Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Tes Praktik Dewa Kematian (10)


__ADS_3

" Tok tok tok "


" Masuk " Ucap Mo young mendengar suara ketukan pintu sebagai tanda izin masuk.


Seseorang membuka pintu setelah dipersilahkan.


Sosok yang terlihat setelah pintu terbuka adalah seorang pria muda tinggi berambuh hitam dan bermata hitam. Pakaiannya juga serba hitam, meskipun berpakaian serba hitam, setelah mo young melihatnya dia sudah lebih dahulu mengetahui kalau pria itu bukan seorang dewa kematian.


Mo yong beranjak dari tempat duduknya dan bertanya.


" Siapa anda, ada urusan apa dengan tim kami? Ada yang bisa saya bantu ? " Ucapnya ramah.


" Tuan muda Mo. " Pria itu hanya mengucapkan sebuah nama membuat mata mo young terbelalak kaget.


Panggilan pria itu membuat alis mo young berkedut, dia tidak tahu siapa pria itu namun dia sangat tahu panggilan kecil untuknya.


" Apa yang kau lakukan di sini ? apa orang itu yang menyuruhmu kesini ? Kalau memang benar, apa yang kamu lakukan percuma saja.


Aku tidak akan kembali. Sampaikan pesanku pada beliau. " Sambil membalikkan badan mo young meraih sabit dewa kematian yang menancap di lantai dan membuat serabut akar menghilang bersamaan dengan pecahan pecahan kaca bekas kekacauan.


Eun jae yang tadinya terbungkus oleh serabut akar itu akhirnya terbebas, dengan santai dia menapakkan kakinya di lantai sambil tersenyum.


" Siapa dia ? kau mengenalnya ? hee..


dia memanggilmu tuan muda tuh " Goda eun jae.


Telah terbebas dari kekuatan jeratan akar milik mo young membuat eun jae semakin dan lebih ingin menggodanya. Selain itu dia juga penasara apa hubungan dari dua orang itu jadi dia mulai melangkah ke arah tamu tersebut, namun baru melangkahkan kaki beberapa langkah mo young menghalanginya dengan sabit dewa kematiannya.


" Apa yang mau kau lakukan ?


Jangan ikut campur urusanku " Mo young mengancam.


Ini pertama kalinya melihat wajah suram mo young. Selama ini mereka memang tidak terlalu akrab kecuali saat berada di dekat haebin. Namun eun jae tidak pernah melihat rekannya dengan wajah seperti itu, tatapan yang seperti wajah seseorang yang tidak segan-segan mencabiknya dengan sabit dewa kematian.


" Oh haebin? kau sudah kembali ?." Eun jae menyapa.


" Apa ? " Mo young yang kaget reflek menyimpan kembali sabit dewa kematiannya dan berbalik ke arah pintu masuk.


" Sayang sekali, itu cuma bohong " Eun jae tersenyum lalu dengan cepat lari ke arah pintu masuk membawa tamu itu juga.


Mo young yang terkecoh membatu. Dia berhasil dikelabui oleh rekan kerjanya, hanya seperti itu?.


" Sialan eun jae, dia menghabiskan mie instan edisi terbatasku, menggangguku dengan haebin dan sekarang dia mengelabuiku. tidak bisa di maafkan, tidak bisa di maafkan. Aku pasti akan memberinya pelajaran. " sambil menggigit kuku ibu jarinya dia mulai mengekspresikan kekesalannya.


" Mo young ? " Seseorang memanggil mo young dari pintu masuk yang ternyata adalah Oh haebin.


" Haebin ? Kau sudah kembali " Ekspresi mo young berubah drastis seperti seorang anak kecil senang ketika melihat orang tuanya kembali dari bekerja.


" Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


Apakah terjadi sesuatu ketika aku pergi ? " Haebin kaget melihat keadaan kantor yang hancur berantakan.


" Tidak, tidak ada yang terjadi. Hanya ada sedikit pertengkaran dengan eun jae. Aku akan segera membereskannya." ucap Mo young menutupi kekacauan yang dia perbuat kemudian tidak sengaja dia melihat sosok beberapa orang di belakang Haebin.

__ADS_1


" Kau membawa tamu? "


" Ah mereka ini. Aku membawa mereka karena ada sesuatu yang ingin kuminta tolong darimu. " Ucap haebin menunjukkan tiga sosok di belakangnya.


