya duduk beristirahat kembali berdiri.
" Baru saja di bicarakan.
Semua, kalian harus waspada terhadap serangan !! " Baru saja oh Haebin ingin memperingatkan para calon dewa kematian, tanah di tempat mereka berdiri tiba-tiba meninggi.
Mereka merasakan sesuatu yang besar akan keluar dari bawah kaki mereka.
- Gemuruh gemuruh -
__ADS_1
Beberapa calon dewa kematian terangkat tinggi, dan beberapa yang tidak terangkat menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri sosok besar yang muncul di hadapan mereka.
" Itu adalah seekor paus ?! "
" Semuanya menyingkir ! "
Tubuh paus pasir besar keluar dari dalam pasir dan hendak membantingkan tubuhnya kearah calon dewa kematian yang tidak terangkat.
Meskipun masih berstatus calon dewa kematian, Oh haebin dapat melihat keunikan dari mereka. Hanya menghindar tidak membutuhkan banyak tenaga bagi mereka. Mereka semua dapat menghindar dengan lincah.
" Sepertinya tempat ini sudah tidak terlalu aman.
Baik. Kita akan menerobos sampai ke gerbang desa. " Ucap Oh Haebin.
" Sebenarnya tempat apa ini? " Ini adalah pertama kali Han ji soo pergi ke tempat ini.
" Ren ! Rem ! "
" Jangan lepaskan tanganku. Aku pasti akan menjaga kalian. " Ucap Ga eun yang dari tadi masih memegang cemilan namun melepaskannya untuk menyelamatkan saudara kembar.
" Ikuti senior Oh, Jangan sampai terpisah! " Teriak Yeol mengingatkan.
" Oho,
Sepertinya kita akan bermain pukul dan lari ? Ini adalah keahlianku. " Ucap seorang lagi yang masih tersenyum dalam keadaan seperti itu. Dia adalah Armir.
' Mereka berhasil mengikutiku sejauh ini. Apakah aku harus sedikit mempercepat ? Kalau begitu mungkin kita akan sampai di tujuan besok pagi. ' pikir oh haebin, namun segera terhenti saat menyadari sesuatu yang tidak beres di depannya.
Melihat senior oh berhenti membuat para calon dewa kematian berhenti juga melihat apa yang di lihat senior mereka.
Jalan di penuhi dengan berbagai monster pasir. Makhluk besar yang terbuat dari pasir itu benar-benar menutup jalan mereka. Entah apa yang membuat mereka begitu kebetulan berkumpul di tempat seperti itu. Oh haebin hanya menyeringai.
Dia mengeluarkan sabit dewa kematiannya di hadapan para calon dewa kematian dengan cepat setelah memindahkan koper ke tangan kirinya.
" Dengar! Aku akan membuka jalan dan kalian harus mengikutiku dengan benar jika kalian ingin sampai ke tujuan kita. "
Dia hanya mengeluarkan kata-kata itu namun para calon dewa kematian mulai mengerutkan dahinya dan berkonsentrasi. Mereka harus mengikuti senior di depan mereka dengan baik sembari fokus pada serangan serangannya untuk mencari titik keluar.
##############################
Keesokan harinya.
" Hoaammmzz " suara penjaga gerbang yang menguap karena kantuknya.
" Jam berapa ini? kenapa penjaga selanjutnya belum datang ? " Keluhnya.
" Mungkin 5 menit lagi. Melihat matahari sudah mulai terbit. " Jawab penjaga yang satunya.
" Aku sangat lelah ! "
" Itu karena kamu minum terlalu banyak dan bergerak terlalu banyak semalaman, padahal ini jam jagamu. "
" Untuk apa sebenarnya menjaga gerbang seperti ini ? Sudah tidak ada yang bersusah payah melewati tempat ini karena mereka mempunyai kendaraan yang memudahkan mereka pindah. "
" Itu memang benar sih. Sudah sangat lama sekali tidak ada yang melewati gerbang ini, namun penjagaan masih terus di lakukan. Padahal kan tinggal menutup gerbangnya saja.
Tapi berkat itu kan, kita jadi punya pekerjaan enak seperti ini? Coba kalau tidak ada tugas menjaga gerbang ini, mungkin kita akan di pindah ke bagian yang lebih sulit. "
Dua penjaga gerbang yang bersiap mengakhiri tugas mereka saling berbicara.
Tidak lama salah satu dari mereka melihat sesuatu di kejauhan.
" Hei hei lihat. Apa itu orang ? " Tanyanya kepada rekan kerjanya.
" Kau pasti sudah sangat lelah sampai kau berhalusinasi. Mana mungkin ada o.. ?!
Itu sungguh orang " Penjaga satunya yang kaget saat melihat ke arah yang di tunjuk rekannya.
__ADS_1