" Oh, mereka pasti calon dewa kematian yang ada di bawah bimbinganmu?


Aku sudah mendengar sedikit tentang ruang pelatihan. Seseorang menelpon dan mengabarkan kalau ruang pelatihan akan siap dalam dua minggu. " Ucap mo young mengambil sebuah catatan memo yang menempel di layar komputernya.


" Ini detail yang di berikan. Aku cukup kaget setelah menerima telpon ini. Lagi-lagi kau meninggalkan ponselmu sembarangan. Karena itu aku membawanya bersamaku. " Jelas mo young menyerahkan ponsel milik haebin.


" Ah, aku meninggalkan ponselku di asrama?


Terima kasih, kau sangat membantu. " Haebin menerima ponsel miliknya kemudian dia meminta kontak para calon dewa kematian agar lebih mudah menghubunginya.


" Oh iya ngomong-ngomong. Dimana eun jae ? " Haebin hanya melihat Mo young dan penasaran mengapa eun jae tidak di kantor.


" Pergi ke neraka " jawab mo young ketus dan pelan.


" Hah ? "


" Tidak, maksudku, sepertinya dia ada tugas lain. Jadi tinggal aku yang standby di kantor.


Ngomong-ngomong ingin bantuan apa ? Aku harap aku dapat membantu " Ucap mo young tersenyum.


Haebin pun menjelaskan secara detail tentang pelatihan yang akan dia lakukan. Hal itu membutuhkan bantuan dari mo young dan eun jae langsung. Dia juga menceritakan tentang dua orang senior lain yang akan bergabung. Mo young mendengarkan dengan seksama apa rencana haebin.


Haebin berencana membuat pelatihan lapangan. Tentu saja dengan menggunakan para senior yang akan memperlihatkan cara kerja masing-masing. Itu akan menjadi pelatihan yang bagus.


" Itu ide yang bagus. Haebin memang luar biasa dapat memikirkan ide seperti itu. " Pujian mo young. Dia sangat mendukung rencana itu kecuali pada bagian dimana eun jae harus terlibat. Namun mo young dengan mulus menyembunyikan kekesalannya.


Sepertinya He an mendapatkan pesan dari calon dewa kematian tim lain. Mereka mengatakan kalau mereka sedang mencari tempat menginap di distrik itu, namun kesulitan karena tidak menemukannya. Meskipun mereka berhasil menemukan satu atau dua penginapan, tempat itu sudah fuul. Jadi He an bermaksud berdiskusi untuk menanyakan tempat penginapan di distrik tersebut.


" Aku hampir melupakan sesuatu yang penting.


Penginapan di distrik ini sudah pasti penuh. Itu karena sebentar lagi akan diadakan festival, dari mereka yang dari distrik lain pastinya sudah membuat reservasi di penginapan sekitar. " Jelas Haebin.


" Kau benar, aku mendengar festival kali ini akan dibuat besar-besaran. Tidak heran kalau penginapan sekitar pasti penuh.


Bagaimana kalau menyewa villa ? " Mo young memberikan ide.


" Ah, maaf, aku lupa kalau kalian bertiga.


Biaya sewa villa tidaklah kecil. " Mo young sedikit kecewa karena idenya tidak dapat membantu pada situasi ini.


He an melirik kearah dua rekannya sepertinya dia memiliki ide lain.


" Anu, bagaimana kalau kami bergabung dengan calon dewa kematian dari tim lain ? Kalau bergabung dengan tim tuan Ho dan nona dewa kematian jadi 9 orang. " Gugas He an.


" Itu ide yang bagus, tapi saat festival seperti ini, harga sewa villa pastinya akan melonjak. Kalian akan tinggal di distrik ini setidaknya hingga menara pelatihan selesai di perbaiki. Itu akan memakan waktu dua minggu. Hhmm " Haebin berusaha mencari jalan keluar lain.


" hey hey Haebin. Bukankah eun jae memberikanmu kartunya ? Bukankah ini saat yang tepat untuk menggunakannya? Itu akan berguna untuk menambak budget mereka. " Saran jahat mo young.


" Bagaimana kamu bisa tahu hal seperti itu. "

__ADS_1


" Tentu saja aku tahu, pembicaraan kalian terdengar jelas lho. "


" Haruskan kugunakan ? " Haebin mengeluarkan kartu pemberian eun jae dan tersenyum.


" gunakan gunakan " Hasut mo young.


Namun pada akhirnya Haebin tidak menggunakannya.


Haebin menyuruh He An untuk menghubungi para calon dewa kematian lain untuk berkumpul. Dia mencari villa yang tidak terlalu dekat dari lokasi festival, oleh karena itu mereka berhasil reservasi penginapan yang cukup murah. Hanya tinggal pergi ke tempat itu saja.


#################################


" Syukurlah dia tidak mengejar. Aku tidak ingin terjerat dalam serabutnya itu lagi. " Eun jae menghela napas setelah berhasil kabur dari Mo young yang dianggapnya merepotkan.


" Apa yang kau lakukan ?! Lepaskan ! " berontah seul gi mencoba melepaskan diri dari cengkraman pria tidak dikenalnya.


Seharusnya dia berbicara dengan orang yang ingin dia ajak bicara, namun Eun jae membawanya pergi dari mo young. Dia terlihat cukup kesal dan membalikkan badan untuk kembali.


" eit tunggu tunggu tunggu, kau mau kemana setelah aku berhasil membawamu keluar dari masalah? " Eun jae menggenggam bahu seul gi membuat seulbi memberontak menepis tanggannya.


Eun jae membatu. Dia merasa seperti sedang menghadapi mo young ke dua. Entah bagaimana dia berpikir kalau mereka berdua sama. Melihat seul gi yang ingin pergi eun jae mencoba menghalanginya lagi dengan berdiri di depannya.


" Tunggu tunggu, jangan seperti ini.


Meski kembali sepertinya kehadiranmu tidak akan di terima oleh mo young.


Ada yang ingin ku tanyakan. Ini mengenai mo young " Bujuk Eun jae.


Dia tahu sikap mo young pada orang di hadapannya itu adalah sikap orang yang tidak ingin melihat keberadaan di depannya.


" Jangan sebut nama tuan muda mo dengan mulut kotormu itu! " Ucap Seul gi.


Eun jae tidak memperkirakan jawaban seperti itu. Muncul beberapa kedutan di senyumannya setelah mendengarkannya.


" Nah, tidak perlu emosi, maksudku apa kau tahu siapa mo young sebenarnya ? " Eun jae bertanya namun dia hanya mendapatkan tatapan kesal dari seul gi yang mendengar seseorang tidak memiliki rasa hormat pada tuannya.


" Nah, maksudku. Siapa sebenarnya tuan muda mo itu? Apa kamu mengetahuinya?


Jawab pertanyaanku, aku cukup penasaran " Ucap Eun jae masi dengan senyuman berkedut.


" Apa kau tidak tahu? Tuan muda mo adalah .... $%$%$%$%$%.


Kalau kau sudah tahu sebaiknya kau tidak berhubungan dengan tuan muda mo lagi. Aku tidak bisa terima melihat tuan muda Mo bermain bersama sampah seperti kalian. " Seul gi menjawab dengan ketus.


Eun jae membatu setelah mendengarkan jawaban seul gi seakan dia tidak bisa percaya apa yang baru saja dia dengar.


Seul gi merasa reaksinya adalah wajar bagi orang yang akhirnya tahu identitas sebenarnya dari tuan muda mo. Dia memutuskan untuk pergi meninggalkan orang yang dia kira idiot itu di sana.


Namun setelah beberapa langkah dia mendengar suara tawa yang membuatnya merinding, dan tawa itu berasal dari orang yang niat ingin dia tinggalkan. Apakah orang itu sudah menjadi gila setelah mengetahui identitas tuan muda mo yang sebenarnya?


" Apa kau mulai menjadi gila setelah tahu kebenarannya? " Ucap seul gi mendecak lalu menggelengkan kepalanya. Dia kembali membalikkan badannya untuk beranjak dari tempat itu dan bermaksud kembali ke tempat tuan muda Mo, namun sebelum itu Eun jae lagi-lagi menghentikannya dengan menaruh tangan di pundak seul gi.


Seperti biasa seul gi mencoba menghempaskan tangan yang menyentuh pundaknya, namun itu tidak lagi bekerja. Cengkraman eun jae semakin keras.

__ADS_1


" Hey, bisa bicara empat mata denganku sebentar ? "


__ADS_2